Aplikasi Kopi yang Membuka Topeng Baskara dan Sepupuku di Sentul
Gendis menjatuhkan ponselnya tepat di depan kasir supermarket yang sibuk di kawasan Senopati. Layar pelindung berbahan tempered glass itu retak seketika, membentuk pola sarang laba-laba yang buram. Di balik retakan itu, sebuah notifikasi push berwarna hijau dari aplikasi loyalitas Kopi Selaras menyala tanpa ampun. 'Terima kasih! Voucher Dua Cangkir Hangat Anda telah berhasil ditukarkan di Outlet Sentul Highlands.' Bunyi bip mesin kasir yang sedang memindai sekotak stroberi impor terasa seperti palu yang menghantam dada Gendis berulang kali.
Sentul Highlands. Hari Selasa pukul dua siang. Gendis menarik napas dalam-dalam, mengabaikan tatapan heran dari kasir muda dan gumaman tidak sabar dari seorang wanita sosialita di belakang antreannya. Dengan tangan gemetar, ia membatalkan seluruh belanjaannya, meminta maaf dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar, lalu melangkah cepat menuju area parkir basement yang dingin dan temaram. Di dalam mobilnya yang sunyi, ia menatap layar ponselnya yang retak dengan tatapan kosong, mencoba mencerna rentetan kepalsuan yang baru saja runtuh dalam satu detik.
Suaminya, Baskara, seharusnya sedang berada di Semarang. Pria itu adalah direktur operasional sebuah perusahaan konstruksi yang dinamis. Tadi pagi, pukul sembilan, Baskara mengirimkan sebuah foto cangkir teh porselen dengan latar belakang meja kayu jati yang kusam. 'Rapat koordinasi dengan pemda setempat sangat membosankan, Sayang. Aku ingin cepat pulang,' begitu bunyi pesannya yang manis. Sementara itu, Aruna, sepupu dekat sekaligus sahabat yang tumbuh bersamanya sejak kecil, mengirimkan pesan suara di grup keluarga besar pada pukul sebelas siang, mengeluhkan migrain yang luar biasa hebat hingga ia harus mengunci diri di kamar apartemennya di Setiabudi dengan tirai tertutup rapat.
Gendis membuka aplikasi Kopi Selaras. Akun itu terdaftar atas nama nomor telepon Gendis, namun Baskara memiliki akses masuk karena mereka sering berbagi poin untuk mendapatkan kopi gratis setiap akhir pekan. Selama ini, Gendis tidak pernah memeriksa riwayat transaksi secara detail. Namun, siang ini, entah mengapa instingnya bekerja dengan cara yang mengerikan. Ia mengetuk tab riwayat. Di sana, terpampang dengan jelas tidak hanya transaksi hari ini di Sentul Highlands, tetapi juga riwayat transaksi setiap hari Selasa selama empat bulan terakhir. Semuanya di luar Jakarta. Semuanya di Sentul, di gerai yang sama, selalu berupa pesanan dua gelas es kopi susu dengan ekstra shot espresso dan satu croissant cokelat hangat.
Pikiran Gendis melayang pada kilas balik yang menyakitkan. Aruna adalah orang yang menemaninya memilih gaun pengantin tiga tahun lalu. Aruna adalah orang yang memeluknya paling erat ketika Gendis keguguran anak pertamanya tahun lalu, berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bahwa Baskara adalah suami terbaik yang akan selalu menjaganya. Kini, bayangan kebaikan Aruna bergeser, digantikan oleh gambaran dingin tentang sepupunya itu yang sedang tertawa manis di sebuah kafe berpemandangan bukit di Sentul, duduk berhadapan dengan Baskara yang mengenakan kemeja kasual yang diklaimnya sedang dipakai di ruang rapat Semarang.
