Suamiku Bilang Sedang Dinas di Surabaya, Tapi Spotify Family Membongkar Rumah Kedua yang Tak Pernah Kupunya

Suamiku Bilang Sedang Dinas di Surabaya, Tapi Spotify Family Membongkar Rumah Kedua yang Tak Pernah Kupunya

Skandal & Pengkhianatan

Suamiku Bilang Sedang Dinas di Surabaya, Tapi Spotify Family Membongkar Rumah Kedua yang Tak Pernah Kupunya



Penjepit roti perak itu terlepas dari genggaman Kalila, membentur lantai terrazzo kafe estetis di kawasan Senopati dengan dentang yang nyaring. Beberapa pengunjung menoleh, namun Kalila tidak peduli. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis dalam satu detik. Di layar ponselnya, di bawah aplikasi Spotify yang sedang terbuka, sebuah baris hijau kecil berkedip-kedip, menampilkan informasi yang tidak masuk akal.

‘Listening on: Sarang Kecil (Sonos One)’. Swara piano yang lambat, penuh jeda, dan sedikit sumbang mengalun dari pelantang suara nirkabel itu. Itu bukan lagu populer yang ada di tangga lagu dunia. Itu adalah ‘Lullaby for Alif’, sebuah rekaman audio mentah berdurasi dua menit yang direkam Kalila menggunakan ponsel lamanya pada tahun 2018. Musik itu dimainkan untuk menenangkan Alif, mendiang adik laki-lakinya yang autis, sebelum berpulang dua tahun lalu. Rekaman berformat MP3 itu hanya disimpan di sebuah folder Google Drive yang sangat privat.

Hanya ada tiga orang di dunia ini yang memiliki akses ke folder tersebut: Kalila sendiri, suaminya, Baskara, dan Sekar, sepupu sekaligus desainer interior yang membantu merancang kamar memorial Alif di rumah mereka. Dan saat ini, lagu itu sedang diputar di sebuah perangkat Sonos bernama ‘Sarang Kecil’. Masalahnya, Kalila tidak pernah memiliki perangkat Sonos, apalagi menamai sudut rumah mereka dengan sebutan semanis itu.

Baskara seharusnya berada di Surabaya sejak kemarin pagi. Pria itu adalah arsitek pencahayaan yang sedang menangani proyek hotel bintang lima di sana. Dia mengirimkan foto sarapan hotel, foto ruang rapat, bahkan foto pemandangan Jembatan Suramadu tadi malam sebelum mengucapkan selamat tidur. Namun, mengapa akun Spotify Family mereka menunjukkan bahwa akun Baskara sedang aktif memutar lagu dari folder privat Kalila di sebuah pengeras suara bernama ‘Sarang Kecil’?

Dengan tangan bergetar, Kalila meninggalkan nampan rotinya begitu saja di atas meja counter. Dia berjalan cepat keluar kafe, mengabaikan tatapan heran pelayan. Begitu sampai di dalam mobilnya yang terparkir di bawah rimbunnya pohon tanjung, Kalila mengunci pintu dan menyalakan AC maksimal untuk meredam gemuruh di dadanya. Dia membuka aplikasi integrasi rumah pintar, SmartLife, yang dipasang Baskara di ponselnya setahun lalu untuk mengontrol lampu dan pendingin ruangan di rumah Bintaro mereka.

Kalila menelusuri daftar perangkat yang terhubung. Jantungnya berdetak begitu keras hingga dia bisa mendengarnya di telinga. Di bagian paling bawah, di bawah kategori ‘Home Ecosystem’, ada satu profil rumah baru yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Profil itu diberi nama: ‘Pejaten Nest’. Di dalamnya terdapat beberapa perangkat pintar yang terdaftar: sebuah smartlock, tiga buah AC pintar, sistem pencahayaan Philips Hue, dan sebuah Sonos One dengan nama ‘Sarang Kecil’. Alamat IP perangkat tersebut merujuk pada sebuah klaster eksklusif di daerah Pejaten Timur.

Air mata Kalila luruh tanpa bisa dicegah. Rasanya seperti disiram air es di tengah hari yang terik. Log masuk smartlock menunjukkan aktivitas yang konstan selama enam bulan terakhir. Hampir setiap hari Selasa dan Kamis, kunci pintu digital di Pejaten itu terbuka pada pukul lima sore dan terkunci kembali pada pukul sembilan malam. Log kemarin malam bahkan lebih mengerikan: pintu terbuka pukul sepuluh malam, dan baru terkunci kembali pukul enam pagi hari ini.

Hari ini adalah hari Jumat. Dan Baskara pamit ke Surabaya sejak hari Rabu.

Kalila mencengkeram kemudi mobilnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatannya berputar liar pada kejadian beberapa bulan ke belakang. Sekar, sepupu yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri sejak orang tua Kalila tiada, belakangan ini sangat sibuk. Sekar selalu menolak jika diajak minum kopi di akhir pekan dengan alasan ada klien privat di daerah Jakarta Selatan. Klien yang menurut Sekar sangat cerewet dan menginginkan konsep pencahayaan yang sangat spesifik.

