Gara-Gara Gopay Organisasi Rp 45 Ribu, Aku Menemukan Sisi Lain Pacar Berprestasiku di Kamar Apartemen Sahabatku Sendiri

Gara-Gara Gopay Organisasi Rp 45 Ribu, Aku Menemukan Sisi Lain Pacar Berprestasiku di Kamar Apartemen Sahabatku Sendiri

Kisah Kampus

Gara-Gara Gopay Organisasi Rp 45 Ribu, Aku Menemukan Sisi Lain Pacar Berprestasiku di Kamar Apartemen Sahabatku Sendiri



‘Kamu tahu apa yang paling menyedihkan dari memergoki pacarmu berselingkuh? Bukan air matanya yang palsu, tapi fakta bahwa dia memesan makanan kesukaan selingkuhannya menggunakan saldo organisasi yang kita kumpulkan berdarah-darah.’ Suara Gendis terdengar sangat lirih, hampir tenggelam di antara bisingnya mesin fotokopi di sudut koridor lantai tiga gedung Fakultas MIPA siang itu. Di hadapannya, beberapa lembar laporan keuangan organisasi mahasiswa masih berserakan, menunggu untuk ditandatangani.

Gendis Pramesti bukanlah tipe perempuan yang mudah curiga. Sebagai mahasiswi kimia tingkat akhir sekaligus bendahara umum himpunan, logikanya selalu berjalan lebih cepat daripada perasaannya. Tiga tahun menjalin hubungan dengan Dananjaya Raditya—sang ketua himpunan mahasiswa yang karismatik, cerdas, dan selalu menjadi kesayangan para dosen—membuat Gendis merasa hidupnya sudah berada di jalur yang benar. Mereka adalah pasangan ideal di kampus. Kolaborasi antara si jenius laboratorium dan si orator ulung. Namun, kestabilan itu runtuh hanya karena sebuah notifikasi sepele di ponsel operasional himpunan yang kebetulan sedang dia pegang.

Malam itu, sekitar pukul dua pagi, sebuah transaksi GoPay sebesar empat puluh lima ribu rupiah tercatat dari akun resmi organisasi. Keterangannya sangat spesifik: dua porsi Vegan Smoothie Bowl rasa buah naga dan pisang, lengkap dengan ekstra chia seeds. Tempat pengirimannya bukan ke sekre himpunan, melainkan ke Unit 3B Paviliun Melati, sebuah kompleks apartemen privat kelas menengah di dekat area kampus. Gendis mengernyitkan dahi. Danan, yang malam itu pamit untuk pulang cepat karena harus menjaga pamannya yang sakit di Bogor, adalah orang satu-satunya yang memegang akses sekunder akun tersebut untuk keperluan darurat operasional.

Gendis sangat mengenal menu itu. Sangat mengenalnya karena hanya ada satu orang di lingkaran terdekat mereka yang memiliki obsesi ekstrem terhadap makanan sehat berbasis gandum dan chia seeds: Kirana. Sahabat satu kelompok penelitian skripsinya, perempuan berwajah teduh yang selama ini selalu menjadi tempat Gendis menumpahkan keluh kesah tentang kesibukan Danan yang luar biasa. Jemari Gendis bergetar hebat saat dia membuka riwayat perjalanan GoCar yang terhubung dengan akun yang sama. Di sana, tertulis perjalanan satu arah dari gerbang belakang kampus menuju Paviliun Melati pada pukul sepuluh malam sebelumnya. Penumpangnya dijemput tepat di depan laboratorium kimia analitik—tempat di mana Kirana pamit untuk lembur menyelesaikan uji sampel.

Keesokan harinya, koridor kampus terasa lebih dingin dari biasanya. Gendis berdiri di depan loker mahasiswa, menatap Danan yang berjalan ke arahnya dengan senyum lebar yang biasa dia gunakan saat menyapa para pejabat dekanat. Pria itu tampak rapi, mengenakan kemeja flanel biru yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan kulit hadiah ulang tahun dari Gendis dua tahun lalu. Di belakangnya, mengekor Kirana dengan map plastik transparan di pelukannya, tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

‘Danan, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja,’ ucap Gendis, berusaha menjaga suaranya tetap datar, bebas dari getaran emosi yang sejak subuh menggerogoti dadanya. Kirana yang berdiri di samping Danan sempat melirik sekilas, ada kilat kecemasan yang tertangkap oleh mata tajam Gendis sebelum perempuan itu buru-buru berpamitan dengan alasan ingin menemui dosen pembimbing. Langkah kaki Kirana terdengar tergesa-gesa di koridor yang sepi.

Danan tertawa kecil, melangkah mendekat dan mencoba merapikan anak rambut Gendis yang terurai. ‘Ada apa, Sayang? Kok tegang banget mukanya? Laporan keuangan buat LPJ besok ada yang kurang ya? Bilang aja, nanti aku bantu beresin setelah kelas metodologi.’ Sikapnya yang begitu tenang dan penuh perhatian justru membuat lambung Gendis bergejolak mual. Bagaimana mungkin seseorang bisa tampil begitu sempurna di depan umum, sementara di belakang layar dia baru saja membagi ranjang dengan orang lain menggunakan uang kas mahasiswa?

