Secarik Kertas Pengiriman Ini Membongkar Ke Mana Perginya Pusaka Miliaran Rupiah dan Siapa yang Berbagi Kamar di Ubud
'Awas, tumpah!' Gendis tertawa kecil, menyodorkan selembar tisu saat teh kamomil hangat yang diseduh Ardhana sedikit meluap dari cangkir keramiknya. Di sudut galeri batik mereka yang tenang di Yogyakarta, tawa Gendis selalu terdengar seperti lonceng angin yang damai. Namun, sore itu, tawa tersebut terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca bagi Ardhana. Tangan Ardhana gemetar bukan karena suhu cangkir, melainkan karena selembar kertas yang terselip di bawah tumpukan katalog pameran di hadapannya. Kertas itu adalah manifes pengiriman barang berharga tinggi dari sebuah perusahaan logistik internasional, lengkap dengan nomor asuransi bernilai fantastis.
Objek yang dikirim dalam manifes itu sangat spesifik: selembar Batik Tiga Negeri pusaka dari tahun 1920-an, sebuah mahakarya bermotif pesisiran dengan warna merah mengkudu yang tidak akan bisa ditiru oleh teknologi modern mana pun. Batik itu adalah milik keluarga Ardhana, warisan turun-temurun yang telah ia restorasi dengan teliti selama enam bulan penuh dengan mengorbankan waktu tidurnya dan kesehatan matanya. Tiga minggu lalu, suaminya, Dananjaya, pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi dan mata sembap, mengaku bahwa batik pusaka tersebut telah hilang dirampok dari bagasi mobilnya saat ia hendak mengantarkannya ke seorang kolektor besar di Jakarta. Ardhana ingat betul bagaimana ia menangis di dada suaminya malam itu, meratapi hilangnya bagian dari jiwanya, sementara Dananjaya mendekapnya begitu erat, membisikkan kata-kata penenang yang kini terasa seperti racun dosis tinggi.
Manifes di tangan Ardhana menceritakan kisah yang sepenuhnya berbeda. Batik Tiga Negeri itu tidak pernah dirampok. Barang itu dikirim dengan selamat ke sebuah alamat vila privat di Ubud, Bali. Pengirimnya tertulis jelas atas nama Dananjaya. Dan yang membuat ulu hati Ardhana seperti dihantam batu godam adalah kolom tanda tangan penerima di lokasi tujuan. Di sana tertera nama Gendis, lengkap dengan tanda tangan khas yang biasa sahabatnya itu gunakan untuk menandatangani cek operasional galeri mereka. Dokumen fisik ini bisa sampai ke tangan Ardhana hanya karena kelalaian kurir magang yang mengembalikan berkas arsip pengiriman ke kantor galeri, mengira itu adalah dokumen inventaris kantor yang tertinggal.
Ardhana memandang Gendis yang kini sibuk merapikan helai-helai kain sutra di gantungan pameran. Perempuan itu mengenakan blus katun premium berwarna putih gading, tampak begitu anggun dan tanpa cela. Gendis telah menjadi bagian dari hidup Ardhana sejak masa kuliah, berbagi mimpi yang sama untuk membawa wastra Nusantara ke panggung dunia. Ketika Ardhana menikah dengan Dananjaya seorang arsitek lanskap yang ambisius, Gendis adalah orang pertama yang menangis haru di pelaminan. Kini, air mata haru itu menjelma menjadi tumpukan duri yang menusuk kesadaran Ardhana.
Ardhana melipat dokumen itu dengan sangat perlahan, memasukkannya ke dalam saku dalam blazer tenunnya. Ia menarik napas panjang, berusaha menekan gemuruh yang berkecamuk di dadanya agar tidak merusak ketenangan wajahnya. Ia harus bermain cantik. Jika ia langsung berteriak marah saat ini juga, mereka akan dengan mudah membuat skenario kebohongan baru untuk menyelamatkan diri mereka. Ardhana tahu betul betapa lihainya Dananjaya dalam memutarbalikkan fakta, dan betapa liciknya Gendis dalam memosisikan diri sebagai korban yang terzalimi.
Malam harinya, rumah mereka yang bernuansa tropis modern terasa begitu sunyi saat Ardhana tiba. Dananjaya sedang duduk di meja makan, sibuk dengan laptopnya, merancang sebuah proyek resort mewah baru yang belakangan ini sering ia banggakan. Aroma tumis kangkung dan ayam goreng bumbu lengkuas menyeruak di udara, masakan mbok Darmi yang biasanya membangkitkan selera makan Ardhana, namun malam ini aroma itu justru membuatnya mual. Dananjaya mendongak, tersenyum manis dengan binar mata yang selalu berhasil membuat Ardhana jatuh cinta selama lima tahun pernikahan mereka.
'Sudah pulang, Sayang? Bagaimana galeri hari ini? Ada kurator baru yang datang?' tanya Dananjaya, beranjak dari kursinya untuk mengecup dahi Ardhana. Sentuhan bibir suaminya di kulit dahinya terasa sedingin es. Ardhana memaksakan sebuah senyuman kecil, menatap lurus ke dalam bola mata cokelat gelap suaminya, mencari-cari sisa kejujuran yang barangkali masih terselip di sana. Namun, ia hanya menemukan kekosongan yang ditutupi oleh keramahan palsu.
