Pesanan GoFood Jam 2 Pagi di Apartemen Sepupuku Menguak Sisi Gelap Pernikahan Kami

Pesanan GoFood Jam 2 Pagi di Apartemen Sepupuku Menguak Sisi Gelap Pernikahan Kami

Skandal & Pengkhianatan

Pesanan GoFood Jam 2 Pagi di Apartemen Sepupuku Menguak Sisi Gelap Pernikahan Kami



'Kamu tahu, Mas, martabak matcha tipis kering itu selalu terlalu manis kalau tidak dipanggang dua kali,' ucap Gendis pelan, jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dapur yang dingin. Suaranya hampir tenggelam di antara dengung kompresor kulkas dua pintu yang beroperasi di keheningan malam pukul dua pagi.

Dananjaya, yang baru saja melangkah masuk dengan kemeja kerja yang sedikit kusut dan dasi yang sudah melonggar di leher, menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu dapur. Ada jeda sepersekian detik sebelum senyum hangat khasnya mengembang, menyembunyikan keletihan yang tampak menggelayut di kelopak matanya yang tebal. 'Tiba-tiba membicarakan martabak malam-malam begini? Kamu mengidam sesuatu, Sayang? Aku bisa pesankan lewat aplikasi sekarang kalau kamu mau,' jawabnya lembut, berjalan mendekat untuk mengecup dahi istrinya.

Gendis tidak bergerak setonggo pun. Dia membiarkan bibir hangat Dananjaya menyentuh keningnya, namun kehangatan yang biasanya menjalar ke seluruh dadanya kini terasa seperti lelehan lilin dingin yang membekukan darahnya. Gendis perlahan memutar layar laptopnya yang menyala terang di atas meja, menghadapkannya langsung ke arah suaminya. Layar itu menampilkan rincian riwayat transaksi kartu kredit tambahan atas nama Dananjaya yang tersinkronisasi otomatis dengan email cadangan keluarga.

'Aku tidak ingin makan apa-apa, Mas. Aku hanya penasaran mengapa kartu kreditmu membayar pesanan martabak matcha tipis kering dengan catatan khusus 'panggang dua kali, tanpa susu kental manis' pada hari Selasa pekan lalu pukul satu lewat empat puluh lima menit pagi,' kata Gendis, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Dananjaya. 'Dan yang membuatku terjaga semalaman adalah alamat pengirimannya. Unit 12B, Aspen Residence. Apartemen yang kita sewa atas namaku untuk membantu Kirana menetap di Jakarta.'

Wajah Dananjaya yang biasanya tenang dan penuh wibawa sebagai kepala divisi investasi di sebuah perusahaan sekuritas ternama, mendadak kehilangan rona hidupnya. Detak jam dinding di ruang tengah mendadak terdengar begitu nyaring, mengisi kekosongan yang menyesakkan di antara mereka berdua. Kirana adalah sepupu yatim piatu Gendis yang baru saja lulus kuliah dari Yogyakarta dan memutuskan mengadu nasib di ibu kota. Gendis sendiri yang bersikeras menjamin seluruh biaya hidup awal Kirana, memastikannya tinggal di tempat yang aman karena menganggapnya seperti adik kandung sendiri.

'Gendis, dengerin aku dulu,' Dananjaya mencoba meraih jemari Gendis, namun Gendis dengan tenang menarik tangannya ke pangkuan, menghindari sentuhan pria yang telah dinikahinya selama empat tahun itu. 'Minggu lalu Kirana sedang sakit keras, dia meneleponku karena tidak bisa menghubungi kamu yang sedang ada kunjungan kerja di Surabaya. Dia mengeluh kepalanya sangat pusing dan belum makan dari siang. Aku... aku hanya memesankan makanan untuknya karena aku merasa bertanggung jawab sebagai kakak iparnya. Aku tidak mau dia kenapa-napa di kota asing ini.'

Sebuah tawa kecil, pahit dan kering, lolos dari celah bibir Gendis. Udara di dapur ber-AC itu mendadak terasa begitu tipis hingga dadanya terasa sesak berdenyut. 'Sakit keras, Mas? Dan obat yang kamu pilihkan untuknya adalah martabak manis khusus kegemaranku yang bahkan tidak ada di menu standar, melainkan harus ditulis manual di kolom catatan? Martabak yang selalu kita beli di dekat kos-kosan kita dulu saat masih merintis karier? Kamu ingat betul modifikasinya, Mas. Kamu tidak pernah lupa bagaimana aku menyukainya.'

Dananjaya menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun. Sudut matanya berkedut samar, sebuah tanda kecemasan yang hanya diketahui oleh Gendis setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengannya. 'Itu... itu hanya karena aku bingung mau pesan apa, Gendis. Otakku langsung mengingat menu itu karena itu yang paling sering kita pesan. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Kirana itu keluargamu, sepupumu sendiri. Bagaimana mungkin kamu mencurigai kami?'

