Puing-Puing Marmer: Saat Kesetiaan Hanyalah Sebuah Sandiwara Mewah
Malam itu, hujan turun dengan ritme yang monoton, memukul-mukul jendela kaca setinggi langit-langit di kamar utama kediaman Maheswari. Aruna berdiri mematung di depan cermin besar berbingkai emas, menatap pantulan dirinya yang mengenakan silk slip dress berwarna sampanye. Kain sutra itu terasa dingin di kulitnya, sedingin suasana di dalam rumah ini selama enam bulan terakhir. Di atas meja rias yang terbuat dari marmer Carrara, sebuah botol parfum mahal berdiri angkuh, namun aromanya tak lagi mampu menutupi bau kebohongan yang mulai tercium di setiap sudut ruangan.
Aruna adalah definisi wanita yang memiliki segalanya. Suami seorang dokter bedah saraf ternama, rumah di kawasan elit, dan karier sebagai kurator seni yang cemerlang. Namun, malam ini, fondasi hidupnya yang megah itu retak secara perlahan. Semuanya bermula dari sebuah benda kecil yang tak sengaja terjatuh dari saku jas Dion saat pria itu sedang mandi: sebuah kunci apartemen dengan gantungan kunci perak berbentuk inisial 'S'. Aruna tahu betul, apartemen mereka hanya satu, dan inisial namanya adalah 'A'.
Dengan tangan bergetar, Aruna duduk di tepi tempat tidur King Size yang terasa terlalu luas untuk ditempati dua orang. Ia mengingat bagaimana Dion selalu pulang terlambat dengan alasan operasi darurat. Ia mengingat bagaimana Dion tak lagi menyentuhnya dengan kehangatan yang sama, melainkan hanya kecupan singkat di kening yang terasa seperti sebuah kewajiban administratif. Setiap detail kecil kini bermunculan kembali di benaknya, menyusun sebuah mosaik pengkhianatan yang mengerikan. Suara gemericik air dari kamar mandi berhenti, menandakan Dion telah selesai. Jantung Aruna berdegup kencang, seolah-olah ia adalah pihak yang bersalah di sini.
Dion keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, memperlihatkan tubuh atletis yang masih terjaga di usia empat puluh tahun. Ia tersenyum tipis melihat Aruna, namun senyum itu tak mencapai matanya. 'Kenapa belum tidur, Sayang? Ini sudah hampir tengah malam,' ucapnya dengan suara bariton yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar seperti sembilu di telinga Aruna. Aruna mengepalkan tangannya di balik kain sutra bajunya, menyembunyikan kunci perak itu di dalam genggamannya yang berkeringat. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan semua vas bunga kristal di ruangan ini, namun kelas dan didikan keluarganya memaksanya untuk tetap tenang.
Selama bertahun-tahun, Aruna mengira pengkhianatan adalah sesuatu yang berisik, penuh dengan teriakan dan drama yang meledak-ledak. Namun ternyata, ia salah. Pengkhianatan adalah sunyi yang mencekam. Ia adalah kunci kecil yang tergeletak di lantai marmer. Ia adalah senyum palsu seorang suami sebelum ia berbaring membelakangi istrinya. Aruna menatap punggung Dion yang kini sudah tertutup piyama satin, bertanya-tanya sejak kapan pria yang berjanji di depan altar untuk melindunginya itu mulai membangun istana lain dengan orang lain. Sejak kapan 'S' masuk ke dalam narasi hidup mereka yang sempurna?
Pikiran Aruna melayang pada setiap perjamuan makan malam yang mereka hadiri. Apakah Dion bertukar pesan dengan 'S' di bawah meja saat Aruna tertawa dengan kolega-koleganya? Apakah apartemen itu dibeli dengan uang yang seharusnya menjadi tabungan masa depan untuk anak-anak yang tak kunjung hadir di rahim Aruna? Rasa mual naik ke kerongkongannya. Ketidaksuburan yang selama ini menjadi luka di hati Aruna, kini terasa seperti alasan yang mungkin digunakan Dion untuk mencari pelarian. Luka itu kini disiram cuka oleh kenyataan bahwa ada kemungkinan 'S' memberikan apa yang tak bisa Aruna berikan.
Aruna berdiri perlahan, melangkah menuju balkon yang terbuka sedikit. Angin malam menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah. Ia harus mengambil keputusan. Menjadi istri yang bodoh demi menjaga citra keluarga, atau menghancurkan segalanya untuk mendapatkan kembali harga dirinya. Namun, menghancurkan Dion berarti menghancurkan dirinya sendiri, karena seluruh hidupnya telah diinvestasikan pada pria ini. Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram, Aruna melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di seberang rumahnya. Mobil itu sudah ada di sana sejak dua jam yang lalu. Instingnya mengatakan bahwa ini bukan sekadar kebetulan.
Ia kembali masuk ke dalam kamar, mendekati meja kerja Dion yang berada di sudut ruangan. Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara, ia membuka laci bawah yang biasanya terkunci. Malam ini, entah karena kecerobohan atau kesombongan, Dion lupa menguncinya. Di sana, Aruna menemukan sebuah map cokelat. Di dalamnya bukan berkas pasien, melainkan sertifikat kepemilikan apartemen di pusat kota atas nama Siska Pratama. Dan yang lebih menghancurkan hati Aruna adalah lampiran di baliknya: sebuah hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG) berusia delapan minggu.
