Ada Nama Sahabatku di Polis Asuransi Keluarga yang Dibayar Suamiku Selama Dua Tahun
'Maaf, Ibu Sekar, tetapi limit tahunan untuk manfaat perawatan onkologi pada polis premium ini sudah habis terpakai sejak bulan lalu,' ujar petugas administrasi rumah sakit dengan nada yang amat sopan, namun sanggup membuat seluruh sendi di tubuh Sekar mendadak kaku. Perempuan paruh baya di balik bilik kaca itu memandang Sekar dengan tatapan bingung yang campur aduk dengan rasa sungkan.
Sekar mengerutkan keningnya, mencoba mencerna kalimat tersebut di tengah bisingnya lobi Rumah Sakit Harapan Kita siang itu. Sambil memegang berkas rujukan untuk anak salah satu penjahit senior di butiknya yang ingin ia bantu pengobatannya, Sekar menggeleng pelan. Ia yakin betul ada kekeliruan sistem. Sebagai pemilik tunggal sekaligus pendiri jenama fesyen modern Nirmala, Sekar membayar sendiri seluruh premi asuransi kesehatan kelas satu untuk dirinya dan sang suami, Argani. Mereka bahkan belum dikaruniai anak setelah lima tahun pernikahan, sehingga limit asuransi itu seharusnya masih utuh, bersih tanpa klaim besar apa pun.
'Mbak, mungkin ada kesalahan input nomor kartu,' kata Sekar, menyodorkan kartu plastik berwarna hitam berkilau dengan logo perusahaan asuransi internasional terkemuka. 'Suami saya, Argani, adalah pemegang polis utama. Dan anggota yang terdaftar hanya saya dan dia. Kami tidak pernah menggunakan manfaat onkologi atau kemoterapi sama sekali tahun ini.'
Petugas administrasi bernama Tyas itu menghela napas, jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik. Layar komputer berkedip, menampilkan rincian data medis yang dilindungi enkripsi ketat. 'Betul, Ibu. Pemegang polis utama adalah Bapak Argani Mahardika. Namun, pada adendum perubahan anggota yang diajukan dua tahun lalu, ada penambahan tanggungan luar keluarga yang disahkan lewat dokumen kemitraan bisnis Nirmala Group. Di sini terdaftar pasien anak atas nama Bumi Mahardika, usia empat tahun, dengan wali sah Ibu Larasati.'
Dada Sekar serasa dihantam godam tak kasat mata. Larasati. Nama itu bukan sekadar nama asing yang kebetulan lewat. Larasati adalah sahabat karibnya sejak kuliah di Yogyakarta, perempuan yang bersamanya merintis Nirmala dari nol, mengurusi bagian keuangan dan rantai pasok sementara Sekar fokus pada desain. Larasati adalah orang yang menangis paling keras ketika Sekar divonis mengalami penyumbatan tuba falopi yang membuat peluang kehamilannya menipis. Dan Bumi... anak laki-laki Larasati yang selalu dibilang lahir dari 'mantan kekasih yang kabur ke luar negeri', anak yang sering Sekar belikan mainan mahal setiap akhir bulan.
'Bisa saya lihat salinan persetujuan klaimnya, Mbak?' Suara Sekar terdengar sangat tipis, hampir seperti bisikan angin di lorong sunyi. Tangannya yang memegang tepi meja kayu itu mulai gemetar hebat, sedingin es kutub.
Petugas itu tampak ragu. 'Secara prosedur tidak boleh, Ibu. Tetapi karena Ibu adalah istri sah dari pemegang polis utama dan nama Ibu tercantum di lembar utama, saya bisa memperlihatkan dokumen digital yang ditandatangani oleh Bapak Argani.'
Layar monitor diputar sedikit ke arah Sekar. Di sana, terpampang jelas surat pernyataan tanggung jawab mutlak. Di atas meterai sepuluh ribu yang sah, tanda tangan Argani yang khas dengan tarikan garis tegas menyerupai huruf A berdiri tegak. Di sampingnya, tanda tangan Larasati sebagai ibu kandung sekaligus saksi kedua. Dokumen itu menyatakan bahwa seluruh biaya pengobatan leukemia limfoblastik akut yang diderita oleh Bumi Mahardika akan ditanggung sepenuhnya oleh plafon asuransi eksekutif milik Argani yang preminya didebit otomatis dari rekening bersama milik Sekar dan Argani setiap bulannya.
Sekar merasa dunia di sekelilingnya mendadak berputar tanpa poros. Kenyataan pahit itu menghantamnya bertubi-tubi tanpa ampun. Rekening bersama yang ia percayakan kepada Argani untuk tabungan masa pensiun mereka, rekening yang setiap bulannya ia isi dari keuntungan bersih butik Nirmala, ternyata dialirkan untuk membiayai pengobatan anak dari sahabatnya sendiri. Anak yang menyandang nama belakang suaminya: Mahardika.
Kenangan-kenangan lama mendadak berhamburan seperti pecahan kaca yang melukai ingatan Sekar. Ia teringat bagaimana Argani selalu bersikap sangat protektif terhadap laporan keuangan butik yang digarap Larasati. Setiap kali Sekar ingin memeriksa pembukuan akhir tahun secara mendalam dengan auditor independen, Argani selalu menenangkan dengan pelukan hangat di ranjang mereka. 'Laras itu sahabatmu sejak susah, Sekar. Jangan sampai kecurigaanmu merusak persahabatan kalian. Biar aku saja yang bantu dia rapikan sistem keuangannya,' begitu bisik Argani kala itu dengan suara baritonnya yang menenangkan.
