Top-Up Otomatis Rp 50 Ribu Itu Ternyata Harga Untuk Mengetahui Bahwa Aku Hanyalah Orang Asing di Hidup Istriku Sendiri
'Kamu nggak perlu repot-repot memeriksa laporan pajak tahun ini, Mas. Biar aku saja yang urus ke konsultan,' ucap Larasati sore itu, suaranya seringan kapas, namun matanya tidak sedetik pun beralih dari layar tabletnya. Dananjaya, yang sedang menyesap kopi hitam tanpa gula di meja makan marmer mereka, hanya mengangguk pelan. Baginya, Larasati adalah definisi istri sempurna: cerdas, mandiri, dan selalu punya cara untuk meringankan bebannya. Sebagai arsitek papan atas di Jakarta, Dananjaya terbiasa dengan struktur yang kokoh dan presisi. Dia pikir, pernikahannya adalah bangunan paling stabil yang pernah ia rintis. Namun, presisi itu hancur hanya karena sebuah notifikasi yang masuk ke tablet yang ditinggalkan Larasati saat wanita itu pergi mandi.
Sebuah surel konfirmasi transaksi otomatis masuk. Nilainya kecil, hanya lima puluh ribu rupiah. 'Top-up saldo JakLingko berhasil - Abimanyu Pangestu'. Dananjaya mengerutkan kening. Mereka tidak memiliki anak. Nama 'Abimanyu' sama sekali asing di keluarga besar mereka. Dan yang lebih mengusik logikanya adalah frekuensi transaksi itu. Saat ia memberanikan diri membuka folder 'Finance' yang tidak terkunci, ia menemukan ribuan transaksi serupa selama tiga tahun terakhir. Uang sekolah, biaya kursus robotik, hingga cicilan asuransi pendidikan atas nama anak yang sama. Seluruh pondasi kepercayaan yang dibangun Dananjaya selama tujuh tahun terasa retak dalam satu tarikan napas.
Hari-hari berikutnya adalah siksaan bagi Dananjaya. Ia tetap menjadi suami yang hangat, namun di balik layar, ia mulai membedah setiap inci kehidupan Larasati yang selama ini ia anggap transparan. Ia menemukan bahwa setiap hari Selasa dan Kamis, saat Larasati pamit untuk meeting dengan klien interior di kawasan BSD, GPS mobilnya menunjukkan lokasi yang berbeda: sebuah perumahan menengah di pinggiran Bintaro. Dananjaya merasa seperti sedang membangun rumah di atas pasir hisap. Setiap bukti yang ia temukan justru membuatnya semakin tenggelam dalam ketidakpastian. Siapa Abimanyu? Dan kenapa nama belakang anak itu 'Pangestu', yang merupakan nama belakang dari sahabat terbaiknya sendiri, Bramantyo Pangestu?
Dananjaya memutuskan untuk tidak langsung melabrak. Ia adalah pria yang sabar, seorang arsitek yang tahu bahwa merobohkan bangunan butuh perhitungan agar tidak melukai diri sendiri. Ia mengikuti Larasati diam-diam. Di sebuah sore yang mendung di depan sebuah sekolah dasar swasta, ia melihat Larasati turun dari mobil. Senyum yang biasanya diberikan Larasati padanya saat pulang kerja—senyum tulus yang ia puja—kini diberikan kepada seorang bocah laki-laki berusia sekitar enam tahun yang berlari memeluknya. Dan yang lebih menghancurkan hati Dananjaya adalah sosok pria yang keluar dari gerbang sekolah dan merangkul bahu Larasati dengan begitu intim. Itu Bramantyo. Pria yang bulan lalu baru saja ia beri modal usaha sebesar dua miliar rupiah.
Rasa mual yang hebat menghantam perut Dananjaya. Ia memarkir mobilnya agak jauh, jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih. Di dalam kepalanya, ia mencoba menyusun kembali garis waktu. Tujuh tahun lalu, saat ia menikahi Larasati, Bramantyo adalah saksi nikah mereka. Saat itu, Larasati sempat menghilang selama tiga bulan dengan alasan melanjutkan studi singkat di Singapura. Apakah di sana semuanya dimulai? Ataukah jauh sebelumnya? Dananjaya menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang menjalani pernikahan, melainkan sebuah pertunjukan teater di mana ia adalah satu-satunya penonton yang membayar tiket paling mahal sementara semua orang di panggung sedang menertawakannya.
Malam itu, Dananjaya menunggu Larasati di ruang tamu dalam kegelapan. Saat pintu terbuka dan aroma parfum Larasati yang elegan memenuhi ruangan, Dananjaya menyalakan lampu. Di atas meja kopi, ia telah meletakkan tiga benda: print-out mutasi rekening selama tiga tahun, foto Larasati di depan sekolah sore tadi, dan surat pengunduran diri yang ia buatkan untuk Bramantyo dari perusahaan konsultan mereka. Wajah Larasati memucat, namun yang membuat Dananjaya semakin hancur adalah ekspresi istrinya yang tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Larasati justru menarik napas panjang, meletakkan tas tangannya, dan duduk di hadapan Dananjaya dengan ketenangan yang mengerikan.
