Sahabatku Pamit Operasi Kista di Jakarta, Tiket Pesawat ke Penang Atas Nama Suamiku Menguak Skenario Busuk yang Mereka Rancang
'Kamu pucat banget, Ki. Kurang tidur ya karena revisian desain?' Tanya Gisela, jemari lentiknya yang dihiasi nail art berwarna pastel mengayun santai, menyuapkan sesendok tiramisu ke mulutnya yang merah merekah. Di seberang meja kayu kafe yang bising itu, Kirana hanya mampu menarik sudut bibirnya, memaksa sebuah senyuman tipis yang tidak sampai ke mata.
'Iya, Sel. Ada proyek kilat dari klien luar kota yang harus selesai akhir pekan ini,' jawab Kirana dusta. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa riak, menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam dadanya. Matanya tertuju pada jemari Gisela. Cincin perak bermata safir biru di jari manis sahabatnya itu tampak begitu berkilau di bawah lampu gantung kafe. Kirana sangat mengenali cincin itu. Sangat mengenalnya karena dialah yang menemani suaminya, Dananjaya, memilih cincin tersebut sebulan lalu, yang katanya untuk hadiah ulang tahun ibu mertuanya.
Gisela terkekeh manis, mengeluarkan ponselnya dan mulai sibuk membalas pesan dengan senyum yang terus mengembang. Kirana menatap wajah cantik di hadapannya itu dengan rasa ngilu yang luar biasa. Gisela adalah sahabatnya sejak mereka masih mengenakan seragam putih-abu-abu. Mereka berbagi segalanya, mulai dari rahasia masa kecil, mimpi-mimpi masa depan, hingga tangisan saat patah hati. Ketika Kirana menikah dengan Danan empat tahun lalu, Gisela adalah orang pertama yang menangis haru di pelaminan, memeluk mereka berdua seolah ikut merayakan kebahagiaan terbesar dalam hidup Kirana.
Namun, semua kehangatan itu seketika menguap, menyisakan dingin yang membekukan sumsum tulang Kirana ketika ia menemukan sebuah amplop cokelat kecil di laci meja kerja suaminya tadi malam. Kirana awalnya hanya mencari gunting kuku yang biasa disimpan Danan di sana. Namun, jarinya menyentuh sudut sebuah paspor lama yang sudah mati masa berlakunya. Di dalam paspor usang itu, terselip dua lembar manifes penerbangan fisik kelas bisnis maskapai swasta, lengkap dengan struk penukaran valuta asing sebesar lima belas ribu Ringgit Malaysia.
Nama yang tertera di manifes penerbangan itu tertulis jelas dengan tinta hitam pekat: DANANJAYA/MR dan GISELA/MS. Tanggal keberangkatan mereka adalah dua pekan lalu. Hari Jumat pagi, kembali di hari Senin malam. Tanggal yang sama persis ketika Danan berpamitan pergi ke Bandung untuk menghadiri 'Rapat Kerja Tahunan' perusahaannya, dan tanggal yang sama ketika Gisela menelepon Kirana dengan suara lemas, meminta maaf karena tidak bisa menemani Kirana belanja bulanan karena harus menjalani operasi kista rahim di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Pusat.
Ingatan itu menghantam kepala Kirana bagai godam berat. Hari itu, Kirana bahkan sempat mengirimkan buket bunga lili putih kesukaan Gisela ke kamar rawat yang dibilang Gisela melalui aplikasi ojek daring. Gisela bahkan mengirimkan foto dirinya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang infus terpasang di tangan kanan, lengkap dengan pesan teks yang menyayat hati: 'Makasih ya Ki, kamu memang sahabat terbaikku. Maaf aku merepotkan terus.'
