Gunting Dalam Lipatan: Rahasia di Balik Jepit Rambut Merah yang Menghancurkan Hidupku dalam Semalam...

Gunting Dalam Lipatan: Rahasia di Balik Jepit Rambut Merah yang Menghancurkan Hidupku dalam Semalam...

Skandal & Pengkhianatan

Gunting Dalam Lipatan: Rahasia di Balik Jepit Rambut Merah yang Menghancurkan Hidupku dalam Semalam...



Jakarta malam itu terasa lebih gerah dari biasanya, padahal AC di unit apartemen mewah milik Arka sudah disetel di suhu paling rendah. Aku berdiri di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, mencoba menenangkan debaran jantungku yang nggak karuan. Harusnya ini jadi malam yang bahagia. Arka baru saja melamarku dua minggu lalu dengan cincin berlian yang harganya setara dengan satu unit rumah di pinggiran Jakarta. Namun, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mengganjal di ulu hatiku. Seperti ada bisikan halus yang terus bilang kalau semua ini terlalu sempurna untuk jadi kenyataan.

Aku berjalan pelan menuju ruang kerja Arka. Dia bilang dia ada meeting mendadak di kantor dan mungkin baru pulang lewat tengah malam. Sebagai calon istri yang baik, aku niatnya cuma mau merapikan meja kerjanya yang biasanya berantakan. Aku tahu Arka orang yang sangat tertutup soal urusan pekerjaannya, tapi aku nggak pernah curiga. Bagiku, kepercayaan adalah fondasi utama hubungan kami yang sudah berjalan tiga tahun ini. Namun, malam itu, kepercayaan itu retak berkeping-keping hanya karena sebuah benda kecil yang tampak sepele.

Di sudut meja kerja mahogani itu, terselip sebuah jepit rambut berwarna merah menyala. Aku mematung. Tanganku gemetar saat meraih benda itu. Aku hafal betul jepit rambut ini. Ini bukan milikku. Aku nggak pernah memakai aksesoris rambut berwarna mencolok seperti ini. Tapi aku tahu persis siapa pemiliknya. Sarah. Sahabat karibku sejak zaman SMA. Wanita yang selalu jadi tempatku curhat tentang betapa baiknya Arka, tentang betapa beruntungnya aku memilikinya. Sarah sering memakai jepit ini setiap kali kami nongkrong bareng. Nafasku mulai terasa sesak, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Aku mencoba berpikiran positif. Mungkin Sarah tertinggal jepitnya saat mereka mendiskusikan kejutan untukku? Tapi, kenapa harus di ruang kerja pribadi Arka? Dan kenapa Arka nggak bilang kalau Sarah datang ke sini? Rasa penasaran yang membakar membuatku tanpa sadar melirik ke arah mesin penghancur kertas yang ada di bawah meja. Ada sisa-sisa potongan kertas yang belum sepenuhnya hancur. Dengan tangan yang masih gemetar, aku mengambil beberapa helai potongan kertas itu. Mataku membelalak saat membaca potongan kata yang tersisa di sana: 'Pengalihan Aset Surya Kencana Group'. Itu adalah perusahaan milik keluargaku. Perusahaan yang sedang aku percayakan pada Arka untuk dikelola sementara ayahku sakit keras.

Jantungku serasa dipompa dengan paksa. Aku nggak bisa berhenti sekarang. Aku mulai menggeledah laci meja kerja Arka yang biasanya terkunci, tapi entah kenapa malam ini dia lupa menguncinya. Di laci paling bawah, tersembunyi di bawah tumpukan map lama, aku menemukan sebuah amplop cokelat besar tanpa nama. Di dalamnya, ada foto-foto yang menghancurkan seluruh duniaku. Foto-foto Arka dan Sarah. Bukan sekadar foto biasa, melainkan foto-foto mereka yang terlihat sangat mesra di sebuah resort mewah di Bali, tepat di tanggal saat Arka bilang dia sedang ada perjalanan bisnis ke luar kota. Di belakang salah satu foto, tertulis kalimat dengan tulisan tangan Sarah yang sangat aku kenali: 'Sabar ya sayang, sebentar lagi perusahaan itu jadi milik kita, dan wanita bodoh itu nggak akan punya apa-apa lagi'.