'Sangat sibuk, Mas. Gendis membantuku merapikan beberapa arsip lama. Oh ya, omong-omong tentang arsip, aku menemukan beberapa dokumen lama dari proyek restorasi kita,' ujar Ardhana dengan nada suara yang sengaja ia buat seringan mungkin, sembari meletakkan tas jinjingnya di atas sofa. Ia memperhatikan perubahan mikro pada ekspresi Dananjaya. Sudut mata suaminya berkedut halus, sebuah reaksi refleks yang hanya diketahui oleh orang yang telah hidup bersamanya selama bertahun-tahun.
'Oh ya? Dokumen apa?' Dananjaya mencoba terdengar santai, namun ia segera menutup layar laptopnya setengah jalan, sebuah tindakan defensif bawah sadar yang sangat kentara bagi Ardhana.
'Hanya dokumen pengiriman lama. Masih ingat dengan Batik Tiga Negeri yang hilang itu? Aku masih sering memimpikannya. Rasanya aneh saja, kain seberharga itu bisa hilang tanpa jejak di jalur tol Trans-Jawa yang ramai,' kata Ardhana, melangkah ke dapur untuk mengambil segelas air putih dingin. Ia sengaja membelakangi Dananjaya, memberinya ruang untuk merasa cemas.
Sunyi merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Hanya terdengar suara dengung halus dari lemari es dan detak jam dinding kayu di ruang tengah. Dari pantulan kaca jendela dapur, Ardhana bisa melihat Dananjaya sedang menatap punggungnya dengan tatapan yang tajam dan waspada. Senyum ramah di wajah pria itu telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh garis wajah yang tegang.
'Sudahlah, Sayang. Jangan diingat-ingat lagi. Kejadian itu sudah lewat sebulan yang lalu. Kita sudah mendapatkan uang klaim asuransinya, kan? Meskipun tidak sebanding dengan nilai sejarahnya, setidaknya itu bisa menutupi modal restorasi yang kamu keluarkan,' suara Dananjaya kini terdengar agak berat, seolah ia sedang menahan beban yang sangat besar di tenggorokannya.
Ardhana berbalik, memegang gelas air dinginnya dengan kedua tangan agar tidak terlihat gemetar. 'Kamu benar, Mas. Uang asuransinya sudah cair. Tapi anehnya, aku baru tahu kalau nilai asuransi yang cair itu dikirim ke rekening pribadi milik studio arsitekturmu, bukan ke rekening galeri bersama kita. Dan jumlahnya... tiga kali lipat dari nilai yang kamu laporkan kepadaku.'
Wajah Dananjaya seketika memucat, kehilangan rona alaminya di bawah temaram lampu gantung ruang makan. Ia berdiri dari kursinya, mencoba mendekati Ardhana dengan kedua tangan terbuka, mencoba membangun kembali benteng manipulasinya. 'Dhana, dengarkan aku dulu. Itu hanya masalah administrasi perbankan. Aku menggunakan rekening studioku karena saat itu limit transaksi galeri kita sedang penuh. Aku berniat memindahkannya kepadamu setelah urusan pajak studioku selesai bulan ini. Sungguh, aku tidak berniat menyembunyikan apa pun.'
'Lalu bagaimana dengan Ubud, Mas?' Kalimat itu meluncur begitu tenang dari bibir Ardhana, namun efeknya seperti ledakan dinamit di tengah ruangan. Dananjaya membeku di tempatnya berdiri. Langkah kakinya terhenti tepat dua meter di depan Ardhana.
'Apa... apa maksudmu? Ubud?' suara Dananjaya mencicit, hampir tidak terdengar.
'Vila Kayu Manis, Jalan Raya Andong, Ubud. Tanggal dua puluh empat bulan lalu. Sehari setelah kamu bilang kamu dirampok di Cirebon, kamu mengirimkan paket Batik Tiga Negeri itu ke sana. Dan tebak siapa yang menandatangani tanda terima paketnya di sana? Gendis. Sahabatku sendiri. Orang yang ikut menangis bersamaku saat aku meratapi hilangnya kain itu,' Ardhana berbicara tanpa berteriak, suaranya dingin, jernih, dan penuh dengan kepedihan yang teramat sangat.
Dananjaya mencoba membuka mulutnya, namun tidak ada kata yang keluar. Matanya bergerak liar, mencari-cari kebohongan baru yang bisa menyelamatkannya dari sudut mati ini. Namun, ketika Ardhana mengeluarkan dokumen manifes asli dari saku blazernya dan meletakkannya di atas meja makan, Dananjaya tahu bahwa benteng pertahanannya telah runtuh sepenuhnya.
'Kalian berdua membangun sebuah studio desain interior baru di Bali, bukan? Menggunakan uang hasil penjualan batik pusakaku yang kalian jual ke kolektor asing lewat jalur belakang, sementara kalian melaporkannya sebagai barang hilang untuk mencairkan dana asuransi ganda,' Ardhana melanjutkan, air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya, namun tatapannya tetap tajam mengunci suaminya. 'Kalian tidak hanya mencuri karyaku, Mas. Kalian mencuri seluruh hidupku.'
Tepat pada saat itu, ponsel Dananjaya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar yang setengah terbuka. Pengirimnya adalah Gendis. Pesan itu terbaca jelas di bawah lampu ruang makan: 'Sayang, bahan linen untuk vila di Ubud sudah aku approve. Kamu kapan menyusul ke Bali? Aku merindukanmu.' Ardhana menatap layar ponsel itu, lalu menatap suaminya yang kini tertunduk layu. Rasa sakit yang teramat sangat kini perlahan berubah menjadi kemarahan dingin yang akan membakar habis semua yang telah mereka bangun di atas air matanya.