Dikhianati Sahabat dan Suami Sendiri: Rahasia di Balik Proyek Besar yang Menghancurkan Segalanya...

Dikhianati Sahabat dan Suami Sendiri: Rahasia di Balik Proyek Besar yang Menghancurkan Segalanya...

Skandal & Pengkhianatan

Dikhianati Sahabat dan Suami Sendiri: Rahasia di Balik Proyek Besar yang Menghancurkan Segalanya...



Malam itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Hujan turun dengan intensitas yang cukup untuk membuat jalanan Sudirman macet total, tapi di dalam penthouse lantai 32 ini, suasana justru terasa sunyi yang mencekam. Gue berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap butiran air yang berkejaran di permukaan kaca. Di tangan gue, ada segelas wine yang sudah mendingin, tapi lidah gue bahkan nggak bisa merasakan apa-apa lagi. Segalanya terasa hambar sejak dua jam yang lalu, saat gue secara nggak sengaja menemukan tablet milik Aris tertinggal di meja makan dengan notifikasi yang terus menyala.

Gue bukan tipe istri yang suka cek HP suami. Gue percaya sama Aris. Kita sudah menikah tujuh tahun, dan dia selalu jadi pendukung nomor satu gue dalam membangun biro arsitek ini. Tapi malam ini, rasa penasaran itu muncul kayak bisikan setan. Dan di sana, di layar yang nggak terkunci itu, gue melihat percakapan yang menghancurkan seluruh fondasi hidup gue. Bukan cuma kata-kata sayang yang memuakkan antara Aris dan Shinta, sahabat gue sendiri sejak kuliah, tapi juga sebuah rencana besar untuk mengambil alih seluruh aset perusahaan gue lewat proyek 'Artemis'.

Gue menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang rasanya mau meledak. Shinta adalah orang yang gue percaya buat jadi partner bisnis gue. Dia yang tahu semua celah hukum di perusahaan kita. Dan Aris? Dia suamiku, laki-laki yang tiap pagi mencium kening gue dan bilang kalau dia bangga punya istri sehebat gue. Ternyata, di belakang gue, mereka berdua lagi menyiapkan berkas kebangkrutan palsu supaya gue terpaksa melepas saham mayoritas gue ke sebuah perusahaan cangkang yang ternyata milik mereka berdua. Rendah banget, batin gue sambil meremas gelas wine itu sampai jari-jari gue memutih.

Suara pintu depan terbuka. Gue bisa mendengar tawa Aris. Suara yang biasanya terdengar menenangkan itu sekarang terdengar seperti gesekan pisau di atas porselen. Dia nggak sendirian. Gue bisa mencium aroma parfum 'Jo Malone' yang sangat khas milik Shinta. Mereka masuk ke ruang tengah tanpa tahu kalau gue sudah ada di sana, berdiri di kegelapan sudut ruangan yang nggak tersentuh lampu utama. Gue memperhatikan mereka dari jauh. Shinta memakai dress ketat warna merah yang terlihat sangat kontras dengan hujan di luar. Dia tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aris.

'Sabar ya sayang, sebentar lagi gedung itu jadi milik kita. Maya nggak bakal curiga. Dia terlalu fokus sama desainnya sampai nggak sadar kalau tanda tangan yang dia kasih minggu lalu itu adalah surat pengalihan hak intelektual,' suara Shinta terdengar begitu renyah, tapi isinya beracun. Gue memejamkan mata, merasakan air mata yang panas mulai jatuh. Rasa sakitnya bukan cuma karena diselingkuhi, tapi karena dikhianati secara profesional dan personal sekaligus oleh dua orang paling penting dalam hidup gue.

Aris membalas dengan kecupan di kening Shinta, gaya yang sama persis seperti yang dia lakukan ke gue setiap pagi. 'Dia itu terlalu naif, Shin. Dia pikir dunia ini seindah sketsa-sketsa yang dia bikin. Dia nggak tahu kalau di bisnis, lo harus jadi serigala buat bertahan.' Gue hampir saja berteriak, tapi gue tahan. Gue butuh bukti lebih banyak. Gue butuh mereka benar-benar masuk ke jebakan yang tanpa mereka sadari sebenarnya sudah gue siapkan sejak gue mulai mencium gelagat aneh sebulan lalu.

Gue melangkah keluar dari kegelapan. Klik. Gue menyalakan lampu utama. Cahaya lampu gantung kristal di ruang tamu itu langsung menyinari wajah mereka berdua yang mendadak pucat pasi. Aris hampir saja menjatuhkan kunci mobilnya, sementara Shinta langsung menjauh dari Aris dengan gerakan yang sangat kikuk. Suasana mendadak jadi sangat dingin, lebih dingin dari AC sentral yang sedang menyala.

'Oh, hai. Udah pulang, Shin? Tumben malem-malem mampir ke rumah orang yang lagi mau lo bangkrutkan,' kata gue dengan nada yang sangat tenang, meski di dalam hati gue rasanya mau gila. Gue berjalan pelan ke arah mereka, menyesap wine gue yang sudah hambar itu sambil menatap mata Shinta tajam-tajam. Sahabat yang sudah gue anggap saudara sendiri itu sekarang terlihat seperti orang asing yang sangat menjijikkan.

