Istriku Pamit I'tikaf di Masjid, Tapi Notifikasi Pelacak Earbuds Menunjukkan Ia Berada di Apartemen Sahabat Kecilku
Mahendra menatap layar ponselnya dengan jempol yang sedikit gemetar. Di luar, hujan turun dengan intensitas yang sanggup meredam suara klakson kendaraan di kejauhan kota Jakarta. Malam itu, seharusnya ia merasa tenang. Istrinya, Kalila, baru saja mengirimkan pesan singkat dua jam lalu, mengatakan bahwa ia sudah sampai di Masjid Raya untuk mengikuti kajian malam dan I'tikaf. Kalila memang sedang dalam fase religius yang tinggi, atau setidaknya itulah yang Mahendra percayai selama enam bulan terakhir.
Namun, sebuah gangguan kecil merusak segalanya. Mahendra ingin mendengarkan podcast sebelum tidur dan ia tidak bisa menemukan earbuds nirkabelnya. Secara refleks, ia membuka aplikasi 'Lacak Perangkat' di ponselnya. Ia mengira benda kecil itu tertinggal di laci kantor atau mungkin terselip di sela sofa ruang tamu. Namun, titik hijau di peta digital itu tidak berada di rumah, pun tidak di kantornya yang terletak di kawasan Sudirman. Titik itu berkedip dengan tenang di sebuah koordinat yang sangat familiar: Apartemen Parkview, Tower C, Lantai 18.
Darah Mahendra terasa mendidih seketika, namun permukaan kulitnya justru terasa sedingin es. Lantai 18 Tower C adalah unit milik Gibran. Gibran bukan sekadar teman; ia adalah sahabat karib Mahendra sejak masa SMA, orang yang menjadi saksi nikah mereka, dan orang yang meminjamkan bahunya saat Mahendra bangkrut dua tahun lalu. Mengapa Kalila, yang katanya sedang bersujud di atas sajadah masjid, justru terdeteksi berada di sarang pria lain pada pukul sebelas malam?
Mahendra mencoba merasionalkan segalanya. Mungkin Kalila menjatuhkannya di mobil Gibran saat mereka tidak sengaja bertemu? Tidak, Gibran sedang berada di Singapura untuk urusan bisnis, setidaknya itu yang ia katakan di grup WhatsApp alumni kemarin. Mahendra menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang mulai menghimpit paru-parunya. Ia meraih kunci mobil. Ia tidak butuh konfrontasi lewat telepon yang bisa dengan mudah dijawab dengan kebohongan lain. Ia butuh bukti visual yang bisa menghancurkan keraguannya atau justru menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Perjalanan menuju apartemen itu terasa seperti selamanya. Lampu merah terasa lebih lama, dan wiper mobilnya seolah mengejek detak jantungnya yang tak beraturan. Mahendra teringat bagaimana Kalila belakangan ini sering sekali memakai parfum yang berbeda—aroma melati yang tajam namun lembut, bukan aroma vanila yang biasa ia sukai. Ia juga teringat bagaimana Kalila sering mengganti kata sandi ponselnya dengan alasan privasi pekerjaan. Semua potongan puzzle itu kini mulai menyatu, membentuk gambaran yang mengerikan di benak Mahendra.
Sesampainya di lobi apartemen, Mahendra beruntung karena petugas keamanan mengenalnya sebagai tamu rutin Gibran. Ia melangkah masuk ke lift dengan langkah yang terasa berat, seolah-olah gravitasi di gedung itu bekerja sepuluh kali lebih kuat padanya. Angka-angka di panel lift berganti dengan lambat. 15, 16, 17, 18. Denting halus lift terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahannya yang telah berjalan tujuh tahun.
Ia berdiri di depan pintu unit 1802. Keheningan di lorong apartemen itu terasa mencekam. Mahendra mengeluarkan ponselnya lagi, memastikan titik hijau itu masih di sana. Benar, jaraknya hanya kurang dari dua meter dari tempatnya berdiri. Ia mencoba menempelkan telinganya ke pintu baja yang dingin itu. Awalnya tidak ada suara, namun kemudian ia mendengar sayup-sayup tawa. Itu suara Kalila. Tawa yang biasanya hanya ia dengar saat mereka menonton komedi bersama, kini terdengar begitu asing dan menyakitkan.
