Poin Reward Kartu Kredit Itu Membawa Aku ke Pintu Kamar Hotel Tempat Tunanganku Menjual Seluruh Hidupku
'Maaf, Ibu Galuh, reservasi atas nama Bapak Elang Dananjaya sudah melakukan check-in dua jam yang lalu menggunakan poin reward kartu kredit Platinum Anda,' suara resepsionis The Azure Sanctuary itu terdengar datar, namun di telinga Galuh, itu terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi kewarasannya. Galuh berdiri terpaku di lobi hotel yang beraroma kayu cendana itu. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Baru saja, setengah jam yang lalu, Elang mengiriminya pesan singkat: 'Sayang, rapat di Surabaya molor sampai besok pagi. Aku baru mau istirahat di hotel. Love you.'
Surabaya. Kata itu berputar-putar di kepala Galuh seperti kaset rusak. Bagaimana mungkin Elang berada di Surabaya jika sistem reservasi hotel mewah yang hanya berjarak lima belas menit dari kantor Galuh ini mencatat namanya? Dan yang lebih menyakitkan, Elang menggunakan poin reward dari kartu kredit tambahan yang Galuh berikan padanya sebagai hadiah pertunangan enam bulan lalu. Galuh bukan tipe wanita yang posesif. Dia adalah arsitek sukses dengan karier cemerlang, sementara Elang adalah pria berkarisma yang menjabat sebagai manajer pemasaran di sebuah perusahaan rintisan. Mereka adalah 'power couple' di mata teman-teman mereka.
Galuh menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. 'Kamar berapa?' tanyanya dengan suara yang dia usahakan tetap tenang, meski getarannya tak bisa disembunyikan. Resepsionis itu tampak ragu, melihat raut wajah Galuh yang pucat pasi. 'Mohon maaf, Ibu, sesuai prosedur privasi kami tidak bisa...' Belum sempat kalimat itu selesai, Galuh meletakkan kartu identitasnya dan kartu kredit Platinum yang sama di atas meja marmer. 'Saya pemilik akun utama poin tersebut. Jika terjadi penggunaan ilegal, saya bisa melaporkan ini sebagai tindak penipuan sekarang juga. Pilihannya ada di tangan Anda, Mbak.'
Setelah perdebatan batin yang terlihat dari kerutan di dahi sang resepsionis, wanita itu akhirnya berbisik, 'Lantai dua belas, kamar 1208, Ibu.' Galuh tidak menunggu lagi. Dia melangkah menuju lift dengan kaki yang terasa seperti terbuat dari timah. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Galuh menatap bayangannya sendiri. Riasan wajahnya masih sempurna, pakaian kerjanya masih rapi, tapi di balik itu semua, dunianya sedang runtuh sepotong demi sepotong. Dia teringat bagaimana Elang berlutut di tepi pantai Bali tahun lalu, menjanjikan masa depan yang penuh kejujuran. 'Aku tidak butuh harta, Galuh. Aku hanya butuh kamu di sampingku,' katanya saat itu. Sekarang, kata-kata itu terasa seperti racun yang mengendap di lambungnya.
Lift berdenting. Lantai dua belas. Koridor hotel itu sangat sunyi, hanya ada suara langkah kaki Galuh yang tertutup karpet tebal. Dia berhenti tepat di depan pintu 1208. Dadanya sesak. Ada bagian dari dirinya yang sangat ingin percaya bahwa ini semua hanyalah kesalahan sistem. Mungkin ada orang lain yang bernama Elang Dananjaya? Mungkin kartu kreditnya dikloning? Namun, saat dia mendekatkan telinganya ke pintu, dia mendengar tawa yang sangat dia kenal. Itu tawa Elang. Dan ada tawa lain. Tawa seorang wanita yang juga sangat dia kenal.
Nindya. Sahabat terbaiknya sejak SMA. Orang yang membantu Galuh memilih gaun pengantin dua minggu yang lalu. Orang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya tentang kesibukan Elang. Galuh merasa dunia berputar. Perutnya mual. Dengan tangan gemetar, dia mencoba menekan gagang pintu, tapi tentu saja terkunci. Dia kemudian mengetuk pintu itu perlahan, bukan dengan kemarahan, tapi dengan kepasrahan yang luar biasa. 'Elang? Ini aku, Galuh,' ucapnya lirih.
Keheningan mendadak mencekam di balik pintu itu. Galuh bisa mendengar suara grasak-grusuk, suara barang jatuh, dan bisikan panik. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka sedikit. Wajah Elang muncul dari balik celah. Rambutnya berantakan, kemejanya tidak dikancingkan dengan benar. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi ketakutan yang murni. 'Galuh? Kamu... kok bisa di sini? Bukannya kamu ada rapat?' Elang mencoba membangun narasi pertahanan, tapi matanya tidak bisa berbohong.
