Aku Mengira Suamiku Mengalami Insomnia Ringan, Hingga Pantulan Logam di Playlist Spotify-nya Menguak Kebusukan Terbesar Tahun Ini
Tepukan riuh dari meja sebelah sama sekali tidak berhasil menembus kebisingan yang mendadak berdengung di kedua telinga Sekar. Di sudut kedai kopi bernuansa industrial di kawasan Senopati yang padat itu, dia duduk mematung. Secangkir latte hangat yang dipesannya setengah jam lalu kini telah mendingin, menyisakan lapisan busa tipis yang mulai pecah di permukaannya. Jari-jari Sekar yang lentik gemetar hebat saat dia memandangi layar ponselnya yang menyala terang, menampilkan sebuah halaman aplikasi Spotify yang biasanya menjadi teman setianya saat bekerja.
Semua ini bermula dari hal yang sangat sepele. Pagi itu, Sekar bermaksud membuat sebuah kompilasi lagu instrumental untuk membantunya fokus menyelesaikan tenggat desain interior sebuah hotel butik di Bali. Namun, saat dia tidak sengaja menyentuh tab pencarian dan melihat daftar aktivitas berbagi, sebuah undangan untuk membuat playlist 'Blend' masuk ke dalam akunnya. Pengirimnya adalah 'Lara_S'—akun milik Larasati, sepupu sekaligus sahabat masa kecilnya yang selama ini dia percaya lebih dari siapa pun di dunia ini.
Sekar awalnya tersenyum kecil. Larasati memang sering berbagi referensi musik dengannya. Namun, senyum itu langsung membeku ketika dia melihat bahwa playlist tersebut bukan dibuat untuknya, melainkan sebuah playlist kolaborasi yang sudah berjalan selama enam bulan antara Larasati dan akun bernama 'D_Jaya'—akun pribadi Dananjaya, suaminya.
Napas Sekar mendadak tercekat. Dananjaya adalah tipe pria yang sangat kaku. Dia membenci musik-musik modern dan selalu mengklaim bahwa baginya, keheningan adalah kemewahan terbaik setelah seharian bekerja sebagai arsitek lanskap. Pria itu bahkan tidak pernah mau dibuatkan playlist bersama oleh Sekar dengan alasan 'tidak suka algoritma musik mengatur seleranya'. Namun di sini, di layar ponsel Sekar, terpampang nyata sebuah playlist kolaboratif yang diberi nama 'Late Night Shift' yang berisi ratusan lagu indie-pop melankolis yang sangat tidak mencerminkan selera kaku seorang Dananjaya.
Dengan jantung yang berdegup kencang seperti genderang perang, Sekar mengetuk ikon gambar sampul playlist tersebut. Sampul itu adalah sebuah foto estetik yang tampaknya diambil secara acak: sebuah piringan hitam klasik yang sedang berputar di atas pemutar piringan hitam berbahan kayu jati kuno. Foto itu tampak sangat artistik dengan pencahayaan temaram bernuansa hangat, khas gaya fotografi Larasati.
Sekar memperbesar gambar tersebut dengan mencubit layarnya. Matanya menyipit, mencari sesuatu yang membuat dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak tanpa alasan yang jelas. Dan di sanalah dia menemukannya. Pada bagian lengan logam pemutar piringan hitam yang mengkilap, terpantul sebuah bayangan siluet yang sangat jelas. Siluet seorang pria tanpa mengenakan atasan, memperlihatkan lekukan bahu kiri yang dihiasi oleh tato tribal bermotif khas Mentawai.
Itu adalah tato milik Dananjaya. Tato yang dibuat suaminya saat mereka berbulan madu di Siberut tiga tahun lalu. Tato yang selama ini selalu ditutupi Dananjaya dengan kemeja lengan panjang setiap kali mereka menghadiri acara keluarga besar karena takut dinilai buruk oleh orang tua Sekar.
Lebih menyakitkan lagi, di sudut pantulan logam tersebut, tampak sepasang tangan wanita dengan kuku yang dicat warna hijau zamrud—warna favorit Larasati yang baru saja dipamerkannya di grup keluarga dua hari lalu—sedang memegang sebuah gelas kristal berisi cairan merah pekat. Latar belakang ruangan dalam pantulan itu bukanlah kamar tidur mereka di Jagakarsa, melainkan sebuah apartemen bertingkat tinggi dengan pemandangan lampu kota yang berkilauan di luar jendela besar.
Sekar merasakan cairan dingin mengalir di punggungnya. Tubuhnya seolah mati rasa. Selama ini, setiap hari Selasa malam, Dananjaya selalu pamit untuk melakukan pengawasan proyek luar kota di Bandung. Suaminya selalu berkata bahwa dia harus menginap di mess pekerja yang sederhana demi menghemat anggaran proyek. Namun, pantulan di logam pemutar piringan hitam itu menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Kisah tentang malam-malam hangat di sebuah griya tawang mewah, diiringi alunan musik syahdu, di bawah selimut pengkhianatan yang ditenun oleh dua orang terdekatnya.
