Skandal Gelap di Balik Beasiswa Prestasiku: Rahasia yang Terkubur di Perpustakaan Kampus Ternama...

Skandal Gelap di Balik Beasiswa Prestasiku: Rahasia yang Terkubur di Perpustakaan Kampus Ternama...

Kisah Kampus

Skandal Gelap di Balik Beasiswa Prestasiku: Rahasia yang Terkubur di Perpustakaan Kampus Ternama...



Dinginnya udara AC di Perpustakaan Pusat Universitas Cakra Bangsa sore itu sama sekali nggak membantu menenangkan kegugupan di hatiku. Namaku Aruna, mahasiswi semester lima yang hidupnya bergantung penuh pada selembar kertas bernama surat keterangan beasiswa. Buat orang lain, kampus ini mungkin cuma tempat belajar atau sekadar ajang pamer outfit branded di koridor gedung manajemen. Tapi buat aku, kampus ini adalah medan perang. Satu nilai C saja, dan seluruh mimpiku untuk mengangkat derajat ibu di kampung bakal hangus seketika.

Pekerjaan sampinganku sebagai asisten pustakawan sebenarnya cukup tenang, sampai hari itu tiba. Pak Bambang, kepala perpustakaan yang sudah sepuh, memintaku membereskan gudang arsip di lantai basement yang katanya sudah nggak dibuka selama lima tahun. 'Aruna, tolong rapikan dokumen tahun 2015-2017 ya. Kita mau renovasi bulan depan,' katanya sambil menyerahkan kunci kuningan yang terasa berat di telapak tanganku.

Lantai basement itu pengap, bau kertas tua dan debu langsung menyerbu indra penciumanku begitu pintu kayu mahoni yang berat itu terbuka. Aku menyalakan lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di dinding-dinding yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Aku mulai memilah tumpukan map cokelat yang sudah berdebu tebal. Awalnya semua tampak biasa saja, sampai tanganku menyentuh sebuah lemari kayu jati kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus bekas.

Lemari itu terkunci, tapi kuncinya sudah karatan. Dengan sedikit paksaan, pintu lemari itu terbuka dengan suara derit yang memilukan. Di dalamnya bukan tumpukan skripsi lama, melainkan sebuah amplop hitam besar yang tertutup rapat dengan segel lilin merah. Di depannya tertulis: 'Rahasia Yayasan - Jangan Dibuka'. Jantungku mulai berdegup kencang. Naluri rasa ingin tahuku sebagai anak komunikasi langsung bergejolak. Aku tahu ini salah, aku tahu aku nggak seharusnya lancang, tapi tanganku seolah punya pikirannya sendiri.

Aku merobek amplop itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah flashdisk kecil berwarna silver dan beberapa lembar transkrip nilai asli yang sudah dicoret-coret dengan pulpen merah. Mataku membelalak saat membaca nama yang tertera di sana: Satya Pradipta. Siapa yang nggak kenal Satya? Dia itu 'Golden Boy' kampus kami. Ketua BEM, anak pemilik yayasan, dan selalu dicitrakan sebagai mahasiswa paling cerdas se-universitas. Tapi di kertas ini, nilai aslinya berantakan. Hampir semua mata kuliah intinya merah, namun di sampingnya ada tanda tangan dekan dan instruksi singkat: 'Ubah menjadi A+ demi reputasi keluarga'.

Tanganku gemetar hebat. Ini bukan sekadar manipulasi nilai biasa, ini adalah skandal akademik terbesar yang pernah aku lihat. Flashdisk itu aku masukkan ke laptop kerjaku dengan perasaan waswas. Begitu terbuka, isinya lebih gila lagi. Ada rekaman suara, bukti transfer miliaran rupiah, dan daftar mahasiswa yang 'disingkirkan' beasiswanya hanya karena mereka terlalu pintar dan dianggap mengancam posisi Satya sebagai lulusan terbaik. Salah satu nama di daftar itu adalah kakak tingkatku yang tiba-tiba menghilang dua tahun lalu setelah dituduh melakukan plagiarisme.

'Jadi ini caranya mereka bermain?' bisikku lirih, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku merasa mual. Semua kerja keras, malam-malam tanpa tidur untuk mengejar IPK sempurna, terasa seperti lelucon besar di hadapan sistem yang sudah busuk dari akarnya. Saat aku sedang terpaku menatap layar laptop, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang bergema di lantai basement. Suaranya mantap, sepatu pantofel mahal yang beradu dengan lantai semen.

