Suamiku Membangun Surga di Atas Tabungan Masa Depan Kami, Tapi Penghuninya Bukan Aku
'Jangan sekarang, Biru. Kita lagi di tempat umum,' bisikku sambil mencoba menarik tanganku yang gemetar. Di tengah keramaian pusat perbelanjaan yang baru saja buka, suamiku, Biru Dananjaya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia baru saja memberikan sebuah kotak perhiasan mewah, sebuah hadiah ulang tahun pernikahan kelima yang seharusnya membuatku melompat kegirangan. Namun, rasa mual justru mengaduk perutku. Bukan karena aku tidak bersyukur, tapi karena sepuluh menit yang lalu, ponselnya tertinggal di meja kafe saat dia pergi ke toilet, dan sebuah notifikasi dari aplikasi 'Smart Home' muncul di layarnya.
Notifikasi itu sederhana: 'Pintu Depan Paviliun Melati Terbuka'. Masalahnya, kami tidak punya properti bernama Paviliun Melati. Kami hanya punya rumah tipe 36 di pinggiran Jakarta yang cicilannya baru akan lunas sepuluh tahun lagi. Dan yang lebih menghancurkan, foto profil akun yang mengirimkan laporan itu adalah wajah yang sangat kukenal. Wajah Widuri, sahabat karibku yang pamit pindah ke luar pulau tiga tahun lalu karena alasan pekerjaan.
Aku berusaha menenangkan detak jantungku saat kami duduk di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Biru tampak tenang, sesekali bersenandung mengikuti lagu di radio. Dia adalah pria sempurna di mata semua orang—setia, pekerja keras, dan selalu mengutamakan keluarga. Namun, di dalam tas tanganku, aku menggenggam ponselku sendiri yang sudah kupakai untuk memotret layar ponsel Biru tadi secara diam-diam. Aku mulai mencari tahu apa itu Paviliun Melati.
Sesampainya di rumah, aku menunggu Biru masuk ke ruang kerjanya. Dengan tangan yang masih dingin, aku membuka laptop. Aku teringat Biru pernah memintaku mentransfer sejumlah uang besar ke sebuah rekening 'reksa dana' setiap bulan selama dua tahun terakhir. Katanya, itu untuk dana pensiun kami. Aku memasukkan nama rekening itu ke mesin pencari, menggabungkannya dengan kata kunci 'Melati'. Hasilnya membuat duniaku seolah runtuh. Rekening itu bukan reksa dana, melainkan akun pembayaran otomatis untuk sebuah klaster eksklusif di daerah Bogor. Dan unitnya bernama Paviliun Melati.
Keingintahuanku berubah menjadi obsesi yang menyakitkan. Aku tidak menangis. Belum. Ada kemarahan yang membeku di dadaku. Aku memutuskan untuk tidak bertanya langsung. Aku tahu Biru adalah ahli retorika; dia akan menemukan seribu satu alasan untuk membungkamku. Aku perlu melihatnya sendiri. Keesokan harinya, aku meminta izin untuk mengunjungi ibuku di Tangerang, namun tujuanku sebenarnya adalah Bogor.
Perjalanan itu terasa seperti perjalanan menuju eksekusi mati. Setiap kilometer yang kutempuh membuat dadaku makin sesak. Mengapa Widuri? Mengapa dia tidak pernah benar-benar pergi? Dan yang paling menyakitkan, mengapa uang yang kami sisihkan dengan susah payah—uang yang membuatku harus menunda membeli baju baru atau sekadar makan enak di akhir pekan—justru digunakan untuk membiayai hidup wanita lain?
Aku tiba di alamat itu pukul dua siang. Klaster itu sangat asri, penuh dengan pohon pelindung dan bunga-bunga yang tertata rapi. Jauh berbeda dengan lingkungan rumah kami yang gersang dan bising. Aku memarkir mobil agak jauh dan berjalan kaki menuju unit yang dimaksud. Hatiku mencelos melihat sebuah mobil mainan anak-anak tergeletak di halaman depan Paviliun Melati. Sebuah sepeda kecil berwarna biru langit bersandar di dinding teras.