Gendis menutup laptopnya perlahan dengan bunyi klik yang terdengar final di kesunyian malam. Dia berdiri dari kursi bar kayu jati, menatap suaminya dengan tatapan kosong, seolah pria di hadapannya adalah orang asing yang baru pertama kali dia temui di gerbong kereta yang padat. Selama ini dia selalu mengabaikan tanda-tanda kecil yang bertebaran di sekitarnya. Parfum maskulin Dananjaya yang terkadang menguar dari sofa apartemen Kirana saat Gendis berkunjung membawa bahan makanan. Pilihan lagu di akun Spotify bersama mereka yang tiba-tiba dipenuhi oleh genre indie melankolis kesukaan Kirana, bukan lagu instrumental klasik yang biasa menemani kerja Dananjaya. Semuanya terhubung kini, membentuk gambar utuh yang begitu mengerikan di benak Gendis.

'Aku tidak sedang mencurigai, Mas. Aku sedang mengonfirmasi,' bisik Gendis dengan nada suara yang terlampau tenang, keheningan yang justru jauh lebih menakutkan daripada badai kemarahan yang meledak-ledak. 'Kemarin sore, aku pergi ke Aspen Residence tanpa memberi tahu Kirana terlebih dahulu. Aku bermaksud membawakannya sup ayam hangat karena dia bilang di grup WhatsApp keluarga bahwa dia sedang flu berat.'

Dananjaya menahan napasnya, tubuhnya menegang kaku bagaikan patung batu di tengah dapur mewah mereka yang berlapis granit hitam. Matanya membelalak kecil, menunggu kalimat berikutnya dari bibir istrinya dengan kecemasan yang merayap hingga ke ujung jari-jarinya.

'Aku tidak menemukan Kirana yang sedang terbaring lemas karena flu, Mas,' lanjut Gendis, setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata kirinya, mengalir lambat melewati pipinya yang pucat namun suaranya tetap tidak bergetar sedikit pun. 'Aku menemukan sepasang sandal rumah berukuran empat puluh dua berwarna abu-abu gelap tergeletak di rak sepatunya. Sandal rumah bermerek sama dengan yang biasa kamu pakai di sini. Dan di atas meja riasnya, ada sebuah jam tangan kulit cokelat dengan goresan kecil di bagian bezel sebelah kanan. Jam tangan yang aku hadiahkan untuk ulang tahun pernikahan kita yang ketiga, yang kamu katakan hilang di pusat kebugaran dua bulan lalu.'

Seketika itu juga, pertahanan Dananjaya runtuh sepenuhnya. Dia melangkah maju dengan tergesa-gesa, menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Gendis, mencoba memeluk pinggang istrinya dengan keputusasaan yang menggelora. 'Gendis, demi Tuhan, itu kesalahan terbesar dalam hidupku! Aku khilaf, Sayang. Kirana yang terus-menerus mendekatiku saat kamu sibuk dengan proyek barumu di luar kota. Aku kesepian, aku merasa tidak lagi diperhatikan olehmu. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah berniat meninggalkanmu! Aku mencintaimu, Gendis. Tolong, beri aku satu kesempatan saja untuk memperbaiki semua ini. Aku akan menyuruh Kirana pergi dari apartemen itu besok pagi, aku akan memutus semua kontak dengannya!'

Gendis menatap kepala Dananjaya yang tertunduk di pangkuannya, mendengar tangis penyesalan suaminya yang terdengar begitu tulus namun terasa begitu hampa di telinganya. Rasa sakit yang menjalar di dadanya kini berganti menjadi ruang hampa udara yang dingin dan steril. Pengkhianatan ini tidak hanya merobek hatinya sebagai seorang istri, tetapi juga menghancurkan rasa percayanya kepada satu-satunya keluarga sedarah yang tersisa setelah orang tuanya tiada.

'Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari semua ini, Mas?' tanya Gendis dengan suara lirih yang nyaris menyerupai bisikan angin malam. 'Bukan fakta bahwa kamu tidur dengannya di apartemen yang aku bayar dengan tetesan keringatku sendiri. Tetapi kenyataan bahwa saat kamu menyuapkan martabak manis kesukaanku ke mulutnya di tengah malam, kamu sedang merayakan kematian pernikahan kita dengan menggunakan kenangan terindah masa lalu kita sebagai bumbunya. Kamu tidak hanya mengkhianatiku, Dananjaya. Kamu menodai setiap sudut suci dari sejarah hidup kita.'

Gendis melepaskan tangan Dananjaya dari pinggangnya dengan kekuatan yang tidak terduga dari tubuhnya yang mungil. Dia melangkah mundur, menatap suaminya untuk terakhir kali sebelum berjalan menuju kamar tidur utama, meninggalkan Dananjaya yang bersimpuh sendirian di lantai dapur dingin yang kini menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah mahligai rumah tangga yang dibangun di atas fondasi kebohongan yang rapi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url