'Aruna? Kamu masih di sini?'

Suara itu. Suara bariton yang sangat familiar. Aku langsung menutup layar laptopku dengan kasar, tapi terlambat. Di ambang pintu gudang yang remang-remang, berdiri sosok tinggi dengan kemeja slim-fit yang lengannya digulung sampai siku. Satya Pradipta. Dia berdiri di sana dengan senyum ramahnya yang biasa, tapi entah kenapa, kali ini senyum itu terlihat seperti seringai predator yang baru saja menemukan mangsanya. Matanya langsung tertuju pada amplop hitam yang tergeletak terbuka di atas meja kayu di depanku.

'Aku cari kamu ke mana-mana, mau ajak makan malam bareng pengurus BEM yang lain. Tapi ternyata kamu lagi... belajar sejarah kampus ya?' Satya melangkah masuk, perlahan tapi pasti. Setiap langkahnya terasa seperti detak jam menuju bom waktu. Dia berhenti tepat di depan mejaku, tangannya bersandar di pinggiran kayu, mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aroma parfum mahalnya yang tajam memenuhi ruang sempit itu.

'Satya, aku... aku cuma lagi beresin arsip kok. Pak Bambang yang suruh,' jawabku terbata-bata, mencoba menyembunyikan getaran di suaraku. Aku berusaha memasukkan kembali flashdisk itu ke kantong cardiganku tanpa terlihat mencolok, tapi gerakan tanganku tertangkap oleh mata elangnya. Kilatan di matanya berubah dari ramah menjadi dingin sedingin es. Suasana di basement itu tiba-tiba terasa sangat mencekam, seolah oksigen di sekitarku mendadak habis ditarik keluar.

'Aruna, kamu anak pintar. Anak beasiswa yang sangat berharga buat universitas ini. Aku nggak mau kamu membuat kesalahan bodoh yang bisa menghancurkan masa depanmu sendiri,' katanya dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan. Dia meraih selembar transkrip nilai yang keluar dari amplop itu. 'Dokumen ini harusnya sudah dibakar lima tahun lalu. Kenapa dia masih ada di sini ya? Dan kenapa harus kamu yang menemukannya?'

Aku mencoba mundur, tapi punggungku sudah menabrak rak buku di belakang. 'Aku nggak akan bilang siapa-siapa, Sat. Sumpah. Aku cuma mau lulus dengan tenang,' kataku memohon. Ketakutan itu nyata. Aku tahu betapa kuatnya keluarga Satya. Mereka bisa membuatku menghilang dari kampus ini dalam semalam tanpa jejak. Satya tertawa kecil, tawa yang sama sekali nggak mencapai matanya. Dia mendekat lagi, hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku.

'Masalahnya, Aruna... aku nggak bisa percaya sama orang yang sudah tahu rahasia terdalamku. Kamu tahu apa yang terjadi sama orang-orang sebelum kamu yang mencoba jadi pahlawan di sini?' Dia mengambil flashdisk dari tanganku dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat sampai jariku terasa sakit. 'Sekarang, pilihannya ada di tanganmu. Kamu mau ikut jadi bagian dari sistem ini dan hidup mewah sampai lulus, atau kamu mau mencoba melawan dan kehilangan segalanya malam ini juga?'

Aku menelan ludah, dadaku sesak. Di satu sisi, aku teringat wajah ibu yang bangga saat aku diterima di sini. Di sisi lain, harga diriku sebagai mahasiswa berteriak menuntut keadilan. Satya menatapku menunggu jawaban, tangannya perlahan menyentuh rambutku dengan cara yang sangat intimidatif. Di tengah keheningan basement yang mencekam itu, aku sadar bahwa mulai detik ini, hidupku di kampus nggak akan pernah sama lagi. Aku terjebak dalam permainan yang taruhannya bukan cuma nilai, tapi juga nyawaku sendiri.

Tiba-tiba, lampu neon di atas kami meledak, menciptakan kegelapan total selama beberapa detik. Di tengah kegelapan itu, aku merasakan sebuah tangan menarik lenganku dengan kasar. 'Ikut aku, atau kamu mati di sini,' bisik sebuah suara yang bukan suara Satya. Jantungku hampir copot. Siapa lagi ini? Apakah ada orang lain yang bersembunyi di gudang arsip ini selama ini? Sebelum aku sempat bereaksi, aku sudah diseret keluar menuju pintu belakang yang selama ini selalu terkunci rapat.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url