Suamiku Memesan Gelang Bayi Berukir Namanya, Saat Rahimku Mandul dan Sepupuku Mendadak Melahirkan

Suamiku Memesan Gelang Bayi Berukir Namanya, Saat Rahimku Mandul dan Sepupuku Mendadak Melahirkan

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Memesan Gelang Bayi Berukir Namanya, Saat Rahimku Mandul dan Sepupuku Mendadak Melahirkan



'Jangan bergerak, Baskara. Tetap tersenyum ke arah kamera pamanmu,' bisikku sembari meremas ujung kebaya kutubaru sutra parang yang kukenakan hingga jemariku memutih, menahan gemetar yang mendadak menyerang seluruh sendi tubuhku.

Di hadapan kami, kilatan kamera ponsel dari Paman Suryo berpendar berkali-kali, menangkap citra sepasang suami istri paling harmonis di lingkungan elite Surakarta. Baskara, dengan beskap landung hitamnya yang gagah, menoleh padaku. Senyumnya begitu menawan, jenis senyum yang sepuluh tahun lalu membuatku percaya bahwa laki-laki ini adalah tempat peraduan terakhir yang paling aman. Dia merangkul pinggangku dengan kehangatan yang mendadak terasa seperti jilatan api neraka.

'Ada apa, Cah Ayu? Wajahmu mendadak pucat sekali. Kamu lelah?' suara bariton Baskara berbisik lembut di dekat telingaku. Aroma parfum sandalwood kesukaannya yang biasanya menenangkan, kini membuat lambungku bergolak mual.

Aku tidak menjawab. Aku hanya terus memaksakan sudut bibirku naik, menatap lurus ke arah Arimbi yang duduk di meja seberang. Sepupu perempuanku yang yatim piatu sejak remaja, yang kubesarkan bersama di bawah atap rumah orang tuaku, sedang memangku seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan yang tertidur lelap. Arimbi mengenakan kebaya senada dengan kami, tampak begitu anggun, begitu polos, dan begitu tenang. Namun, matanya sesekali melirik ke arah Baskara dengan binar yang tidak bisa lagi kusalahartikan sebagai sekadar rasa hormat kepada kakak ipar.

Hanya sepuluh menit yang lalu, di sudut toilet restoran Joglo yang sunyi, duniaku runtuh berkeping-keping tanpa suara. Semua berawal dari hal sepele. Baskara memintaku mengambilkan obat migrainnya di dalam tas kerja kulit buatan Italia miliknya yang tertinggal di mobil. Di dalam kompartemen tersembunyi yang biasanya terkunci namun kali ini luput dikancingkan, jemariku menyentuh permukaan kertas bertekstur mahal. Itu adalah lembar tagihan dan sketsa desain dari sebuah butik perhiasan mewah di kawasan Jakarta Selatan.

Kertas itu bukan tagihan biasa. Itu adalah invoice pemesanan sebuah gelang bayi berbahan emas murni 24 karat dengan ukiran custom yang sangat detail. Sketsanya menunjukkan motif dedaunan pakis halus dengan sebuah bandul kecil berbentuk bintang. Di bagian bawah invoice, tertera instruksi pengukiran nama dengan tulisan tangan desainer perhiasannya yang sangat jelas: Bumi Dananjaya - Putra Baskara & Arimbi. Tanggal pelunasan transaksi itu bertepatan dengan satu hari sebelum Arimbi melahirkan bayi yang selama ini dia klaim sebagai anak dari hasil 'pernikahan siri yang gagal' dengan seorang pria misterius yang meninggalkannya pergi ke luar negeri.

Dadaku sesak, seolah-olah seluruh oksigen di ruangan restoran berarsitektur Jawa klasik ini ditarik paksa keluar. Selama tiga tahun terakhir, rahimku yang divonis mengalami penyumbatan tuba falopi adalah bahan gunjingan halus di setiap pertemuan keluarga besar. Ibu mertuaku, Ibu Rahayu, tidak pernah absen menyindirku dengan kehalusan khas bangsawan, menanyakan jamu apa lagi yang sudah kuminum, atau menyarankan terapi alternatif yang semakin menyudutkan harga diriku sebagai seorang wanita. Dan di setiap momen menyakitkan itu, Baskara selalu menggenggam tanganku erat, berbisik bahwa dia tidak peduli tentang keturunan, bahwa hanya aku yang dia butuhkan.

'Kinasih, kamu benar-benar tidak apa-apa? Keringat dinginmu sampai keluar begini,' suara lembut Arimbi tiba-tiba terdengar dekat. Dia sudah berdiri di sampingku, menggendong bayi mungil itu dengan sangat hati-hati. Wangi minyak telon bayi bercampur dengan aroma parfum melati yang biasa dipakai Arimbi menyeruak masuk ke indra penciumanku.

Aku menatap bayi di gendongannya. Bayi laki-laki berwajah bersih dengan garis rahang yang sangat mirip dengan Baskara. Mengapa selama ini aku begitu buta? Mengapa aku mempercayai cerita sedih Arimbi yang mengaku dihamili oleh laki-laki tidak bertanggung jawab, hingga aku dengan sukarela membiayai seluruh persalinannya di rumah sakit swasta terbaik, bahkan mengizinkannya tinggal di apartemen mewah milik keluarga kami yang terletak di pusat kota?

