Lima Tahun Aku Sengsara Menahan Napas demi Alergi, Ternyata Suamiku Menghidupi 'Keluarga Bulu' di Apartemen Rahasia
'Gendis, tolong taruh buahnya kembali. Kamu melamun terlalu lama dan antrean di belakang kita sudah memanjang,' suara Baskara terdengar begitu tenang, datar, dan tanpa cela seperti biasanya. Pria itu berdiri di samping keranjang belanja, mengenakan kemeja linen berwarna krem yang disetrika sangat rapi. Tidak ada satu pun lipatan yang salah di tubuhnya. Gendis mengerjapkan mata, menatap buah pir dalam genggamannya yang mulai terasa dingin, lalu beralih menatap wajah suaminya. Wajah yang telah menemaninya selama lima tahun terakhir. Wajah yang selalu menampilkan kecemasan luar biasa setiap kali Gendis mulai menunjukkan gejala sesak napas.
Gendis meletakkan pir itu kembali ke tumpukan buah dengan tangan yang sedikit gemetar. Di dalam saku mantel wol tipisnya, jemari Gendis meremas selembar kertas mutasi rekening digital yang ia cetak secara sembunyi-sembunyi tadi pagi. Kertas itu terasa seperti bara api yang membakar kulitnya. Sejak mereka menikah, Baskara selalu menerapkan aturan kebersihan yang sangat ketat di rumah mereka di kawasan Bintaro. Tidak boleh ada debu, tidak boleh ada karpet berbulu tebal, dan yang paling mutlak: tidak boleh ada hewan peliharaan. Gendis memiliki alergi ekstrem terhadap bulu hewan, terutama kucing. Satu kontak kecil saja dengan dander kucing bisa memicu serangan asma akut yang mengharuskannya dilarikan ke instalasi gawat darurat.
Sikap protektif Baskara selama ini membuat Gendis merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Baskara bahkan selalu mandi dan mengganti seluruh pakaiannya di kamar mandi luar setiap kali pulang dari luar kota atau setelah menghadiri pertemuan luar ruangan, hanya untuk memastikan tidak ada sisa-sisa debu atau bulu liar yang menempel pada tubuhnya. Namun, lembaran kertas di saku Gendis menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Di sana tertera transaksi bulanan otomatis dari sebuah rekening bank swasta yang tidak pernah Baskara laporkan dalam laporan keuangan keluarga mereka. Transaksi itu ditujukan kepada sebuah pet shop premium di kawasan Jakarta Barat: pengiriman rutin Royal Canin British Shorthair dan paket perawatan sanitasi kucing eksklusif sebesar tiga juta rupiah setiap bulannya.
Bukan hanya itu, ada juga pembayaran bulanan untuk biaya pemeliharaan lingkungan di Apartemen Lavender, Unit 18C. Sebuah unit apartemen yang terdaftar atas nama Baskara Aditya. Gendis merasa paru-parunya mendadak menyempit, bukan karena serangan asma yang biasa ia alami, melainkan karena kebenaran yang perlahan merayap naik ke permukaan seperti racun yang dilepaskan secara perlahan. 'Kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali. Napasmu terdengar agak berat, Gendis. Kita pulang sekarang? Biar aku yang mengurus pembayaran ini,' tanya Baskara, matanya memancarkan kekhawatiran yang tampak sangat tulus. Tangan hangat Baskara menyentuh kening Gendis, sebuah gestur penuh kasih yang kini justru membuat Gendis merasa mual.
'Aku baik-baik saja, Mas. Hanya sedikit pusing karena AC supermarket ini terlalu dingin,' dusta Gendis, berusaha memberikan senyuman paling natural yang bisa ia kumpulkan. Ia membiarkan Baskara menuntunnya menuju kasir, memperhatikan punggung lebar suaminya yang bergerak dengan penuh wibawa. Di dalam kepalanya, badai pertanyaan mulai berkecamuk tanpa ampun. Siapa yang tinggal di Apartemen Lavender Unit 18C? Siapa yang memelihara kucing ras berbulu tebal itu dengan uang suaminya? Dan yang paling menyakitkan, bagaimana mungkin suaminya bisa memeluknya setiap malam dengan aroma tubuh yang steril, sementara di tempat lain ia mungkin tengah membelai-belai makhluk berbulu yang bisa membunuh istrinya sendiri?
Malam harinya, setelah Baskara tertidur lelap di bawah pengaruh obat tidur ringan yang biasa ia konsumsi untuk mengatasi insomnia, Gendis bangkit dari tempat tidur dengan sangat perlahan. Kamar tidur mereka terasa begitu sunyi dan dingin. Gendis melangkah menuju ruang kerja Baskara di lantai bawah, tempat di mana suaminya menyimpan semua dokumen penting. Dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Gendis membuka laci meja kerja Baskara yang biasanya terkunci. Ia telah mempelajari pola nomor pin yang biasa digunakan Baskara: kombinasi tanggal pernikahan mereka yang ternyata salah, melainkan tanggal lahir seorang wanita lain yang baru saja Gendis ketahui dari pencarian acak di media sosial beberapa jam lalu.
