Suamiku Mengaku Alergi Bulu Setengah Mati, Tapi Tagihan Kartu Kreditnya Membocorkan Kebohongan Mahal Bersama Sahabatku
Kasir di toko roti artisan kawasan Senopati itu tersenyum ramah, menanti dengan sabar sementara aku berdiri mematung di depan mesin EDC. Di atas nampan kayu yang kupegang, dua buah croissant mentega dan sebungkus sourdough hangat mulai kehilangan uap panasnya. Jariku mendadak kaku di atas layar ponsel. Sebuah notifikasi surat elektronik masuk, menampilkan lampiran PDF laporan bulanan kartu kredit tambahan yang kupegang—kartu yang tagihan utamanya bermuara pada rekening Kalandra, suamiku.
Aku tidak pernah memeriksa tagihan itu dengan saksama sebelumnya. Kalandra adalah tipe suami yang royal dan selalu memastikan semua kebutuhanku terpenuhi tanpa banyak bertanya. Namun, siang ini, niatku menyisir transaksi hanya untuk memeriksa akumulasi poin reward penerbangan yang rencananya akan kami gunakan untuk liburan akhir tahun ke Jepang. Di baris kelima belas, tepat di bawah biaya langganan aplikasi streaming bulanan kami, sebuah nama merchant mencuat dengan angka yang membuat dadaku tiba-tiba sesak: Groovy Pet Center & Clinic, disusul oleh asuransi hewan premium PetInsure Indonesia. Totalnya hampir menyentuh angka lima juta rupiah.
Mataku berkedip berulang kali, berharap bahwa aku salah membaca baris angka tersebut. Kalandra adalah seorang pria yang akan bersin tanpa henti dan dadanya akan langsung menyempit jika berada dalam radius lima meter dari seekor kucing. Tiga tahun lalu, saat kami mengunjungi rumah ibuku yang memelihara seekor kucing persia tua, Kalandra berakhir di instalasi gawat darurat karena serangan asma akut. Sejak malam mencekam itu, rumah kami steril dari segala jenis hewan berbulu. Kalandra bahkan membuang sebuah syal kasmir mahal pemberian klien hanya karena syal itu tidak sengaja terkena bulu anjing peliharaan di kantornya.
Lalu, untuk apa seorang Kalandra Dananjaya mengeluarkan jutaan rupiah setiap bulan untuk sebuah klinik hewan premium? Rasa penasaran yang awalnya sepele berubah menjadi detak jantung yang berdentum liar di rongga dadaku. Aku menggeser layar lebih jauh, membuka detail rincian transaksi pengiriman barang yang terhubung dengan akun kartu kredit tambahan tersebut. Di sana, tertera sebuah alamat pengiriman yang sangat kukenal: Aspen Residence, Unit 12B, Jakarta Selatan. Atas nama penerima: Nareswari.
Duniaku seolah berhenti berputar di tengah riuh rendah kepulan aroma kopi dan obrolan para pengunjung kafe. Aspen Residence Unit 12B adalah apartemen milik Nareswari, sahabat karibku sejak masa kuliah di Bandung. Dua bulan lalu, Nareswari dengan bangga memamerkan seekor anak kucing ras British Shorthair berbulu abu-abu keperakan yang diberi nama Mochi di akun Instagram pribadinya. Saat itu, dia bercerita dengan mata berbinar bahwa kucing mahal itu adalah hadiah dari seorang pria misterius yang sedang mendekatinya.
Aku meletakkan kembali nampan roti ke atas meja konter dengan tangan yang gemetar hebat. Kasir muda itu menatapku dengan tatapan bingung, menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku hanya mampu mengangguk samar, membatalkan seluruh pesananku dengan gumaman maaf yang nyaris tidak terdengar, lalu melangkah keluar menuju pelataran parkir dengan pandangan yang mengabur oleh air mata yang mendadak mendesak keluar.
Di dalam mobil yang mendingin oleh embusan AC, aku mencengkeram kemudi erat-erat. Pikiranku melayang pada setiap detail kecil yang selama ini kuanggap angin lalu. Kalandra yang belakangan ini sering pulang terlambat dengan alasan rapat pemegang saham, namun tubuhnya selalu berbau harum sabun mandi yang berbeda dengan yang biasa kami gunakan di rumah. Kalandra yang kini lebih sering mengunci ponselnya dengan kata sandi baru, berdalih bahwa itu adalah kebijakan keamanan data dari firma hukum tempatnya bekerja.
Lebih dari itu, aku teringat bagaimana Nareswari belakangan ini sangat sulit ditemui. Setiap kali aku mengajaknya minum kopi atau sekadar berbelanja, dia selalu beralasan sibuk dengan proyek barunya sebagai pembuat konten gaya hidup. Namun, di media sosialnya, dia terus mengunggah foto-foto makan malam mewah di restoran privat yang hanya bisa dipesan oleh kalangan terbatas. Tempat-tempat yang persis sama dengan lokasi yang sering dikunjungi Kalandra untuk menjamu klien-klien pentingnya.
