Dua Garis Merah yang Kutangisi Tujuh Tahun Terbayar oleh Mutasi Rekening Misterius Suamiku di Kota Solo
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen malam itu terasa jauh lebih nyaring dari biasanya. Gendis tidak pernah menyukai keheningan yang dipaksakan, namun dalam tujuh tahun pernikahannya dengan Baskara, keheningan telah menjelma menjadi penghuni ketiga di rumah mereka. Baskara duduk di seberang meja, mengunyah tumis kangkung dengan ritme yang begitu teratur, seolah hidupnya adalah sebuah cetak biru arsitektur yang tidak boleh meleset satu milimeter pun. Wajah suaminya itu tampak tenang, tipe ketenangan yang dulu membuat Gendis jatuh cinta setengah mati, namun kini ketenangan itu terasa seperti tembok beton yang dingin dan tidak tertembus.
‘Baskara, minggu depan jadwal kita untuk konsultasi program bayi tabung ketiga di Surabaya,’ ucap Gendis memecah kesunyian. Suaranya sengaja dibuat seringan mungkin, menyembunyikan getar harapan yang tersisa di sudut hatinya. Setelah dua kali kegagalan IVF yang menguras emosi dan tabungan mereka, Gendis masih mencoba mengumpulkan kepingan keyakinan yang tersisa. Dia menatap suaminya, mencari binar antusiasme yang mungkin saja masih tersimpan di balik sepasang mata teduh itu.
Baskara tidak langsung menjawab. Dia meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan, mengusap bibirnya dengan tisu, lalu menatap Gendis dengan tatapan yang sulit diartikan. ‘Gendis, bukankah kita sudah sepakat untuk menunda itu dulu? Biaya proyek di Kebayoran baru akan cair akhir semester ini. Kita tidak punya dana dingin sebanyak itu sekarang. Lagipula, bukankah lebih baik kita menikmati apa yang ada sekarang?’ Kalimat itu diucapkan dengan nada yang teramat lembut, jenis kelembutan yang justru membuat dada Gendis terasa dihantam batu besar. Selalu saja alasan finansial, padahal sebagai arsitek utama di biro konsultan ternama, pendapatan Baskara jauh dari kata kurang.
Malam itu, setelah Baskara tertidur pulas dengan dengkur halusnya yang khas, Gendis tidak bisa memejamkan mata. Rasa sesak di dadanya menolak untuk diredakan oleh pendingin ruangan yang berembus pelan. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan tanpa alas kaki menuju ruang kerja Baskara di lantai bawah. Niat awalnya sederhana, Gendis ingin merapikan berkas-berkas pajak tahunan mereka yang sempat tertunda karena kesibukan masing-masing. Sebagai istri yang dipercaya mengelola laporan SPT bersama, Gendis memiliki akses ke semua dokumen keuangan suaminya, atau setidaknya, begitulah yang selama ini dia yakini.
Di meja kerja kayu jati yang rapi, Gendis menyalakan laptop suaminya. Baskara bukanlah tipe pria yang protektif dengan kata sandi; dia menggunakan tanggal pernikahan mereka sebagai kunci pengaman. Gendis tersenyum getir menyadari hal itu, merasakan kehangatan semu yang langsung sirna begitu dia masuk ke dalam folder dokumen pribadi. Saat membuka folder bertuliskan ‘Asuransi & Pajak’, matanya tidak sengaja menangkap sebuah file PDF dengan nama yang tidak biasa: ‘Laporan Rekening Koran - Tahunan’ dari sebuah bank swasta asing yang tidak pernah Baskara sebutkan sebelumnya. Setahu Gendis, rekening suaminya hanya ada di dua bank pelat merah untuk keperluan gaji dan operasional sehari-hari.
Dengan tangan yang mulai terasa dingin, Gendis mengklik dua kali pada file tersebut. Lembar demi lembar mutasi rekening terpampang di layar. Transaksinya tidak banyak, hanya ada satu atau dua aktivitas setiap bulannya. Namun, pandangan Gendis langsung terkunci pada sebuah transaksi keluar yang terjadi secara konsisten setiap tanggal lima. Sebuah transfer otomatis sebesar delapan belas juta lima ratus ribu rupiah. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah pengeluaran rutin yang disembunyikan. Yang membuat jantung Gendis seolah berhenti berdetak adalah nama penerima dana tersebut: ‘Yayasan Mentari Harapan Solo - Berita: Biaya Pendidikan & Terapi Bumi Dananjaya’.
Gendis membaca nama itu berulang kali. Bumi Dananjaya. Nama itu begitu asing, namun entah mengapa terasa begitu mengintimidasi. Solo? Baskara tidak memiliki kerabat dekat di Solo. Seluruh keluarga besarnya berada di Yogyakarta dan Jakarta. Untuk siapa suaminya mengirimkan uang hampir dua puluh juta rupiah setiap bulan selama empat tahun terakhir? Jika diakumulasikan, jumlah uang yang dikirimkan Baskara ke Solo sudah hampir menyentuh angka satu miliar rupiah. Jumlah yang lebih dari cukup untuk membiayai lima kali program bayi tabung yang selama ini selalu Baskara sebut ‘terlalu mahal’ dan ‘membebani keuangan keluarga’.
