Undangan Digital Villa Sentul Itu Menyingkap Kebohongan Gendis dan Baskara yang Berjalan Rapi Dua Tahun Ini
'Mas, tolong ambilkan iPad di meja kerja dong, aku mau cek berkas kurasi pameran sebelum tidur,' kata Gendis dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menyisakan deru air pancuran yang berisik. Malam itu di sudut Jakarta Selatan terasa biasa saja, atau setidaknya begitulah yang kupikirkan sebelum jemariku menyentuh layar gawai yang tertinggal dalam keadaan menyala tersebut. Di sana, bukan proposal pameran seni yang terbuka, melainkan sebuah notifikasi beruntun dari aplikasi pemantau keamanan pintu pintar—smart lock—villa peristirahatan kami di Sentul.
Pesan otomatis itu berbunyi sangat sederhana namun menusuk tepat di dada: 'Akses masuk diberikan kepada kode tamu: Baskara_Project, Selasa pukul 10:15 WIB'. Masalahnya adalah, Baskara tidak sedang mengerjakan proyek apa pun di Sentul. Dan yang lebih membuat dadaku mendadak sesak hingga rasanya oksigen di ruangan itu menguap habis adalah catatan log di bawahnya: 'Akses keluar terdeteksi: Selasa pukul 16.45 WIB'. Kejadian itu berulang setiap hari Selasa selama delapan bulan terakhir tanpa pernah sekali pun diceritakan oleh Gendis maupun Baskara kepadaku.
Aku berdiri mematung di tengah kamar tidur kami yang harum aroma lavender. Jemariku gemetar hebat saat membuka folder sinkronisasi cloud yang terhubung dengan kamera pengawas gerbang villa. Di sana, terekam dengan sangat jelas sebuah mobil SUV hitam yang sangat kukenal—mobil milik Baskara, sahabat karibku sejak masa kuliah di Bandung, orang yang bersamaku merintis biro arsitektur dari nol. Dari pintu penumpang sebelah kiri, turun seorang wanita mengenakan kacamata hitam besar dan daster katun premium berwarna hijau sage. Itu Gendis. Istriku yang manis, wanita yang selalu membuatkan aku kopi hangat setiap pagi, dan wanita yang kupikir adalah pelabuhan terakhir dalam hidupku.
Dalam rekaman video berdurasi singkat itu, mereka tidak langsung masuk. Baskara sempat berbalik, merangkul pinggang Gendis dengan posesif, lalu mengecup keningnya dengan keintiman yang hanya dimiliki oleh sepasang kekasih yang saling memuja. Gendis tidak menolak. Dia justru tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di dada Baskara sebelum mereka berdua melangkah masuk ke dalam villa yang kubangun susah payah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Air mataku tidak jatuh, namun ada sesuatu yang patah dan hancur berkeping-keping di dalam dadaku, menyisakan kekosongan yang teramat dingin.
Aku segera menutup aplikasi tersebut dan meletakkan iPad itu kembali ke meja kerja tepat saat pintu kamar mandi terbuka. Gendis keluar dengan rambut basah yang terbungkus handuk, memancarkan aroma sabun mandi yang biasa ia gunakan. Wajahnya begitu bersih, tanpa dosa, memamerkan senyuman manis yang selama ini menjadi candu bagiku. 'Sudah ketemu, Mas?' tanyanya lembut, melangkah mendekat dan mengecup pipiku sekilas sebelum mengambil gawai tersebut dari meja.
'Sudah. Tadi ada notifikasi masuk, tapi langsung kuhapus karena kupikir itu hanya spam iklan,' jawabku, berusaha keras menjaga agar suaraku tetap terdengar datar dan tenang. Setiap sel di tubuhku berteriak ingin mencengkeram bahunya, menanyakan mengapa dia tega melakukan ini, namun akal sehatku menahannya. Jika aku berteriak sekarang, mereka akan bersiap, menyusun skenario pertahanan, atau bahkan melarikan diri bersama. Aku tidak mau itu terjadi. Pengkhianatan sedalam ini tidak boleh dibayar dengan drama air mata yang murah. Aku menginginkan kehancuran yang mutlak dan terencana untuk mereka berdua.
Gendis tampak tidak curiga sedikit pun. Dia duduk di tepi ranjang, dengan tenang menggulir layar iPad-nya sembari sesekali bergumam tentang konsep pameran seni yang akan diadakan bulan depan. Aku memperhatikannya dari sudut ruangan, berpura-pura sibuk merapikan buku-buku di rak. Bagaimana bisa seorang wanita yang terlihat begitu lembut dan penuh perhatian di rumah, bisa berubah menjadi orang asing yang begitu lihai bersandiwara di luar? Dan bagaimana bisa Baskara, pria yang sering menginap di rumah kami, makan malam bersama keluarga besar kami, dan menangis di bahuku saat ibunya meninggal dunia, tega menikamku dari belakang dengan cara sekeji ini?
Keesokan harinya di kantor biro arsitektur kami di kawasan Kemang, atmosfer terasa sangat berbeda bagiku, meski bagi orang lain semuanya berjalan seperti biasa. Baskara masuk ke ruanganku dengan membawa dua cup kopi arabika favorit kami, meletakkannya di meja kerjaku dengan senyum lebar yang biasa ia tunjukkan. 'Danan, ini berkas revisi desain resort di Uluwatu. Klien minta ada penambahan kolam privat di setiap unit. Coba lo cek dulu, kalau oke biar langsung gue kirim ke tim rendering,' ujarnya santai, tanpa ada sedikit pun gurat bersalah di wajahnya.
