Alamat Spotify Premium Suamiku Tiba-Tiba Berubah, Saat Kulacak Tagihannya Ada Paket Obat Penguat Kandungan untuk Sahabatku

Alamat Spotify Premium Suamiku Tiba-Tiba Berubah, Saat Kulacak Tagihannya Ada Paket Obat Penguat Kandungan untuk Sahabatku

Skandal & Pengkhianatan

Alamat Spotify Premium Suamiku Tiba-Tiba Berubah, Saat Kulacak Tagihannya Ada Paket Obat Penguat Kandungan untuk Sahabatku



Genggaman tangan Kirana pada pegangan troli belanjaan berbahan besi dingin itu mendadak mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk supermarket premium di bilangan Jakarta Selatan terasa menjauh, digantikan oleh dengung sunyi yang menyakitkan di dalam kepalanya. Di depannya, deretan daging wagyu impor yang berkilau di bawah lampu sorot kuning estetik mendadak kehilangan selera. Kirana baru saja akan meraih sebungkus jamur premium untuk makan malam perayaan hari jadi pernikahan mereka yang kelima, ketika ponsel di tangan kirinya bergetar pelan. Sebuah notifikasi surat elektronik masuk, membawa baris subjek otomatis yang tampak biasa namun mematikan: Verifikasi Alamat Spotify Premium Family Anda Berhasil Diperbarui.

Sebagai pemegang akun utama yang mendaftarkan paket keluarga tersebut sejak tiga tahun lalu, Kirana tahu betul bahwa anggota keluarga yang terdaftar hanya ada tiga orang: dirinya, suaminya Dananjaya, dan adik perempuannya yang kuliah di Bandung. Aturan Spotify Premium Family sangat ketat; seluruh anggota harus tinggal di alamat fisik yang sama untuk menikmati tarif hemat tersebut. Selama bertahun-tahun, alamat yang terdaftar adalah rumah milik mereka bersama di kawasan asri Bintaro Sektor Sembilan. Namun, surel konfirmasi sore itu menunjukkan alamat baru yang sama sekali asing bagi Kirana: Aspen Residences, Tower B, Unit 12A, Jakarta Selatan. Alamat itu bukan sekadar deretan huruf dan angka acak; itu adalah alamat kompleks apartemen mewah yang baru saja disewa oleh Sekar, sahabat karib Kirana sejak masa putih-abu-abu, yang belakangan ini mengaku sedang berjuang keras menghemat biaya hidup sebagai desainer grafis lepas.

Napas Kirana tertahan di tenggorokan. Udara AC supermarket yang biasanya terasa menyegarkan kini mendadak seumpama gas beracun yang menyumbat paru-parunya. Dengan jemari yang mulai bergetar hebat, ia menggeser layar ponsel, membuka aplikasi pemutar musik digital tersebut, lalu masuk ke bagian pengaturan akun. Di sana, di bawah daftar anggota keluarga, nama akun Dananjaya dan Sekar bersanding dengan begitu mesra, terikat dalam satu alamat domisili yang sama secara administratif. Kirana mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai bertalu-talu bagai genderang perang. Mungkin ini hanya kesalahan sistem, bisik sisi hatinya yang naif. Mungkin Sekar menumpang alamat agar menghemat biaya langganan bulanan. Namun, akal sehat Kirana menolak mentah-mentah pembelaan murahan itu. Untuk mengubah alamat verifikasi keluarga, pemilik akun sekunder harus memasukkan koordinat lokasi GPS yang sama secara berkala dari perangkat mereka.

Rasa penasaran yang bercampur dengan firasat buruk menuntun jemari Kirana untuk membuka aplikasi perbankan digital yang terhubung dengan akun dompet digital bersama milik Dananjaya. Sebagai istri yang dipercaya mengelola laporan pajak tahunan keluarga, Kirana memiliki akses penuh ke seluruh mutasi rekening suaminya. Ia mencari transaksi yang mengalir ke arah penyedia layanan apartemen atau pembayaran utilitas di Aspen Residences. Nihil. Dananjaya terlalu cerdas untuk meninggalkan jejak sekasar itu di rekening bank utama mereka. Namun, pria itu melupakan satu hal kecil: akun OVO korporat miliknya yang sering ia gunakan untuk klaim perjalanan dinas kantor.

Di sanalah, di dalam riwayat transaksi yang terselubung di balik ratusan pengeluaran ojek daring dan makan siang klien, Kirana menemukan benang merah yang mengoyak paksa seluruh kedamaian hidupnya. Ada transaksi mingguan yang berulang selama empat bulan terakhir. Bukan pembayaran sewa apartemen, melainkan pengiriman instan menggunakan layanan kurir kilat dari apotek besar di kawasan Kebayoran Baru menuju Aspen Residences Tower B, Unit 12A. Nama penerima yang tertera di sana adalah Sekar Anindya. Yang membuat seluruh dunia Kirana runtuh seketika adalah jenis barang yang dibeli dalam daftar manifes kurir tersebut: dua kotak Microgest 200mg dan tiga strip Pregnyl.