'Aku tahu hari ini akan datang, Mas,' ujar Larasati dingin. 'Tapi tolong, jangan libatkan Abimanyu. Dia tidak tahu apa-apa.' Suara Larasati tidak bergetar. Ia justru mulai menceritakan bagaimana ia dan Bramantyo sudah menjalin hubungan jauh sebelum Dananjaya masuk ke dalam hidupnya. Dananjaya hanyalah sebuah rencana cadangan yang terlalu menguntungkan untuk dilewatkan. Dananjaya adalah penyokong dana bagi kehidupan ideal yang ingin dibangun Larasati dan Bramantyo. Setiap sen yang dikirim Dananjaya untuk 'belanja bulanan' atau 'investasi emas' istrinya, ternyata dialihkan untuk membangun rumah tangga paralel di Bintaro.
Penderitaan Dananjaya mencapai puncaknya ketika ia menyadari bahwa selama ini, setiap kali ia mengeluh tentang kelelahannya bekerja, Larasati akan memijat bahunya sambil membisikkan kata-kata semangat, yang ternyata hanyalah cara agar Dananjaya tetap menjadi mesin uang yang produktif. Bahkan Bramantyo, pria yang ia anggap saudara, sering mengajaknya minum kopi hanya untuk memastikan Dananjaya tidak menaruh curiga pada pengeluaran-pengeluaran aneh di kantor. Mereka berdua bekerja sama secara sistematis untuk memeras Dananjaya secara finansial dan emosional.
Namun, Dananjaya bukan hanya seorang pria yang terluka; ia adalah seorang arsitek. Dan arsitek tahu bagaimana cara menghancurkan struktur dari titik terlemahnya. Selama berbulan-bulan, ia diam-diam telah memindahkan aset pribadinya ke rekening yang tidak bisa dilacak. Ia juga menemukan bahwa proyek-proyek yang dikelola Bramantyo di perusahaan mereka penuh dengan penggelapan dana yang disengaja. Dananjaya tidak ingin bercerai dengan tangan kosong. Ia ingin mereka merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu malam, sebagaimana ia kehilangan dunianya hanya dalam satu notifikasi e-wallet.
'Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja dengan membawa modal yang aku berikan ke Bramantyo?' tanya Dananjaya dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti berbisik. Larasati sedikit mengernyit, mulai merasakan ada yang salah. Dananjaya kemudian menyodorkan sebuah dokumen lagi. Itu adalah bukti bahwa kepemilikan rumah di Bintaro—rumah yang ditinggali Larasati dan Bramantyo secara rahasia—sebenarnya tercatat atas nama sebuah perusahaan cangkang yang dikendalikan oleh Dananjaya sendiri. Ia telah membelinya lewat perantara sejak ia pertama kali curiga sebulan lalu.
Malam itu menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah sandiwara panjang. Larasati mencoba menangis, memohon agar Dananjaya tidak mengusir mereka, terutama demi Abimanyu. Namun, empati Dananjaya telah mati bersamaan dengan terbukanya rahasia itu. Baginya, anak itu mungkin tidak bersalah, tapi ia adalah monumen hidup dari pengkhianatan paling kejam yang pernah ia alami. Dananjaya berdiri, meninggalkan Larasati yang bersimpuh di lantai marmer dingin, menuju kamar kerja untuk menuntaskan langkah terakhirnya: melaporkan Bramantyo atas dugaan korupsi perusahaan ke pihak berwenang besok pagi.
Saat matahari terbit di ufuk timur Jakarta yang berpolusi, Dananjaya berdiri di balkon apartemennya, menatap gedung-gedung tinggi yang ia bantu bangun. Ia menyadari bahwa membangun gedung jauh lebih mudah daripada membangun kepercayaan. Langit tampak kemerahan, seperti luka yang baru terbuka. Ia tahu proses hukum akan panjang dan melelahkan, tapi ia merasa jauh lebih ringan. Pengkhianatan Larasati mungkin telah meruntuhkan rumah tangganya, tapi ia tidak akan membiarkan wanita itu membawa satu batu bata pun dari sisa-sisa hidupnya.
Di saku kemejanya, kartu JakLingko atas nama Abimanyu itu masih tersimpan. Dananjaya menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya mematahkannya menjadi dua dan membuangnya ke tempat sampah. Tidak akan ada lagi top-up otomatis. Tidak akan ada lagi kebohongan yang ia biayai dengan keringatnya sendiri. Mulai hari ini, Dananjaya akan menggambar denah baru untuk hidupnya, denah di mana tidak ada ruang untuk orang-orang yang hanya tahu cara menghancurkan tanpa pernah tahu cara membangun.