Di dalam laci tersebut, Gendis menemukan sebuah folder kulit berwarna hitam. Di dalamnya tersimpan surat perjanjian sewa apartemen, sertifikat kepemilikan unit, dan sebuah buku catatan kecil berlogo klinik hewan ternama. Gendis membuka buku catatan tersebut di bawah temaram lampu meja kerja. Di halaman pertama, tertera nama kucing tersebut: 'Milo'. Jenis: British Shorthair. Dan di kolom nama pemilik, tertulis dua nama yang bersandingan: Baskara Aditya & Nawang Sekar. Dada Gendis terasa seperti dihantam oleh gada besi yang sangat besar. Nawang Sekar adalah nama mantan kekasih Baskara di masa kuliah, wanita yang dulu digosipkan hampir menikah dengan Baskara sebelum hubungan mereka kandas karena terganjal restu keluarga.
Ternyata hubungan itu tidak pernah benar-benar kandas. Mereka hanya memindahkannya ke sebuah ruang gelap yang tidak terjangkau oleh radar siapa pun, termasuk Gendis yang selama ini hidup dalam kepalsuan yang dirancang dengan sangat rapi. Selama lima tahun ini, Gendis telah mengorbankan banyak hal: ia melepaskan impian memiliki taman bunga yang luas karena Baskara khawatir serbuk sari akan memperburuk asmanya, ia membatasi pergaulannya, dan ia selalu merasa bersalah karena kondisi fisiknya yang lemah sering kali merepotkan suaminya. Namun ternyata, kelemahan fisiknya justru menjadi alasan sempurna bagi Baskara untuk membangun sebuah surga kecil yang steril bagi dirinya sendiri, dan sebuah surga lain yang penuh dengan bulu dan cinta lama yang belum usai di belahan kota yang lain.
Gendis menggigit bibirnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah mulai terasa di lidahnya, menahan air mata agar tidak jatuh membasahi dokumen-dokumen yang bisa merusak rencananya. Ia tidak boleh menangis sekarang. Kesedihan adalah kemewahan yang tidak bisa ia tanggung saat ini. Ia membutuhkan fakta yang lebih konkret. Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, Gendis mengambil ponselnya dan memotret setiap lembar dokumen di dalam folder tersebut. Ia harus melihat sendiri apa yang ada di Apartemen Lavender Unit 18C. Ia harus menyaksikan dengan matanya sendiri sejauh mana suaminya telah mengkhianati setiap janji suci yang mereka ucapkan di hadapan Tuhan lima tahun yang lalu.
Keesokan harinya, Gendis memesan taksi daring menuju Apartemen Lavender dengan alasan ingin mengunjungi pameran tanaman di Jakarta Barat kepada suaminya. Di dalam taksi, Gendis terus meremas tas tangannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Ketika taksi akhirnya berhenti di lobi apartemen yang mewah dan bergaya modern klasik itu, Gendis melangkah keluar dengan lutut yang terasa lemas. Ia berjalan menuju meja resepsionis, mencoba menjaga suaranya tetap stabil dan tenang. 'Selamat siang, saya Gendis. Saya ingin mengonfirmasi pengiriman paket untuk Unit 18C atas nama Ibu Nawang Sekar,' ujarnya kepada petugas keamanan yang berjaga.
Petugas keamanan itu menatap layar komputernya sejenak, lalu tersenyum ramah. 'Oh, Unit 18C ya, Bu? Kebetulan tadi pagi Pak Baskara sudah datang dan naik ke atas bersama Ibu Nawang. Mereka sepertinya baru saja kembali dari klinik hewan membawa kucing mereka. Apakah Ibu ingin saya hubungi ke unitnya terlebih dahulu?' tanya petugas itu dengan sangat sopan. Pertanyaan sederhana yang langsung meremukkan sisa-sisa harapan terakhir yang masih tersimpan di sudut hati Gendis. Baskara ada di atas. Bersama Nawang. Dan kucing mereka. Suaminya yang pagi tadi mencium keningnya dengan penuh kelembutan dan mengingatkannya untuk tidak lupa meminum obat asma, kini sedang berada di dalam satu ruangan tertutup dengan wanita lain dan hal yang paling mematikan bagi hidup Gendis.
'Tidak perlu,' jawab Gendis dengan suara yang nyaris berbisik. 'Saya akan langsung naik saja. Saya ingin memberikan kejutan untuk mereka.' Petugas keamanan itu mengangguk dan memberikan akses lift khusus penghuni setelah Gendis menunjukkan foto kartu identitas suaminya yang tersimpan di ponselnya. Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai delapan belas, Gendis menatap pantulan dirinya di dinding lift yang berlapis cermin. Wajahnya tampak begitu asing. Tidak ada lagi ketakutan di matanya, yang tersisa hanyalah kekosongan yang amat sangat dingin. Ketika pintu lift berdenting terbuka di lantai delapan belas, Gendis melangkah menyusuri lorong sunyi berkarpet tebal, menuju Unit 18C. Di depan pintu kayu jati kokoh itu, Gendis berhenti. Dari dalam unit, sayup-sayup ia mendengar suara tawa riang Baskara—suara tawa lepas yang sangat jarang ia dengar di rumah mereka yang selalu sunyi dan steril.