Aris mencoba membuka suara, suaranya agak bergetar. 'May, ini nggak kayak yang kamu lihat. Shinta cuma... dia cuma mau bahas revisi anggaran Artemis.' Gue tertawa, tawa yang terdengar sangat sinis bahkan di telinga gue sendiri. 'Revisi anggaran atau revisi kepemilikan saham, Ris? Gue udah baca semuanya. Di tablet lo. Yang lo tinggal di meja makan tadi.' Wajah Aris langsung berubah dari pucat jadi abu-abu. Dia menoleh ke arah meja makan, lalu kembali menatap gue dengan tatapan memohon.

Tapi Shinta, berbeda dengan Aris, dia malah menegakkan bahunya. Dia kayaknya sadar kalau sandiwara ini sudah selesai. Dia tersenyum tipis, senyum yang sangat penuh kemenangan. 'Well, kalau lo udah tahu, ya bagus deh. Jadi gue nggak perlu pura-pura lagi jadi sahabat lo yang manis itu, May. Lo itu emang hebat soal desain, tapi lo payah soal manajemen orang. Aris butuh pendamping yang bisa bikin dia merasa jadi laki-laki, bukan cuma asisten pribadi istrinya yang super sibuk.'

Kata-kata itu menusuk, tapi gue nggak membiarkan diri gue terlihat rapuh. Gue justru tersenyum balik. 'Lo pikir gue sebodoh itu, Shin? Lo pikir gue nggak tahu kalau lo berdua udah main belakang sejak perjalanan dinas ke Bali tahun lalu? Lo pikir gue bakal tanda tangan berkas sepenting itu tanpa ngecek isinya dulu?' Gue menaruh gelas wine gue di meja dengan dentuman kecil yang cukup buat mereka berdua tersentak.

Gue mengeluarkan sebuah map biru dari bawah meja kopi. 'Berkas yang lo dapet itu, Shin... itu cuma draft dummy yang sengaja gue siapin buat ngetes lo. Berkas yang asli? Udah gue amanin di brankas kantor pusat dengan pengawasan pengacara gue. Dan Aris... surat cerai udah ada di tangan pengacara gue sejak kemarin sore. Kamu nggak bakal dapet satu rupiah pun dari harta gono-gini karena perjanjian pra-nikah kita jelas banget soal perselingkuhan dan penggelapan aset perusahaan.'

Ruangan itu mendadak hening. Aris terduduk di sofa, wajahnya tertutup kedua tangannya. Dia tahu dia kalah. Sementara Shinta, wajah kemenangannya tadi langsung runtuh. Dia tahu kalau tanpa proyek Artemis dan tanpa dukungan finansial dari perusahaan gue, dia cuma seorang pengacara tanpa klien dan tanpa reputasi. Mereka berdua pikir mereka serigala, tapi mereka lupa kalau gue adalah orang yang membangun hutan ini dari nol.

Gue berjalan mendekati mereka berdua, berdiri tepat di depan mereka dengan kepala tegak. 'Sekarang, gue minta kalian berdua keluar dari rumah gue. Bajumu bakal dikirim ke alamat ibumu besok pagi, Ris. Dan buat lo, Shin... jangan harap bisa kerja di firma hukum manapun di Jakarta setelah berita soal pengkhianatan ini gue sebar ke asosiasi. Gue nggak cuma bakal hancurin hubungan kalian, tapi gue bakal pastiin kalian nggak punya tempat buat berdiri lagi di industri ini.'

Shinta mencoba memaki gue, tapi suaranya tercekat. Dia menyeret tas branded-nya dan keluar dari pintu penthouse dengan langkah cepat. Aris masih diam, dia mencoba memegang tangan gue, memohon maaf dengan mata yang berkaca-kaca. 'May, tolong... aku khilaf. Aku sayang kamu.' Gue menarik tangan gue dengan kasar. Rasa jijik itu sudah melampaui rasa sayang yang pernah ada. 'Keluar, Aris. Sebelum gue panggil sekuriti buat seret lo keluar secara paksa di depan semua tetangga kita.'

Setelah Aris pergi, gue ambruk di lantai. Air mata yang tadi gue tahan habis-habisan akhirnya tumpah juga. Gue menangis sejadi-jadinya di tengah kemewahan penthouse ini. Gue menangis bukan karena kehilangan mereka, tapi karena gue merasa bodoh sudah memberikan hati gue pada orang yang salah selama bertahun-tahun. Tapi di tengah isak tangis itu, gue tahu satu hal: gue sudah menang. Gue sudah menyelamatkan apa yang jadi hak gue, dan besok, saat matahari terbit di balik gedung-gedung Jakarta, gue bakal mulai hidup baru tanpa parasit di punggung gue.

Gue berdiri lagi, menghapus air mata dengan punggung tangan gue. Gue melihat ke arah jendela, hujan mulai reda. Lampu-lampu kota terlihat lebih terang dari biasanya. Pengkhianatan ini memang pahit, tapi ini adalah obat yang gue butuhin buat bangun dari mimpi buruk yang gue kira adalah kebahagiaan. Besok adalah hari baru, dan gue adalah Maya, arsitek yang nggak cuma jago membangun gedung, tapi juga jago membangun kembali hidupnya yang hancur.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url