Detik-Detik Aku Melihat Suamiku Berkhianat di Balik Tiang Beton Bangunan Itu...
Sore itu Jakarta sedang tidak bersahabat. Langitnya berwarna jingga kemerahan, tipe warna yang biasanya membuat orang merasa romantis, tapi entah kenapa sore ini justru terasa menyesakkan. Aku menatap keluar jendela mobil, melihat kemacetan yang seperti tidak ada ujungnya. Di kursi samping, ada sebuah kotak kecil berisi jam tangan mewah yang sudah aku incar sejak bulan lalu untuk hadiah ulang tahun pernikahan kami yang kelima. Aris pasti suka, pikirku sambil tersenyum kecil. Aris itu tipe laki-laki yang sangat menghargai waktu, atau setidaknya itulah yang aku percayai selama ini.
Sebagai seorang arsitek, Aris memang sering menghabiskan waktu di lapangan. Proyek pembangunan gedung perkantoran di kawasan Jakarta Selatan itu sedang memasuki tahap krusial. Dia sering pulang larut malam dengan baju yang penuh debu semen, wajah lelah, tapi selalu menyempatkan diri untuk mengecup keningku. 'Sabar ya, Sayang. Kalau proyek ini beres, kita liburan ke Swiss,' katanya suatu malam. Aku percaya. Aku selalu percaya padanya melebihi aku percaya pada instingku sendiri.
Aku memutuskan untuk memberikan kejutan. Aku tidak memberi tahu Aris kalau aku akan datang ke lokasi proyek sore ini. Aku ingin kami makan malam romantis tepat setelah dia menyelesaikan shift-nya. Dengan langkah ringan, aku memasuki area konstruksi yang luas itu. Bau besi, semen basah, dan debu yang beterbangan langsung menyambutku. Para pekerja sedang sibuk di sisi lain gedung, suara mesin pengaduk semen terdengar menderu-deru di kejauhan. Aku tahu Aris biasanya ada di lantai dua, di bagian yang strukturnya sudah mulai terlihat kokoh.
Aku menaiki tangga darurat dengan hati-hati. Kakiku yang terbalut sepatu flat cukup memudahkan pergerakan, meski dress linen krem yang kukenakan harus sedikit aku angkat agar tidak terkena kotoran. Saat sampai di lantai dua, suasana terasa sedikit lebih sepi. Sinar matahari senja masuk melalui celah-celah pilar beton yang belum selesai dicat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis. Aku mencari-cari sosok Aris dengan helm proyek putihnya yang khas.
'Aris?' bisikku pelan, berniat mengagetkannya. Namun, suaraku tertelan oleh desiran angin yang masuk dari sisi bangunan yang masih terbuka. Aku berjalan lebih dalam, melewati tumpukan besi rebar yang melilit seperti nadi bangunan. Tiba-tiba, aku mendengar suara tawa kecil. Suara yang sangat aku kenal. Bukan suara Aris, melainkan suara perempuan. Suaranya lembut, manja, dan ada nada yang sangat familiar di sana.
Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Itu suara Sarah. Sahabat terbaikku sejak zaman kuliah. Sarah yang selalu ada di setiap perayaan ulang tahunku, Sarah yang bahkan membantu memilihkan kado untuk Aris bulan lalu. Apa yang dia lakukan di sini? Aris bilang Sarah sedang sibuk dengan butiknya di Grand Indonesia. Langkahku melambat, setiap serat otot di kakiku terasa kaku, seolah-olah otakku sedang memperingatkan bahwa apa yang akan kulihat akan mengubah hidupku selamanya.
Aku bersembunyi di balik sebuah kolom beton raksasa yang masih kasar. Dari posisi ini, aku bisa melihat ke arah sudut bangunan yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Di sana, di antara cahaya emas yang menyilaukan, aku melihat mereka. Aris, suamiku, masih mengenakan kemeja lapangan biru yang sudah kusut, berdiri sangat dekat dengan Sarah. Sarah mengenakan dress tipis yang berkibar ditiup angin. Tangannya melingkar erat di leher Aris, jemarinya bermain di rambut suamiku dengan gerakan yang sangat intim.
