Notifikasi iCloud di iPad Tua Membongkar Liburan Suamiku dan Sepupuku: Kupastikan Mereka Membayar Setiap Detik Pengkhianatan Ini
'Mbak, awas kakinya! Pecahannya tajam banget!'
Teriakan panik dari seorang pegawai supermarket bercelemek hijau tidak benar-benar menembus kesadaran Arimbi. Ia hanya berdiri mematung di lorong bumbu dapur impor yang lengang, mengabaikan cairan kental madu organik seharga ratusan ribu yang kini mengalir perlahan, bercampur dengan pecahan kaca di sekeliling sepatu flat kulitnya. Di tangannya, sebuah iPad Pro generasi lama yang biasa ia gunakan untuk membuat sketsa desain masih menyala, menampilkan layar konfirmasi reservasi PDF yang baru saja tersinkronisasi otomatis karena akun iCloud suaminya, Dananjaya, masih tertinggal di sana.
Arimbi tidak mendengar suara pecahan beling itu, juga tidak merasakan tatapan heran dari beberapa pengunjung lain. Seluruh dunianya mendadak senyap, menyusut hanya pada sebaris teks digital di layar tablet: 'Boutique Wellness Resort Ubud - Deluxe Private Pool Villa. Guest 1: Dananjaya Adiwinata. Guest 2: Gisela Paramitha.' Tanggal check-in yang tertera adalah hari Jumat ini, tepat di hari suaminya pamit untuk menghadiri seminar audit keuangan tahunan di Surabaya. Dan metode pembayarannya? Sebuah rekening bersama di bank swasta terkemuka atas nama 'Dananjaya & Gisela JT'. Rekening yang bahkan tidak pernah Arimbi ketahui keberadaannya selama lima tahun mereka membangun mahligai rumah tangga.
Gisela. Nama itu menghantam dada Arimbi seperti godam besi. Gisela adalah sepupu kandungnya sendiri, anak yatim piatu yang dibesarkan oleh orang tua Arimbi sejak remaja, perempuan yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Perempuan yang dua bulan lalu menangis di pundak Arimbi karena mengaku kesulitan membayar sewa apartemennya di kawasan Jakarta Selatan, yang kemudian langsung Arimbi bantu tanpa berpikir dua kali. Kini, nama itu bersanding manis dengan nama suaminya di sebuah villa mewah bertarif belasan juta per malam di Bali.
'Mbak? Mbak tidak apa-apa? Ada yang terluka?' Petugas supermarket itu kini sudah membawa sapu dan sekop, menatap Arimbi dengan gundah. Arimbi mengerjapkan matanya, perlahan menarik napas dalam-dalam. Oksigen yang masuk ke paru-parunya terasa dingin dan menyakitkan, seperti menghirup serpihan es. Dengan ketenangan yang dipaksakan, ia mundur selangkah dari genangan madu, lalu tersenyum tipis, sebuah senyuman topeng yang biasa ia gunakan saat menghadapi klien-klien korporat yang menyebalkan.
'Saya tidak apa-apa. Maaf ya, tangan saya licin tadi. Tolong dihitung saja harga madunya di kasir, nanti saya bayar semuanya beserta biaya ganti rugi,' suara Arimbi terdengar sangat stabil, bahkan bagi dirinya sendiri. Ketangkasannya mengendalikan emosi adalah salah satu alasan mengapa agensi penataan interior yang ia rintis dari nol bisa sesukses sekarang. Namun hari ini, kemampuan itu diuji hingga ke batas paling ekstrem.
Arimbi berjalan menuju kasir, menyelesaikan pembayaran untuk belanjaan makan malam yang semula ia rencanakan untuk merayakan promosi jabatan Dananjaya sebagai direktur keuangan di perusahaannya. Ironi itu terasa begitu getir. Sambil menunggu struk belanja dicetak, jarinya bergerak lincah di atas layar iPad. Ia mengambil tangkapan layar dari reservasi itu, mengirimkannya ke email pribadinya, lalu menghapus email notifikasi asli dari kotak masuk suaminya agar Dananjaya tidak menyadari bahwa rahasianya telah bocor. Arimbi tahu, dalam perang yang sesungguhnya, informasi adalah senjata utama, dan musuh tidak boleh tahu bahwa mereka sedang diintai.
Selama perjalanan pulang menyusuri kemacetan kawasan Senopati dengan mobil SUV putihnya, pikiran Arimbi berputar liar. Memorinya mundur ke belakang, merangkai setiap kepingan puzzle yang selama ini ia abaikan karena rasa percaya yang terlalu besar. Ia teringat bagaimana Gisela tiba-tiba sering memakai parfum beraroma kayu cendana hangat, aroma yang sama dengan minyak janggut yang biasa dipakai Dananjaya. Ia teringat bagaimana Dananjaya sering menawarkan diri untuk mengantar Gisela pulang dengan alasan 'kasihan sudah larut malam' saat mereka makan malam keluarga. Bahkan, ia teringat bagaimana Gisela sempat salah menyebut nama Dananjaya dengan panggilan sayang 'Mas Danan' saat mereka sedang mengobrol santai, yang saat itu langsung ditepis Gisela sebagai salah lidah karena ia terbiasa mendengar Arimbi memanggilnya begitu.
