Aroma Patchouli di Laci Mobil Adikku Mengembalikan Ingatan yang Seharusnya Mati
'Kamu masih pakai parfum patchouli yang sama, ya, Kin?' tanya Lembayung dengan suara yang terlampau tenang, hampir seperti desau angin malam di luar jendela mobil. Matanya tidak beralih dari laci dashboard Honda Civic milik adik tirinya yang sedikit terbuka. Di dalam rongga sempit itu, di antara tumpukan struk tol dan masker medis cadangan, terselip sesuatu yang sangat ia kenali. Sebuah pembatas buku tenun ikat berwarna indigo dengan sulaman benang perak berbentuk daun ginkgo di ujungnya. Itu bukan barang pasaran. Lembayung menenunnya sendiri dengan jemarinya yang kapalan, menghabiskan waktu tiga minggu di meja kayu tua warisan nenek mereka, khusus sebagai hadiah ulang tahun pernikahan ketiga untuk suaminya, Dananjaya.
Kinasih, yang sedang fokus membelah kemacetan jalan layang Pasupati Bandung, hanya bergumam pelan. 'Ah, iya, Mbak. Aku tidak pernah cocok dengan wangi bunga-bungaan yang manis. Mbak Lembayung tahu sendiri, kan? Aroma kayu dan rempah seperti ini membuatku merasa memegang kendali.' Suara Kinasih terdengar sangat kasual, tanpa riak kecemasan sedikit pun. Gadis berusia dua puluh lima tahun itu mengetukkan jemarinya yang lentik pada kemudi, mengikuti irama lagu indie-folk yang mengalun lirih dari pengeras suara mobil. Dia tidak menyadari bahwa di sebelahnya, dunia Lembayung baru saja runtuh tanpa suara.
Lembayung mengulurkan tangan, gerakan jemarinya lambat seolah-olah ia sedang meraih pecahan kaca yang sangat tipis. Ketika ujung jarinya menyentuh permukaan kasar tenun ikat itu, dadanya terasa dihantam oleh godam tak kasat mata. Bau parfum patchouli yang pekat langsung menguar, bercampur dengan aroma kulit jok mobil yang hangat. Pembatas buku ini seharusnya berada di dalam selipan halaman buku 'The Architecture of Tomorrow' milik Dananjaya yang terletak di meja kerja ruang kerja pribadi suaminya di rumah mereka. Suaminya bahkan mengeluh kehilangan pembatas buku itu dua minggu lalu, menduga bahwa benda tersebut terjatuh di area proyek restorasi cagar budaya di daerah Kotagede, Yogyakarta.
'Mbak? Kenapa melamun?' Kinasih melirik sekilas, matanya yang dilapisi eyeliner tipis berkedip polos. 'Oh, itu... pembatas buku. Aku menemukannya di kursi belakang kemarin lusa. Mungkin punya klienku yang tertinggal saat kami meninjau lokasi proyek interior di Dago.'
Lembayung tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang mulai terasa panas. 'Oh, begitu? Indah sekali tenunannya. Sangat detail.' Ia menarik pembatas buku itu keluar dari laci, merasakan tekstur benang perak yang agak kasar di bawah ibu jarinya. Di sudut paling bawah tenun tersebut, tersembunyi di balik motif geometris yang rumit, terdapat inisial 'DJ' yang disulam dengan benang hitam yang sengaja disamarkan. Hanya pembuatnya—dan seseorang yang benar-benar memperhatikannya—yang akan tahu keberadaan inisial itu. Dananjaya dan Lembayung. Dan kini, benda itu mengendap di dalam mobil Kinasih, berlumuran aroma tubuh adik tirinya.
Ingatan Lembayung langsung melesat mundur ke beberapa bulan terakhir. Setiap kali Dananjaya pulang terlambat dengan alasan rapat koordinasi pembangunan resort baru di kawasan Lembang, atau saat Kinasih tiba-tiba sering mengirimkan foto-foto referensi material kayu ke ponsel Dananjaya dengan dalih 'konsultasi profesional'. Sebagai seorang kurator arsip kuno, Lembayung terbiasa membaca tanda-tanda yang tersirat. Ia terbiasa merekonstruksi sejarah dari serpihan kertas yang lapuk dan tinta yang memudar. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan analitisnya harus digunakan untuk merekonstruksi kehancuran rumah tangganya sendiri.
'Klienmu itu... apakah dia menyukai arsitektur kolonial?' tanya Lembayung lagi, nadanya datar, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam rongga dadanya. Ia mematung, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota Bandung yang mulai menyala satu per satu seperti kunang-kunang raksasa di bawah kegelapan langit malam.
