Sup Ikan Gabus dan Kamar 402 Menguak Alasan Kenapa Suamiku Mengirim Ratusan Juta ke Rekening Adik Kandungku

Sup Ikan Gabus dan Kamar 402 Menguak Alasan Kenapa Suamiku Mengirim Ratusan Juta ke Rekening Adik Kandungku

Skandal & Pengkhianatan

Sup Ikan Gabus dan Kamar 402 Menguak Alasan Kenapa Suamiku Mengirim Ratusan Juta ke Rekening Adik Kandungku



‘Mbak, jadi diambil semua belanjaannya?’ Suara kasir supermarket premium di pusat Jakarta Pusat itu memecah keheningan yang tiba-tiba menyergap kepalaku. Di tangan kanan, aku masih memegang sekotak stroberi organik seharga seratus lima puluh ribu rupiah. Di tangan kiri, ponselku bergetar hebat, menampilkan sebuah notifikasi ringkas dari aplikasi dompet digital keluarga yang terhubung langsung dengan kartu debit utamaku. Ada transaksi sebesar delapan ratus lima puluh ribu rupiah untuk pemesanan makanan penutup luka operasi caesar dan teh pelancar ASI dari sebuah dapur herbal premium di Menteng. Nama penerimanya tertulis jelas di sana: Kirana Narendra, dengan alamat pengiriman RSIA Bunda Menteng, Kamar 402.

Aku tidak menjawab pertanyaan kasir itu. Lidahku mendadak kelu, membeku bersama seluruh sendi di tubuhku. Kirana adalah adik kandungku satu-satunya, seorang gadis yang kupikir sedang menyelesaikan tahun terakhir kuliahnya di Bandung dengan sisa tabungan yang rutin kukirim setiap bulan. Sementara Narendra adalah suamiku, lelaki santun yang pagi tadi mencium keningku sebelum pamit pergi ke Surabaya untuk urusan proyek pembangunan hotel mewah. Bagaimana mungkin nama belakang suamiku kini bersanding dengan nama adikku di sebuah aplikasi pengiriman makanan, di sebuah kamar rumah sakit bersalin paling eksklusif di Jakarta?

Dengan tangan bergetar, aku meninggalkan troli belanjaan begitu saja di depan kasir yang menatapku dengan tatapan bingung sekaligus jengkel. Aku berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor mal yang dingin, mengabaikan tatapan orang-orang sekitar yang mungkin merasa heran melihat seorang wanita dengan pakaian kerja elegan berjalan setengah berlari sambil menahan tangis. Aku segera membuka riwayat transaksi dompet digital itu lebih dalam. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat puluhan transaksi serupa selama seminggu terakhir. Ada pembelian popok bayi premium, sewa pompa ASI tingkat rumah sakit, hingga pembayaran biaya admin rumah sakit sebesar empat puluh lima juta rupiah yang didebit langsung dari rekening bersama kami. Semuanya dikirim ke titik lokasi yang sama: Kamar 402.

Aku masuk ke dalam mobil di basemen yang sepi, mengunci pintu, lalu mencoba menghubungi Narendra. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua dialihkan. Pada panggilan ketiga, barulah terdengar suara bariton khasnya yang selalu berhasil menenangkanku selama lima tahun pernikahan kami. Namun kali ini, suara itu terdengar sangat panik dan berbisik. ‘Halo, Ambar? Mas masih di ruang rapat dengan jajaran direksi. Nanti Mas telepon balik ya, Sayang,’ ucapnya terburu-buru. Namun, sebelum dia mematikan sambungan, telingaku yang terbiasa mendengar detail arsitektur menangkap sebuah suara yang sangat kukenal. Bukan suara ketukan pulpen atau proyektor rapat, melainkan bunyi ritmis dari mesin monitor detak jantung bayi yang sangat khas. Bunyi bip pelan yang konstan, disusul suara tangisan bayi yang samar-samar di latar belakang.