Semua itu bukan kebetulan. Semua itu adalah sebuah skandal yang dirancang dengan rapi di balik punggungnya. Pengkhianatan ganda oleh dua orang yang paling ia cintai dan lindungi di dunia ini. Arimbi mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata pertamanya akhirnya jatuh, hangat dan lambat, membasahi pipinya yang mulus. Namun, itu bukan air mata kesedihan yang melemahkan. Itu adalah air mata pembaptisan bagi Arimbi yang baru—Arimbi yang tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban yang menangis di sudut kamar.
Saat mobilnya memasuki gerbang rumah mereka yang bernuansa minimalis modern, Arimbi melihat mobil Dananjaya sudah terparkir di garasi. Jantungnya berdegup kencang, namun ia segera mematikan mesin, berkaca di spion tengah, merapikan riasannya yang sedikit luntur, dan memakai lipstik merah bata andalannya. Ia harus terlihat sempurna. Ia harus terlihat tidak tahu apa-apa.
Pintu rumah terbuka, menyajikan pemandangan yang biasanya membuat hati Arimbi hangat: Dananjaya sedang duduk di sofa ruang tengah, mengenakan kaos santai, dengan sebuah koper hitam besar yang sudah setengah terbuka di sampingnya. Ia sedang merapikan beberapa kemeja formal untuk perjalanannya ke Surabaya. Di atas meja, terdapat beberapa map laporan keuangan.
'Sayang, kamu sudah pulang?' Dananjaya mendongak, tersenyum hangat—senyuman yang dulu membuat Arimbi jatuh cinta setengah mati, namun kini tampak seperti seringai iblis yang mengenakan topeng malaikat. Dananjaya berdiri, melangkah mendekat, dan mengecup kening Arimbi dengan lembut seperti biasa. Sentuhan bibir Dananjaya di kulitnya membuat Arimbi ingin berteriak dan mencakar wajah pria itu, namun ia berhasil menahan diri. Tubuhnya tetap rileks dalam pelukan suaminya.
'Iya, tadi mampir ke supermarket dulu. Mau masak steak kesukaanmu untuk makan malam terakhir sebelum kamu berangkat ke Surabaya besok pagi,' ujar Arimbi dengan nada manja yang dibuat-buat, meletakkan kantong belanjaan di meja dapur bersih mereka yang berbatasan langsung dengan ruang keluarga.
'Kamu memang istri terbaik. Maaf ya, aku harus pergi di akhir pekan seperti ini. Seminar ini sangat penting untuk transisi jabatan baruku nanti. Aku janji, sepulang dari Surabaya, kita akan liburan berdua,' kata Dananjaya dengan nada menyesal yang terdengar sangat meyakinkan. Arimbi menatap mata suaminya, mencari celah kebohongan, namun akting pria itu begitu mulus. Bertahun-tahun bekerja di bidang keuangan korporat tampaknya telah melatih Dananjaya untuk menjadi pembohong yang ulung.
'Oh ya? Tidak apa-apa, Sayang. Pekerjaan memang nomor satu. Lagipula, Gisela juga bilang dia sedang sibuk akhir pekan ini, jadi aku tidak punya teman untuk jalan-jalan,' sahut Arimbi santai, sambil mengeluarkan daging wagyu dari kantong plastik. Ia sengaja melemparkan umpan kecil itu, ingin melihat reaksi suaminya.
Gerakan tangan Dananjaya yang sedang melipat kemeja sempat terhenti selama satu detik penuh sebelum ia kembali melanjutkan aktivitasnya dengan santai. 'Oh ya? Gisela sibuk apa? Bukankah proyek desain interiornya sedang senggang?' tanya Dananjaya, mencoba terdengar acuh tak acuh, namun nada suaranya sedikit naik satu oktav.
'Katanya ada klien penting dari luar kota yang ingin bertemu di luar Jakarta. Entahlah, dia tidak menceritakan detailnya secara spesifik,' jawab Arimbi sambil membelakangi Dananjaya, menyalakan kompor gas dengan sekali klik. Di wajahnya, senyuman dingin kini mengembang sempurna. Umpannya termakan. Dananjaya tidak tahu bahwa istrinya sedang menuntunnya masuk ke dalam perangkap yang mematikan.