Gendang telinga Gendis kini dipenuhi oleh detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Rasa mual tiba-tiba naik ke hulu kerongkongannya. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja Baskara yang empuk, namun tubuhnya terasa goyah seolah baru saja dihantam gempa bumi. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu demi satu, membasahi pipinya yang mendadak pias. Di tengah malam yang sunyi itu, di dalam ruang kerja yang dingin, Gendis menyadari bahwa pria yang tidur di kamar atas, pria yang telah berbagi selimut dengannya selama tujuh tahun, adalah seorang asing yang menyimpan rahasia teramat besar di balik senyum tenangnya.
Keesokan harinya, Gendis memutuskan untuk tidak langsung mengonfrontasi Baskara. Pengalaman hidup mengajarinya bahwa reaksi defensif dari seorang pembohong yang terpojok hanya akan menghasilkan kebohongan baru yang lebih rapi. Dengan sisa-sisa ketegaran yang dia miliki, Gendis menghubungi Kinanti, sahabat karibnya semasa kuliah yang kini menetap di Solo dan bekerja sebagai psikolog anak. Melalui sambungan telepon yang terputus-putus oleh debaran dada, Gendis menceritakan penemuannya tanpa menyebutkan nama Baskara, melainkan menyamarkannya sebagai ‘kasus sepupunya’.
‘Yayasan Mentari Harapan itu sekolah inklusi dan pusat terapi autisme paling elit di Solo, Gendis,’ suara Kinanti di seberang telepon terdengar berbisik, seolah sedang membicarakan hal yang sangat konfidensial. ‘Biaya masuknya sangat mahal, dan mereka hanya menerima anak-anak dari kalangan jetset atau yang mendapatkan sponsor khusus. Mengapa sepupumu bisa terlibat dengan yayasan itu? Apakah dia memiliki anak berkebutuhan khusus yang disembunyikan di sini?’ Pertanyaan Kinanti bagaikan belati yang dihujamkan tepat di ulu hati Gendis. Anak berkebutuhan khusus. Bumi Dananjaya. Apakah anak itu adalah darah daging Baskara?
Gendis menutup telepon dengan tangan yang bergetar hebat. Kepalanya terasa pening, dipenuhi oleh berbagai skenario mengerikan yang saling tumpang tindih. Selama tujuh tahun ini, dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas ketidaksuburan rumah tangga mereka. Dia telah menelan puluhan jenis obat herbal yang pahit, menjalani histerosalpingografi yang menyakitkan, hingga menahan rasa malu setiap kali menghadiri arisan keluarga besar Baskara yang selalu menanyakan ‘kapan menyusul’. Dan di luar sana, di sebuah sudut kota Solo yang tenang, Baskara ternyata menghidupi seorang anak laki-laki dengan fasilitas terbaik yang bisa dibeli dengan uang.
Sore harinya, Baskara pulang ke rumah dengan wajah lelah yang tampak sangat natural. Dia meletakkan tas kerjanya di sofa, lalu menghampiri Gendis yang sedang duduk di meja makan dengan segelas teh melati yang sudah mendingin. Baskara mengecup kening Gendis dengan lembut, sebuah kebiasaan yang dulu selalu berhasil membuat Gendis merasa dicintai. Namun kali ini, sentuhan bibir Baskara di kulit keningnya terasa seperti kecupan seekor ular yang dingin dan beracun. Gendis harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya agar tidak menarik diri atau menjerit histeris di depan suaminya.
‘Kamu tampak pucat, Gendis. Kurang tidur lagi?’ tanya Baskara penuh perhatian, jemarinya mengusap helai rambut Gendis yang terurai. Nada suaranya begitu tulus, begitu hangat, hingga membuat Gendis meragukan kewarasannya sendiri. Bagaimana bisa seorang pria menunjukkan perhatian yang begitu besar kepada istrinya, sementara dia membagi hidup dan hartanya dengan entitas lain di kota yang berbeda?
‘Aku hanya sedang memikirkan masa depan kita, Bas,’ jawab Gendis, berusaha menjaga agar suaranya tetap stabil. Dia menatap langsung ke dalam manik mata Baskara, mencari celah kebohongan yang mungkin terselip di sana. ‘Tadi siang aku membersihkan laci mejamu. Aku menemukan beberapa brosur lama tentang kota Solo. Indah sekali ya, kotanya. Kapan-kapan, bisakah kita berlibur ke sana? Hanya kita berdua, menikmati akhir pekan di dekat Bengawan Solo.’
Untuk sepersekian detik, Gendis menangkap adanya perubahan ekspresi yang sangat halus di wajah Baskara. Otot rahang suaminya itu sempat menegang, dan binar matanya meredup sebelum akhirnya dia tersenyum tipis dan mengangguk. ‘Solo terlalu panas untuk liburan, Gendis. Lagipula, pekerjaanku sedang menumpuk akhir-akhir ini. Mungkin lain kali, ya? Aku mandi dulu,’ ujar Baskara seraya berbalik dan melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan Gendis yang kini mencengkeram pinggiran meja makan hingga buku-buku jarinya memutih. Penolakan halus itu sudah lebih dari cukup untuk mengonfirmasi bahwa ada sesuatu yang sangat berbahaya yang sedang Baskara lindungi di kota itu, dan Gendis bersumpah demi harga dirinya yang telah hancur, dia akan menemukan kebenaran itu dengan tangannya sendiri.