Kucing yang Tak Pernah Ada: Cara Aplikasi Pintar Membongkar Kebohongan Tiga Tahun Pernikahan Kami
'Mbak, maaf, tolong jangan bergerak dulu. Biar saya bersihkan serpihan kacanya,' suara ramah pramuniaga supermarket itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh di telinga Arimbi. Di bawah kakinya, sebotol madu organik premium seharga ratusan ribu rupiah telah pecah berantakan, cairannya yang kental dan berwarna keemasan mengalir lambat di atas lantai porselen putih Grand Indonesia yang berkilau. Di sela-sela cairan manis itu, pecahan kaca berkilau tajam, memantulkan lampu-lampu langit supermarket yang terang benderang. Namun, fokus Arimbi sama sekali tidak berada pada kekacauan di lantai itu. Matanya terpaku, melekat erat dengan pupil yang melebar, pada layar ponsel pintar di genggamannya yang bergetar tanpa henti.
Satu notifikasi baru muncul dari aplikasi PawBuddy, sebuah aplikasi pintar pengontrol tempat makan otomatis hewan peliharaan yang pernah ia unduh setahun lalu untuk membantu adiknya memantau kucing mereka sebelum sang adik pindah ke London. Arimbi sudah lama melupakan keberadaan aplikasi tersebut di ponselnya. Namun sore ini, aplikasi itu berkedip aktif, memunculkan pesan otomatis yang dingin dan mekanis: 'Kiko telah selesai makan. Porsi 15 gram kibble salmon berhasil disajikan.' Masalahnya hanya satu: Arimbi tidak memiliki kucing. Suaminya, Dananjaya, memiliki alergi bulu kucing yang sangat parah. Jangankan memelihara, berdekatan dengan kucing liar di kafe luar ruangan saja sudah cukup untuk membuat mata Dananjaya memerah, hidungnya tersumbat, dan napasnya berbunyi mengkhawatirkan.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Arimbi membuka aplikasi tersebut. Layar beralih menampilkan siaran langsung dari kamera mini yang terpasang pada dispenser makanan pintar itu. Sudut pandang kamera berada sangat rendah, sejajar dengan lantai. Di sana, di atas lantai marmer hitam dengan urat-urat emas yang sangat mewah—lantai yang sama sekali bukan milik rumah mereka di kawasan Bintaro—seekor kucing Siamese ramping sedang melahap makanannya dengan tenang. Namun, bukan kucing itu yang membuat jantung Arimbi seolah berhenti berdetak. Di sudut kanan atas layar, tepat di samping mangkuk stainless steel yang mengkilap, terlihat sepasang kaki manusia yang mengenakan celana linen abu-abu longgar. Di dekat kaki itu, sebuah tangan terjulur ke bawah, mengusap lembut kepala si kucing. Di pergelangan tangan itu melingkar sebuah jam tangan kronograf mewah dengan strap kulit saffiano berwarna hijau tua yang sangat khas—sebuah hadiah ulang tahun pernikahan kedua yang Arimbi desain sendiri secara kustom dengan inisial 'D.J.' terukir halus pada gesper tembaganya.
Itu adalah tangan Dananjaya. Tangan yang pagi tadi mengecup keningnya dengan lembut sebelum berpamitan untuk menghadiri rapat dewan direksi yang melelahkan di kawasan Sudirman. Tangan yang selama tiga tahun ini memeluknya setiap malam, menjanjikan masa depan yang tenang dan penuh cinta. Arimbi merasakan dingin yang luar biasa menjalar dari ujung jari-jari kakinya hingga ke dada, membekukan seluruh organ tubuhnya hingga ia lupa bagaimana cara bernapas yang benar. Di sekelilingnya, hiruk-pikuk pengunjung supermarket mewah itu mendadak sunyi, tergantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti genderang perang.
Arimbi melangkah mundur dengan perlahan, mengabaikan tatapan heran dari pramuniaga yang masih berjongkok membersihkan madu. Ia berjalan setengah menyeret kakinya menuju sudut koridor yang lebih sepi, di antara deretan botol anggur impor yang tertata rapi. Tangannya yang dingin menyeka keringat yang mendadak keluar di pelipisnya. Dengan sisa-sisa ketenangan yang ia paksakan, Arimbi membuka menu pengaturan perangkat di aplikasi PawBuddy tersebut. Ia ingin mencari tahu di mana alat itu terpasang. Berkat fitur pelacak lokasi perangkat yang terhubung dengan Wi-Fi rumah tangga, aplikasi itu menampilkan alamat IP dan lokasi fisik dispenser pintar tersebut dengan sangat akurat: Unit 12-B, Kemang Mansion, Jakarta Selatan.
