Janu Lebih Pilih Kasih Beasiswa Itu Ke Aruna Padahal Dia Tahu Skripsiku Dihancurkan Siapa

Janu Lebih Pilih Kasih Beasiswa Itu Ke Aruna Padahal Dia Tahu Skripsiku Dihancurkan Siapa

Kisah Kampus

Janu Lebih Pilih Kasih Beasiswa Itu Ke Aruna Padahal Dia Tahu Skripsiku Dihancurkan Siapa



'Sekali lagi kamu sebut nama Aruna di depan mukaku, Janu, aku pastikan laptop ini nggak akan pernah menyala lagi.' Suaraku bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan ledakan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Di sudut perpustakaan pusat yang sepi itu, aroma buku tua yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik. Aku menatap Janu, laki-laki yang selama tiga tahun ini menjadi alasan aku rajin ke kampus, yang selalu berbagi kopi dingin denganku di selasar fakultas, kini tampak seperti orang asing yang sangat menakutkan.

Janu hanya diam, matanya terpaku pada layar ponsel yang menyala di antara kami. Di sana, sebuah notifikasi Spotify muncul tanpa permisi: 'Aruna baru saja menambahkan 15 lagu ke playlist Our Thesis Journey'. Hatiku mencelos. Nama playlist itu sangat spesifik. Itu adalah judul yang kami rencanakan bersama saat kami masih bermimpi untuk lulus di bulan yang sama. Tapi sekarang, nama Aruna ada di sana, menggantikan posisiku dalam kolaborasi digital yang seharusnya privat itu.

Pengkhianatan itu tidak datang dalam bentuk ciuman di belakang punggung atau pesan-pesan mesra yang bocor. Pengkhianatan ini jauh lebih intelektual dan sistematis. Seminggu yang lalu, file skripsiku yang sudah masuk bab akhir tiba-tiba korup. Hard disk eksternalku hilang dari tas saat aku sedang salat di musala fakultas. Dan kemarin, pengumuman beasiswa magang ke Jerman yang sangat aku idamkan keluar. Nama Aruna bertengger gagah di urutan pertama, dengan surat rekomendasi tunggal dari Janu, yang kebetulan menjabat sebagai asisten dosen utama dalam proyek kerja sama itu.

Aku tahu siapa yang mengambil hard disk-ku. Aku melihat gantungan kunci kecil berbentuk kucing milik Aruna tertinggal di bawah meja tempat tasku diletakkan. Tapi yang membuatku hancur adalah kenyataan bahwa Janu tahu. Dia tahu betapa berdarah-darahnya aku menyusun data itu dari nol. Dia tahu Aruna adalah orang yang paling iri saat aku terpilih sebagai mahasiswa berprestasi tingkat fakultas. Namun, di hadapanku sekarang, Janu justru menunjukkan keberpihakannya pada perempuan yang telah mematikan masa depanku secara perlahan.

'Sekar, kamu nggak paham. Aruna butuh beasiswa itu lebih dari kamu. Ayahnya baru saja kena PHK,' Janu akhirnya bersuara, nadanya datar seolah-olah dia sedang membacakan laporan praktikum. 'Lagipula, skripsimu hilang kan? Kamu nggak punya bukti hasil riset untuk dikirim ke Berlin. Aruna punya. Dia punya data yang sangat mirip dengan punyamu, bahkan lebih lengkap.'

Aku tertawa sumbang, sebuah tawa yang berakhir dengan sesak di dada. 'Mirip kamu bilang? Itu dataku, Janu! Dia mencurinya! Dan kamu... kamu yang membantu dia merapikannya kembali agar tidak terlihat seperti plagiasi, kan? Playlist itu... kalian mengerjakannya bareng-bareng di saat aku menangis di kosan karena kehilangan semua kerjaku selama setahun?' Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga, membasahi meja kayu perpustakaan yang dingin.

Janu bangkit dari kursinya, tidak mencoba untuk menghapus air mataku atau memberikan kata-kata penenang. Dia justru merapikan tasnya, memasukkan laptop dengan gerakan yang sangat efisien. 'Dunia ini nggak cuma soal siapa yang jujur, Sekar. Tapi soal siapa yang bisa bertahan dengan apa yang ada. Aruna lebih cerdik darimu. Kalau kamu mau beasiswa itu, harusnya kamu lebih hati-hati jaga asetmu sendiri.'

Kata-katanya seperti belati yang tumpul, digesekkan paksa ke hatiku hingga perihnya menjalar ke seluruh tubuh. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, menuju pintu keluar perpustakaan di mana Aruna sudah menunggu dengan senyum kemenangan yang disamarkan dengan wajah prihatin palsu. Aku tersadar, kampus yang selama ini menjadi taman bermain ilmu bagiku, kini berubah menjadi rimba di mana orang-orang terdekatku adalah pemangsa yang paling haus darah.

Namun, Janu lupa satu hal. Aku adalah tipe orang yang menyimpan cadangan untuk segalanya. Dia pikir aku sebodoh itu? Dia pikir aku hanya punya satu hard disk? Aku menarik napas dalam-dalam, mengusap air mataku dengan kasar. Di balik folder tersembunyi dalam layanan cloud yang tidak pernah kukoneksikan ke perangkat publik, aku punya rekaman suara. Rekaman saat Aruna memintaku untuk memberikan data mentahku tiga bulan lalu dengan iming-iming uang, dan rekaman percakapan Janu di telepon yang secara tidak sengaja terekam saat aku sedang mencoba fitur voice note di dekat mejanya seminggu lalu.

Pertempuran ini belum selesai. Jika mereka ingin bermain kotor, aku akan menunjukkan bagaimana cara membersihkan sampah dengan cara yang paling elegan. Aku meraih ponselku, membuka aplikasi email, dan mulai mengetik pesan untuk dekan fakultas serta komite beasiswa internasional. Subjeknya singkat namun mematikan: 'Laporan Pelanggaran Integritas Akademik dan Pencurian Data: Kasus Aruna & Janu'.

Langkahku keluar dari perpustakaan terasa jauh lebih ringan. Aku berpapasan dengan mereka di lobi. Aruna mencoba mendekat, memasang raut wajah sedih yang menjijikkan. 'Sekar, aku turut berduka ya soal skripsimu. Kalau kamu butuh bantuan buat ngetik ulang, aku siap kok.' Aku berhenti tepat di depannya, menatap matanya dalam-dalam hingga dia merasa tidak nyaman. Aku melirik Janu yang tampak enggan menatapku.

'Nggak perlu, Aruna. Simpan saja tenagamu untuk sidang komite disiplin besok pagi. Dan Janu... playlist kalian bagus. Sayang sekali, lagu terakhirnya akan terdengar sangat menyedihkan di telinga kalian nanti.' Aku melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan mereka berdua yang terpaku di tengah hiruk pikuk mahasiswa yang sedang bergembira menyambut masa depan. Mereka tidak tahu bahwa dalam hitungan jam, dunia yang mereka bangun di atas reruntuhan mimpiku akan runtuh seketika.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url