Struk GoFood Martabak Pandan Jam Dua Pagi Menuntunku ke Unit Apartemen Rahasia Suami
Savitri berdiri mematung di depan rak susu formula di supermarket yang beroperasi dua puluh empat jam di kawasan Jakarta Selatan. Tangannya yang dingin memegang erat satu kotak susu almond, sementara layar ponsel di tangan kirinya bergetar tanpa henti. Detik itu juga, sebuah notifikasi transaksi kartu kredit bersama mendarat dengan denting yang terasa seperti hantaman palu godam di dadanya. Sebuah transaksi GoFood sebesar seratus dua puluh ribu rupiah untuk pembelian 'Martabak Spesial Pandan Keju - Extra Butter' pada pukul 01.30 pagi. Pengiriman ditujukan ke sebuah alamat yang sama sekali asing bagi Savitri: Sudirman Suites, Tower B, Unit 1805.
Rasa mual seketika bergolak di ulu hati Savitri. Martabak pandan keju adalah makanan favorit adik kandungnya, Kiranis. Gadis berusia dua puluh dua tahun yang baru saja lulus kuliah itu sangat tergila-gila pada kombinasi rasa tersebut. Sementara Savitri sendiri memiliki alergi parah terhadap esens pandan dan produk olahan susu sapi yang membuatnya langsung mengalami sesak napas jika mengonsumsinya. Lebih dari itu, suaminya, Pranadipa, seharusnya saat ini berada di Yogyakarta. Pria itu berpamitan sejak kemarin pagi untuk menghadiri simposium arsitektur heritage di Hotel Royal Ambarrukmo. Dipa bahkan sempat mengirimkan foto selfie berlatar belakang lobi hotel tersebut tepat sebelum makan malam.
Savitri menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar yang kini menjalar ke seluruh sendi tubuhnya. Dia meletakkan kembali kotak susu ke dalam rak dengan gerakan kaku, lalu melangkah cepat menuju area parkir. Di dalam mobilnya yang sunyi, ia mencoba menghubungi nomor telepon Dipa. Hanya ada nada sambung yang panjang, disusul oleh suara mesin penjawab otomatis yang dingin. Jantung Savitri berdegup kencang, menciptakan ritme liar yang memekakkan telinga. Ia kemudian beralih menghubungi nomor Kiranis. Sibuk. Ponsel adiknya sedang berada dalam panggilan lain.
Kecurigaan yang selama ini ia tepis jauh-jauh bagaikan kabut tipis kini mengkristal menjadi kenyataan yang tajam. Savitri mengingat kembali beberapa bulan terakhir. Kiranis yang tiba-tiba memiliki koleksi tas desainer ternama yang diklaimnya sebagai barang tiruan berkualitas tinggi. Dipa yang menjadi sangat protektif terhadap ponsel pribadinya, seringkali membawa benda itu bahkan saat mandi. Aroma parfum melati lembut yang bukan miliknya, namun sesekali terendus samar di jok penumpang mobil Dipa. Selama ini, Savitri memilih untuk mempercayai pria yang telah mendampinginya selama lima tahun itu. Pria yang bersamanya merintis biro arsitektur CV Sinergi Danadyaksa dari nol.
Savitri mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyalakan mesin mobil, mengabaikan kantuk yang menggelayuti pelupuk matanya. Jakarta di jam dua pagi terasa sunyi dan basah sisa hujan semalam. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya neon kuning di atas aspal yang mengilap, menambah kesan dramatis pada keputusasaan yang sedang merayapi jiwanya. Perjalanan menuju Sudirman Suites hanya memakan waktu lima belas menit karena jalanan yang lengang, namun bagi Savitri, setiap detiknya terasa seperti siksaan abadi.
Setibanya di lobi apartemen mewah tersebut, Savitri langsung menuju meja resepsionis yang dijaga oleh seorang petugas keamanan bertubuh tegap dan seorang resepsionis perempuan yang tampak lelah. Dengan ketenangan yang ia paksakan muncul ke permukaan, Savitri memperkenalkan diri. Ia menyebutkan bahwa suaminya, Pranadipa, adalah pemilik atau penyewa Unit 1805 yang didaftarkan atas nama perusahaan mereka, CV Sinergi Danadyaksa. Savitri menunjukkan kartu identitasnya serta dokumen digital kepemilikan perusahaan yang selalu ia simpan di dalam folder surat berharga di ponselnya.