Kemang Mansion. Sebuah kompleks apartemen kelas atas yang dihuni oleh kalangan ekspatriat dan sosialita Jakarta. Dananjaya tidak pernah memiliki properti di sana, setidaknya tidak dalam pengetahuan Arimbi yang selalu memegang kendali atas laporan pajak tahunan mereka. Arimbi merasakan dadanya sesak, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya dengan kuat. Ia mengingat kembali kebohongan-kebohongan kecil yang belakangan ini sering diucapkan Dananjaya. Alasan-alasan klasik seperti kemacetan gila di jalan layang Non-Tol Antasari, rapat mendadak dengan klien dari Singapura yang baru mendarat di Terminal 3, hingga urusan audit kantor yang memaksanya menginap di hotel dekat bandara. Semua potongan teka-teki itu kini mulai menyatu, membentuk sebuah gambaran mengerikan yang enggan ia akui kebenarannya.
Lebih buruk lagi, ketika Arimbi memeriksa detail akun pembayaran untuk langganan pakan premium bulanan di aplikasi itu, ia menemukan nomor kartu kredit yang digunakan untuk transaksi otomatis tersebut. Kartu Mastercard berakhiran 4092. Itu adalah kartu kredit sekunder milik Dananjaya yang pernah ia klaim telah ditutup setahun lalu karena bunganya yang terlalu tinggi. Ternyata, kartu itu tidak pernah mati. Kartu itu tetap hidup, bernapas dalam kegelapan, mendanai kehidupan rahasia yang tidak pernah Arimbi bayangkan sebelumnya.
Kemarahan yang murni dan dingin mulai menggantikan rasa syok yang melumpuhkan. Arimbi bukan tipe wanita yang akan menangis histeris di tempat umum atau mengirimkan pesan penuh makian yang tidak terarah. Sebagai seorang desainer grafis profesional yang terbiasa memecahkan masalah dengan logika dingin, ia tahu ia membutuhkan lebih dari sekadar tangkapan layar kamera dispenser kucing untuk menghadapi suaminya yang merupakan seorang konsultan hukum korporat berdarah dingin. Dananjaya adalah pria yang sangat pandai bersilat lidah; tanpa bukti yang tidak terbantahkan, pria itu akan dengan mudah menyusun skenario bohong baru yang membuat Arimbi terlihat seperti istri yang paranoid dan gila.
Arimbi memesan taksi daring dengan jari yang kini sudah tidak lagi gemetar, melainkan kaku oleh tekad. Ia memutuskan untuk langsung pergi ke Kemang Mansion sore itu juga. Perjalanan dari Grand Indonesia menuju Jakarta Selatan terasa seperti keabadian yang menyiksa. Di dalam mobil yang merayap di tengah kemacetan jalanan Jakarta yang mulai diguyur gerimis tipis, Arimbi menatap keluar jendela. Bayangan wajah suaminya melintas di kaca mobil yang basah, bergantian dengan bayangan wajah seseorang yang sangat ia kenal. Pikiran Arimbi tiba-tiba melayang pada sebuah nama yang belakangan ini sangat sering berkunjung ke rumah mereka di Bintaro: Nirmala.
Nirmala adalah sahabat karib Arimbi sejak masa kuliah di Bandung. Wanita berparas ayu dengan pembawaan tenang dan selalu wangi aroma bunga melati itu bekerja sebagai penata bunga lepas. Nirmala-lah yang membantu mendesain seluruh dekorasi bunga di pernikahan Arimbi dan Dananjaya tiga tahun lalu. Bahkan, ketika Nirmala mengalami kesulitan keuangan akibat bisnisnya yang sempat terpuruk pasca-pandemi, Arimbi tanpa ragu meminjamkan tabungan pribadinya tanpa bunga dan tanpa batas waktu pengembalian. Sejak enam bulan lalu, Nirmala sering sekali datang ke rumah mereka, membawakan tanaman hias baru atau sekadar menemani Arimbi minum teh di sore hari saat Dananjaya sedang bekerja di luar kota.
Sebuah memori yang selama ini terkubur dalam ketidaksadaran Arimbi mendadak mencuat ke permukaan dengan kekuatan yang menghantam. Tiga bulan lalu, saat mereka bertiga sedang makan malam bersama di sebuah restoran bernuansa Jawa modern di Senopati, Nirmala sempat bercerita dengan mata berbinar-binar bahwa ia akhirnya bisa menyewa sebuah apartemen cantik di daerah Kemang berkat bantuan seorang 'investor misterius' yang sangat baik hati. Saat itu, Dananjaya hanya tersenyum tenang sambil memotong steak-nya, sementara Arimbi dengan tulus mengucapkan selamat dan memeluk sahabatnya itu tanpa curiga sedikit pun. 'Aku sangat bangga padamu, Mir,' begitu kata Arimbi waktu itu. Mengenang ucapan itu sekarang membuat lambung Arimbi bergejolak mual, seolah-olah ia baru saja menelan racun yang paling menjijikkan.