Air mataku jatuh tanpa suara. Sakitnya nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya seperti ditusuk dari belakang oleh dua orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Mereka nggak cuma mengkhianati cintaku, tapi mereka juga berencana merampok warisan keluargaku. Ternyata selama ini kebaikan Arka, lamarannya yang romantis, dan persahabatan Sarah hanyalah bagian dari skenario busuk untuk menjatuhkanku. Aku terduduk di lantai yang dingin, memeluk jepit rambut merah itu dengan rasa benci yang meluap-luap. Aku menyadari satu hal: aku nggak boleh menangis terlalu lama. Kalau mereka bisa bermain kotor, maka aku harus bisa bermain lebih rapi.

Tiba-tiba, suara pintu apartemen terbuka terdengar dari depan. Suara langkah kaki yang sangat aku hafal. Itu Arka. Jantungku berpacu lebih cepat. Aku cepat-cepat memasukkan kembali amplop itu ke tempat semula, merapikan potongan kertas di mesin penghancur, tapi aku memutuskan untuk tetap menggenggam jepit rambut merah itu. Aku menghapus air mataku dengan kasar, mencoba mengatur ekspresi wajahku agar terlihat seolah nggak terjadi apa-apa. Aku keluar dari ruang kerja tepat saat Arka melepaskan dasinya di ruang tengah.

'Lho, sayang? Kok belum tidur? Kamu habis dari ruang kerjaku?' tanya Arka dengan nada suara yang tenang, bahkan dia masih sempat memberikan senyum manis yang dulu selalu membuatku meleleh. Sekarang, senyum itu terlihat seperti seringai iblis di mataku. Dia mendekat hendak mencium keningku, tapi aku sedikit menghindar dengan alasan ingin mengambil air minum di dapur. Aku bisa melihat tatapan matanya sedikit berubah, ada kilat kecurigaan di sana. Dia memang cerdik, tapi dia belum tahu kalau aku sudah tahu segalanya.

'Tadi aku cuma mau cari buku, Mas. Tapi aku malah nemu ini di mejamu,' kataku sambil mengangkat jepit rambut merah itu di depan wajahnya. Aku bisa melihat perubahan raut wajah Arka dalam sekejap. Dia terdiam, matanya sedikit membelalak, tapi hanya dalam hitungan detik dia berhasil menguasai dirinya kembali. 'Oh, itu... itu mungkin punya sekretarisku, Linda. Dia kemarin mampir buat nganter dokumen penting. Mungkin jatuh waktu dia lagi rapiin berkas,' jawabnya dengan sangat lancar, seolah sudah menyiapkan jawaban itu di luar kepala. Kebohongannya begitu mulus, membuatku merasa mual.

'Oh, Linda ya? Aku baru tahu Linda punya selera jepit rambut yang sama persis kayak Sarah. Lucu ya, kebetulannya?' balasku dengan nada sarkastik yang kental. Arka tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang. 'Ya namanya juga barang pasaran, sayang. Kamu jangan sensitif gitu deh. Aku capek banget hari ini, aku mau mandi dulu ya.' Dia berjalan melewatiku begitu saja, tapi aku bisa merasakan aura ketegangan yang menyelimuti punggungnya. Dia tahu aku mulai curiga, dan dia nggak akan tinggal diam.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku langsung mengambil ponselku. Aku mengirimkan sebuah pesan singkat kepada pengacara keluarga kami, Pak Baskoro. 'Pak, kita harus bertemu besok pagi pukul tujuh. Jangan beri tahu siapapun, termasuk Arka. Ini soal pengamanan aset ayah.' Setelah mengirim pesan itu, aku segera menghapusnya. Aku tahu langkah ini sangat berisiko. Kalau Arka tahu aku sedang menyusun rencana perlawanan, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menghentikanku. Mungkin dia akan mempercepat proses pemindahan aset itu sebelum aku sempat bertindak.

Aku pun menelepon Sarah. Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa bersandiwara. 'Halo, Sar? Kamu lagi apa? Besok kita lunch bareng yuk, aku kangen banget mau cerita-cerita soal persiapan nikahanku,' kataku dengan suara yang kubuat seceria mungkin. Di seberang telepon, suara Sarah terdengar sedikit gugup. 'Eh, Maya... besok ya? Duh, aku kayaknya ada meeting sama klien deh sampai sore. Lusa gimana?' Aku tersenyum pahit. Meeting dengan klien, atau meeting dengan tunanganku untuk merencanakan kehancuranku? 'Oh gitu ya, ya sudah nggak apa-apa. Lusa ya kita atur lagi. Have a good night, Sar,' ucapku sebelum menutup telepon.