Duniaku seolah berhenti berputar. Aku ingin berteriak, tapi kerongkonganku terasa seperti dicekik oleh ribuan tangan tak terlihat. Aku hanya bisa mematung, menatap dengan mata terbelalak saat Aris menarik pinggang Sarah lebih dekat. Tidak ada keraguan di wajahnya. Tidak ada rasa bersalah. Yang kulihat hanyalah gairah yang selama ini aku pikir hanya milikku. Mereka kemudian berciuman, sebuah ciuman yang begitu panjang dan dalam di tengah debu konstruksi yang beterbangan, disinari oleh cahaya emas yang terasa sangat menyakitkan di mataku.
Air mata jatuh begitu saja tanpa aku sadari. Dadaku sesak, rasanya seperti ada beton raksasa yang jatuh tepat di atas jantungku. Aku melihat Aris melepaskan ciumannya sejenak, lalu menyandarkan keningnya ke kening Sarah. 'Aku nggak tahan lagi, Sar. Rasanya mau mati kalau harus pura-pura terus di depan Maya,' suara Aris terdengar jelas karena angin membawa suaranya tepat ke arahku. Sarah hanya tertawa kecil, suara tawa yang sekarang terdengar seperti suara iblis di telingaku. 'Sabar, Sayang. Sebentar lagi semuanya akan jadi milik kita,' jawab Sarah sambil mengelus pipi Aris.
Aku mundur perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Kotak jam tangan di tanganku terasa sangat berat, seolah-olah beratnya ribuan ton. Aku ingin lari, menjauh dari kenyataan pahit ini, tapi kakiku terasa lemas. Setiap kenangan manis selama lima tahun ini melintas di kepalaku seperti film rusak. Semua janji, semua pelukan, semua rencana masa depan... semuanya hanyalah sebuah kebohongan besar yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan yang busuk.
Aku sampai di lantai bawah dengan napas yang tersenggal-senggal. Aku masuk ke dalam mobil, mengunci pintu, dan akhirnya meledak dalam tangis yang tak tertahankan. Aku memukul-mukul setir mobil dengan tangan gemetar. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa dua orang yang paling aku cintai di dunia ini tega menusukku dari belakang dengan cara yang begitu kejam? Aku menatap cermin spion, melihat wajahku yang sembab. Wajah seorang istri yang baru saja kehilangan dunianya dalam satu sore yang tenang.
Tapi di tengah kehancuran itu, sebuah percikan kecil mulai muncul di hatiku. Bukan rasa sedih, melainkan rasa marah yang dingin. Aku menghapus air mataku dengan kasar. Mereka pikir aku adalah Maya yang lemah yang akan hancur begitu saja? Mereka pikir mereka bisa membangun kebahagiaan di atas penderitaanku? Aku menatap kotak jam tangan itu, lalu melemparkannya ke kursi belakang. Hadiah itu tidak akan pernah sampai ke tangan Aris. Mulai detik ini, Aris dan Sarah tidak akan pernah tahu apa yang akan menimpa mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka menang sesederhana ini. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, aku yang akan memegang kendalinya.
Aku menyalakan mesin mobil, menarik napas panjang, dan mulai menjalankan kendaraan menuju rumah yang kini terasa seperti penjara. Aku harus bersikap normal malam ini. Aku harus menyiapkan senyum palsu terbaikku saat Aris pulang nanti. Aku harus menjadi aktris yang lebih hebat dari mereka berdua. Rencana balas dendamku harus rapi, sedingin beton, dan setajam baja yang menusuk langit. Mereka ingin skandal? Maka aku akan memberikan mereka skandal yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup mereka.