Notifikasi Gagal Unggah Jam Tiga Pagi Bongkar Skenario Busuk Pacar dan Sahabatku di Laboratorium Kampus

Notifikasi Gagal Unggah Jam Tiga Pagi Bongkar Skenario Busuk Pacar dan Sahabatku di Laboratorium Kampus

Kisah Kampus

Notifikasi Gagal Unggah Jam Tiga Pagi Bongkar Skenario Busuk Pacar dan Sahabatku di Laboratorium Kampus



Seharusnya aku tidak menatap baris kode nomor 142 di layar monitor laboratorium komputasi lantai tiga siang itu. Sebagai mahasiswi tingkat akhir jurusan Sistem Informasi, mataku sudah terlalu terbiasa melihat ribuan baris perintah yang membosankan. Namun, siang itu, sistem manajemen basis data yang sedang kuuji coba memunculkan sebuah anomali kecil. Sebuah log aktivitas sistem yang otomatis terkirim ke surel akademisku karena kegagalan sinkronisasi server pada pukul 03.14 pagi. Server lab mendeteksi aktivitas unggah dokumen dari alamat IP yang sangat kukenal, alamat IP milik Wi-Fi di kamar kos Baskara, kekasihku selama tiga tahun terakhir.

Awalnya aku mengira Baskara hanya begadang untuk menyelesaikan draf skripsinya sendiri yang sudah tertunda dua semester. Namun, nama berkas yang gagal diunggah itu membuat jantungku seolah berhenti berdetak sejenak: 'Proposal_MEXT_Japan_Danastri_Final_Revisi.pdf'. Berkas itu adalah draf proposal penelitianku yang telah kususun selama delapan bulan dengan cucuran keringat dan air mata, sebuah tiket emas untuk mendapatkan beasiswa penuh S2 ke Universitas Kyoto yang sangat kuimpikan sejak semester satu. Mengapa berkas itu diunggah dari laptop Baskara pada jam tiga pagi? Yang lebih mengerikan, log sistem mencatat bahwa akun pengunggahnya bukanlah milik Baskara, melainkan milik Kirana, sahabat terdekatku sejak masa orientasi mahasiswa baru.

Aku terduduk kaku di kursi putar lab yang dingin. AC ruangan mendengung pelan, mengirimkan rasa menggigil yang menjalar hingga ke ujung jari-jariku. Layar monitor di hadapanku mendadak terasa seperti cermin yang memantulkan kebodohanku sendiri. Selama ini, aku menganggap Kirana sebagai pelindungku, sosok yang selalu memelukku saat aku menangis karena tekanan akademis. Dan Baskara adalah pria hangat yang selalu membawakan sekotak nasi padang ke sekre BEM saat aku harus lembur hingga larut malam. Namun, baris kode hitam di atas latar belakang putih monitor itu tidak pernah berbohong. Mesin tidak mengenal rasa iba atau persahabatan.

Perlahan, aku membuka folder cadangan di komputasiku sendiri. Dengan tangan gemetar, aku memeriksa riwayat modifikasi dokumen proposal milikku. Benar saja, ada jejak transfer data via diska lepas berlabel 'Baskara-PC' yang terjadi dua hari lalu, tepat saat aku menitipkan laptopku padanya untuk dibersihkan kipasnya yang berisik. Baskara menawarkan bantuan itu dengan senyum manis dan usapan lembut di kepalaku, menyebutnya sebagai bentuk dukungannya agar aku tidak pusing menghadapi sidang proposal minggu depan. Ternyata, di balik kebaikan yang tampak begitu tulus itu, ada jari-jemari yang dengan lincah menyalin seluruh hasil kerja kerasku untuk diberikan kepada perempuan lain.

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Rasa sesak langsung menghantam dadaku begitu hebat hingga aku kesulitan bernapas. Kilasan-kilasan memori berputar di kepalaku seperti film rusak. Aku ingat bagaimana Kirana tiba-tiba menunjukkan ketertarikan yang luar biasa pada topik penelitianku tentang optimasi algoritma rantai pasok lokal. Aku ingat bagaimana dia sering bertanya tentang metodologi yang kugunakan, menanyakan detail-detail kecil dengan dalih ingin belajar karena dia sendiri merasa tertinggal secara akademis. Aku dengan bodohnya menjelaskan semuanya dengan antusias, tanpa sedikit pun menaruh curiga pada tatapan matanya yang tampak begitu lapar.

Aku bangkit dari kursi lab, mengabaikan tumpukan kertas kuesioner yang berserakan di meja. Kakiku melangkah keluar dari laboratorium lantai tiga, menyusuri koridor gedung fakultas yang sepi karena jam kuliah siang sedang berlangsung. Bau khas lorong kampus, perpaduan antara lantai yang baru dipel dan kertas-kertas tua, mendadak membuatku mual. Aku berjalan menuju kantin belakang, tempat yang biasa kami gunakan untuk berkumpul setelah kelas usai. Dari kejauhan, di bawah pohon beringin tua dekat koperasi mahasiswa, aku melihat mereka.