Aku menatap kopi yang dibawanya, lalu beralih menatap wajah sahabatku itu. Aku mencari-cari tanda kecemasan, kebohongan, atau rasa canggung di matanya, namun tidak ada. Baskara adalah seorang sosiopat profesional. Dia bisa menjabat tanganku erat, membicarakan masa depan perusahaan kami, sementara di kepalanya mungkin sedang membayangkan bagaimana cara menikmati tubuh istriku di villa pribadiku minggu depan. 'Thanks, Bas. Nanti gue cek. Oh ya, hari Selasa depan lo ada jadwal presentasi di luar kan? Gue butuh lo buat ketemu klien dari Surabaya,' kataku, sengaja memasang perangkap kecil.
Baskara sempat tertegun selama satu detik—sepersekian detik yang sangat tipis namun tidak luput dari pengamatanku yang tajam. Dia berdeham kecil, memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab dengan nada yang diatur sealami mungkin. 'Aduh, Selasa depan gue ada janji survei lokasi proyek di Bogor dari pagi sampai sore, Nan. Kayaknya agak susah kalau harus ketemu klien Surabaya. Gimana kalau hari Rabunya aja? Gue luang kok seharian.' Bohong. Survei proyek di Bogor hanyalah kedok yang dia gunakan setiap hari Selasa untuk pergi ke Sentul bersama Gendis.
'Oh, gitu ya? Ya sudah, biar gue sendiri aja yang handle klien Surabaya. Lo fokus aja sama proyek Bogor lo itu,' jawabku sambil tersenyum tipis, memberikan kesan bahwa aku sangat memercayainya. Di dalam hati, aku sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar. Jika mereka menyukai hari Selasa di villa Sentul, maka aku akan memastikan bahwa hari Selasa depan akan menjadi hari yang paling tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.
Aku mulai mengumpulkan bukti-bukti transaksi keuangan perusahaan. Sebagai direktur keuangan dan operasional, aku memiliki akses penuh ke semua rekening bersama biro arsitektur kami. Di sanalah aku menemukan kejanggalan berikutnya yang membuat darahku mendidih. Ada aliran dana konstan setiap bulan yang dialihkan ke sebuah rekening asing dengan kedok 'biaya vendor material fiktif'. Setelah kutelusuri lebih dalam melalui bantuan seorang kenalan di bank, rekening penampung itu ternyata terdaftar atas nama Gendis. Baskara telah memindahkan sebagian keuntungan perusahaan kami ke rekening pribadi istriku selama hampir dua tahun.
Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahanku, mereka juga sedang perlahan-lahan merampokku, mencoba memiskinkanku sebelum akhirnya mungkin akan mendepakku dari perusahaan yang kubangun dengan keringat dan air mata ini. Rasa sakit yang kurasakan kini perlahan berubah menjadi kemarahan yang dingin dan terkendali. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu sen pun dari apa yang menjadi hakku. Aku juga akan memastikan reputasi profesional Baskara hancur berantakan di industri arsitektur Jakarta, dan nama baik Gendis di kalangan sosialita seni akan lenyap tanpa sisa.
Jumat malam, aku pulang ke rumah dengan membawa sebuket bunga mawar putih kesukaan Gendis. Dia menyambutku dengan pelukan hangat dan kecupan lembut di bibir yang kini terasa sangat hambar bagiku. 'Wah, ada angin apa nih Mas bawa bunga? Romantis banget,' ucapnya dengan mata berbinar-binar yang tampak sangat tulus. Aku membalas senyumannya, membelai rambutnya dengan kelembutan yang dipaksakan. 'Cuma mau merayakan sesuatu saja. Oh ya sayang, Selasa depan kan kita anniversary yang kelima. Aku sudah menyiapkan kejutan spesial untuk kita berdua di villa Sentul,' kataku perlahan, memperhatikan setiap detail perubahan ekspresi di wajahnya.
Gendis seketika membeku. Senyum manisnya agak memudar, digantikan oleh kilatan kepanikan yang coba diredamnya dengan cepat. 'Selasa depan? Tapi Mas, bukannya kamu bilang minggu depan jadwal kamu padat banget di kantor? Dan... kenapa harus di Sentul? Kita kan bisa makan malam di restoran mewah di Senopati saja,' tanyanya dengan nada suara yang sedikit meninggi, mencoba membujukku untuk membatalkan rencana tersebut.
'Tidak, aku sudah mengosongkan jadwalku khusus untuk hari Selasa itu. Lagipula, kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua di villa kita sendiri kan? Aku juga sudah mengundang beberapa teman dekat kita untuk datang menyusul di malam harinya, termasuk Baskara. Aku ingin merayakan pencapaian perusahaan kita sekaligus anniversary kita di sana,' jawabku dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan. Gendis hanya bisa menelan ludah, mengangguk pasrah dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Dia tidak tahu bahwa undangan itu bukanlah sebuah perayaan, melainkan sebuah persidangan terbuka di mana semua topeng busuk mereka akan dipaksa terbuka di depan semua orang yang mereka kenal.