'Aku hanya sedikit pusing, Arimbi. Mungkin karena AC di sini terlalu dingin,' kataku dengan suara yang kuusahakan tetap datar dan tenang, gaya bicara khas putri Solo yang diajarkan ibuku sejak kecil untuk menyembunyikan badai terdalam di dalam dada. Aku menatap matanya yang bulat jernih. 'Anakmu... Bumi, kan namanya? Dia sangat mirip dengan keluarga kita. Terutama hidungnya.'

Seketika, kulihat ada riak kepanikan yang sangat tipis di bola mata Arimbi. Dia mengeratkan pelukannya pada sang bayi, lalu tersenyum kaku. 'Ah, benarkah Mbak? Banyak yang bilang dia mirip mendiang ayahku. Mungkin karena kami masih satu darah.'

Di sampingku, Baskara berdeham kecil. Dia mengambil segelas air putih hangat dari meja dan menyodorkannya kepadaku. 'Minumlah dulu, Kinasih. Kalau memang sangat lelah, kita bisa pamit pulang lebih awal kepada Ibu.'

Aku menerima gelas itu, menatap pantulan wajahku yang tampak luar biasa tenang di permukaan air, meskipun di dalam kepalaku, aku sedang menyusun rencana perang yang paling dingin. Pengkhianatan ini tidak boleh diselesaikan dengan teriakan histeris yang akan membuat mereka bersiap-siap. Tidak, mereka telah merampas kehormatanku, merampas kebahagiaanku, dan menjadikanku lelucon di tengah keluarga besar ini selama bertahun-tahun. Aku akan mengembalikan setiap rasa sakit itu dengan ketepatan yang mematikan.

'Tidak perlu terburu-buru pulang, Mas,' kataku sembari meminum air hangat itu perlahan, lalu menatap suamiku dengan senyuman paling manis yang bisa kuciptakan. 'Malam ini adalah malam yang sangat penting. Bukankah kita harus merayakan kehadiran anggota keluarga baru di tengah-tengah kita?'

Baskara tampak sedikit terkejut, namun dia segera menguasai diri dan mengusap pundakku penuh kasih sayang. 'Tentu, jika itu yang kamu inginkan, Sayang.'

Aku memperhatikan bagaimana ibu mertuaku, Ibu Rahayu, mendekat ke arah kami dengan senyum lebar yang jarang sekali dia tunjukkan padaku. Dia langsung merebut bayi Bumi dari gendongan Arimbi dengan wajah berseri-seri. 'Coba lihat cucu ganteng ini. Duh, Gusti, jalannya hidup ini memang aneh ya. Kadang yang kita harapkan lahir dari rahim yang sah tidak kunjung datang, tapi Gusti Allah malah memberikan gantinya lewat jalan lain yang tidak terduga. Sing sabar ya, Arimbi, kamu tidak sendirian membesarkan anak ini. Seluruh keluarga kita akan menyayangi Bumi.'

Kata-kata Ibu Rahayu seperti sembilu yang menyayat jantungku berulang kali. Kalimat itu bukan sekadar sindiran, melainkan konfirmasi tidak langsung. Apakah Ibu Rahayu sebenarnya sudah tahu? Apakah seluruh keluarga ini sebenarnya sedang bersekongkol menjadikanku orang asing di rumahku sendiri, menungguku menyerah dan pergi agar Arimbi bisa naik takhta menggantikanku?

Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan dinginnya udara malam merasuk ke paru-paruku. Aku melirik ke arah tas kulit Baskara yang tergeletak di kursi kosong di sebelahku. Di dalam sana, bukti tertulis itu masih tersimpan rapi. Gelang emas bernilai puluhan juta rupiah, dibeli dengan kartu kredit tambahan atas namaku yang kupercayakan pada Baskara untuk keperluan operasional butik batik premium kami.

Baskara menggunakan uangku, uang dari keringatku membangun kerajaan bisnis batik tulis 'Kinasih Ningrat' yang kini mendunia, untuk membelikan perhiasan bagi anak haramnya dengan sepupuku sendiri. Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahanku, mereka juga merampas hasil jerih payahku untuk membangun sarang kecil mereka sendiri.

'Mbak Kinasih,' panggil Arimbi lembut, membuyarkan lamunanku. 'Minggu depan ada acara aqiqah kecil-kecilan untuk Bumi di apartemen. Mbak Kinasih mau datang kan? Aku sangat berharap Mbak bisa memotong rambut Bumi pertama kali, sebagai simbol doa dari kakak perempuan tertua di keluarga ini.'

Aku menatap Arimbi, melihat kepolosan palsu yang begitu rapi membungkus kelicikannya. Di bawah meja, jemariku mengepal begitu kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan, meninggalkan bekas kemerahan yang perih. Namun wajahku tetap menampilkan ketenangan seorang permaisuri.

'Tentu saja, Arimbi. Aku pasti datang,' jawabku dengan nada suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan angin malam. 'Aku bahkan sudah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat istimewa untuk Bumi. Sebuah hadiah yang tidak akan pernah dilupakan oleh ibunya, dan juga oleh ayahnya.'

Baskara yang sedang menyesap teh melatinya tiba-tiba tersedak kecil. Dia menatapku dengan kening berkerut, mencoba membaca arti di balik mataku yang biasanya hangat namun kini sedingin es utara. Namun, aku hanya terus tersenyum, membiarkan keheningan malam menyembunyikan rencana kehancuran yang perlahan-lahan mulai kurajut dengan sangat rapi, seringkih benang sutra namun sekuat baja.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url