‘Kenapa kamu memesan smoothie bowl semalam, Danan? Di Paviliun Melati,’ tanya Gendis langsung pada intinya, menolak untuk bermain-main dalam retorika manis yang biasa dikuasai kekasihnya itu. Seketika, senyum di wajah Danan membeku. Otot rahangnya menegang, meskipun hanya untuk sepersekian detik sebelum dia kembali menguasai keadaan dengan tawa hambar yang dipaksakan.

‘Oh, itu... semalam aku mampir ke tempat anak-anak divisi perlengkapan. Mereka lagi rapat buat dekorasi panggung di sana. Aku kasihan lihat mereka belum makan, jadi aku inisiatif pesen pakai akun operasional dulu. Nanti siang mau aku ganti kok pakai uang pribadiku. Maaf ya kalau lupa laporan sama kamu,’ jawab Danan dengan nada yang sangat meyakinkan. Dia bahkan menatap langsung ke dalam manik mata Gendis, sebuah teknik komunikasi klasik yang selalu dia gunakan untuk meyakinkan audiens saat sidang senat.

Gendis tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang belum pernah Danan lihat sebelumnya. ‘Anak divisi perlengkapan sejak kapan menyukai vegan smoothie bowl dengan ekstra chia seeds, Danan? Setahuku, mereka semua anak-anak teknik yang kalau rapat malam hanya mau makan mi instan dan kopi sasetan. Dan sejak kapan anak divisi perlengkapan menyewa unit di Paviliun Melati? Bukankah itu kompleks apartemen khusus perempuan yang harga sewanya setara dengan biaya kuliah kita satu semester?’

Pertanyaan beruntun dari Gendis membuat pertahanan Danan mulai retak. Pria itu melangkah mundur satu langkah, tangannya berpindah ke dalam saku celana, sebuah gestur defensif yang sangat dipahami Gendis setelah bertahun-tahun menganalisis bahasa tubuh kekasihnya saat berdebat di ruang rapat. ‘Gendis, kamu jangan mulai kekanak-kanakan begini deh. Hanya karena masalah uang empat puluh lima ribu rupiah, kamu sampai menginterogasi aku kayak kriminal. Aku ini ketua himpunan, sibuk urusin ratusan mahasiswa, masa hal sekecil ini harus diperdebatkan di koridor kampus?’

‘Ini bukan tentang uang empat puluh lima ribu rupiah, Danan. Ini tentang siapa yang tidur di Unit 3B semalam saat kamu bilang kamu sedang berada di Bogor mendampingi pamanmu yang sekarat,’ suara Gendis mulai meninggi, membuat beberapa mahasiswa yang lewat mulai melirik ke arah mereka. Namun Gendis tidak peduli lagi. Rasa sakit hati yang bercampur dengan rasa muak telah menghancurkan seluruh dinding kesabaran yang dia bangun selama ini.

Sebelum Danan sempat menjawab, ponsel di saku Gendis bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup koordinasi laboratorium kimia analitik. Itu adalah foto hasil analisis spektroskopi yang dikirim oleh Kirana untuk bab pembahasan skripsi mereka. Namun, yang membuat jantung Gendis berhenti berdetak bukanlah grafik ilmiah di layar tersebut, melainkan latar belakang foto tersebut. Di sudut kanan atas gambar, tampak sebuah meja kayu kecil dengan vas bunga keramik berbentuk angsa—vas bunga unik yang sangat Gendis kenal karena dia sendiri yang membelinya sebagai hadiah wisuda kakak tingkat mereka yang dulu pernah tinggal di Paviliun Melati. Dan di samping vas bunga itu, tergeletak sebuah jam tangan kulit pria dengan goresan kecil di bagian bezelnya. Jam tangan milik Danan.

Gendis mengangkat ponselnya, menghadapkan layar tersebut tepat di depan wajah Danan yang kini mendadak pucat pasi. Seluruh kepintaran merangkai kata yang dimiliki sang ketua himpunan menguap begitu saja ke udara. Dia menatap foto itu dengan mata terbelalak, menyadari bahwa kebohongannya yang dirancang rapi telah runtuh akibat kecerobohan kecil dari perempuan yang dia sebut sebagai selingkuhannya.

‘Aku selalu mengagumi caramu memimpin rapat, Danan. Kamu selalu punya jawaban untuk setiap masalah,’ kata Gendis dengan nada suara yang kini terdengar sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan yang meledak-ledak. ‘Tapi untuk kali ini, aku rasa kamu tidak punya cukup kata untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Hubungan kita selesai, dan posisi kamu sebagai ketua himpunan... mari kita lihat seberapa bertahan reputasimu setelah seluruh anggota himpunan membaca rincian pengeluaran dana operasional yang aneh ini.’

Gendis membalikkan badannya dengan anggun, meninggalkan Danan yang berdiri mematung di tengah koridor, dikelilingi oleh bisikan-bisikan mahasiswa lain yang mulai menyadari ada yang tidak beres dengan pasangan emas fakultas mereka. Gendis melangkah menuju laboratorium, bukan untuk menangis, melainkan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Dia akan memastikan bahwa setiap lembar pengkhianatan ini akan dibayar lunas, tanpa sisa.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url