‘Mas, kamu benar-benar di Surabaya?’ tanyaku dengan suara yang kuusahakan tetap datar, meski dadaku rasanya seperti dihantam godam besar. Ada jeda panjang di seberang telepon. Keheningan itu terasa begitu pekat dan menyiksa, hingga akhirnya Narendra berdeham kecil. ‘Iya, tentu saja. Ini rapatnya agak bising karena dekat jendela jalan raya. Sudah dulu ya, Ambar. I love you.’ Telepon ditutup sepihak. Aku meremas kemudi mobil hingga buku-buku jariku memutih. Kebohongan yang begitu rapi dirajut kini mulai terurai dari ujung benang yang paling tidak terduga.

Aku menghidupkan mesin mobil, membelah kemacetan jalanan Jakarta di sore hari yang diguyur hujan gerimis. Pikiranku melayang pada kilasan-kilasan peristiwa setahun terakhir. Kirana yang mendadak jarang pulang ke rumah kami di akhir pekan dengan alasan sibuk skripsi. Narendra yang tiba-tiba sangat protektif terhadap laporan keuangan perusahaannya. Dan yang paling menyakitkan, ingatan tentang betapa seringnya Narendra menawarkan diri untuk mengantar Kirana ke stasiun atau membelikan barang-barang kebutuhan kuliah adikku dengan alasan demi meringankan bebanku sebagai kakak tertua. Aku selalu menganggap kebaikan Narendra sebagai wujud kasih sayang seorang ipar yang tulus. Aku tidak pernah menduga bahwa di balik sikap hangat itu, ada sebuah skandal yang sedang tumbuh subur di belakang punggungku.

Setibanya di RSIA Bunda Menteng, bau antiseptik yang khas langsung menyengat hidungku. Aku melangkah melewati lobi yang sunyi dengan langkah mantap, meski di dalam dada, seluruh duniaku rasanya sedang runtuh seketika. Aku menolak bertanya pada meja resepsionis karena takut namaku akan memicu peringatan bagi mereka yang ada di atas. Aku langsung menuju lift, menekan angka empat dengan jari yang dingin bagai es. Koridor lantai empat terasa begitu sunyi, hanya dihiasi lukisan-lukisan pastel berbingkai kayu estetik dan pencahayaan hangat yang dirancang untuk menenangkan para ibu baru.

Aku berjalan perlahan, membaca setiap nomor kamar yang tertera di pintu kayu jati yang kokoh. 401... 401B... dan di ujung koridor, sebuah pintu dengan plakat kuningan bertuliskan angka 402. Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku bisa mendengar suaranya di sela-sela telingaku sendiri. Tepat sebelum aku menyentuh gagang pintu, aku melihat melalui celah kaca kecil yang ada di pintu kamar tersebut. Di dalam sana, di bawah cahaya lampu yang temaram, Narendra sedang duduk di tepi ranjang perawatan. Dia sedang menggendong seorang bayi mungil berselimut merah muda dengan kelembutan yang belum pernah aku lihat sebelumnya selama kami menikah.

Di atas ranjang, Kirana berbaring lemas namun wajahnya memancarkan rona bahagia yang luar biasa. Dia menatap Narendra dengan binar mata yang tidak bisa dibohongi—binar mata seorang wanita yang sedang memandang suaminya, bukan kakak iparnya. Aku melihat Narendra mendekatkan kepalanya, mengecup dahi Kirana dengan sangat mesra, lalu membisikkan sesuatu yang membuat adik kandungku itu tersenyum malu-malu. Air mata yang sejak tadi kutahan kini luruh tanpa suara, membasahi pipiku yang terasa kebas. Pengkhianatan ini tidak hanya merenggut suamiku, tetapi juga menghancurkan arti persaudaraan yang selama puluhan tahun kujaga dengan darah dan keringatku sendiri.

Aku meletakkan tanganku di atas gagang pintu kuningan yang terasa dingin itu. Aku tahu, begitu aku mendorong pintu ini terbuka, hidup kami bertiga tidak akan pernah sama lagi. Segala kenyamanan, kebohongan manis, dan status pernikahan yang kubanggakan akan hancur berkeping-keping. Namun, aku juga tahu bahwa aku tidak akan membiarkan diriku terus hidup dalam sangkar emas yang dibangun di atas air mata dan pengkhianatan yang begitu keji ini. Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan sisa-sisa harga diriku, lalu perlahan memutar gagang pintu tersebut.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url