Sekar mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya seolah menolak udara. Dia teringat bagaimana Larasati selalu hadir di setiap momen penting pernikahan mereka. Larasati yang membantu memilihkan desain gaun pengantin Sekar, Larasati yang merekomendasikan warna cat dinding rumah baru mereka, bahkan Larasati yang selalu menginap di rumah mereka saat Dananjaya sedang dinas ke luar kota untuk 'menemani Sekar agar tidak kesepian'.
'Bodoh sekali aku ini,' bisik Sekar pada dirinya sendiri. Suaranya terdengar sangat asing di telinganya, kering dan tanpa emosi. Penonton di sekitarnya masih sibuk dengan obrolan mereka masing-masing, tertawa dan menikmati sore, sama sekali tidak menyadari bahwa dunia seorang wanita di pojok ruangan baru saja runtuh berkeping-keping.
Sekar menolak untuk menangis di tempat umum. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia mulai menggulir halaman playlist tersebut lebih jauh. Dia menyadari ada satu hal yang sangat aneh. Di bagian deskripsi playlist yang biasanya diisi dengan kata-kata puitis atau emoji, tertulis sebuah deretan kode acak: 'S-106-E-121 / Box-04'.
Bagi orang biasa, itu mungkin hanya terlihat seperti kode enkripsi atau lelucon internal. Namun bagi Sekar, yang merupakan seorang desainer dengan ketelitian visual yang tinggi, kode itu langsung memicu alarm di kepalanya. Itu bukan kode sembarangan. Itu adalah format penomoran arsip yang digunakan oleh almarhum kakeknya untuk menyimpan dokumen-dokumen berharga di dalam brankas kuno keluarga di rumah utama di Yogyakarta.
Sekar bergegas mengemasi barang-barangnya ke dalam tas kanvasnya dengan gerakan yang serampangan. Beberapa lembar sketsa kerjanya bahkan sempat terjatuh ke lantai kotor kedai kopi, namun dia tidak peduli. Dia mengambil kunci mobilnya dan berjalan cepat keluar menuju area parkir, mengabaikan sapaan ramah dari barista yang biasa menyapanya.
Di dalam mobil, di bawah guyuran pendingin ruangan yang langsung menusuk kulitnya yang berkeringat dingin, Sekar menelepon Pak Jatmiko, penjaga rumah tua keluarganya di Yogyakarta. Setelah beberapa kali nada dering yang menyiksa, suara berat khas pria paruh baya itu akhirnya terdengar.
'Halo, Non Sekar? Ada yang bisa dibantu? Tumben telepon jam segini,' tanya Pak Jatmiko dengan nada ramah yang menenangkan.
'Pak Jatmiko,' Sekar berusaha keras menahan agar suaranya tidak bergetar. 'Saya mau tanya. Apakah belakangan ini ada orang yang datang ke rumah utama? Terutama ke ruang arsip bawah tanah?'
Hening sejenak di ujung telepon. Sekar bisa mendengar suara derit pintu kayu di latar belakang, mengindikasikan Pak Jatmiko mungkin sedang berjalan keluar dari pos penjagaannya.
'Ealah, Non. Kan minggu lalu Mas Dananjaya ke sini sama Mbak Larasati. Katanya diperintah sama Non Sekar buat ambil dokumen sertifikat tanah yang di Sleman untuk keperluan renovasi kantor baru. Mereka bawa surat kuasa juga kok, lengkap dengan tanda tangan Non Sekar di atas meterai. Lho, memangnya Non Sekar tidak tahu?'
Kata-kata Pak Jatmiko bagaikan palu godam yang menghantam dada Sekar hingga hancur berantakan. Surat kuasa? Renovasi kantor baru? Sekar tidak pernah menandatangani surat apa pun belakangan ini. Satu-satunya dokumen yang dia tanda tangani adalah lembar persetujuan asuransi kesehatan yang disodorkan Dananjaya saat dia sedang setengah sadar akibat pengaruh obat flu berat dua minggu lalu.
Sekarang semuanya menjadi sangat masuk akal. Perselingkuhan ini bukan sekadar pemuasan nafsu belaka. Ini adalah sebuah konspirasi yang dirancang dengan sangat rapi dan dingin untuk merampas seluruh harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua Sekar. Dananjaya dan Larasati telah memanfaatkan kepercayaannya, kelemahannya, dan kasih sayangnya untuk melucuti kehidupannya perlahan-lahan dari dalam.
Sekar mencengkeram kemudi mobilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga, membasahi pipinya yang pucat. Namun, di balik rasa sakit yang teramat sangat itu, sebuah kepalan kemarahan yang membara mulai terbentuk di dalam dadanya. Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban yang menangis di pojokan meratapi nasib.
Dia menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Matanya yang merah kini memancarkan sorot dingin yang belum pernah ada sebelumnya. Sekar menyalakan mesin mobilnya, menginjak pedal gas, dan mengarahkan kendaraannya menuju apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan—alamat yang berhasil dia lacak dari metadata foto sampul playlist Spotify yang bodoh itu. Sandiwara tiga tahun ini harus diakhiri malam ini, dan Sekar sendiri yang akan menulis babak penutupnya.