Galuh mendorong pintu itu dengan tenaga yang entah datang dari mana. Dia melangkah masuk dan melihat Nindya duduk di tepi ranjang, mengenakan jubah mandi putih hotel, wajahnya menunduk dalam-dalam. Di atas meja kerja kamar itu, berserakan kertas-kertas yang membuat jantung Galuh benar-benar berhenti berdetak. Itu bukan sekadar perselingkuhan. Itu adalah dokumen-dokumen proyek pembangunan apartemen di Jakarta Selatan yang sedang dikerjakan firma arsitek milik keluarga Galuh. Dokumen rahasia yang hanya bisa diakses oleh Galuh dan ayahnya.
'Jadi, ini bukan cuma soal kalian berdua di tempat tidur?' Galuh menunjuk kertas-kertas itu dengan jari yang bergetar. Elang terdiam, wajahnya berubah dari takut menjadi dingin. 'Galuh, dengarkan dulu. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan.' 'Lalu seperti apa, Elang? Kamu menggunakan poin reward-ku untuk membawa sahabatku ke hotel ini supaya kalian bisa mencuri data tender ayahku? Kamu menjual rencana desainku ke kompetitor?' Galuh berteriak, air mata akhirnya pecah mengaliri pipinya.
Nindya akhirnya angkat bicara, suaranya pelan namun tajam. 'Ayahmu tidak pernah menghargai kerja keras Elang, Galuh. Elang sudah memberikan segalanya untuk perusahaan kalian, tapi dia tetap dianggap seperti asisten. Kami hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hak Elang.' Galuh tertawa pahit, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. 'Hak? Hak apa, Nindya? Kami akan menikah dua minggu lagi! Segala yang aku punya akan menjadi miliknya. Tapi ternyata itu tidak cukup bagi kalian? Kalian butuh menghancurkan keluargaku juga?'
Elang mendekat, mencoba menyentuh bahu Galuh, tapi Galuh menepisnya dengan kasar. 'Jangan sentuh aku! Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan fakta bahwa kamu tidur dengan dia. Tapi fakta bahwa selama ini, setiap ciumanmu, setiap kata cintamu, semuanya adalah bagian dari transaksi bisnis. Kamu tidak pernah mencintaiku, kan?' Elang terdiam cukup lama, lalu dengan nada suara yang paling datar yang pernah Galuh dengar, dia menjawab, 'Cinta tidak membayar tagihan, Galuh. Kamu hidup di awang-awang dengan idealisme arsitekturmu, sementara aku harus merangkak dari bawah untuk bisa berdiri sejajar dengan keluargamu.'
Galuh merasa seperti baru saja ditusuk dengan pisau berkarat. 'Sejajar? Dengan cara mencuri? Kamu tidak akan pernah sejajar dengan siapa pun, Elang. Karena kamu tidak punya integritas.' Galuh mengambil ponselnya, memotret semua dokumen yang ada di atas meja, juga memotret Elang dan Nindya yang tampak kaget. 'Apa yang kamu lakukan?' tanya Elang panik. 'Memastikan kalian berdua tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di industri ini lagi. Dan oh, satu lagi,' Galuh melepas cincin berlian di jari manisnya, lalu melemparkannya ke dalam gelas sampanye yang masih setengah penuh di atas meja.
'Cincin itu harganya lebih mahal dari harga diri kalian berdua digabungkan. Simpan saja, anggap itu pesangon karena kamu sudah aku pecat dari hidupku,' Galuh berbalik, berjalan menuju pintu dengan punggung tegak meskipun hatinya hancur berkeping-keping. Di koridor, dia hampir terjatuh karena kakinya yang lemas, tapi dia terus berjalan. Dia harus segera menelepon ayahnya. Dia harus menyelamatkan perusahaan. Dia harus menyelamatkan sisa-sisa dirinya yang belum hancur.
Saat mencapai lobi, resepsionis yang tadi menatapnya dengan kasihan masih ada di sana. Galuh berhenti sejenak, memberikan senyum tipis yang penuh luka. 'Terima kasih, Mbak. Poin saya ternyata memang berguna untuk menunjukkan kebenaran.' Galuh keluar dari hotel, disambut oleh udara Jakarta yang panas dan menyesakkan. Dia masuk ke dalam mobilnya, mengunci pintu, dan akhirnya meraung sejadi-jadinya di balik kemudi. Namun, di tengah tangisnya, dia tahu satu hal: lebih baik hancur sekarang daripada menghabiskan sisa hidupnya dengan iblis yang menyamar menjadi malaikat.
Namun, saat dia hendak menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Pesan itu berisi sebuah foto: Elang sedang berbicara dengan seseorang di dalam sebuah mobil hitam. Dan orang itu adalah... Pak Baskara, paman Galuh sendiri yang selama ini menjadi musuh dalam selimut di perusahaan ayahnya. Galuh tersadar, pengkhianatan ini jauh lebih besar dari sekadar skandal asmara. Ini adalah konspirasi untuk menggulingkan ayahnya, dan Elang hanyalah salah satu bidaknya. Galuh menghapus air matanya, mengganti tangisnya dengan kemarahan yang dingin. Permainan baru saja dimulai, dan dia tidak akan membiarkan mereka menang.