Siasat Halus di Balik Bilik Kaca SCBD

Siasat Halus di Balik Bilik Kaca SCBD

Romansa Kantor

Siasat Halus di Balik Bilik Kaca SCBD



Klik tetikus itu terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang yang sunyi. Nirmala masih menggenggam iPad Pro milik Mahesa, berdiri di sisi meja rapat marmer yang panjang, sementara dua puluh pasang mata jajaran direksi menatap lurus ke layar proyektor raksasa di depan mereka. Presentasi triwulan ketiga baru saja mencapai slide paling krusial ketika sebuah notifikasi push meluncur turun dari atas layar, menutupi grafik pertumbuhan profit perusahaan yang sedang dibahas. Notifikasi dari aplikasi Splitwise itu berbunyi dengan sangat jelas: 'Ardhini meminta Rp 3.200.000 untuk Private Cabana & Dinner Package - Dusun Bambu'. Di bawahnya, tertera catatan kecil yang ditulis dengan gaya kasual: 'Sesuai kesepakatan sabtu malam kemarin ya, Kak Mahesa!'.

Dunia di sekitar Nirmala mendadak kehilangan suaranya. AC sentral yang biasanya menderu dingin kini terasa membekukan seluruh sendi di tubuhnya. Selama tiga tahun terakhir, Nirmala telah mengunci rapat-rapat hubungannya dengan Mahesa. Mereka adalah sepasang kekasih yang menyamar menjadi rekan kerja profesional demi mematuhi aturan ketat perusahaan tentang larangan hubungan romantis satu kantor. Mahesa, sang Vice President of Product yang karismatik, selalu meyakinkan Nirmala bahwa taktik ini perlu dilakukan sampai dia mendapatkan promosi menjadi Direktur bulan depan. Namun, melihat nama Ardhini—gadis magang yang baru tiga bulan bergabung di bawah supervisi langsung Mahesa—bersanding dengan detail reservasi romantis di akhir pekan lalu, membuat seluruh fondasi kepercayaan Nirmala runtuh seketika.

Dengan gerakan yang luar biasa tenang, terlatih oleh bertahun-tahun menghadapi krisis korporat, Nirmala menggeser notifikasi itu ke samping hingga menghilang dari layar. Dia melanjutkan presentasinya tanpa ada getaran sedikit pun pada suaranya. Dia menjabarkan angka-angka, menjelaskan strategi retensi pengguna, dan menjawab pertanyaan kritis dari CEO dengan ketenangan seorang profesional sejati. Di sebelahnya, Mahesa duduk dengan ekspresi wajah yang mendadak kaku, jemarinya berulang kali mengetuk pulpen Montblanc miliknya ke atas meja. Mahesa tahu Nirmala melihatnya. Mahesa tahu bahwa rahasia kecil yang dia sembunyikan di balik perjalanan dinas palsunya ke Solo akhir pekan lalu kini telah terkelupas di depan mata kekasihnya sendiri.

Begitu rapat ditutup dengan tepuk tangan formal, Nirmala tidak menunggu Mahesa. Dia segera merapikan iPad dan dokumen-dokumen di atas meja, lalu melangkah keluar dari ruang rapat berbilik kaca itu dengan langkah konstan. Langkahnya membawanya ke koridor pantry lantai empat puluh dua yang sedang sepi. Di sana, di balik mesin kopi otomatis yang menderu pelan, Nirmala bersandar pada konter granit hitam. Dadanya terasa sesak, seolah-olah seluruh oksigen di lantai itu telah disedot habis. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri, membuka aplikasi pencarian, dan mengetik nama Dusun Bambu. Gambar-gambar cabana kayu yang romantis di tengah hutan pinus bermunculan, lengkap dengan lampu-lampu temaram dan paket makan malam privat untuk dua orang. Akhir pekan lalu, Mahesa mengiriminya foto bandara Adi Soemarmo dengan takarir: 'Rapatnya molor sampai malam, Sayang. Aku langsung istirahat di hotel ya.'

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecah kesunyian pantry. Nirmala tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma parfum Terre d'Hermes yang sangat dia kenal segera memenuhi ruangan kecil itu. Mahesa menutup pintu kaca pantry dengan rapat, menguncinya dari dalam, lalu berdiri dua langkah di belakang Nirmala dengan wajah yang diliputi kecemasan yang tertahan. 'Nirmala, tolong biarkan aku menjelaskan kejadian tadi. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan,' bisik Mahesa, suaranya terdengar sangat kontras dengan wibawa yang baru saja dia tunjukkan di ruang rapat.

Nirmala berbalik lambat-lambat, menatap pria yang telah berbagi mimpi dengannya selama seribu hari terakhir. Matanya tidak basah oleh air mata; ada kekosongan yang jauh lebih mengerikan di sana. 'Berapa lama, Mahesa?' tanyanya datar. Suaranya begitu tenang hingga membuat Mahesa tampak semakin gugup. 'Ardhini hanya anak magang yang butuh bimbingan proyek baru kita. Kemarin dia membantuku menyelesaikan riset lapangan di Bandung. Aku menyewa cabana itu hanya untuk tempat diskusi yang tenang karena kafe biasa terlalu bising. Tagihan itu... aku yang menanggungnya sebagai bentuk apresiasi kerja kerasnya,' jawab Mahesa, menyusun kebohongan korporat yang terdengar rapi namun terasa sangat rapuh di telinga Nirmala.

Nirmala tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. 'Diskusi tenang sampai pukul sebelas malam di tempat glamping privat, Mahesa? Dan sejak kapan kamu mulai menggunakan sistem split bill di Splitwise untuk sesuatu yang kamu sebut sebagai pengeluaran apresiasi kantor? Kamu selalu menggunakan kartu kredit korporat untuk semua pengeluaran dinas.' Pertanyaan Nirmala menghantam Mahesa tepat di ulu hatinya. Pria itu kehilangan kata-kata, mulutnya sedikit terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Kebohongan yang dia bangun dengan hati-hati selama beberapa bulan terakhir kini runtuh karena satu kelalaian kecil: sebuah notifikasi aplikasi keuangan bersama yang lupa dia matikan sebelum meminjamkan iPad-nya.

Sebelum Mahesa sempat menyusun pembelaan baru, pintu kaca pantry diketuk dari luar. Melalui kaca buram, siluet ramping Ardhini terlihat berdiri di sana, memegang beberapa map laporan dengan ekspresi wajah yang tampak cemas namun penasaran. Nirmala menatap siluet itu, lalu kembali menatap Mahesa yang kini membelakangi pintu dengan keringat dingin yang mulai tampak di pelipisnya. Pertarungan sebenarnya di kantor ini baru saja dimulai, dan Nirmala tidak berniat untuk kalah tanpa membuat mereka merasakan dinginnya lantai tempatnya berpijak saat ini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url