Kertas Kecil di Balik Lemari Sepatu Bongkar Rahasia 10 Tahun Pernikahanku yang Paling Kelam...

Kertas Kecil di Balik Lemari Sepatu Bongkar Rahasia 10 Tahun Pernikahanku yang Paling Kelam...

Drama Rumah Tangga

Kertas Kecil di Balik Lemari Sepatu Bongkar Rahasia 10 Tahun Pernikahanku yang Paling Kelam...



Pagi itu di Jakarta Selatan selalu punya aroma yang sama: campuran bau kopi espresso yang baru diseduh, wangi pembersih lantai beraroma lavender, dan suara samar klakson mobil dari kejauhan. Bagiku, Maya, ini adalah melodi kedamaian. Sepuluh tahun aku membangun surga kecil ini bersama Aris. Apartemen mewah di kawasan Senopati, karier Aris yang cemerlang sebagai direktur keuangan, dan citra kami sebagai 'couple goals' di mata teman-teman sosialitaku. Segalanya terasa sempurna, atau setidaknya, begitulah caraku membohongi diri sendiri selama ini.

Aris baru saja berangkat ke kantor. Seperti biasa, dia mengecup keningku lama, membisikkan kata 'I love you' yang terdengar begitu tulus, lalu menghilang di balik pintu lift pribadi kami. Aku memutuskan untuk membereskan lemari sepatu di lorong depan. Ada sesuatu yang mengganjal di sudut rak paling bawah, di balik deretan stiletto Christian Louboutin milikku yang jarang kupakai. Sebuah kotak sepatu tua yang seharusnya sudah dibuang bulan lalu.

Saat aku menarik kotak itu, sebuah buku tabungan kecil berwarna biru kusam terjatuh. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Kami selalu transparan soal keuangan. Aris punya akses ke rekeningku, dan aku punya akses ke rekeningnya. Tapi buku ini? Ini bukan dari bank yang biasa kami gunakan. Dengan tangan sedikit gemetar, aku membukanya. Halaman demi halaman menunjukkan transaksi rutin setiap tanggal 25. Jumlahnya tidak main-main, tiga puluh juta rupiah setiap bulan, dikirimkan ke sebuah nama yang asing tapi terasa menghantam ulu hatiku: Siska Amalia.

Siapa Siska? Namanya tidak ada dalam daftar klien Aris, bukan pula kerabat jauh yang pernah dia ceritakan. Aku terduduk di lantai marmer yang dingin, memandangi angka-angka itu. Transaksi ini sudah berjalan selama lima tahun. Lima tahun Aris menyisihkan uang yang cukup untuk mencicil sebuah rumah mewah, hanya untuk wanita bernama Siska ini. Pikiranku mulai berkelana ke malam-malam saat Aris bilang dia lembur, atau perjalanan dinas ke Bali yang katanya penuh rapat membosankan. Apakah semua itu bohong?

Aku tidak menangis. Belum. Ada api yang mendadak menyulut di dadaku, rasa panas yang menjalar hingga ke ujung jari. Aku bukan tipe istri yang akan mengamuk tanpa bukti. Aku butuh lebih. Aku meraih ponselku, menghubungi seorang teman lama yang bekerja di sebuah agensi detektif swasta. 'Cari tahu siapa Siska Amalia. Sekarang,' ucapku dingin.

Tiga jam kemudian, sebuah email masuk. Isinya adalah sebuah alamat apartemen di daerah BSD dan beberapa foto. Di foto pertama, aku melihat Aris. Dia mengenakan kaos polo santai, sesuatu yang jarang dia pakai di rumah. Dia sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun yang memiliki garis rahang dan sorot mata yang persis sekali dengan Aris. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan rambut sebahu—Siska—tersenyum lebar sambil merangkul lengan Aris. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Lebih bahagia daripada saat Aris bersamaku di acara-acara formal yang kaku.

Duniaku seolah runtuh, tapi aku menolak untuk hancur di lantai apartemen ini. Aku harus menghadapinya. Aku tahu hari ini Aris bilang ada 'lunch meeting' di sebuah bistro mewah di daerah SCBD. Aku mengenakan dress sutra berwarna hitam pekat, memulas bibirku dengan lipstik merah darah, dan mengikat rambutku dengan rapi. Aku harus terlihat sempurna saat aku menghancurkan dunianya.