'Kurasa begitu,' jawab Kinasih, suaranya sedikit tertahan sekarang. Ada jeda mikro sebelum ia menjawab, sebuah keraguan kecil yang ditangkap oleh radar sensitif Lembayung. 'Dia... dia memiliki selera yang sangat klasik. Sangat perfeksionis dalam hal detail. Kami sering berdiskusi sampai larut malam hanya untuk menentukan warna tegel kunci yang pas untuk ruang tamunya.'
'Menyenangkan sekali bekerja dengan seseorang yang memiliki frekuensi yang sama,' kata Lembayung. Ia memasukkan pembatas buku itu ke dalam tas tangannya yang berbahan kanvas kasar. Gerakannya sangat tenang, hampir ritualistik. 'Aku akan menyimpannya sebentar. Aku menyukai motif tenunnya. Rasanya aku ingin membuat replika yang serupa untuk proyek pameranku bulan depan.'
Kemudi di tangan Kinasih tampak sedikit oleng sebelum gadis itu meluruskan jalurnya kembali dengan cepat. Keheningan yang tebal dan mencekik tiba-tiba turun di antara mereka berdua, menggantikan lagu folk yang masih berputar di latar belakang. Kinasih tidak meminta pembatas buku itu kembali, dan kebisuan itu adalah konfirmasi paling keras yang pernah Lembayung terima dalam hidupnya. Seseorang yang jujur akan langsung berkata, 'Jangan, Mbak, nanti klienku mencarinya.' Namun, ketakutan Kinasih membuat mulutnya terkunci rapat.
Malam itu, setelah Kinasih menurunkannya di depan gerbang rumah bernuansa industrial tropis milik mereka, Lembayung tidak langsung masuk. Ia berdiri di bawah naungan pohon kamboja fosil yang daun-daunnya bergemerisik ditiup angin malam yang dingin. Di dalam rumah, lampu ruang tengah menyala terang, memproyeksikan bayangan siluet seorang pria jangkung yang sedang berdiri di dekat jendela kaca besar—Dananjaya, suaminya, pria yang telah bersamanya selama lima tahun terakhir, pria yang selalu memeluknya erat setiap kali hujan badai datang.
Lembayung membuka tasnya, mengambil pembatas buku tenun itu, dan mendekatkannya ke hidungnya sekali lagi. Wangi patchouli itu begitu nyata, begitu mengancam. Aroma itu bukan sekadar wewangian biasa; itu adalah aroma pengkhianatan yang dikemas dengan sangat elegan. Dengan langkah yang mantap namun terasa sangat berat, seolah setiap langkahnya mengikis sebagian dari jiwanya, Lembayung membuka pintu depan. Bunyi gemerincing kunci rumah terdengar seperti lonceng kematian bagi kebahagiaan fana yang selama ini ia agung-agungkan.
'Kamu sudah pulang, Sayang?' suara bariton Dananjaya menyambutnya dari arah dapur bersih. Pria itu mengenakan kaos abu-abu santai, tangannya sedang memegang cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepul. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas tampak begitu rileks, begitu tidak berdosa.
'Sudah,' jawab Lembayung singkat. Ia berjalan mendekati meja makan marmer hitam, meletakkan tasnya, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia meletakkan pembatas buku tenun indigo itu tepat di sebelah cangkir kopi Dananjaya.
Lembayung memperhatikan dengan seksama. Ia melihat bagaimana pupil mata Dananjaya melebar seketika saat pandangannya jatuh pada benda tersebut. Jemari suaminya yang sedang memegang gagang cangkir tampak menegang, otot-otot lengannya mengeras. Detak jantung Lembayung seolah berhenti berputar saat melihat reaksi fisik suaminya. Tidak ada teriakan kemarahan, tidak ada tangisan histeris. Hanya ada keheningan yang begitu pekat, begitu dingin, sampai-sampai desah napas mereka berdua terdengar seperti sebuah ancaman nyata di ruangan sunyi itu.
'Di mana kamu menemukannya?' tanya Dananjaya akhirnya, suaranya terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan putus asa yang tertahan di tenggorokan.
Lembayung menatap suaminya dengan tatapan kosong, matanya yang biasa memancarkan kehangatan kini sedingin es di kutub utara. 'Di tempat yang sangat hangat, Dananjaya. Tempat yang sering dikunjungi oleh adikku, dengan aroma parfum yang sangat kamu kenal.'