Malam itu aku nggak bisa memejamkan mata sedikit pun. Aku tidur di sebelah laki-laki yang sedang berencana menghancurkan hidupku. Setiap kali Arka bergerak dalam tidurnya, aku merasa ngeri. Rasanya seperti tidur di sebelah ular berbisa yang siap mematuk kapan saja. Aku menatap langit-langit kamar, menyusun strategi. Aku harus mendapatkan bukti-bukti asli soal pengalihan aset itu. Aku juga harus mencari tahu di mana mereka menyimpan dokumen rahasia lainnya. Kalau Arka menggunakan ruang kerjanya, berarti ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam brankas kecil yang tertanam di balik lukisan di ruangan itu. Aku pernah melihat dia membukanya sekali, tapi aku nggak tahu kodenya.

Keesokan harinya, Arka pergi ke kantor lebih awal. Ini adalah kesempatanku. Setelah memastikan dia benar-benar pergi, aku kembali ke ruang kerjanya. Aku berdiri di depan lukisan abstrak yang menutupi brankas itu. Jantungku berdegup kencang. Aku mencoba memasukkan beberapa kombinasi angka. Tanggal lahirnya, gagal. Tanggal jadian kami, gagal. Tanggal pertunangan kami, gagal. Aku mencoba tanggal lahir ibunya, masih gagal. Sampai akhirnya, sebuah pemikiran gila melintas di kepalaku. Aku mencoba memasukkan tanggal lahir Sarah. Klik! Pintu brankas terbuka. Air mataku kembali menetes. Pengkhianatan ini ternyata jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan.

Di dalam brankas itu, aku menemukan berkas-berkas yang jauh lebih mengerikan. Arka ternyata sudah mulai memalsukan tanda tangan ayahku untuk beberapa dokumen penting. Dia juga sudah menyiapkan tiket pesawat ke luar negeri atas nama dirinya dan Sarah untuk bulan depan, tepat seminggu setelah tanggal pernikahan yang kami rencanakan. Mereka berencana kabur setelah berhasil menguras seluruh harta keluargaku. Aku memotret semua dokumen itu dengan ponselku, satu per satu, dengan tangan gemetar. Aku harus punya bukti yang kuat untuk membawanya ke jalur hukum.

Namun, saat aku baru saja selesai memotret halaman terakhir, aku mendengar suara pintu apartemen terbuka kembali. Jantungku seolah berhenti berdetak. 'Maya? Kamu di mana?' Itu suara Arka. Dia kembali! Aku panik, buru-buru menutup brankas dan merapikan lukisan itu kembali. Tapi aku nggak punya waktu untuk keluar dari ruangan. Aku bersembunyi di balik lemari buku besar di pojok ruangan. Langkah kaki Arka semakin mendekat ke ruang kerja. Aku menahan nafas, berdoa agar dia nggak menemukanku di sini.

Arka masuk ke ruangan dengan wajah yang terlihat sangat kesal. Dia sedang menelepon seseorang. 'Iya, Sar! Aku tadi ketinggalan flashdisk yang ada data kontrak itu. Makanya aku balik lagi. Kamu tenang aja, Maya nggak tahu apa-apa. Dia tadi malam cuma tanya soal jepit rambut kamu, tapi udah aku tangani. Dasar wanita gampang dibohongi, dia percaya-percaya aja waktu aku bilang itu punya Linda.' Arka tertawa dingin, suara tawa yang nggak pernah aku dengar sebelumnya. Suara tawa seorang predator yang sedang merayakan mangsanya.

'Iya, aku ambil flashdisk-nya sekarang terus langsung ke apartemen kamu. Kita harus selesaikan dokumen itu sore ini juga sebelum pengacara si tua itu curiga. Oke, bye sayang,' lanjut Arka sambil mengobrak-abrik laci mejanya. Dia hanya berada di sana selama dua menit, tapi rasanya seperti berjam-jam bagiku. Setelah dia mendapatkan apa yang dicarinya, dia segera keluar lagi dengan terburu-buru. Aku jatuh terduduk di balik lemari, tubuhku lemas seketika. Mendengar dia menyebut ayahku dengan sebutan 'si tua itu' membuat darahku mendidih. Dia benar-benar manusia tanpa hati.

