Dikhianati Sistem Pintar: Bagaimana Riwayat Robot Vacuum di Apartemen Tunanganku Membongkar Hubungan Gelapnya dengan Sahabatku Sendiri
'Kamu yakin nggak mau menyentuh steak-mu sama sekali, Nari? Sayang banget, ini wagyu premium kesukaan kamu,' suara Baskara memecah keheningan di sudut restoran redup kawasan Senopati malam itu. Pria itu tersenyum manis, tipe senyum hangat yang selama lima tahun ini selalu berhasil meluluhkan segala gundah di hati Nareswari. Di bawah temaram lampu gantung kuningan, wajah Baskara tampak begitu tenang, seolah tidak ada satu pun beban dosa yang sedang menggelayuti pundaknya. Nareswari hanya menatap piringnya yang mulai mendingin, menyisakan lemak putih yang perlahan membeku di pinggiran porselen hitam.
Nareswari mencoba menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang teramat sangat di rongga dadanya. Tangannya yang dingin menggenggam erat ponsel di bawah meja lipat restoran. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan sebuah aplikasi pintar pengendali peralatan rumah tangga yang baru saja ia buka sepuluh menit lalu. Aplikasi itu terhubung langsung dengan robot vacuum cleaner tipe terbaru yang ia hadiahkan untuk Baskara sebulan lalu, sebagai kado kepindahan pria itu ke apartemen barunya. Sebuah kado yang ia pilih dengan penuh cinta, namun kini berubah menjadi pisau bedah yang menguliti kebohongan paling busuk dari pria yang rencananya akan ia nikahi dalam tiga bulan ke depan.
Semua ini bermula dari sebuah notifikasi pemeliharaan rutin yang masuk ke ponsel Nareswari sore tadi. Sebagai admin utama yang mendaftarkan garansi dan aplikasi alat pintar tersebut, Nareswari menerima laporan detail mengenai performa mesin bulanan. Awalnya ia hanya ingin memeriksa apakah Baskara rajin membersihkan tangki debu robot tersebut. Namun, ketika ia membuka tab 'Riwayat Pembersihan dan Log Kesalahan', matanya tertumpu pada sebuah kejanggalan yang sangat spesifik. Hari Selasa lalu, pukul tiga lewat empat belas menit dini hari, robot vacuum tersebut diaktifkan secara manual melalui tombol fisik di unitnya, bukan melalui jadwal otomatis yang biasa diatur siang hari.
Yang membuat darah Nareswari seketika berdesir dingin adalah laporan kegagalan sistem pada pukul tiga lewat tiga puluh delapan menit pagi itu. Layar ponselnya menampilkan pesan peringatan berwarna merah terang: 'Pembersihan dihentikan sementara. Sikat utama tersangkut serat tebal. Jenis objek: Helaian rambut manusia berwarna abu-abu terang (ash-blonde), estimasi panjang delapan belas sentimeter'. Nareswari memejamkan mata erat-erat saat membaca baris demi baris laporan teknis itu. Di lingkaran pertemanan mereka, hanya ada satu orang perempuan yang memiliki rambut panjang dengan warna ash-blonde yang sangat khas dan mencolok. Perempuan itu adalah Kinarya, sahabat karib Nareswari sejak masa kuliah, sosok yang juga dipercaya untuk menjadi pendamping pengantin wanitanya nanti.
Baskara sempat mengirimkan pesan singkat pada Selasa malam itu, mengatakan bahwa dirinya sudah tertidur lelap sejak pukul sepuluh malam karena migrain yang menyiksa setelah pulang dari rumah ibunya di Bogor. 'Aku langsung matikan HP ya sayang, kepalaku mau pecah,' begitu bunyi pesan terakhir Baskara malam itu. Sebuah kebohongan yang terstruktur dengan sangat rapi, jika saja pria itu tidak lupa bahwa teknologi modern tidak pernah bisa diajak berkompromi untuk menyembunyikan jejak kaki manusia.
