Gaji Dua Digit Tapi Harga Diriku Dihancurkan... Rahasia Kelam di Lantai 22 yang Mengubah Segalanya!

Gaji Dua Digit Tapi Harga Diriku Dihancurkan... Rahasia Kelam di Lantai 22 yang Mengubah Segalanya!

Romansa Kantor

Gaji Dua Digit Tapi Harga Diriku Dihancurkan... Rahasia Kelam di Lantai 22 yang Mengubah Segalanya!



Hujan di Jakarta Selatan malam itu turun seolah-olah langit sedang meluapkan dendam yang sudah dipendam berabad-abad. Dari lantai dua puluh dua gedung perkantoran di kawasan SCBD, lampu-lampu jalanan di bawah sana cuma kelihatan seperti barisan semut api yang terjebak macet. Aku, Maya, masih duduk kaku di depan monitor yang cahayanya mulai bikin mataku perih. Bunyi detak jam dinding di ruangan Adrian terasa sepuluh kali lebih keras dari biasanya, beradu dengan suara jemariku yang sesekali masih menari di atas keyboard.

Adrian Dirgantara. Nama itu bukan cuma sekadar nama bos di kartu namaku. Dia itu definisi sempurna dari pria yang punya segalanya: karisma, kekuasaan, dan sorot mata yang bisa bikin semua perempuan di kantor ini rela lembur tanpa dibayar. Selama tiga tahun aku jadi asisten pribadinya, aku sudah belajar banyak hal. Aku tahu dia suka kopi hitam tanpa gula di jam sepuluh pagi, aku tahu dia benci kalau ada berkas yang ditaruh miring sedikit saja, dan yang paling penting, aku tahu kalau aku sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pria yang secara logika tidak mungkin kumiliki.

Malam ini kami cuma berdua. Adrian masih di dalam ruangannya, mungkin lagi meninjau draf akuisisi perusahaan properti yang kami kerjakan sebulan terakhir. Hubungan kami itu aneh. Di depan staf lain, dia adalah singa yang dingin. Tapi kalau sudah berdua saja seperti ini, dia sering melempar senyum tipis yang cuma buat aku. 'Maya, jangan terlalu dipaksakan. Kamu bisa pulang kalau sudah capek,' katanya tadi sore sambil mengusap bahuku sekilas. Sentuhan kecil itu, sesederhana itu, sanggup bikin jantungku lari maraton sampai sekarang.

Sekitar jam sepuluh malam, Adrian keluar dari ruangannya dengan jas yang sudah tersampir di lengan. Kemeja putihnya yang mahal itu tampak sedikit kusut di bagian siku, memberinya kesan 'messy' yang justru makin bikin dia terlihat tampan. 'Maya, saya ke toilet sebentar ya. Tolong rapikan berkas di meja saya, setelah itu kita pulang bareng. Saya antar,' ucapnya pelan. Suaranya rendah, bariton yang selalu berhasil bikin aku patuh tanpa tapi.

Aku mengangguk, mencoba menyembunyikan rona merah di pipiku. 'Baik, Pak Adrian,' jawabku sesopan mungkin. Begitu dia menghilang di balik pintu kaca, aku segera berdiri dan melangkah masuk ke ruangannya yang luas. Aroma parfum wood and amber miliknya langsung menyerbu indra penciumanku. Wangi kesuksesan, wangi yang selalu bikin aku merasa aman.

Aku mulai merapikan tumpukan dokumen di atas meja mahagoni itu. Semuanya terasa normal sampai mataku tertuju pada ponsel Adrian yang tergeletak di samping tempat bolpoin. Layarnya tiba-tiba menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak yang hanya dinamai dengan inisial 'M'. Awalnya aku ingin mengabaikannya, tapi kalimat pertama yang muncul di layar kunci itu seolah-olah menjadi petir yang menyambar tepat di jantungku.

'M: Foto yang tadi kamu kirim bagus banget. Maya beneran nggak sadar ya kalau dia cuma jadi pion kita? Dia terlalu naif buat posisi sehebat itu. Kapan kita eksekusi rencana terakhir buat bikin dia jadi tumbal kasus penggelapan pajak ini?'.

Duniaku rasanya berhenti berputar. Napas yang tadi teratur, mendadak hilang entah ke mana. Tanganku gemetar hebat saat aku memberanikan diri untuk tidak sengaja menyentuh layar itu, membuat pesan lengkapnya terlihat jelas. Ada sebuah foto terlampir di sana. Itu fotoku. Foto yang diambil secara diam-diam saat aku sedang menangis di pantry bulan lalu karena stres pekerjaan, dan Adrian ada di sana memelukku. Di bawah foto itu, ada balasan dari Adrian yang baru saja dikirim beberapa menit lalu sebelum dia ke toilet: 'Sabar, sayang. Biarkan dia merasa dicintai dulu. Begitu semua dokumennya dia tanda tangani atas nama dia, kita bakal bebas. Dia itu cuma asisten yang bodoh tapi berguna'.

Air mataku jatuh tanpa permisi, membasahi permukaan meja yang mengkilap. Jadi, selama ini semua perhatian itu, semua lembur berdua itu, semua perlindungan yang dia berikan padaku... hanyalah bagian dari skenario untuk menjebakku? Aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia. Aku sudah menyerahkan segalanya untuk pria ini. Waktuku, energiku, bahkan perasaanku yang paling tulus. Ternyata di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah iblis yang sedang menyiapkan lubang kubur untuk karier dan masa depanku.

