Kuhapus Aplikasi Ojek Online di Ponsel Suamiku, Tapi Jejak Martabak Kacang di Jam Dua Pagi Menguak Kebohongan Lima Tahun Pernikahan Kami

Kuhapus Aplikasi Ojek Online di Ponsel Suamiku, Tapi Jejak Martabak Kacang di Jam Dua Pagi Menguak Kebohongan Lima Tahun Pernikahan Kami

Drama Rumah Tangga

Kuhapus Aplikasi Ojek Online di Ponsel Suamiku, Tapi Jejak Martabak Kacang di Jam Dua Pagi Menguak Kebohongan Lima Tahun Pernikahan Kami



’Kamu tahu persis tenggorokanku bisa menutup dalam lima menit kalau menyentuh benda itu, Bas,’ bisik Sekar, suaranya bergetar di tengah antrean kasir supermarket yang bising. Tangannya yang dingin memegang ponsel milik Baskara, menunjukkan layar transaksi digital yang masih menyala terang. Di sana, di bawah lampu neon putih supermarket yang kejam, tertera riwayat pemesanan makanan yang dikirimkan ke sebuah unit apartemen di kawasan Kuningan. Menu yang dipesan adalah martabak manis saus kacang tebal dan gado-gado bumbu pekat, dipesan hampir setiap Selasa dan Kamis malam pukul dua pagi.

Baskara, pria yang selalu tampil klimis dengan kemeja flanel mahal dan senyum menenangkan yang biasa dia gunakan untuk menaklukkan klien-klien korporatnya, mendadak kaku. Matanya melebar sesaat, sebuah celah kecil pada topeng ketenangannya yang selama lima tahun ini nyaris tanpa cela. Namun, dengan kecepatan seorang eksekutif ulung, dia segera menguasai diri, mencoba meraih ponsel itu dari jemari Sekar yang gemetar dengan gerakan yang diusahakan tampak kasual.

’Sekar, sayang, kamu salah paham. Itu pasti salah satu stafku di kantor yang memakai akun perusahaanku untuk lembur. Kamu tahu kan, beberapa anak magang sering memakai fasilitas reimbursement kantor lewat akunku kalau mereka pulang menjelang subuh,’ kata Baskara, suaranya terdengar sangat meyakinkan, penuh dengan nada protektif yang biasanya membuat Sekar merasa sangat aman. Namun, kali ini, nada itu terdengar seperti gesekan pisau tumpul di atas kaca bagi telinga Sekar.

Sekar menarik tangannya ke belakang, menghindari rengkuhan Baskara. Dadanya terasa sesak, bukan karena reaksi anafilaktik yang biasa dia alami jika tidak sengaja mengonsumsi kacang, melainkan karena sebuah kebenaran yang perlahan-lahan merembes masuk ke dalam kesadarannya seperti racun cair yang dingin. Sejak hari pertama mereka berpacaran di bangku kuliah, Baskara adalah orang yang paling histeris jika ada sebutir kacang pun yang mendekati piring Sekar. Pria itu bahkan pernah memarahi seorang pelayan restoran dengan sangat keras hanya karena menyajikan hidangan yang digoreng dengan minyak kacang.

Bagaimana mungkin seorang suami yang begitu ketakutan kehilangan istrinya karena alergi mematikan, bisa membiarkan akun pribadinya memesan makanan berbahan dasar kacang secara rutin ke sebuah alamat yang bukan rumah mereka? Terlebih lagi, pesanan itu selalu dikirimkan ke Apartemen Verde, Tower B, Unit 12A. Sebuah nama tempat yang tidak pernah sekali pun disebutkan dalam cerita-cerita Baskara tentang pekerjaan atau proyek barunya.

Sekar melangkah mundur, meninggalkan keranjang belanjaan mereka yang penuh dengan bahan makanan organik di dekat kasir. Pandangan orang-orang di sekitar mereka mulai tertuju pada pasangan berpakaian rapi yang tampak tegang itu. Sekar tidak peduli. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar, merasakan hawa dingin pendingin ruangan supermarket berganti dengan udara sore Jakarta yang pengap dan lembap. Di belakangnya, langkah kaki Baskara terdengar terburu-buru, mencoba mengejarnya.

’Sekar! Tunggu dulu! Kita tidak bisa membicarakan ini di tempat umum seperti ini. Tolong jangan kekanak-kanakan,’ panggil Baskara, nadanya mulai berubah dari lembut menjadi tidak sabar. Kata 'kekanak-kanakan' itu menghantam Sekar seperti tamparan fisik. Lima tahun dia mendedikasikan hidupnya sebagai seorang istri yang mendukung, merapikan setiap sudut rumah mereka di kawasan Jakarta Selatan dengan estetika yang menenangkan, memastikan pakaian Baskara selalu licin, dan memendam ambisinya sendiri sebagai arsitek demi mendukung karier Baskara yang sedang menanjak.

