Martabak Jam 2 Pagi dan Nama Panggilan 'Si Cabe Rawit' yang Menghancurkan Seluruh Waras-ku

Martabak Jam 2 Pagi dan Nama Panggilan 'Si Cabe Rawit' yang Menghancurkan Seluruh Waras-ku

Skandal & Pengkhianatan

Martabak Jam 2 Pagi dan Nama Panggilan 'Si Cabe Rawit' yang Menghancurkan Seluruh Waras-ku



Cahaya biru dari layar ponsel itu terasa seperti sembilu yang menyayat kornea mata Sasmita. Di keheningan kamar tidur mereka yang beraroma lavender—aroma yang dipilihkan Galendra agar istrinya bisa tidur nyenyak—Sasmita justru merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Di sana, di bawah riwayat pesanan aplikasi GoFood yang seharusnya hanya berisi memori tentang makan malam keluarga, terdapat satu entri yang mencolok. Jam 02.14 dini hari. Martabak manis spesial dengan ekstra keju dan cokelat. Alamat pengirimannya bukan ke rumah ini, bukan pula ke kantor Galendra di Sudirman. Tujuannya adalah Apartemen Menteng Park, Tower C, Unit 2102. Dan yang paling menghancurkan adalah nama penerimanya: 'Si Cabe Rawit'.

Sasmita menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang terasa seolah akan meledak. Ia menoleh ke samping, menatap sosok Galendra yang mendengkur halus dengan wajah tanpa dosa. Lelaki itu adalah pilar hidupnya selama sepuluh tahun terakhir. Galendra yang selalu ingat hari ulang tahun ibunya, Galendra yang selalu membawakan bunga setiap kali pulang dari perjalanan dinas, dan Galendra yang Selasa malam lalu pamit untuk lembur demi mengejar deadline merger perusahaan. Kini, martabak manis itu menjadi bukti bisu bahwa lembur hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur yang dirancang untuk menipu Sasmita.

Sasmita tidak menangis. Air matanya seolah menguap oleh panasnya amarah yang membara di balik tulang rusuknya. Ia mulai menggulir lebih jauh ke bawah. Ini bukan pertama kalinya. Ada pesanan sate padang di hari Kamis minggu lalu, ada pesanan kopi literan di hari Minggu saat Galendra pamit pergi ke gym. Semuanya dikirim ke alamat yang sama. Menteng Park. Si Cabe Rawit. Nama itu terasa seperti ejekan yang kotor di telinga Sasmita. Siapa perempuan itu? Mahasiswi simpanan? Atau rekan kerja yang haus perhatian? Sasmita merasa dunia yang ia bangun dengan susah payah, bata demi bata kesetiaan, kini runtuh hanya karena satu riwayat pesanan makanan.

Pagi harinya, Sasmita bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyiapkan kemeja van heusen milik Galendra, memasangkan dasi dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap terkendali, dan mengecup pipi suaminya dengan kehangatan yang palsu. Saat Galendra berangkat dengan mobil BMW hitamnya, Sasmita tidak pergi ke butik miliknya. Ia justru memanggil taksi online, tujuannya hanya satu: Menteng Park. Di dalam taksi, ia terus meremas tas tangan kulitnya hingga jemarinya memutih. Ia membayangkan berbagai skenario konfrontasi. Apakah ia akan menjambak perempuan itu? Atau ia akan langsung melemparkan surat cerai ke wajah Galendra?

Sesampainya di lobi apartemen yang megah itu, Sasmita menyadari bahwa akses masuk ke Tower C tidaklah mudah. Namun, keberuntungan—atau mungkin takdir yang ingin menghancurkannya lebih dalam—berpihak padanya. Seorang kurir paket masuk, dan Sasmita menyelinap di belakangnya dengan langkah anggun namun penuh tekad. Ia naik ke lantai 21, jantungnya berdegup kencang seirama dengan denting lift yang menandakan setiap lantai. Saat pintu lift terbuka, lorong sunyi itu menyambutnya dengan aroma pengharum ruangan yang mahal dan steril.