Aku mendengar suara langkah kaki di lorong. Adrian kembali. Cepat-cepat aku menghapus air mata dengan punggung tangan dan mencoba bersikap senormal mungkin, meskipun dadaku rasanya mau meledak. Aku meletakkan kembali ponsel itu di posisi semula, tepat saat pintu terbuka. Adrian berdiri di sana, tersenyum hangat, tipe senyum yang beberapa menit lalu adalah favoritku, tapi sekarang terlihat begitu memuakkan.

'Sudah siap, Maya?' tanyanya dengan nada suara yang begitu lembut, begitu manipulatif. Aku menatap matanya, mencoba mencari sisa-sisa kebohongan di sana, dan aku menemukannya. Ada kilatan dingin di balik keramahan itu. Aku harus bermain peran. Kalau dia pikir aku pion yang bodoh, maka aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara pion skakmat raja.

'Sudah, Pak,' jawabku sambil memaksakan sebuah senyuman. 'Tapi boleh saya minta tolong satu hal? Ada berkas yang tadi saya lupa minta Bapak tanda tangani di laci bawah. Boleh Bapak ambilkan?'. Saat dia membungkuk untuk membuka laci, aku dengan cepat meraih flashdisk tersembunyi yang selalu kubawa di gantungan kunci, dan memasukkannya ke port laptopnya yang masih terbuka. Aku harus mengambil bukti itu malam ini juga, atau aku akan hancur selamanya.

Ketegangan di ruangan itu menjadi begitu pekat. Suara hujan di luar seolah menjadi musik latar dari sebuah perang dingin yang baru saja dimulai. Aku tahu, setelah malam ini, hidupku di kantor ini tidak akan pernah sama lagi. Romansa yang kukira seindah drama Korea ternyata adalah film thriller yang pemeran utamanya adalah aku sendiri, yang sedang berjuang agar tidak mati di akhir cerita.

Adrian bangkit berdiri, memegang sebuah map kosong dengan kening berkerut. 'Laci bawah kosong, Maya. Berkas apa maksud kamu?'. Dia menatapku tajam, seolah menyadari ada yang salah dengan gelagatku. Jantungku berdegup kencang. Progress bar di layar laptopnya menunjukkan angka 90%. Hanya butuh beberapa detik lagi untuk menyalin semua data busuk itu. Aku harus mengulur waktu.

'Oh, mungkin saya salah taruh, Pak. Coba cek di rak belakang,' kataku sambil melangkah mendekat, mencoba menghalangi pandangannya dari monitor. Adrian tidak bergerak. Dia justru menyipitkan mata dan perlahan berjalan ke arahku. Jarak kami makin tipis. Aku bisa mencium wangi parfumnya lagi, tapi kali ini wangi itu terasa mencekik.

'Kamu aneh malam ini, Maya. Ada yang kamu sembunyikan dari saya?' tanyanya, suaranya kini berubah menjadi sangat dingin, tanpa ada lagi embel-embel kehangatan palsu. Dia memojokkanku hingga punggungku menabrak meja kerjanya. Tangannya mengunci pergerakanku di sisi kiri dan kanan. Aku terjebak di antara tubuhnya dan rahasia yang baru saja kuketahui.

Tiba-tiba, bunyi 'ting' kecil terdengar dari laptop. Proses copy selesai. Mata Adrian langsung melirik ke arah monitor. Wajahnya berubah drastis dari kebingungan menjadi kemarahan yang murni. Dia melepaskan tangannya dari meja dan menyambar laptop itu, melihat flashdisk-ku yang masih tertancap di sana. Dia kemudian menoleh padaku dengan tatapan yang bisa membunuh seketika.

'Jadi... kamu sudah tahu ya?' bisiknya, sebuah seringai kejam muncul di bibirnya. Dia tidak lagi mencoba bersembunyi. Topengnya sudah lepas sepenuhnya. Dia mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatapnya. 'Tadinya saya ingin melakukan ini dengan cara halus, Maya. Tapi sepertinya kamu lebih suka cara yang kasar'.

Aku tidak takut lagi. Rasa sakit hati yang luar biasa sudah berubah menjadi keberanian yang membara. Aku meludahi lantai tepat di depan sepatunya yang mengkilap. 'Kamu pikir aku bakal diam saja dijadikan tumbal? Kita lihat saja siapa yang bakal berakhir di penjara, Adrian'.

Adrian tertawa terbahak-bahak, suara tawa yang paling mengerikan yang pernah kudengar. Dia melepaskan cengkeramannya dan mengambil ponselnya. 'Kamu lupa satu hal, Maya. Di gedung ini, di kota ini, semua orang adalah milik saya. Kamu punya bukti? Silakan. Tapi besok pagi, namamu akan ada di berita utama sebagai tersangka utama korupsi. Dan kamu tahu apa yang paling lucu? Kamu sendiri yang menandatangani semua bukti palsu itu selama dua tahun terakhir'.

Lututku lemas. Dia benar. Semua dokumen yang selama ini kuselesaikan dengan penuh tanggung jawab, ternyata adalah jebakan yang kususun untuk diriku sendiri. Aku jatuh terduduk di lantai, sementara Adrian berdiri tegak di atasku seperti penguasa kegelapan. Dia membungkuk sedikit, membisikkan sesuatu di telingaku yang bikin seluruh bulu kudukku berdiri. 'Selamat malam, Maya. Nikmati tidur terakhirmu sebagai orang bebas'.

Dia pergi meninggalkan ruangan, membawa flashdisk dan harapanku bersamanya. Tapi dia melakukan satu kesalahan fatal. Dia tidak tahu kalau aku punya salinan kedua yang sudah otomatis terunggah ke cloud pribadi sejak detik pertama flashdisk itu dicolokkan. Perang baru saja dimulai, dan aku tidak akan menyerah tanpa perlawanan yang akan menghancurkan seluruh kekaisarannya di lantai dua puluh dua ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url