Baskara sedang duduk berhadapan dengan Kirana. Pria itu tertawa kecil, membenarkan letak kacamata berbingkai hitamnya yang khas, sementara Kirana tersenyum manis sambil menunjukkan sesuatu di layar tabletnya. Mereka tampak begitu serasi, begitu tenang, seolah dunia di sekitar mereka adalah panggung sandiwara yang berhasil mereka kuasai sepenuhnya. Di atas meja kayu yang kusam, terletak dua gelas es kopi susu yang sudah mencair setengahnya. Pemandangan itu begitu biasa, begitu akrab, namun kali ini ada rasa pahit yang luar biasa menjalar di tenggorokanku saat melihatnya.

Aku tidak langsung melabrak mereka. Ibuku selalu berpesan bahwa kemarahan yang meledak-ledak hanya akan membuat kita terlihat lemah dan tidak terkendali. Aku menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungku yang menggila, lalu berjalan mendekat dengan senyum yang kupaksakan sealami mungkin. 'Hei, serius banget diskusinya. Boleh gabung?' tanyaku dengan nada suara yang sengaja kubuat ceria, khas diriku yang biasanya.

Baskara tersentak kecil, hampir saja menyenggol gelas kopinya, sementara Kirana dengan gerakan kilat membalikkan layar tabletnya ke bawah. Reaksi refleks yang sangat mencurigakan bagi siapa saja yang tahu cara membaca bahasa tubuh. 'Eh, Anas. Udah selesai asistensinya? Sini duduk, Nas,' ujar Baskara dengan nada suara yang sedikit terlalu tinggi dari biasanya, sebuah indikasi bahwa dia sedang gugup. Dia segera menarik kursi plastik biru di sebelahnya agar aku bisa duduk.

Kirana tersenyum manis, begitu manis hingga rasanya racun pun kalah pekat. 'Iya nih, Anas. Aku lagi nanya-nanya ke Bas tentang sistematika penulisan esai buat beasiswa. Kamu tahu sendiri kan aku agak kurang di bagian metodologi,' ucapnya dengan nada manja yang biasa dia gunakan untuk mendapatkan simpati orang lain. Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari setitik saja rasa bersalah atau kecemasan di sana, namun yang kutemukan hanyalah ketenangan seorang manipulator ulung.

'Oh ya? Bagus dong kalau saling bantu,' jawabku, mataku melirik ke arah tas ransel Kirana yang terbuka sedikit, memperlihatkan ujung map jepit berwarna biru tua yang sangat kukenal. Itu adalah map yang berisi cetakan draf proposal asliku yang sempat hilang dari meja belajarku minggu lalu. Aku merasakan dorongan kuat untuk menjambak rambutnya saat itu juga, namun aku menahannya dengan meremas kuat-ujung rok jins yang kukenakan di bawah meja.

'Kamu sendiri gimana proposalnya, Nas? Udah siap buat submit ke portal MEXT besok malam?' tanya Baskara, tangannya menjangkau tanganku dan menggenggamnya hangat. Genggaman tangan yang biasanya menenangkanku itu kini terasa seperti lilitan ular yang dingin dan berbisa. Aku menatap tangannya yang kekar, tangan yang semalam mungkin digunakan untuk menyunting proposal Kirana menggunakan ide-ide yang kucurahkan padanya selama berbulan-bulan.

'Sudah hampir siap kok. Tinggal merapikan beberapa sitasi saja,' jawabku sambil perlahan menarik tanganku dari genggamannya dengan alasan ingin mengambil ponsel di dalam saku. 'Aku yakin banget dengan penelitian ini. Profesor dari Kyoto University yang kuhubungi bulan lalu juga sangat tertarik dengan draf awal yang kukirim lewat surel pribadi.'

Mendengar ucapanku, aku melihat kilatan kepanikan yang sangat tipis di mata Kirana. Dia melirik Baskara sekilas, sebuah komunikasi tanpa kata yang langsung kutangkap dengan jelas. Tentu saja mereka panik. Jika aku sudah mengirimkan draf awal ke profesor tersebut sebulan lalu, maka proposal yang akan diunggah Kirana besok malam akan langsung terdeteksi sebagai plagiarisme tingkat tinggi oleh sistem seleksi beasiswa yang sangat ketat itu. Mereka tidak tahu bahwa aku telah mengambil langkah pencegahan sejak jauh-jauh hari.