‘Aku butuh bantuan Baskara untuk kalkulasi lux lampunya, Kal. Boleh, ya? Nanti aku bayar profesional fee-nya,’ kata Sekar tiga bulan lalu saat mereka makan malam bersama di rumah Bintaro. Saat itu, Kalila tersenyum lebar, merasa bangga karena suaminya bisa membantu sepupu kesayangannya. Dia bahkan membuatkan bekal kimbap untuk mereka berdua yang akan rapat di studio Sekar.

Kini, potongan-potongan teka-teki itu jatuh di tempatnya dengan ketepatan yang kejam. Rekaman piano Alif yang diputar di ‘Sarang Kecil’ bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Itu adalah musik yang selalu berhasil menenangkan siapa pun yang mendengarnya. Baskara tahu betul betapa hancurnya Kalila saat Alif tiada, dan lagu itu adalah satu-satunya peninggalan yang paling berharga. Mengapa lagu suci itu harus dikotori di tempat yang asing?

Kalila menyalakan mesin mobilnya. Dia tidak pulang ke Bintaro. Kakinya menginjak pedal gas, mengarahkan moncong SUV hitamnya membelah kemacetan Jakarta Selatan menuju Pejaten. Langit mulai mendung, seolah-olah alam sedang bersiap menyambut badai yang akan segera menghantam hidupnya.

Selama perjalanan yang memakan waktu empat puluh menit itu, pikiran Kalila tidak pernah berhenti berputar. Dia mengingat bagaimana Sekar belakangan ini sering menggunakan parfum beraroma vanila hangat dengan sentuhan amber—aroma yang sangat berbeda dari parfum mawar yang biasa sepupunya pakai selama bertahun-tahun. Parfum yang sama yang aromanya samar-samar tertinggal di jaket kulit Baskara yang diletakkan di kursi belakang mobil minggu lalu. Saat Kalila bertanya, Baskara hanya menjawab dengan santai, ‘Oh, itu mungkin sisa parfum Sekar waktu kami satu mobil nyari sampel lampu ke Glodok.’

Betapa bodohnya dia. Betapa naifnya dia selama ini.

Saat mobilnya berbelok memasuki kawasan klaster mewah di Pejaten, hujan deras mulai membasahi bumi. Kalila menghentikan mobilnya beberapa meter dari gerbang klaster. Dia menunjukkan kartu identitas lamanya kepada penjaga pos keamanan, menyebutkan bahwa dia ingin mengantarkan dokumen penting ke rumah nomor B-7—nomor yang tertera di detail alamat SmartLife suaminya. Karena penampilannya yang rapi dan mobilnya yang mewah, penjaga itu mengizinkannya masuk tanpa curiga.

Klaster itu sangat sepi, dikelilingi oleh tembok tinggi dan pohon-pohon kamboja yang rimbun. Hanya ada sekitar sepuluh rumah dengan arsitektur modern minimalis di sana. Kalila menjalankan mobilnya perlahan, hampir tanpa suara. Dia menghentikan kendaraannya di seberang jalan, tepat di depan rumah nomor B-7.

Rumah itu memiliki fasad kayu abu-abu gelap dengan jendela kaca besar di lantai dua. Dan di sana, di balik tirai tipis yang setengah tertutup, Kalila bisa melihat cahaya hangat berwarna kuning lembut—pencahayaan dengan suhu warna 2700 Kelvin yang sangat spesifik, mahakarya pencahayaan yang selalu menjadi tanda tangan estetika suaminya, Baskara.

Melalui celah tirai di lantai dua, Kalila melihat siluet seorang pria tinggi tegap sedang berdiri di belakang seorang wanita yang sedang duduk di sofa. Pria itu meletakkan tangannya di bahu sang wanita, memijatnya perlahan dengan gerakan yang terlampau akrab, terlampau intim. Sang wanita mendongakkan kepalanya, tertawa kecil, lalu meraih tangan pria itu untuk dikecupnya hangat.

Meski hanya berupa bayangan hitam di balik tirai tipis, Kalila mengenali setiap lekuk tubuh itu. Pundak lebar yang selalu dipeluknya setiap pagi, dan siluet rambut pendek bergelombang milik Sekar yang sangat khas. Di atas ambang jendela lantai dua yang sedikit terbuka, sebuah speaker kecil berwarna putih tampak menyala dengan lampu indikator biru yang berkedip lembut, mengirimkan melodi piano Alif yang sayup-sayup terdengar mengalun di tengah suara rintik hujan yang membasahi Pejaten.

Dunia Kalila runtuh seketika, namun anehnya, tidak ada teriakan kemarahan yang keluar dari mulutnya. Hanya ada keheningan yang dingin, sedingin tetesan hujan yang mulai membasahi kaca depan mobilnya. Dia meraih ponselnya sekali lagi, membuka kamera, dan merekam siluet intim tersebut bersamaan dengan tampilan layar Spotify-nya yang masih memainkan lagu yang sama. Kali ini, dia akan memastikan bahwa badai yang datang tidak hanya akan membasahi dirinya, tetapi juga akan meratakan istana kebohongan yang telah mereka bangun dengan begitu rapi.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url