Gendis menyalakan mesin mobilnya. Alih-alih pulang ke rumah mereka di Kebayoran Baru, ia mengarahkan kendaraannya menuju Apartemen Setiabudi. Ia memiliki kunci akses duplikat apartemen Aruna; mereka telah berjanji sejak dulu untuk selalu memiliki akses ke kehidupan satu sama lain jika terjadi keadaan darurat. Sepanjang perjalanan melewati kemacetan Jakarta yang menyesakkan, Gendis tidak menangis. Matanya kering, namun dadanya terasa seperti rongga kosong yang dialiri air es. Rasa sakitnya begitu dalam hingga melampaui fase air mata; ia berada dalam fase ketidakpercayaan yang dingin dan mematikan.
Ketika lift membawanya ke lantai lima belas, jantung Gendis berdegup kencang, menciptakan gaung bising di telinganya sendiri. Ia melangkah menyusuri koridor yang sepi dengan karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Gendis menempelkan kartu akses pada pintu unit Aruna. Bunyi klik pelan terasa seperti letupan senjata api di kepalanya. Ia mendorong pintu itu perlahan, bersiap menghadapi pemandangan terburuk dalam hidupnya.
Apartemen itu sunyi. Udara di dalamnya dingin karena AC sentral yang menyala penuh, membawa aroma yang sangat familier bagi Gendis: wangi maskulin dari parfum amberwood milik Baskara, bercampur dengan aroma lilin terapi melati kesukaan Aruna. Kombinasi aroma itu mengirimkan gelombang mual yang hebat ke perut Gendis. Ia melangkah lebih dalam ke ruang tengah. Di atas meja makan marmer kecil milik Aruna, terdapat sebuah kantong kertas dari Kopi Selaras, lengkap dengan dua cangkir plastik kosong yang menyisakan es batu yang hampir mencair seluruhnya.
Gendis mendekati meja itu dengan langkah yang terasa sangat berat, seolah kakinya terbuat dari timah. Di sebelah cangkir-cangkir kosong itu, tergeletak sebuah benda yang membuat seluruh persendian Gendis mati rasa. Itu adalah sepasang sepatu bersepeda khusus dengan inisial nama yang diukir khusus pada bagian tumitnya. Satu sepatu bertuliskan huruf B, dan sepatu pasangannya bertuliskan huruf A. Baskara adalah seorang penggila sepeda, dan selama beberapa bulan terakhir, ia selalu beralasan pergi ke Sentul setiap Sabtu subuh untuk mencari udara segar demi kesehatan mentalnya. Gendis, yang membenci olahraga luar ruangan, selalu melepas suaminya dengan senyuman hangat dan sekotak bekal buah segar.
Ternyata, udara segar yang dicari Baskara bukan hanya tentang pemandangan pegunungan, melainkan tentang Aruna yang bersepeda di sisinya, berbagi keringat, tawa, dan pengkhianatan yang dirancang dengan sangat rapi. Gendis memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang pucat. Ia tidak berteriak. Ia tidak menghancurkan barang-barang indah di apartemen sepupunya. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia mengeluarkan ponselnya yang retak, mengambil foto sepasang sepatu itu berdampingan dengan kantong kertas Kopi Selaras yang berlogo Sentul Highlands.
Gendis kemudian merogoh tasnya, mengambil selembar kertas kosong dari buku catatannya, dan menuliskan beberapa patah kata dengan pena hitamnya yang tajam. Ia meletakkan catatan itu tepat di bawah gelas kopi Aruna yang kosong. Catatan itu berbunyi: 'Poin loyalitasnya sudah habis terpakai, Baskara. Begitu juga dengan kesabaranku. Nikmati sore kalian di Sentul.'
Dengan langkah tegap, Gendis membalikkan badannya dan keluar dari apartemen itu, meninggalkan semua bayang-bayang masa lalu yang indah bersama dua orang yang paling ia percayai di dunia ini. Di dalam lift yang turun menuju lobi, Gendis menatap pantulan dirinya di cermin baja yang dingin. Ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini, namun ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah membiarkan dirinya menjadi korban yang lemah dalam sandiwara menjijikkan ini. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, dialah yang memegang kendali.