Aplikasi Ojek Online Suamiku Berdering Tengah Malam, Membongkar Alamat Asing yang Mengubur Pernikahan Kami

Aplikasi Ojek Online Suamiku Berdering Tengah Malam, Membongkar Alamat Asing yang Mengubur Pernikahan Kami

Drama Rumah Tangga

Aplikasi Ojek Online Suamiku Berdering Tengah Malam, Membongkar Alamat Asing yang Mengubur Pernikahan Kami



Aku tidak pernah berniat menjadi detektif dalam pernikahanku sendiri. Bagiku, melacak ponsel suami atau mencurigai setiap aroma parfum asing yang tertinggal di kerah kemejanya adalah bentuk keputusasaan yang merendahkan martabat. Selama tujuh tahun membangun biduk rumah tangga bersama Dananjaya, aku selalu memegang teguh satu prinsip: saling percaya adalah fondasi paling kokoh. Namun, malam itu, keyakinan yang kupelihara dengan begitu khidmat runtuh hanya karena sebuah notifikasi sepele dari aplikasi ojek online yang kami gunakan bersama.

Malam menunjukkan pukul dua dini hari. Hujan sisa sore tadi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang di kawasan hunian kami di bilangan Jakarta Selatan. Dananjaya seharusnya sedang berada di Surabaya, menghadiri rapat koordinasi proyek pembangunan dermaga baru yang menyita seluruh waktu dan energinya selama tiga bulan terakhir. Aku terbangun karena tenggorokanku terasa kering, dan saat aku meraih ponselku di atas nakas, layar gawaiku menyala. Bukan karena pesanku dibalas olehnya, melainkan karena sebuah laporan transaksi otomatis dari akun keluarga GoPay kami yang terhubung langsung.

Ada pesanan GoFood yang baru saja diselesaikan. Sebuah menu yang membuat dadaku tiba-tiba sesak, bukan karena harganya yang mahal, melainkan karena jenis hidangannya: satu porsi Sup Ayam Herbal Pascamelahirkan dan bubur ketan hitam hangat. Total transaksi seratus delapan puluh ribu rupiah, dipesan dari sebuah dapur herbal Tionghoa legendaris di daerah Glodok, dan dikirimkan ke sebuah alamat yang sama sekali asing: Jalan Gaharu Kidul, Nomor 14A, Cilandak. Alamat yang hanya berjarak lima belas menit berkendara dari rumah kami.

Aku terpaku di tepi ranjang, menatap nanar rincian transaksi tersebut. Sup herbal pascamelahirkan. Otakku langsung memutar kembali memori menyakitkan tentang perjuangan kami selama tujuh tahun ini. Kami telah melewati tiga kali siklus IVF yang gagal, puluhan dokter spesialis kesuburan, dan ratusan malam yang diwarnai tangis sunyi karena rahimku yang dinilai terlalu lemah untuk mempertahankan kehidupan. Mengapa Dananjaya memesan sup pemulihan setelah melahirkan? Dan untuk siapa?

Dengan tangan bergetar, aku mencoba menghubungi nomor Dananjaya. Nada sambung terdengar lambat, berdering beberapa kali sebelum dialihkan ke kotak suara. Dia selalu mematikan ponselnya dengan alasan 'kelelahan setelah rapat lapangan'. Aku merasa dunia di sekitarku berputar lambat. Rasa dingin yang menjalar dari telapak kakiku kini naik hingga ke dada, membekukan setiap sisa napas yang kupunya. Tanpa berpikir panjang, aku menyambar kunci mobil, mengenakan parit panjang di atas daster katunku, dan melangkah keluar menembus kabut tipis Jakarta yang sepi.

Jalanan ibu kota di sepertiga malam terasa begitu asing dan mencekam. Setiap lampu jalan yang kulewati seolah menjadi saksi bisu atas kepanikanku yang kian memuncak. Aku mengarahkan GPS mobilku menuju Jalan Gaharu Kidul. Nama jalan itu terdengar tenang, namun bagiku, itu adalah jalan menuju jurang kehancuran yang selama ini berusaha kuhindari. Ketika mobilku akhirnya berbelok ke area perumahan klaster kecil yang asri dengan deretan pohon pelindung yang rindang, detak jantungku berpacu begitu liar hingga telingaku berdenging.