Aku tahu aku nggak bisa bertindak sendirian. Aku segera keluar dari apartemen dan menuju kantor Pak Baskoro. Di sana, aku menceritakan semuanya sambil menangis terisak-isak. Pak Baskoro terkejut bukan main, tapi dia segera bersikap profesional. 'Tenang, Maya. Kita punya cukup bukti untuk menjebak mereka. Tapi kita harus bermain cantik. Jangan sampai Arka tahu kalau kita sudah memegang bukti-bukti ini. Biarkan dia merasa menang sampai hari pernikahan itu tiba. Kita akan beri dia kejutan yang nggak akan pernah dia lupakan di depan semua tamu undangan.'

Rencana pun disusun. Hari-hari berikutnya adalah neraka bagiku. Aku harus terus berpura-pura menjadi calon pengantin yang bahagia di depan Arka dan Sarah. Aku bahkan harus pergi fitting baju pengantin bersama Sarah, mendengarkan dia memuji-muji betapa cantiknya aku, sementara aku tahu di balik kepalanya dia sedang membayangkan dirinyalah yang akan bersanding dengan Arka menggunakan uangku. Setiap kali dia menyentuh bahuku, aku merasa merinding karena jijik. Tapi aku bertahan. Aku memendam semua amarah ini, mengubahnya menjadi bahan bakar untuk serangan balikku nanti.

Malam sebelum pernikahan, Arka memberiku sebuah kalung berlian. 'Ini buat kamu pakai besok, sayang. Kamu adalah hal terbaik dalam hidupku,' katanya dengan tatapan yang sangat meyakinkan. Aku hanya tersenyum tipis. 'Terima kasih, Mas. Kamu juga orang paling 'istimewa' yang pernah aku kenal.' Dalam hati, aku berkata: nikmati malam terakhirmu sebagai orang bebas, Arka. Karena besok, hidupmu yang penuh kepalsuan ini akan berakhir di balik jeruji besi.

Hari pernikahan itu pun tiba. Ballroom hotel mewah di Jakarta Selatan sudah dihias dengan sangat indah. Ratusan tamu undangan dari kalangan pengusaha dan pejabat sudah hadir. Ayahku, yang kondisinya sedikit membaik, duduk di kursi roda di barisan depan dengan wajah bangga. Arka berdiri di atas pelaminan dengan setelan tuksedo yang sangat elegan, tampak seperti pria idaman semua wanita. Sarah berdiri di barisan bridesmaid dengan gaun seragam yang cantik, tersenyum lebar ke arah Arka. Mereka berdua tampak sangat percaya diri, mengira rencana mereka sudah hampir mencapai garis finish.

Saat tiba waktunya untuk pemutaran video perjalanan cinta kami, lampu ballroom dipadamkan. Semua mata tertuju pada layar besar di belakang pelaminan. Arka menggenggam tanganku erat, membisikkan kata-kata manis. Namun, saat video dimulai, yang muncul bukanlah foto-foto romantis kami. Melainkan rekaman suara Arka saat di ruang kerja hari itu, foto-foto mesra Arka dan Sarah di Bali, serta dokumen-dokumen pemalsuan aset yang sudah aku temukan. Suasana ballroom yang tadinya tenang mendadak riuh dengan bisikan kaget para tamu. Wajah Arka pucat pasi, dia mencoba menghentikan video itu tapi Pak Baskoro sudah memastikan tim teknis berada di bawah kendalinya.

Sarah mencoba melarikan diri dari barisan bridesmaid, tapi dua petugas kepolisian berpakaian preman sudah menunggunya di pintu keluar. Aku melepaskan genggaman tangan Arka dengan kasar, lalu menatapnya dengan penuh kemenangan. 'Kejutannya bagus kan, Mas? Oh, dan Sar... jepit rambut merah kamu ketinggalan di apartemen, mau aku balikin sekarang?' kataku dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar. Arka terduduk lemas di pelaminan, sementara ayahku menatapnya dengan pandangan yang sangat kecewa dan marah. Ini bukanlah akhir dari ceritaku, melainkan awal dari kebangkitanku dari pengkhianatan yang mereka tanam sendiri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url