Nareswari teringat bagaimana Kinarya mendesain rambut barunya di salon premium daerah Gunawarman dua bulan lalu. Kinarya bahkan sempat memamerkan warna abu-abu keperakan itu di akun media sosialnya dengan bangga. Siapa yang menyangka bahwa helaian rambut kebanggaan sahabatnya itu kini tertinggal di dalam sikat putar sebuah robot pembersih debu di kamar utama apartemen Baskara, tepat di jam-jam sunyi ketika seluruh dunia sedang tertidur lelap.
'Nari? Kamu melamun lagi? Ada masalah di kantor?' tanya Baskara lagi, kali ini nada suaranya terdengar sedikit khawatir. Ia meletakkan garpu dan pisaunya, lalu menjangkau tangan Nareswari di atas meja. Sentuhan kulit Baskara yang biasanya terasa hangat dan menenangkan, kini terasa bagaikan sengatan listrik yang membuat Nareswari ingin segera menarik tangannya menjauh. Namun, dengan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki, Nareswari tetap membiarkan tangannya digenggam, mencoba mengukur sedalam apa kepalsuan yang bisa ditunjukkan oleh pria di hadapannya ini.
'Nggak apa-apa, Bas. Cuma lagi kepikiran soal persiapan katering pernikahan kita saja. Vendornya bilang ada beberapa menu yang harus disesuaikan lagi,' jawab Nareswari, suaranya terdengar datar namun tetap terkendali. Ia sengaja memancing reaksi Baskara dengan menyebut kata 'pernikahan', sebuah kata yang kini terasa seperti lelucon paling sarkas di telinganya sendiri.
Mata Baskara berkedip cepat, sebuah gestur mikro yang sangat halus namun berhasil ditangkap oleh Nareswari yang sudah mengenalnya selama setengah dekade. Pria itu tersenyum tipis, lalu mengusap punggung tangan Nari. 'Semua pasti lancar, sayang. Kamu jangan terlalu stres ya. Kalau capek, biar aku yang bantu urus sisanya. Oh ya, besok aku harus ke Bandung lagi untuk urusan proyek baru sampai hari Jumat. Mungkin aku bakal agak susah dihubungi karena lokasinya di daerah perbukitan yang minim sinyal.'
Bandung. Nareswari menahan senyum pahitnya. Ia teringat postingan cerita Instagram Kinarya beberapa jam lalu yang memperlihatkan sebuah koper kecil dengan latar belakang kamar tidurnya, disertai keterangan teks singkat: 'Butuh liburan singkat ke tempat dingin akhir pekan ini'. Dua potongan teka-teki itu kini menyatu dengan begitu sempurna di dalam kepala Nareswari, membentuk sebuah gambaran pengkhianatan yang sangat nyata dan terencana dengan matang.
Nareswari menarik tangannya perlahan dari genggaman Baskara dengan alasan ingin mengambil tisu di dalam tasnya. Di dalam tas kulit hitamnya, selain dompet dan perlengkapan kosmetik, terdapat sebuah amplop cokelat tebal yang baru saja ia ambil dari seorang penyelidik swasta sore tadi sebelum pergi ke restoran ini. Penyelidik tersebut ia sewa segera setelah ia melihat log kesalahan robot vacuum di ponselnya dua hari lalu. Nareswari bukanlah tipe perempuan yang akan langsung menangis histeris tanpa bukti yang tak terbantahkan. Ia menginginkan kepastian mutlak sebelum menghancurkan panggung sandiwara yang telah dibangun oleh tunangan dan sahabatnya itu.
Di dalam amplop cokelat tersebut terdapat belasan lembar foto digital dengan kualitas tinggi yang diambil di area parkir basement apartemen Baskara. Foto-foto yang diambil pada Selasa malam hingga Rabu pagi itu memperlihatkan dengan sangat jelas siluet Kinarya yang keluar dari mobilnya, mengenakan jaket hoodie longgar milik Baskara, dan memasuki lift privat menuju unit apartemen tunangannya. Tidak hanya itu, ada pula foto saat mereka berdua berdiri di balkon apartemen pada pukul dua pagi, saling merangkul di bawah dinginnya langit malam Jakarta, berbagi sebatang rokok dengan tawa yang tampak begitu lepas.