Kini, melihat Gisela yang tampak begitu bugar di hadapannya, Kirana merasa seperti orang paling bodoh sedunia. Infus itu, kamar rumah sakit itu, rasa sakit itu—semuanya hanyalah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi untuk menutupi kepergian romantis mereka ke George Town, Penang. Untuk apa mereka ke sana? Mengapa harus Penang? Dan sejak kapan suaminya yang selalu tampak hangat dan perhatian itu mulai membagi hatinya dengan wanita yang paling ia percayai?
'Oh ya, Ki, gimana kabar Mas Danan? Kok akhir-akhir ini jarang kelihatan jemput kamu di studio?' Tanya Gisela tiba-tiba, memecah lamunan Kirana. Wajahnya menampilkan ekspresi khawatir yang begitu meyakinkan. Sungguh sebuah akting kelas Oscar, batin Kirana perih.
'Mas Danan lagi sibuk banget, Sel. Biasa, proyek akhir tahun di kantornya lagi padat-padatnya. Bahkan kadang akhir pekan pun dia harus keluar kota,' jawab Kirana, sengaja menekankan kata 'keluar kota' sambil menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Gisela. Ada kilatan gugup yang melintas sangat cepat di mata sahabatnya itu, sebelum akhirnya digantikan oleh senyuman manis yang biasa.
'Wah, kasihan ya. Tapi nggak apa-apa, demi masa depan kalian juga, kan? Mas Danan itu suami yang bertanggung jawab banget, Ki. Kamu beruntung punya dia,' ujar Gisela tanpa dosa, jemarinya kembali bermain dengan sendok tiramisu yang kini sudah hampir habis.
Kirana mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih dan menancap ke telapak tangan. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa hancur di dalam dadanya. Suami yang bertanggung jawab? Ya, sangat bertanggung jawab hingga membiayai liburan mewah sahabat istrinya dengan uang tabungan bersama yang selama ini mereka kumpulkan untuk program bayi tabung.
Sebelum Kirana sempat membalas ucapan Gisela, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar lembut. Sebuah notifikasi muncul dari aplikasi penyimpanan awan bersama yang ia hubungkan dengan tablet lama suaminya di rumah. Layar ponsel itu menyala, menampilkan pemberitahuan bahwa ada folder foto baru yang baru saja disinkronkan secara otomatis dari perangkat cadangan Danan.
Dengan tangan bergetar, Kirana membuka notifikasi tersebut di bawah meja. Layar ponselnya menampilkan deretan foto yang baru saja terunggah karena koneksi internet rumah yang stabil. Foto pertama memperlihatkan Danan dan Gisela berdiri sangat dekat di depan sebuah bangunan kolonial tua berlatar belakang langit Penang yang biru bersih. Tangan kanan Danan merengkuh pinggang Gisela dengan sangat posesif, sementara Gisela bersandar manja di bahu pria itu dengan senyum paling bahagia yang pernah Kirana lihat.
Di foto berikutnya, mereka berdua sedang makan malam romantis di sebuah restoran tepi pantai dengan lilin-lilin kecil yang menerangi wajah mereka. Di jari manis Gisela, cincin safir biru itu tersemat dengan indahnya. Kirana merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging hebat. Semua bukti kini terpampang nyata, tidak ada lagi ruang untuk penyangkalan atau keraguan.
'Ki? Kamu kenapa? Muka kamu kok mendadak pucat banget begitu?' Tanya Gisela, kini tampak benar-benar panik melihat perubahan drastis pada wajah sahabatnya. Ia mengulurkan tangannya ke seberang meja, mencoba menyentuh punggung tangan Kirana.
Sebelum jemari Gisela menyentuh kulitnya, Kirana dengan cepat menarik tangannya menjauh. Ia menatap Gisela dengan tatapan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya—dingin, tajam, dan penuh dengan luka yang teramat dalam. Perlahan, Kirana meletakkan ponselnya di atas meja, menghadapkan layarnya tepat ke arah wajah Gisela yang seketika membeku saat melihat foto mesra dirinya dengan suami sahabatnya sendiri terpampang jelas di sana.