Sebagai seorang wanita yang telah menghabiskan tiga tahun terakhir keluar-masuk klinik kesuburan dan menjalani berbagai program kehamilan yang menguras emosi serta air mata, Kirana menghafal obat-obatan itu di luar kepala. Microgest adalah hormon progesteron dosis tinggi, dan Pregnyl adalah suntikan hormon hCG. Keduanya adalah kombinasi obat suplemen mutlak yang diresepkan dokter spesialis kandungan untuk mempertahankan embrio pada awal kehamilan yang rentan akan keguguran. Kirana menatap layar ponselnya dengan pandangan yang perlahan kabur oleh air mata yang mendadak menggenang. Jantungnya serasa diremas oleh tangan tak terlihat. Kenyataan pahit itu menghantamnya tanpa ampun: sahabat terbaiknya sedang hamil, dan suaminya, Dananjaya, adalah pria yang membiayai obat penguat kandungan tersebut dari balik punggungnya.

Ingatan Kirana langsung melayang pada peristiwa tiga bulan lalu, saat mereka bertiga makan malam bersama di sebuah restoran kasual di bilangan Senopati. Saat itu, Sekar tampak pucat dan menolak menyentuh hidangan laut yang menjadi menu andalan restoran, dengan alasan perutnya sedang tidak bersahabat karena asam lambung naik. Waktu itu, Kirana dengan penuh perhatian mengusap punggung Sekar, menyuapinya sup hangat, bahkan menawarkan agar Sekar menginap saja di rumah mereka di Bintaro agar tidak kesepian. Dananjaya yang duduk di seberang meja hanya terdiam, menyesap kopi hitamnya dengan pandangan mata yang terus tertuju pada jalanan di luar jendela, menghindari kontak mata langsung dengan istrinya. Kini, kepingan-kepingan memori itu menyatu menjadi sebuah gambar utuh yang mengerikan. Keheningan Dananjaya malam itu bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan rasa bersalah yang teramat dalam, atau mungkin, sebuah rahasia besar yang sedang mereka rawat bersama di bawah hidung Kirana.

Kirana melangkah mundur perlahan, meninggalkan troli belanjanya yang penuh berisi bahan-bahan premium untuk makan malam romantis yang kini terasa seperti sebuah lelucon hitam. Ia berjalan keluar dari area supermarket dengan langkah gontai, mengabaikan tatapan heran dari pramuniaga yang melihatnya pergi dengan tangan hampa. Di dalam kepalanya, skenario demi skenario buruk berputar liar bagai film hitam-putih yang rusak. Bagaimana bisa dua orang yang paling ia cintai dan percayai di dunia ini tega merancang pengkhianatan sehalus dan serapi ini? Sekar adalah orang pertama yang memeluknya saat Kirana menangis histeris mendapati hasil tes pack-nya negatif untuk kesepuluh kalinya. Sekar juga yang selalu berkata bahwa suatu saat Kirana akan menjadi ibu yang hebat. Sementara Dananjaya, lelaki maskulin yang selalu mencium keningnya setiap pagi sebelum berangkat kerja, rupanya telah menanam kehidupan baru di rahim wanita lain.

Sambil berdiri di lobi mal yang ramai, Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di dadanya yang kian hebat. Air matanya tidak boleh jatuh di tempat umum ini. Ia tidak boleh terlihat lemah. Pengkhianatan ini terlalu rapi untuk dihadapi dengan tangisan histeris yang tidak menghasilkan apa-apa. Kirana tahu, jika ia langsung mengonfrontasi Dananjaya malam ini di rumah dengan bermodalkan riwayat transaksi dan surel Spotify, suaminya yang berprofesi sebagai pengacara korporat andal itu pasti akan dengan mudah menyusun alibi atau memutarbalikkan fakta. Dananjaya bisa saja berdalih bahwa ia hanya membantu membelikan obat untuk Sekar yang sedang sakit keras, atau mengatasnamakan kemanusiaan.

Kirana butuh bukti yang tidak bisa dibantah. Bukti fisik yang akan mengunci mati semua kebohongan mereka. Ia merogoh tasnya, mengambil kunci mobil, dan berjalan menuju area parkir bawah tanah dengan tekad yang baru. Alih-alih mengarahkan kemudi mobilnya pulang ke arah Bintaro, Kirana memutar setir menuju jalan arteri yang mengarah langsung ke Jakarta Selatan, menuju Aspen Residences. Ia akan mendatangi unit itu sendiri, menatap langsung ke dalam mata sahabatnya, dan melihat sejauh mana kebohongan ini telah tumbuh.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url