Saat mereka tiba di area parkir bawah tanah yang remang-remang, Sekar berbalik dengan cepat, membuat Baskara hampir menabraknya. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini mulai menggenang di sudut matanya, namun dia menolak untuk membiarkannya jatuh di hadapan pria ini. ’Siapa yang tinggal di unit dua belas A, Baskara? Jangan sebut nama staf kantormu, karena aku tahu semua nama mereka. Aku yang mengatur bingkisan lebaran untuk mereka setiap tahun. Tidak ada satu pun dari mereka yang tinggal di apartemen mewah dengan biaya sewa seratus juta per tahun seperti Verde,’ desis Sekar, suaranya rendah namun tajam.

Baskara terdiam, rahangnya mengeras. Keheningan di antara mereka berdua di parkiran bawah tanah itu terasa begitu pekat, hanya diinterupsi oleh suara dengung mesin exhaust fan raksasa di kejauhan. Sekar memperhatikan setiap detail wajah suaminya. Pria yang dia peluk setiap malam, pria yang membisikkan kata cinta sebelum tidur, kini terasa seperti orang asing yang mengenakan kulit suaminya. Ada rasa asing yang mengerikan yang mendadak muncul dari cara Baskara menatapnya—bukan lagi tatapan hangat penuh cinta, melainkan tatapan kalkulatif seorang pria yang sedang mencari jalan keluar dari sudut yang sempit.

’Kamu terlalu banyak membaca novel misteri, Sekar,’ ucap Baskara akhirnya, mencoba tertawa kecil, namun tawa itu terdengar sumbang dan kosong. ’Itu unit sewaan perusahaan untuk ekspatriat yang sedang berkunjung. Kadang-kadang aku memang menggunakannya untuk beristirahat kalau rapat selesai terlalu larut dan aku terlalu lelah untuk menyetir pulang ke rumah. Mengenai makanan itu... ya, mungkin aku memang memesannya untuk diriku sendiri. Aku hanya sangat merindukan rasa martabak kacang, Sekar. Kamu tahu aku tidak bisa memakannya di rumah karena alergimu. Apa salah jika aku memakannya di tempat lain?’

Penjelasan itu terdengar sangat logis, sangat rapi, khas Baskara yang selalu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan sulit dalam hidup. Tetapi ada satu hal yang Baskara lupakan, satu detail kecil yang tidak dia sadari telah merusak seluruh skenario indahnya. Sekar perlahan mengangkat ponsel Baskara lagi, membuka menu detail transaksi GoFood yang tadi sempat dia ambil tangkapan layarnya sebelum Baskara menyadarinya.

’Kamu memesan martabak kacang itu setiap Selasa dan Kamis malam, Bas. Dan di setiap pesanan, selalu ada catatan tambahan untuk pengemudi yang ditulis dengan sangat spesifik: 'Tolong ketuk pintu tiga kali saja, jangan bunyikan bel karena bayi sedang tidur'. Sejak kapan ekspatriat kantor bumn-mu membawa bayi ke unit sewaan perusahaan, Baskara? Dan sejak kapan kamu peduli pada bayi yang sedang tidur?’ tanya Sekar dengan suara yang nyaris berbisik, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti bom yang meledakkan seluruh kebohongan yang telah dibangun Baskara selama ini.

Wajah Baskara mendadak kehilangan seluruh rona merahnya. Dia tampak seolah baru saja melihat hantu. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada kata yang keluar. Di dalam kegelapan parkiran itu, Sekar akhirnya melihat kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang selama ini dia abaikan karena dia terlalu mempercayai suaminya. Kebenaran bahwa selama setahun terakhir, saat Baskara pamit untuk dinas luar kota atau rapat pemegang saham yang melelahkan, pria itu sebenarnya sedang membangun sebuah kehidupan lain. Sebuah keluarga lain, yang menyukai martabak kacang, yang tinggal di sebuah apartemen mewah, dan memiliki seorang bayi yang tidak boleh terbangun oleh suara bel pintu.

’Sekar...’ Baskara mencoba melangkah maju, tangannya gemetar ingin menyentuh bahu Sekar, namun Sekar mundur dengan cepat hingga punggungnya membentur pintu mobil mereka. Rasa jijik yang luar biasa mendadak menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya.

’Jangan sentuh aku,’ kata Sekar dengan nada yang sangat dingin, jenis nada suara yang bahkan dia sendiri tidak tahu bisa dia hasilkan. ’Kita pulang sekarang. Aku akan mengemudikan mobilnya. Dan setelah kita sampai di rumah, aku ingin kamu mengemasi semua barang-barangmu. Jangan tinggalkan satu pun helai pakaianmu di rumahku.’

Baskara tampak ingin membantah, ingin marah, namun melihat tatapan mata Sekar yang kosong dan mati, dia tahu bahwa kali ini, tidak ada satu pun retorika manisnya yang bisa menyelamatkannya. Sepanjang perjalanan pulang menembus kemacetan Jakarta yang menggila di bawah guyuran hujan gerimis yang mulai turun, tidak ada satu pun kata yang terucap di antara mereka. Di dalam kabin mobil yang sunyi itu, hanya terdengar suara wiper yang menyapu kaca depan berulang-ulang, seolah mencoba menghapus seluruh jejak kebahagiaan yang pernah mereka bagi bersama, meninggalkan Sekar yang harus bersiap menghadapi badai terbesar dalam hidupnya, sendirian.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url