Nareswari merasakan dadanya bergemuruh hebat, namun wajahnya tetap menampakkan ketenangan seorang wanita yang telah kehilangan seluruh rasa takutnya. Kebencian yang teramat sangat telah menggantikan rasa sedih yang sempat mampir di hatinya beberapa hari lalu. Ia melihat pria di hadapannya ini, pria yang pernah ia sebut sebagai masa depannya, kini tampak begitu asing dan menjijikkan.
'Bas, boleh aku tanya sesuatu?' Nareswari meletakkan ponselnya di atas meja, dengan layar yang kini sengaja ia balik menghadap ke bawah. Matanya menatap langsung ke dalam manik mata Baskara, mencari celah ketakutan yang mungkin bersembunyi di balik ketenangan palsu pria itu.
'Tanya apa, sayang? Tanya saja, kayak sama siapa aja,' jawab Baskara dengan nada santai, sembari menyesap air putih dingin dari gelasnya.
'Hari Selasa malam kemarin, kamu beneran langsung tidur karena migrain?' Pertanyaan itu meluncur dengan begitu tenang dari bibir Nareswari, hampir seperti pertanyaan kasual tentang cuaca hari ini. Namun, atmosfer di sekitar meja mereka seketika berubah menjadi tegang, seolah udara dingin dari pendingin ruangan tiba-tiba membeku di sekitar mereka.
Baskara tertegun sejenak, gelas airnya tertahan di udara selama satu detik sebelum akhirnya ia letakkan kembali di atas meja dengan perlahan. Senyum di wajahnya tampak sedikit dipaksakan sekarang. 'Iya, tentu saja. Kenapa kamu tanya begitu? Kan aku sudah bilang di chat malam itu. Kepalaku benar-benar pusing sampai nggak bisa lihat layar HP.'
'Oh, begitu,' Nareswari mengangguk-angguk pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme yang teratur. 'Aneh ya. Soalnya, robot vacuum yang aku belikan buat kamu mendeteksi ada aktivitas pembersihan manual di kamar utama kamu jam tiga pagi di hari yang sama. Dan tebak apa yang menyangkut di sikat mesinnya sampai mesinnya rusak?'
Wajah Baskara seketika kehilangan rona merahnya. Ia menatap Nareswari dengan mata yang membelalak kecil, mencoba mencerna dari mana arah serangan ini berasal. 'Nari, kamu... kamu bercanda kan? Alat kayak gitu mana bisa tahu hal-hal detail kayak gitu. Mungkin cuma error sistem biasa saja.'
'Sistem pintarnya nggak pernah bohong, Bas. Sistem itu bahkan mengirimkan laporan analisis jenis serat ke emailku. Helaian rambut sepanjang delapan belas sentimeter, berwarna ash-blonde. Setahuku, di apartemen kamu nggak ada yang berambut abu-abu selain... Kinarya,' Nareswari melafalkan nama sahabatnya itu dengan penekanan yang sangat lambat di setiap suku katanya, menikmati bagaimana kepanikan mulai merayap naik ke wajah pria di hadapannya.
Baskara mencoba membuka mulutnya untuk membela diri, namun tidak ada kata yang berhasil keluar. Tenggorokannya seolah tersumbat oleh kebohongannya sendiri yang kini berbalik mencekiknya. Nareswari perlahan membuka ritsleting tasnya, mengambil amplop cokelat tebal itu, dan meletakkannya dengan bunyi debukan pelan tepat di atas piring steak Baskara yang masih menyisakan potongan daging dingin.
'Buka saja, Bas. Aku rasa foto-foto di dalam sana jauh lebih menarik daripada penjelasan bohong yang sedang kamu susun di dalam kepala kamu sekarang,' bisik Nareswari, matanya berkilau dingin, memancarkan kepuasan yang aneh saat melihat tubuh tunangannya mulai gemetar ketakutan di bawah sorot lampu restoran.