Sekar merasa bodoh. Sangat bodoh hingga rasanya ingin berteriak di tengah lobi rumah sakit yang ramai ini. Kepercayaan yang ia bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik hanya karena selembar kertas digital. Ia teringat bagaimana Larasati selalu menghindar setiap kali Sekar ingin menjenguk Bumi di rumah sakit dengan alasan 'Bumi sedang di ruang steril dan tidak boleh banyak interaksi'. Ternyata, di ruang steril itulah Argani hadir sebagai sosok ayah yang sesungguhnya, memegang jemari mungil bocah itu, sementara Sekar sendirian di rumah, menangisi rahimnya yang sunyi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada petugas administrasi yang kini menatapnya dengan pandangan penuh simpati, Sekar melangkah pergi. Langkah kakinya gontai, namun matanya yang biasa teduh kini memancarkan kilat kemarahan yang membakar. Ia mengeluarkan ponsel dari tas kulit rancangan khususnya, jarinya gemetar hebat saat membuka aplikasi pelacak lokasi yang sengaja ia pasang di ponsel Argani dengan dalih keamanan berkendara.
Titik merah di layar ponsel menunjukkan keberadaan Argani. Pria itu tidak sedang berada di kantor logistik Nirmala di kawasan Jakarta Selatan. Titik merah itu diam, menetap di sebuah kompleks perumahan kluster di daerah Bintaro. Kompleks yang sama dengan alamat rumah yang dibeli Larasati dua tahun lalu dengan alasan 'mendapat pinjaman lunak dari koperasi butik'.
Sekar masuk ke dalam mobilnya, mencengkeram kemudi erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya tidak lagi berupa air mata yang berlinang. Amarahnya kini menjelma menjadi ketenangan yang dingin dan mematikan. Ia menyalakan mesin mobil, mengarahkannya membelah kemacetan Jakarta menuju Bintaro. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario konfrontasi mulai terbentuk. Ia tidak ingin sekadar mengamuk. Mengamuk hanya akan membuat mereka bersiap untuk berbohong atau melarikan diri. Sekar menginginkan kebenaran yang utuh, dan ia akan menuntut bayaran yang setimpal untuk setiap rupiah, setiap tetes air mata, dan setiap pengkhianatan yang telah mereka tabur di belakang punggungnya.
Satu jam perjalanan terasa seperti keabadian yang menyiksa. Begitu tiba di depan pagar rumah bernuasna minimalis modern milik Larasati, Sekar melihat mobil SUV hitam milik Argani terparkir manis di garasi, bersisian dengan mobil kota milik Larasati. Pagar besi hitam itu tidak dikunci rapat. Sekar turun dari mobilnya, melangkah tanpa suara menyusuri jalan setapak kecil di samping taman yang tertata rapi. Ada beberapa mainan anak-anak berserakan di teras depan.
Pintu utama rumah itu sedikit terbuka, menyisakan celah sempit yang mengalirkan suara tawa hangat dari dalam ruang tengah. Suara tawa yang sangat Sekar kenal. Itu adalah suara tawa Argani, tawa lepas yang sudah jarang sekali ia dengar di rumah mereka sendiri selama setahun terakhir ini.
'Nah, Bumi harus habiskan supnya dulu, baru Papa bacakan dongeng singa yang kemarin,' terdengar suara Argani, begitu lembut, begitu penuh kasih sayang yang belum pernah sekalipun ditunjukkannya kepada siapa pun.
'Bumi mau Papa yang suapi, bukan Ibu,' sahut sebuah suara anak kecil yang terdengar agak serak namun ceria.
'Iya, sayang. Biar Papa Argani yang suapi. Ibu mau siapkan obat Bumi dulu di dapur ya,' timpal suara Larasati, disusul suara langkah kaki yang mendekat ke arah dapur yang letaknya sejajar dengan pintu samping tempat Sekar berdiri mematung.
Napas Sekar tercekat di tenggorokan. Setiap kata yang meluncur dari dalam rumah itu seperti pisau belati yang menguliti harga dirinya sebagai seorang istri dan seorang sahabat. Di dalam sana, mereka sedang memainkan peran sebagai keluarga kecil yang bahagia, sementara dirinya hanyalah mesin pencetak uang yang membiayai sandiwara indah mereka. Sekar memejamkan mata sejenak, mengatur ritme napasnya yang memburu, mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya untuk menghadapi badai terbesar dalam hidupnya.
Dengan gerakan perlahan namun tegas, Sekar mendorong pintu depan hingga terbuka lebar. Bunyi derit pintu membuat tawa di dalam ruangan itu mendadak senyap. Argani yang sedang duduk bersimpuh di lantai karpet berbulu sambil memegang mangkuk sup kecil langsung menoleh, wajahnya seketika pucat pasi seolah melihat hantu berdiri di ambang pintu.
'Sekar?' bisik Argani, suaranya bergetar hebat, mangkuk sup di tangannya hampir saja terlepas.
Larasati yang baru saja keluar dari arah dapur dengan membawa botol obat membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar penuh ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan. Keheningan yang mencekam mendadak merayap di antara mereka bertiga, memisahkan kehangatan palsu yang baru saja tercipta dengan kenyataan mengerikan yang kini siap meledak.