Kupikir Suara Musik Itu Cuma Kebetulan, Sampai Log Aktivitas Smart TV Membongkar Semua Busuknya

Kupikir Suara Musik Itu Cuma Kebetulan, Sampai Log Aktivitas Smart TV Membongkar Semua Busuknya

Skandal & Pengkhianatan

Kupikir Suara Musik Itu Cuma Kebetulan, Sampai Log Aktivitas Smart TV Membongkar Semua Busuknya



Sejak kapan kamu suka dengerin Hindia, Kir? Tanya Dananjaya malam itu, suaranya mengambang di antara deru AC yang monoton di kamar tidur mereka yang berukuran empat kali empat meter. Pertanyaan itu terdengar kasual, hampir seperti obrolan basa-basi sebelum tidur. Namun, bagi Danan, setiap suku kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pecahan kaca yang menyumbat tenggorokan.

Kirana yang sedang mengoleskan krim malam di depan cermin rias mendadak menghentikan gerakan jemarinya. Hanya satu detik. Sangat singkat, namun cukup bagi Danan yang berprofesi sebagai arsitek—seseorang yang dilatih untuk melihat distorsi sekecil apa pun pada garis lurus—untuk menangkap getaran kecemasan di bahu istrinya. Kirana segera menguasai diri, melanjutkan usapan lembut di pipinya sembari tersenyum tipis melalui pantulan cermin.

Oh, itu. Kemarin pas dengerin playlist acak di Spotify aja. Enak lagunya, sahut Kirana santai. Nadanya terlalu datar, jenis nada yang digunakan seseorang ketika mereka mencoba meyakinkan diri mereka sendiri sebelum meyakinkan orang lain. Kamu sendiri kok tiba-tiba nanya gitu? Biasanya juga cuma dengerin piringan hitam jazz tua kamu itu.

Danan tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap langit-langit kamar mereka yang dicat abu-abu gelap, warna yang sengaja dia pilih untuk menciptakan kesan hangat, namun malam ini terasa seperti dinding penjara yang perlahan merapat ke arahnya. Dia memegang ponselnya erat-erat di bawah selimut. Di layarnya, aplikasi Spotify masih terbuka, menampilkan fitur Blend—sebuah playlist kolaboratif otomatis antara dirinya dan Jatmiko, sahabat karibnya sejak masa kuliah di Bandung dulu.

Dua hari yang lalu, Jatmiko yang terkenal sebagai pencinta musik metal garis keras tiba-tiba memasukkan lagu-lagu indie-pop melankolis ke dalam playlist kolaborasi mereka. Salah satunya adalah lagu Hindia yang baru saja dibahas Danan. Pada hari yang sama, Kirana mengunggah sebuah cerita di Instagram pribadinya—sebuah foto cangkir kopi dengan latar belakang jendela basah oleh hujan, diiringi potongan lagu yang sama. Kirana menuliskan tag lokasi di sebuah kafe estetik di kawasan Sentul, mengklaim bahwa dia sedang mencari inspirasi desain sendirian.

Danan mungkin akan mengabaikan kebetulan itu jika saja dia tidak membuka akun Netflix keluarga mereka sore tadi. Bermaksud untuk mengeluarkan perangkat lama yang sudah tidak terpakai, Danan tidak sengaja mengklik menu Kelola Akses dan Perangkat. Di sana, tertera sebuah riwayat masuk yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: Samsung Smart TV, masuk pada hari Selasa pukul dua dini hari, menggunakan profil utama atas nama Danan & Kiki. Lokasi IP address: Sentul, Jawa Barat.

Pada hari Selasa itu, Kirana pamit pergi ke rumah ibunya di Bogor karena sang ibu mengeluh sakit lutut parah. Sentul dan Bogor memang bertetangga, namun mengapa Kirana harus menginap di sebuah boutique hotel di Sentul—yang teridentifikasi dari jaringan Wi-Fi komersial yang terlacak di log Netflix—dan menonton film di sana pada pukul dua pagi? Dan yang lebih mengerikan, Jatmiko mengambil cuti sakit dari kantor konsultan arsitektur mereka pada hari yang persis sama.