Aku mematikan lampu utama mobil beberapa puluh meter sebelum rumah nomor 14A. Di sana, di bawah temaram lampu jalan, berdiri sebuah rumah bergaya minimalis modern dengan pagar kayu vertikal. Dan di halaman parkirnya yang sempit, sebuah pemandangan menghantam kesadaranku hingga berkeping-keping. Mobil SUV hitam milik Dananjaya yang seharusnya terparkir di area VIP Bandara Juanda, Surabaya, terparkir manis di sana. Debu tipis jalanan Jakarta menempel di bodinya, membuktikan bahwa mobil itu tidak pernah pergi ke mana-mana.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh tanpa suara. Rasanya seperti dihantam godam tepat di ulu hati. Napasku terengah-engah di dalam kabin mobil yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Tujuh tahun pernikahan, ribuan janji manis, dan komitmen yang kami ucapkan di hadapan altar, semuanya terasa seperti lelucon murah. Aku mencengkeram kemudi hingga jemariku memutih, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tersisa di sudut jiwaku yang hancur.

Aku turun dari mobil, melangkah dengan kaki gemetar mendekati pagar kayu tersebut. Suasana begitu sunyi, hanya ada suara jangkrik malam dan desau angin yang mempermainkan dedaunan. Melalui celah pagar, aku melihat cahaya lampu ruang tamu yang temaram. Melalui jendela kaca besar yang tidak sepenuhnya tertutup tirai, aku melihat sosok laki-laki yang sangat kukenal sedang menggendong sesosok bayi mungil dengan gerakan yang begitu luwes dan penuh kasih sayang. Dananjaya, suamiku yang selalu berdalih tidak menyukai anak-anak setiap kali program kehamilan kami gagal, kini tengah menatap bayi itu dengan binar mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Tidak lama kemudian, seorang wanita muda dengan rambut terikat longgar keluar dari dalam kamar, mengenakan daster panjang longgar. Wajahnya pucat namun memancarkan kebahagiaan yang tulus. Dananjaya mendekatinya, mengecup kening wanita itu dengan lembut, lalu menyerahkan mangkuk sup yang baru saja diantarkan oleh pengemudi ojek online tadi. Mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna, penuh kehangatan, sementara aku berdiri di luar dalam kegelapan malam, membeku bagai hantu yang terlupakan.

Rasa sakit ini melampaui segala batas fisik yang bisa kutanggung. Bukan hanya tentang pengkhianatan fisik, melainkan tentang hilangnya seluruh hidup yang kupikir telah kubangun bersamanya. Aku menyadari satu hal yang paling mengerikan: anak yang ada di dalam gendongan Dananjaya adalah anak biologisnya, sesuatu yang tidak pernah bisa kuberikan kepadanya. Dan wanita di sana adalah Larasati, sepupu jauhku sendiri yang setahun lalu pamit pindah ke luar kota karena alasan pekerjaan.

Dengan sisa harga diri yang masih kumiliki, aku tidak menggedor pintu atau berteriak histeris seperti wanita yang kehilangan akal sehat. Aku memotret pemandangan hangat di dalam rumah itu dari balik celah pagar dengan ponselku. Tanganku tidak lagi bergetar; dingin yang mematikan kini berganti menjadi ketenangan yang tajam dan berbahaya. Aku kembali ke mobil, menyalakan mesin dengan perlahan, dan meninggalkan jalan sunyi itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Pernikahan ini tidak akan berakhir dengan tangisan sia-sia di bawah guyuran hujan. Jika Dananjaya berpikir dia bisa membangun istana di atas air mataku, maka dia belum benar-benar mengenal siapa Gendis yang sesungguhnya. Aku akan membiarkan mereka menikmati kebahagiaan semu itu selama beberapa hari lagi, sementara aku mempersiapkan badai yang akan meruntuhkan seluruh dunia yang telah mereka bangun secara rahasia.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url