Tanpa berpikir panjang, Mahendra mencoba menekan kode akses pintu. Gibran pernah memberikan kode itu padanya tahun lalu saat ia dititipkan untuk menyiram tanaman ketika Gibran berlibur. 0-9-0-7. Tanggal lahir ibu Gibran. Pintu berdenting, kunci elektronik terbuka dengan suara klik yang sangat keras di telinga Mahendra. Ia mendorong pintu itu pelan, berharap apa yang ia temukan di dalam hanyalah sebuah kesalahpahaman besar.
Namun, harapan adalah musuh terbesar bagi mereka yang sedang dikhianati. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu gantung temaram, ia melihat pemandangan yang membuat dunianya runtuh. Di atas sofa kulit berwarna cokelat, Kalila duduk dengan gaun tidur berbahan sutra yang jauh dari kata busana untuk ke masjid. Di sampingnya, bukan Gibran yang ia lihat, melainkan Satria, adik kandung Mahendra sendiri. Keduanya terlonjak kaget, wajah mereka pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.
'Mas Mahendra?' suara Kalila bergetar, tangannya gemetar mencoba merapikan pakaiannya yang berantakan. Sementara Satria hanya terpaku, matanya menatap lantai, tidak berani memandang kakaknya yang selama ini telah membiayai kuliahnya hingga lulus. Ruangan itu seketika dipenuhi oleh bau aroma melati yang kini terasa memuakkan bagi Mahendra.
Mahendra tidak meledak marah. Ia justru merasa sangat hampa. Kemarahan yang tadi membara di mobil kini berubah menjadi rasa jijik yang luar biasa. Ia melihat earbuds-nya terletak di atas meja kopi, tepat di samping botol wine yang sudah setengah kosong. 'Aku mencari ini,' kata Mahendra dengan suara yang sangat tenang, saking tenangnya hingga terdengar mengerikan. Ia mengambil benda itu, memasukkannya ke saku, lalu menatap Kalila dan Satria bergantian.
'I'tikaf di sini ternyata sangat nyaman ya?' sindir Mahendra. Ia melihat air mata mulai mengalir di pipi Kalila, namun ia tidak lagi merasa iba. Baginya, air mata itu hanyalah pelumas untuk kebohongan-kebohongan berikutnya. Ia berpaling ke arah Satria, adiknya yang selalu ia bangga-banggakan di depan keluarga besar. Satria tetap diam, pengecut seperti biasanya saat tertangkap basah melakukan kesalahan.
Tanpa sepatah kata lagi, Mahendra berbalik. Ia tidak butuh penjelasan mengapa mereka melakukannya, sejak kapan ini dimulai, atau seberapa sering mereka bertemu di belakangnya. Pengkhianatan tidak butuh penjelasan; ia hanya butuh konsekuensi. Saat ia melangkah keluar dari unit itu, Mahendra merasa separuh dari dirinya telah mati, namun separuh lainnya merasa sangat bebas karena akhirnya ia tahu siapa saja serigala yang selama ini ia pelihara di dalam rumahnya sendiri.
Hujan di luar masih turun, namun kali ini Mahendra tidak lagi merasa kedinginan. Ia masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan mulai menyusun rencana. Bukan rencana balas dendam yang kasar, melainkan rencana untuk menghapus setiap jejak Kalila dan Satria dari hidupnya secara elegan. Ia akan memastikan bahwa saat matahari terbit nanti, tidak akan ada lagi tempat bagi pengkhianat di bawah atap rumahnya. Mahendra memacu mobilnya membelah kegelapan malam, meninggalkan apartemen itu dengan satu kepastian: hidupnya baru saja dimulai kembali, meski harus diawali dengan luka yang sangat dalam.