Kamu kelihatan capek banget belakangan ini, Dan, suara Kirana memecah keheningan. Perempuan itu kini sudah berbaring di sampingnya, menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada. Wangi lavender dari krim malamnya menguar, wangi yang biasanya menenangkan Danan, namun kini terasa mencekik. Mau aku pijat sebentar?

Danan memutar tubuhnya menghadap Kirana. Dia menatap mata cokelat terang milik perempuan yang telah dinikahinya selama tiga tahun itu. Mata yang dulu selalu memancarkan kejujuran, kini tampak seperti telaga dalam yang menyimpan monster di dasarnya. Danan meraba jemari tangan kiri Kirana, merasakan lingkaran emas putih yang melingkar manis di sana. Cincin pernikahan yang dia desain sendiri dengan detail geometris yang rumit.

Nggak usah, Kir. Aku cuma kepikiran kerjaan aja, bohong Danan, suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiri. Dia merasakan kepalanya berdenyut hebat. Otaknya mulai menyusun kepingan-kepingan ingatan yang selama ini dia abaikan dengan bodohnya. Bagaimana Jatmiko selalu menawarkan diri untuk mengantar Kirana pulang saat mobil Kirana berada di bengkel. Bagaimana Jatmiko tahu-tahu mengetahui detail kecil tentang renovasi dapur mereka yang bahkan belum sempat Danan diskusikan secara mendalam dengan Kirana.

Semua kebaikan Jatmiko, semua tawa lepas sahabatnya itu saat mereka berkumpul di ruang tamu ini, kini terdistorsi menjadi kepalsuan yang menjijikkan. Danan merasa seperti orang bodoh yang berdiri di tengah panggung, ditertawakan oleh penonton yang tahu bahwa istrinya sedang ditiduri oleh pria yang dia anggap sebagai saudara sendiri.

Kirana perlahan memejamkan mata, napasnya mulai teratur menandakan dia telah memasuki alam mimpi. Namun, Danan tetap terjaga. Dia perlahan bangkit dari tempat tidur, memastikan gerakannya sesenyap mungkin agar tidak membangunkan singa betina yang sedang tidur itu. Dia melangkah keluar kamar, menuruni tangga kayu menuju ruang kerjanya di lantai bawah.

Di dalam kegelapan ruang kerja yang hanya disinari lampu jalan dari luar jendela, Danan membuka laptopnya. Tangannya gemetar saat dia mengetikkan alamat situs penyedia jasa pelacak IP dan detail transaksi kartu kredit bersama mereka. Dia menemukan transaksi lain yang terlewatkan bulan lalu: pembayaran e-toll di gerbang tol Sentul Selatan pada hari Kamis malam, pukul sebelas. Di hari yang sama, Jatmiko mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya, mengatakan bahwa dia sedang lembur di kantor dan tidak bisa ikut nongkrong di kedai kopi langganan mereka.

Danan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh juga, mengalir hangat di pipinya yang kasar. Rasa sakitnya tidak datang berupa ledakan amarah, melainkan sebuah kehampaan yang luar biasa dingin. Kehampaan yang perlahan berubah menjadi tekad yang membeku. Dia tidak akan mengonfrontasi mereka sekarang dengan air mata dan teriakan histeris. Tidak, itu terlalu mudah untuk mereka.

Dia ingin melihat seberapa jauh dua orang paling penting dalam hidupnya ini bisa melangkah dalam kepalsuan mereka. Danan meraih ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Jatmiko. Dia mengetikkan sebuah pesan singkat, nadanya tampak sangat ceria dan tidak menaruh curiga sama sekali.

Ko, besok sabtu lu senggang kan? Gue sama Kiki mau adain syukuran kecil-kecil buat proyek baru kita. Lu wajib dateng ya, gue masak steak kesukaan lu. Kirana juga udah kangen ngobrol sama lu.

Danan menekan tombol kirim. Di bawah temaram lampu jalanan Bintaro, senyum dingin terukir di wajah Danan yang basah oleh air mata. Permainan baru saja dimulai, dan dia yang akan memegang kendali atas papan caturnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url