Setibanya di Kemang Mansion, udara dingin lobi apartemen yang beraroma kayu cendana langsung menyambut Arimbi. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju meja resepsionis, mengenakan kacamata hitam besar untuk menyembunyikan matanya yang mulai sembap. Di sana, seorang petugas keamanan bertubuh tegap menyapanya dengan sopan. Arimbi mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto profil Nirmala di media sosial dengan senyum manis yang dipaksakan. 'Selamat sore, Pak. Saya kakaknya Ibu Nirmala dari Bandung. Beliau bilang saya bisa menunggu di unitnya, tapi ponselnya tiba-tiba mati tidak bisa dihubungi. Unit 12-B, kan, ya? Boleh saya minta tolong dibukakan atau dibantu akses lift-nya?' tanya Arimbi dengan nada suara yang terdengar sangat cemas dan meyakinkan.
Petugas keamanan itu mengerutkan kening sejenak, menatap foto di ponsel Arimbi, lalu tersenyum ramah setelah memeriksa buku tamu digital pada tablet di hadapannya. 'Oh, Ibu Nirmala yang di unit 12-B. Iya betul, Bu. Kebetulan tadi suami beliau, Pak Danan, baru saja naik sekitar setengah jam yang lalu. Jadi sepertinya ada orang di dalam unit. Silakan langsung naik saja menggunakan kartu akses khusus tamu ini, Bu,' jawab petugas itu dengan sangat sopan sambil menyerahkan sebuah kartu akses berwarna biru.
Kata-kata petugas keamanan itu menghantam dada Arimbi seperti palu godam yang sangat berat. *Suami beliau, Pak Danan.* Sebutan itu meluncur begitu saja dari mulut sang petugas tanpa keraguan sedikit pun, menandakan bahwa Dananjaya sudah sangat sering berada di sini, bertingkah seolah-olah dialah pemilik sah dari kehidupan di unit 12-B tersebut. Arimbi mengepalkan tinjunya di dalam saku mantel tipis yang ia kenakan hingga kuku-kukunya memutih dan menusuk telapak tangannya sendiri, menggunakan rasa sakit fisik itu untuk menahan air mata yang mendesak ingin keluar.
Di dalam lift yang bergerak naik menuju lantai dua belas, Arimbi menatap pantulan dirinya di dinding cermin lift yang bersih. Ia terlihat pucat, namun matanya memancarkan kemarahan yang sangat dingin. Tidak ada lagi ruang untuk keraguan. Persahabatan belasan tahun dan pernikahan tiga tahun yang ia rawat dengan penuh kelembutan kini hancur berkeping-keping di atas lantai marmer hitam Kemang Mansion. Pintu lift berdenting lembut, terbuka untuk menunjukkan koridor panjang yang sunyi dengan karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya.
Arimbi berjalan perlahan menyusuri koridor, mencari pintu bernomor 12-B. Setiap langkahnya terasa sangat berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusinya sendiri. Ketika ia akhirnya berdiri di depan pintu kayu jati berwarna gelap itu, ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa dari dalam. Itu adalah suara tawa Nirmala—suara tawa renyah yang sangat ia kenal—berbaur dengan suara bariton rendah milik Dananjaya yang sedang menggoda kucing mereka dengan nada suara yang belum pernah Arimbi dengar sebelumnya. Suara yang begitu hangat, begitu intim, dan begitu asing.
Tangan Arimbi gemetar saat ia mendekatkan kartu akses tamu yang diberikan oleh petugas keamanan tadi ke sensor pintu digital. Sensor itu berbunyi klik kecil yang tajam, diikuti oleh lampu hijau yang berkedip, menandakan kunci pintu telah terbuka. Arimbi menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa kekuatan yang ia miliki dalam hidupnya, lalu mendorong pintu kayu berat itu lebar-lebar.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membeku. Di ruang tengah yang luas dengan jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan senja kota Jakarta yang muram, Dananjaya sedang berlutut di atas karpet bulu abu-abu, menggendong seekor kucing Siamese yang cantik dengan kedua tangannya. Sementara itu, Nirmala berdiri di sampingnya dengan mengenakan gaun tidur sutra berwarna merah muda lembut, memegang segelas anggur putih dengan senyum yang langsung luntur seketika saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Mata Dananjaya melebar dalam ketakutan yang luar biasa. Seluruh wajahnya memucat seketika, dan ia menjatuhkan kucing itu dari dekapannya hingga hewan malang itu mengeong terkejut dan berlari bersembunyi di bawah sofa mewah. 'Arimbi...' bisik Dananjaya, suaranya tercekat di tenggorokan, terdengar seperti pria yang baru saja melihat malaikat pencabut nyawanya sendiri berdiri di hadapannya. Keheningan yang mencekam dan dingin langsung menyelimuti ruangan itu, menyisakan rahasia besar yang kini telah telanjang bulat di bawah cahaya lampu gantung kristal yang berkilau mahal.