Sesampainya di bistro itu, aku melihat mereka. Aris dan Siska. Mereka duduk di pojok yang agak tersembunyi, saling melempar tawa kecil. Aris menggenggam tangan wanita itu di atas meja, ibu jarinya mengusap punggung tangan Siska dengan gerakan yang sangat kukenal—gerakan yang dulu selalu dia lakukan padaku saat kami masih jatuh cinta.

Aku berjalan mendekat, langkah kakiku menggema di atas lantai kayu bistro yang tenang. Aris belum menyadari kehadiranku sampai aku berdiri tepat di samping meja mereka. Wajahnya langsung pucat pasi, seperti melihat hantu. 'Maya? Kamu... kamu ngapain di sini?' suaranya bergetar, penuh ketakutan yang berusaha ditutupi.

Aku tidak menjawab. Mataku beralih ke Siska yang tampak bingung namun mulai menyadari siapa aku. Tanpa sepatah kata pun, aku meraih gelas berisi air es di depan Aris. Dengan gerakan yang lambat dan penuh penekanan, aku menyiramkan air itu tepat ke wajah suamiku. 'Sepuluh tahun, Ris. Sepuluh tahun aku kasih hidupku buat kamu, dan ternyata kamu punya 'proyek' lain di belakangku?' suaraku tenang, tapi tajam seperti sembilu.

Aris gelagapan, mengusap wajahnya yang basah kuyup. 'Maya, dengerin dulu, ini nggak seperti yang kamu lihat. Siska itu...'

'Siska itu apa? Ibu dari anak yang kamu sembunyiin di BSD? Atau investasi masa depan kamu yang lebih menarik daripada istri sah kamu?' Aku memotong kalimatnya. Orang-orang di sekitar mulai menoleh, berbisik-bisik, tapi aku tidak peduli. Harga diriku sudah hancur, jadi aku akan memastikan harga dirinya ikut terkubur hari ini juga.

Siska mencoba angkat bicara, 'Mbak, maaf, saya nggak maksud...'

'Diam kamu!' bentakku, membuat wanita itu tersentak. 'Jangan berani-berani bicara sama saya seolah-olah kamu korban. Kamu tahu dia sudah punya istri, tapi kamu tetap mau jadi tempat sampah buat uang dan kebohongan dia.'

Aku mengambil tas kerjaku, mengeluarkan buku tabungan biru itu dan melemparkannya ke atas meja, tepat di depan piring steak mereka yang masih mengepul. 'Ini tiket kebebasan kamu, Ris. Aku nggak mau satu sen pun dari uang kotor kamu ini. Besok, pengacaraku akan kirim surat cerai ke kantor kamu. Jangan pernah pulang ke rumah. Barang-barang kamu sudah aku bakar di balkon.'

Aris mencoba mengejarku saat aku berbalik pergi. 'Maya! Tunggu! Kita bisa bicarain ini!' Dia menarik lenganku di depan pintu masuk bistro. Aku berbalik dan menamparnya dengan keras, sebuah tamparan yang meninggalkan bekas merah di pipinya dan membuat suaranya tercekat. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja memegang wanita lain,' desisku.

Aku berjalan keluar menuju mobilku dengan kepala tegak, meski di dalam sini, jantungku serasa diremas-remas. Aku masuk ke mobil, menutup pintu, dan barulah air mata itu jatuh. Bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena aku meratapi sepuluh tahun hidupku yang ternyata hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi oleh pria yang paling kupercaya.

Namun, saat aku baru saja hendak menyalakan mesin, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak kukenal. Isinya hanya sebuah kalimat: 'Kamu pikir cuma Siska rahasianya? Cek laci meja kerjanya yang terkunci di kantor. Ada sesuatu tentang orang tuamu di sana.' Tanganku membeku di atas setir. Apa maksudnya ini? Apa hubungan Aris dengan kematian orang tuaku sepuluh tahun lalu? Rasa dingin yang jauh lebih hebat dari sebelumnya kini menyelimuti sekujur tubuhku. Permainan ini ternyata jauh lebih dalam dari sekadar perselingkuhan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url