Malam itu, makan malam berlangsung dengan penuh kepura-puraan. Arimbi menyajikan steak dengan kematangan sempurna, menuangkan saus lada hitam yang gurih, dan mendengarkan dengan penuh perhatian saat Dananjaya bercerita tentang rencana presentasinya di Surabaya. Setiap kali Dananjaya menyebut kata 'Surabaya' atau 'rekan kerja', Arimbi harus menahan diri agar tidak menyiramkan air es di gelasnya ke wajah tampan suaminya itu. Di dalam otaknya, skenario pembalasan dendam sudah mulai tersusun rapi, rumit, dan tanpa ampun.
Setelah makan malam selesai dan Dananjaya sedang mandi di kamar mandi utama, Arimbi duduk di sofa dengan ponselnya sendiri. Ia mencari nomor telepon Gisela dan menekannya. Panggilan itu tersambung pada nada ketiga. Suara Gisela yang ceria dan manja terdengar dari seberang sana.
'Halo, Kak Arimbi! Ada apa? Kangen ya?' suara itu terdengar begitu tulus, membuat rasa muak di dada Arimbi semakin memuncak.
'Gisela, kamu lagi di mana? Aku lagi senggang nih, mau main ke apartemenmu boleh tidak?' tanya Arimbi, nada suaranya terdengar sangat bersahabat.
'Aduh, maaf banget Kak! Aku lagi di luar kota, ini baru sampai di Bandung untuk ketemu klien proyek kafe baru yang kemarin aku ceritakan. Mungkin baru pulang senin depan. Maaf ya Kak, nanti kalau aku balik, aku bawakan oleh-oleh cilok kesukaan Kakak ya!' kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibir Gisela, tanpa ada keraguan sedikit pun.
'Oh, begitu ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Sukses ya proyeknya di Bandung. Hati-hati di jalan,' ucap Arimbi sebelum menutup telepon dengan tenang. Ia mematikan layar ponselnya, lalu menatap dinding ruang tengah yang dihiasi foto pernikahan mereka berukuran besar. Di dalam foto itu, Arimbi dan Dananjaya tampak begitu bahagia, sementara Gisela berdiri di barisan pengiring pengantin dengan senyuman lebar.
Arimbi kini menyadari satu hal: mereka berdua menganggapnya bodoh. Mereka berpikir bahwa kebaikan dan kepercayaannya adalah sebuah kelemahan yang bisa mereka eksploitasi selamanya. Mereka menikmati permainan ini di belakang punggungnya, menertawakan kenaifannya setiap kali mereka bertemu dalam acara keluarga besar.
Kembali ke iPad di tangannya, Arimbi membuka aplikasi perbankan digitalnya sendiri. Sebagai pemilik agensi desain yang sukses, ia memiliki aset pribadi yang cukup besar yang sengaja ia pisahkan dari rekening rumah tangga demi alasan profesional. Ia segera mentransfer sejumlah uang yang sangat besar ke rekening penasihat hukum pribadinya, seorang pengacara perceraian papan atas yang terkenal dingin dan tanpa ampun di pengadilan.
Selanjutnya, Arimbi memesan tiket pesawat kelas bisnis ke Bali untuk hari Jumat pagi, beberapa jam mendahului jadwal 'penerbangan seminar' Dananjaya. Namun, ia tidak akan pergi ke Bali untuk menangis atau melakukan konfrontasi murahan di lobi villa. Itu terlalu klise, terlalu dramatis, dan tidak akan memberikan dampak yang setimpal dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Arimbi menghubungi manajer operasional perusahaannya dan meminta data kontak klien terbesar Gisela—seorang investor properti kaya raya asal Surabaya yang sangat konservatif dan menjunjung tinggi moralitas bisnis. Ia juga mengirimkan pesan singkat kepada mertuanya, ibu kandung Dananjaya yang sangat membanggakan kehormatan keluarga dan sangat membenci perceraian. Arimbi akan mengundang mereka semua ke Ubud untuk sebuah 'makan malam bisnis eksklusif' yang sudah ia pesan di restoran terbaik di dalam resort yang sama tempat Dananjaya dan Gisela menginap.
Arimbi menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap. Matanya yang biasanya lembut kini berkilat dengan dinginnya es kutub. Dananjaya dan Gisela telah menyalakan api di dalam rumahnya, mengira mereka hanya akan membakar beberapa kenangan lama. Mereka tidak tahu bahwa Arimbi bersedia membakar seluruh dunia mereka hingga menjadi abu, dan ia sendiri yang akan menari di atas puing-puing kehancuran mereka.
'Permainan baru saja dimulai, Danan. Gisela. Nikmati malam terakhir kalian dalam ketidaktahuan ini,' bisik Arimbi lirih saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, menandakan suaminya telah selesai membersihkan diri dari segala kebohongannya.