Sebenarnya, aku sengaja berbohong tentang pengiriman surel ke profesor tersebut. Aku ingin melihat sejauh mana mereka akan melangkah untuk menjatuhkanku. Dan reaksi panik mereka barusan adalah konfirmasi mutlak yang kubutuhkan. Mereka benar-benar berniat mencuri seluruh penelitianku dan membiarkanku gagal dalam seleksi beasiswa tersebut, sementara mereka merayakan kemenangan di atas kehancuran mimpiku.

'Ah, bagus deh kalau gitu, Nas. Kami selalu mendukungmu kok,' ucap Kirana dengan suara yang mendadak terdengar sedikit parau. Dia kemudian sibuk memainkan ponselnya, jari-jarinya bergerak dengan sangat cepat, kemungkinan besar sedang mengirimkan pesan darurat kepada Baskara di bawah meja.

Aku berdiri dari kursi, tidak sanggup lagi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan dua orang bermuka dua ini. 'Aku balik ke kos dulu ya. Agak pusing nih, mau istirahat sebelum lanjut revisi nanti malam,' pamitku. Baskara menawarkan diri untuk mengantarku dengan motornya, namun aku menolak dengan halus, mengatakan bahwa aku ingin berjalan kaki saja untuk mencari udara segar.

Sepanjang jalan kembali ke kamar kosku yang sempit di dekat gerbang belakang kampus, air mataku akhirnya tumpah juga. Aku menangis tanpa suara, membiarkan air mata membasahi pipi di bawah terik matahari siang yang menyengat. Rasa sakit karena dikhianati oleh orang-orang yang paling kupercaya ternyata jauh lebih menyakitkan daripada rasa lelah fisik karena begadang berhari-hari. Baskara adalah pria yang kuharapkan akan mendampingiku di masa depan, dan Kirana adalah sahabat yang kuyakini akan menjadi pendamping pengantin wanitaku kelak. Kini, keduanya lenyap dalam sekejap, menyisakan kekosongan yang teramat sangat di dalam dadaku.

Namun, saat aku mengunci pintu kamar kosku dan duduk di lantai beralaskan karpet plastik, kesedihan itu perlahan menguap, digantikan oleh rasa dingin yang membakar. Aku menyalakan laptopku kembali. Log sistem dari server lab lantai tiga masih terbuka di layar. Aku menatapnya dengan pandangan mata yang kini tajam dan penuh tekad. Mereka mengira aku adalah Danastri yang lemah, gadis polos yang bisa dengan mudah mereka manfaatkan demi ambisi pribadi mereka.

Mereka lupa bahwa aku adalah mahasiswi terbaik di kelasku, seseorang yang menguasai analisis sistem dan keamanan jaringan. Aku tahu persis bagaimana cara melacak setiap jejak digital yang mereka tinggalkan. Aku juga tahu bagaimana cara membalikkan keadaan tanpa harus mengotori tanganku sendiri dengan drama murahan di media sosial atau koridor kampus.

Aku mulai membuka direktori sistem penyimpanan awan milik laboratorium yang terhubung dengan akun dosen pembimbingku, Dr. Dananjaya. Beliau adalah salah satu dewan kurator untuk rekomendasi beasiswa MEXT di kampus kami. Dengan beberapa klik taktis, aku memasukkan log aktivitas server jam tiga pagi tadi ke dalam folder laporan harian yang otomatis akan diperiksa oleh beliau setiap hari Jumat pagi. Aku juga melampirkan perbandingan kode dokumen yang menunjukkan tingkat kemiripan 98 persen antara draf proposal milikku yang sudah terdaftar di sistem internal kampus sejak tiga bulan lalu, dengan dokumen yang gagal diunggah oleh akun Kirana dari IP address kamar kos Baskara.

Hari Jumat tinggal dua hari lagi. Hari itu juga bertepatan dengan presentasi akhir kelayakan proposal di hadapan Dr. Dananjaya dan perwakilan sponsor dari Jepang. Aku tahu Kirana akan maju dengan sangat percaya diri menggunakan proposal hasil curiannya, didampingi oleh Baskara yang akan bertindak sebagai asisten presentasinya. Mereka tidak akan pernah menduga bahwa jebakan yang mereka pasang untukku, sebenarnya telah berbalik arah dan siap menerkam mereka tepat di depan seluruh jajaran petinggi fakultas.

Aku bersandar di sandaran kursi belajarku, menatap langit-langit kamar kos yang mulai menggelap seiring berjalannya waktu. Rasa sakit di dadaku belum sepenuhnya hilang, namun kini ada kepuasan aneh yang mulai menjalar di setiap aliran darahku. Permainan baru saja dimulai, dan aku memastikan bahwa akulah yang akan menulis kode akhir dari skenario yang mereka ciptakan sendiri.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url