Aku memejamkan mata, mencoba menyusun kepingan-kepingan puzzle yang kini mulai membentuk sebuah gambar yang mengerikan. Apakah mungkin pria misterius yang membelikan Mochi, kucing abu-abu mahal itu, adalah suamiku sendiri? Pria yang selalu mengeluh dadanya sesak setiap kali melihat bulu hewan, kini justru membiayai kehidupan seekor makhluk berbulu di apartemen sahabatku?
Rasa sakit itu tidak datang dalam bentuk ledakan amarah, melainkan rasa dingin yang menjalar lambat dari ujung kaki hingga ke dadaku, membuatku kesulitan untuk sekadar menarik napas. Aku menolak untuk menjadi istri yang naif dan hanya menangis di pojokan kamar. Aku membutuhkan bukti nyata. Aku harus melihat dengan mataku sendiri apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu Unit 12B Aspen Residence.
Aku menghidupkan mesin mobil, mengarahkannya membelah kemacetan jalanan Jakarta Selatan menuju kompleks apartemen mewah tersebut. Beruntung, beberapa bulan lalu saat Nareswari pergi berlibur ke luar negeri, dia sempat menitipkan kartu akses cadangan apartemennya kepadaku untuk berjaga-jaga jika ada paket penting yang datang. Kartu akses itu masih tersimpan rapi di dalam laci dasbor mobilku, seolah-olah memang takdir telah menyiapkannya untuk hari ini.
Perjalanan yang biasanya memakan waktu tiga puluh menit terasa seperti selamanya. Setiap lampu merah terasa seperti siksaan yang memperpanjang rasa sakit di dadaku. Di dalam kepala, aku terus berdoa, memohon agar ada penjelasan logis di balik semua ini. Mungkin Kalandra hanya meminjamkan kartunya untuk membantu Nareswari yang sedang kesulitan keuangan? Namun, hati kecilku menertawakan pemikiran naif itu. Seorang pengacara sukses seperti Kalandra tidak akan pernah mengizinkan pengeluaran bulanan yang begitu spesifik dan rutin jika tidak ada ikatan emosional yang sangat kuat di dalamnya.
Setibanya di Aspen Residence, aku memarkirkan mobil di area basemen yang remang-remang. Tanganku yang memegang kartu akses terasa dingin dan berkeringat. Aku berjalan menuju lift khusus penghuni dengan langkah yang dipaksakan tegak, mencoba menyembunyikan badai yang sedang berkecamuk di dalam diriku dari tatapan petugas keamanan yang berjaga di lobi.
Lift berdenting pelan saat tiba di lantai dua belas. Koridor apartemen itu begitu sunyi, hanya dihiasi oleh lampu-lampu dinding berenergi hangat yang memantulkan bayangan tubuhku yang tampak rapuh di atas lantai marmer yang mengilat. Aku berjalan perlahan, menghitung nomor unit satu per satu hingga langkahku terhenti tepat di depan pintu kayu kokoh bercat abu-abu gelap dengan nomor 12B.
Aku berdiri diam di sana selama beberapa menit, mendekatkan telingaku ke permukaan pintu. Awalnya sunyi, namun lambat laun, sayup-sayup aku mendengar suara yang sangat familiar dari dalam sana. Itu adalah suara tawa Kalandra. Tawa lepas yang hangat, jenis tawa yang sudah berbulan-bulan tidak pernah kudengar lagi di meja makan rumah kami. Disusul oleh suara manja Nareswari yang sedang memanggil-manggil nama si kucing kecil.
Dengan tangan yang bergetar hebat hingga hampir menjatuhkan kartu akses, aku menempelkan kartu itu pada sensor di gagang pintu. Bunyi klik pelan terdengar, menandakan kunci elektronik telah terbuka. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang kumiliki, lalu mendorong pintu itu perlahan.
Pemandangan yang menyambutku di dalam ruang tengah apartemen yang berantakan itu seketika meremukkan seluruh pertahananku. Di atas sofa beludru berwarna krem, Kalandra sedang duduk tanpa mengenakan kemeja kerjanya, hanya mengenakan kaus dalam putih. Di pangkuannya, seekor kucing abu-abu gemuk sedang mendengkur manja, sementara jemari tangan suamiku dengan lembut mengusap bulu-bulu halus di leher hewan itu tanpa ada tanda-tanda bersin atau sesak napas sama sekali.
Di sampingnya, Nareswari bersandar mesra di bahu Kalandra, memegang secangkir kopi hangat sambil tersenyum lebar menatap layar televisi yang menyala. Mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia dan harmonis. Sebuah potret kehidupan domestik yang sempurna, yang dibangun di atas fondasi kebohonganku dan air mata yang selama ini kutumpahkan dalam kesunyian rumah kami yang sepi.