Lalu, pintu terbuka. Widuri keluar dengan daster batik yang tampak nyaman, menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar dua tahun. Anak itu memiliki rambut ikal yang persis dengan Biru. Mereka tertawa, menunggu seseorang di pagar. Tak lama kemudian, sebuah mobil yang sangat kukenal masuk ke halaman. Mobil suamiku. Biru turun dari mobil, menggendong anak itu, dan mengecup kening Widuri dengan cara yang tidak pernah lagi dia lakukan padaku dalam setahun terakhir.
Aku berdiri di balik pohon besar, menyaksikan 'surga' yang dibangun suamiku di atas kebohongannya. Air mataku jatuh tanpa suara. Biru tampak begitu bahagia, begitu lepas, seolah beban hidupnya hilang saat memasuki gerbang Paviliun Melati. Dia tidak sadar bahwa di balik pohon itu, istrinya sedang hancur berkeping-keping. Aku menyadari bahwa pengkhianatan ini bukan sekadar urusan ranjang. Ini adalah pencurian hidup. Dia telah mencuri masa depanku, keamanan finansialku, dan persahabatanku dalam satu tarikan napas.
Aku kembali ke mobil dengan kaki lemas. Aku menyalakan mesin, tapi tidak segera berangkat. Aku menatap layar ponselku, melihat foto kami berdua saat pernikahan dulu yang kujadikan wallpaper. Betapa naifnya aku. Selama ini aku mengira kami sedang berjuang bersama menabung demi masa tua, ternyata aku hanya mesin ATM yang membantunya membangun keluarga kedua. Kemarahanku kini berubah menjadi dingin dan terencana. Aku tidak akan membiarkan mereka menang begitu saja.
Malam itu, aku pulang ke rumah kami lebih lambat dari biasanya. Biru sudah ada di sana, sedang menonton televisi seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menyambutku dengan senyum manis yang sekarang terasa menjijikkan. 'Ibu sehat, Mahika?' tanyanya ringan. Aku mengangguk pelan, mencoba menahan diri agar tidak melempar vas bunga ke wajahnya. 'Sehat, Biru. Tadi aku juga mampir ke bank, ngecek tabungan masa depan kita,' jawabku sengaja memancing.
Wajah Biru sedikit berubah, hanya sepersekian detik, tapi aku menangkap kegelisahan itu. 'Oh ya? Baguslah. Masih aman kan?' tanyanya berusaha santai. Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang belum pernah dia lihat sebelumnya. 'Aman banget. Malah aku kepikiran buat narik semua uangnya besok. Aku mau beli Paviliun, Biru. Kayaknya investasi properti lebih menjanjikan daripada reksa dana yang kamu maksud,' kataku dengan suara setenang air di danau purba.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi. Suara televisi terasa begitu memekakkan telinga. Biru mematung, remote di tangannya perlahan terjatuh ke atas karpet. Dia menatapku, mencari-cari apakah aku sedang bercanda atau tidak. Namun, dia hanya menemukan tatapan kosong dari seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya. Di saat itulah, aku tahu bahwa topengnya telah retak, dan drama yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Aku berbalik menuju kamar, meninggalkan Biru yang masih terpaku dalam keheningan yang menyesakkan. Aku tahu dia sedang memutar otak, mencari kebohongan baru untuk menutupi lubang yang sudah terlanjur terbuka. Tapi kali ini, tidak akan ada kata maaf. Aku tidak hanya akan mengambil kembali uangku, aku akan memastikan 'surga' yang dia bangun di Bogor itu berubah menjadi neraka yang paling dingin bagi mereka berdua. Dan Widuri, sahabatku tersayang, dia akan segera tahu bahwa aku bukan lagi Mahika yang lemah yang bisa dia tipu dengan kata-kata manis di balik telepon genggam.