Dunia seolah berhenti berputar. Aruna merasa oksigen di sekitarnya habis seketika. Delapan minggu. Di saat Aruna sedang menangis di kamar mandi karena siklus bulanannya datang lagi, Dion sedang merayakan kehidupan baru dengan wanita lain. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi kertas sertifikat itu. Ia ingin meraung, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Ia menatap Dion yang tertidur pulas, tampak begitu tenang seolah tidak ada dosa yang ia pikul. Kebencian yang murni mulai tumbuh di hati Aruna, menggantikan cinta yang telah ia rawat selama tujuh tahun pernikahan.
Keesokan harinya, Aruna bangun lebih awal. Ia menyiapkan sarapan seperti biasa, mengenakan topeng keceriaan yang paling sempurna yang pernah ia miliki. Dion tampak tidak curiga sedikit pun. Ia bahkan sempat mengomentari betapa cantiknya Aruna pagi itu. Aruna hanya tersenyum, sebuah senyuman yang menyimpan belati tajam di baliknya. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jika Dion ingin bermain sandiwara, maka Aruna akan menjadi sutradara dari babak terakhir hidup mereka. Ia tidak akan meminta cerai sekarang. Itu terlalu mudah bagi Dion.
Aruna mulai menghubungi pengacara paling kejam yang ia kenal, seorang teman lama yang mengkhususkan diri dalam kasus aset dan perceraian kelas atas. Ia juga mulai memindahkan aset-aset pribadinya secara perlahan, memastikan bahwa saat bom ini meledak, ia tidak akan ikut hancur secara finansial. Setiap gerakan dilakukan dengan presisi seorang kurator seni yang sedang menata pameran paling penting dalam hidupnya. Dion tetap menjadi suami yang 'sempurna' di mata publik, sementara Aruna sedang menenun jaring yang akan menjerat pria itu hingga tak berkutik.
Namun, tantangan terbesar muncul saat keluarga besar Maheswari mengadakan perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Dion yang ke-40. Di sana, di depan semua orang, Dion memberikan pidato tentang betapa beruntungnya ia memiliki istri seperti Aruna. Aruna berdiri di sampingnya, memegang gelas sampanye dengan tangan yang stabil, meski hatinya mendidih. Di tengah kerumunan tamu, ia melihat seorang wanita muda berdiri di pojok ruangan. Wanita itu mengenakan gaun merah yang mencolok, menatap Dion dengan tatapan yang hanya dimiliki oleh seorang kekasih. Inisial 'S' di kalungnya berkilau terkena lampu kristal. Siska Pratama berani menampakkan diri di kandang macan.
Keberanian wanita itu membuat Aruna hampir kehilangan kendali. Namun, ia menarik napas dalam-dalam. Ia melangkah mendekati Siska dengan keanggunan seorang ratu. Siska tampak terkejut, namun segera memasang wajah angkuh. 'Anda Aruna, kan? Istri Dion?' tanya Siska dengan nada yang merendahkan. Aruna hanya tersenyum tipis, menyesap sampanyenya dengan tenang. 'Saya bukan hanya istrinya, sayang. Saya adalah pemilik dari semua yang kamu lihat di tubuh Dion saat ini. Dan saya tahu tentang apartemen itu. Juga tentang bayi itu,' bisik Aruna tepat di telinga Siska, membuat wanita itu pucat pasi seketika.
Permainan baru saja dimulai. Aruna tahu bahwa menghancurkan Dion harus melibatkan penghancuran Siska juga. Ia tidak akan membiarkan mereka bahagia di atas penderitaannya. Malam itu, setelah pesta berakhir, Aruna duduk di ruang tamu yang gelap, menunggu Dion pulang setelah mengantar 'pasien darurat'-nya. Saat pintu terbuka dan lampu dinyalakan, Dion terkejut melihat istrinya masih terjaga. 'Aruna? Kenapa belum tidur?' tanya Dion, nada suaranya sedikit bergetar.
Aruna berdiri, melemparkan kunci perak dan map cokelat itu ke atas meja kopi marmer. Suaranya dingin dan datar. 'Apartemennya bagus, Dion. Tapi aku lebih suka pilihan interior di kamar bayi kita yang... ah, maaf, bayi kamu dan Siska.' Wajah Dion berubah seketika, dari keterkejutan menjadi ketakutan yang luar biasa. Ia mencoba mendekati Aruna, tangannya terulur ingin menyentuh, namun Aruna mundur satu langkah. 'Jangan sentuh aku dengan tangan yang sudah menyentuh sampah itu,' desis Aruna.
Dion mulai bersimpuh, memohon maaf dengan kata-kata klise yang sudah ribet diprediksi. Ia mengatakan itu adalah kesalahan, ia mengatakan Aruna adalah segalanya baginya. Namun, bagi Aruna, setiap kata yang keluar dari mulut Dion kini tak lebih dari polusi suara. Ia menatap suaminya yang malang itu dengan rasa jijik. 'Aku sudah mengatur semuanya, Dion. Semua aset yang kamu beli dengan uang perusahaan keluarga kita sudah aku pindah tangankan. Kamu tidak punya apa-apa lagi. Bahkan rumah ini, besok sudah bukan atas namamu,' ucap Aruna dengan kemenangan yang pahit.
Dion terperangah. Ia tidak menyangka istri yang selama ini ia anggap lemah dan penurut bisa bergerak secepat itu. Aruna berjalan menuju tangga, berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang. 'Oh, satu lagi. Aku sudah mengirimkan foto-foto kemesraanmu dengan Siska ke dewan etik rumah sakit. Kurasa karier dokter bedah sarafmu yang cemerlang itu akan berakhir besok pagi. Selamat malam, Dion.' Aruna melangkah naik, meninggalkan Dion yang hancur di tengah kemewahan yang tak lagi miliknya. Puing-puing marmer itu kini benar-benar runtuh, mengubur semua sandiwara yang mereka bangun selama ini.