Petugas keamanan itu tampak ragu, namun keaslian dokumen dan pembawaan Savitri yang anggun serta tegas membuat mereka akhirnya melunak. 'Pak Pranadipa memang terdaftar menyewa unit tersebut secara bulanan melalui agensi korporat kami, Bu,' ujar resepsionis itu dengan nada sungkan. 'Apakah Anda ingin kami hubungi unitnya terlebih dahulu?' Savitri menggeleng pelan dengan senyum tipis yang dipaksakan. 'Tidak perlu. Saya ingin memberikan kejutan untuknya. Tolong bantu saya dengan akses lift ke lantai delapan belas.'
Langkah kaki Savitri terdengar pelan di atas karpet tebal koridor lantai delapan belas. Aroma pengharum ruangan beraroma lavender sintetis yang menusuk hidung terasa mencekik lehernya. Ia berjalan menyusuri nomor-nomor pintu yang dingin hingga akhirnya berdiri tepat di depan pintu kayu jati kokoh berlapis pernis gelap dengan nomor kuningan: 1805. Di lantai dekat keset kaki, terdapat sebuah kantong plastik GoFood berwarna hijau yang sudah kosong. Sang kurir rupanya baru saja pergi beberapa saat lalu.
Savitri menatap gagang pintu dengan kunci digital yang berkedip biru lembut. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Ia tahu Dipa adalah pria yang sangat metodis. Pria itu tidak pernah mengganti kode pin digitalnya untuk hal-hal yang bersifat pribadi—selalu menggunakan kombinasi angka tanggal pernikahan mereka: 121218. Dengan tangan yang sangat gemetar, Savitri menekan deretan angka tersebut di atas panel sensor sentuh. Satu demi satu angka menyala, diakhiri dengan bunyi klik mekanis yang berat. Pintu itu tidak terkunci.
Savitri mendorong pintu tersebut perlahan, nyaris tanpa suara. Di dalam ruangan, pencahayaan sangat temaram, hanya diterangi oleh lampu gantung estetik di atas meja dapur bersih yang memancarkan cahaya kuning hangat. Di atas meja marmer tersebut, kotak martabak pandan keju yang masih mengepulkan uap tipis telah terbuka lebar. Dua potong martabak tampak sudah berpindah ke atas piring porselen kecil. Namun, yang membuat napas Savitri benar-benar terhenti adalah keberadaan sebuah syal sutra bermotif floral yang tergeletak manis di kursi makan. Itu adalah syal yang Savitri belikan untuk Kiranis sebagai hadiah ulang tahun bulan lalu.
Dari arah kamar tidur utama yang pintunya sedikit terbuka, terdengar suara tawa pelan yang sangat akrab di telinga Savitri. Itu adalah tawa Kiranis—gadis manis yang ia rawat dengan penuh kasih sayang sejak orang tua mereka tiada. Suara itu kemudian disusul oleh suara berat Dipa yang terdengar sangat lembut, jenis suara yang dulu selalu berhasil menenangkan kecemasan Savitri. 'Jangan berisik, Ranis. Nanti kalau Vitri mendadak menelepon lagi, aku harus menjawabnya dengan tenang. Dia tipe orang yang sangat jeli.'
Savitri melangkah mendekat ke arah celah pintu yang terbuka. Di dalam sana, di bawah remang lampu tidur, ia melihat suaminya sedang menyisir rambut Kiranis dengan jemarinya yang hangat, gerakan yang biasa Dipa lakukan padanya setiap kali mereka hendak tidur. Air mata Savitri akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya tanpa suara. Pengkhianatan ini bukan lagi sekadar luka fisik, melainkan sebuah pembunuhan berencana terhadap seluruh jiwa dan kepercayaannya.