Ia berdiri di depan unit 2102. Tangannya terangkat, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan ritme yang tegas. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Dari dalam, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Suara tawa kecil seorang wanita terdengar samar, disusul oleh suara bariton pria yang sangat ia kenal. Suara yang setiap pagi membisikkan kata 'Aku sayang kamu' di telinganya. Pintu terbuka perlahan, dan seorang wanita muda dengan daster sutra tipis muncul dengan wajah yang berseri-seri. Wajah itu... wajah yang sangat tidak asing bagi Sasmita.

'Mbak Sasmita?' suara wanita itu bergetar, wajahnya yang tadi ceria seketika berubah pucat pasi seputih kapas. Sasmita merasa dunianya benar-benar berhenti berputar. Wanita di depannya bukan orang asing. Dia adalah Gendis, adik sepupu kesayangannya yang setahun lalu meminta bantuan Galendra untuk dicarikan tempat magang di Jakarta. Gendis yang selalu Sasmita belikan baju-baju bermerek, Gendis yang ia anggap sebagai adik kandung sendiri.

'Jadi... ini alasan kamu nggak pernah pulang ke rumah tante di hari libur, Gendis?' tanya Sasmita dengan suara yang sangat tenang, namun mengandung racun yang mematikan. Galendra muncul dari balik punggung Gendis, hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek, memegang sebuah gelas kopi. Saat matanya bertemu dengan mata Sasmita, gelas itu terlepas dari tangannya dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer, sama seperti kepingan hati Sasmita yang kini hancur tak bersisa.

'Sas, ini nggak seperti yang kamu lihat...' Galendra mencoba mendekat, namun Sasmita mundur satu langkah. Matanya menatap tajam ke arah Gendis yang mulai terisak. Di atas meja makan di dalam unit itu, Sasmita bisa melihat kotak martabak yang ia lihat di aplikasi semalam. Martabak yang masih tersisa separuh, menjadi saksi bisu pengkhianatan yang paling menjijikkan.

'Jangan sebut namaku dengan mulut yang sudah mencium adik sepupuku sendiri, Galen,' desis Sasmita. Ia merasa mual, rasa ingin muntah yang sangat hebat menyerangnya. Pengkhianatan ini bukan hanya tentang perselingkuhan, tapi tentang bagaimana dua orang yang paling ia percayai menusuknya tepat di jantung di saat yang bersamaan. Sasmita membalikkan badan, ia tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Tidak ada penjelasan yang bisa membenarkan martabak jam 2 pagi dan pengkhianatan darah.

Ia berjalan menuju lift dengan kepala tegak, meskipun air mata kini mulai mengalir deras membasahi pipinya. Ia tahu, setelah hari ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Galendra mencoba mengejarnya, namun Sasmita sudah masuk ke dalam lift dan menekan tombol lobi. Saat pintu lift tertutup, ia melihat bayangan dirinya di cermin lift. Seorang wanita yang hancur, namun juga seorang wanita yang baru saja membebaskan dirinya dari kebohongan yang selama ini ia peluk erat-erat. Perang baru saja dimulai, dan Sasmita memastikan ia akan menjadi pemenangnya.

Di dalam taksi menuju kantor pengacaranya, Sasmita membuka ponselnya. Ia memblokir nomor Galendra dan Gendis tanpa ragu. Ia teringat semua momen di mana ia merasa curiga namun selalu ia tepis demi menjaga keharmonisan rumah tangga. Kini, ia menyesali setiap detik kepercayaan yang ia berikan secara cuma-cuma. Ia akan mengambil semuanya kembali. Rumah, perusahaan, dan harga diri. Galendra dan 'Si Cabe Rawit' itu tidak akan tahu apa yang akan menimpa mereka dalam 24 jam ke depan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url