Dua Puluh Kilometer per Jam Menuju Kehancuran: Bagaimana Mutasi Kartu E-Toll Menguak Sandiwara Menjijikkan Suamiku dan Sepupu Kesayanganku
'Kembaliannya mau didonasikan saja, Bu?' Suara kasir wanita di hadapan Kirana memecah keheningan yang sejak tadi membekukan kepalanya. Kirana mengerjap perlahan, memandang tumpukan sayur organik dan botol susu almond di dalam keranjang belanjanya yang bahkan belum sempat ia masukkan ke dalam tas jinjing. Di tangan kanannya, selembar kertas mutasi rekening koran yang baru ia cetak dari bank di seberang jalan masih terlipat rapi, bergetar halus mengikuti ritme napasnya yang mendadak terasa sempit.
'Mbak? Jadi didonasikan?' Kasir itu mengulang pertanyaannya, kali ini dengan senyum profesional yang sedikit dipaksakan. Kirana hanya mengangguk pelan, menyodorkan kartu debitnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya tidak berada di kasir supermarket premium di bilangan Jakarta Selatan ini. Pikirannya tertinggal pada deretan angka dan kode transaksi yang tercetak di atas kertas putih di genggamannya. Lebih tepatnya, pada catatan penggunaan kartu e-toll bernomor seri belakang sembilan-delapan-dua yang ia berikan kepada Sekar, sepupu yatim piatu yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Sekar, yang saat ini masih berkuliah di semester akhir, selalu beralasan membutuhkan mobil untuk bimbingan skripsi dan magang di daerah Kuningan. Sebagai kakak sepupu yang baik, Kirana dengan senang hati meminjamkan salah satu mobil keluarga beserta kartu e-toll yang terhubung langsung dengan rekening otomatisnya. Namun, mutasi yang baru saja ia cetak menunjukkan pola yang sangat tidak masuk akal. Setiap hari Selasa pagi, tepat pukul sepuluh, kartu e-toll tersebut selalu mencatat transaksi keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan. Hari Selasa adalah hari yang sama di mana Dananjaya, suaminya yang berprofesi sebagai arsitek lanskap ternama, selalu pamit untuk menghadiri rapat koordinasi proyek di kawasan Pantai Indah Kapuk.
Dua lokasi yang terpisah jarak hampir delapan puluh kilometer. Satu di utara Jakarta yang dingin oleh angin laut, dan satu lagi di selatan, di lereng perbukitan Bogor yang sejuk. Kirana merasakan dadanya berdenyut nyeri, sebuah firasat buruk mulai merayap naik seperti racun yang lambat laun melumpuhkan akal sehatnya. Selama ini, Dananjaya adalah sosok suami sempurna yang hangat, sedangkan Sekar adalah gadis lugu yang selalu mencium tangannya setiap kali bertamu. Bagaimana mungkin kedua kutub yang sangat ia sayangi itu bisa berada di koordinat yang sama di saat mereka seharusnya berada di tempat yang saling bertolak belakang?
Kirana melangkah keluar menuju area parkir bawah tanah yang remang-remang. Suara tumit sepatunya berdentang, menggema di antara pilar-pilar beton yang dingin. Ia masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan rapat, lalu menyandarkan kepalanya pada kemudi. Di dalam keheningan kabin mobil, ia membuka kembali lipatan kertas itu. Matanya menatap tajam pada baris transaksi hari Selasa lalu. Pukul sepuluh lewat lima belas menit, gerbang tol Sentul Selatan terlewati. Dan di hari yang sama, pada pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, ada sebuah transaksi debit dari kartu utama milik Dananjaya di sebuah kedai kopi lokal yang terletak hanya lima ratus meter dari gerbang tol tersebut.
Semua kepingan puzzle itu mendadak jatuh dan saling mengunci dengan presisi yang mengerikan. Kirana mengingat kembali aroma parfum Dananjaya yang belakangan ini terasa lebih manis, mirip dengan aroma buah persik dan melati yang biasa dipakai Sekar. Ia juga teringat bagaimana Sekar tiba-tiba memiliki beberapa tas desainer baru dengan alasan 'hadiah dari proyek sampingan dosen'. Kebohongan demi kebohongan yang selama ini tersamar rapi di bawah kedok kebaikan keluarga kini mulai mengelupas, menyisakan bau busuk pengkhianatan yang menyesakkan dada.
Kirana tidak menangis. Air matanya seolah telah membeku di dalam kantung mata, tertahan oleh rasa harga diri yang menolak untuk hancur seketika. Ia menghidupkan mesin mobil, mengarahkannya keluar dari gedung belanjaan, bukan menuju rumah mereka di Kebayoran, melainkan membelah jalanan tol menuju selatan. Hari ini adalah hari Selasa. Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit pagi. Ia memiliki waktu tepat satu jam sebelum drama mingguan itu kembali dimulai di gerbang tol yang sama.
Perjalanan sejauh empat puluh kilometer itu terasa bagai perjalanan tanpa akhir. Di bawah langit Jakarta yang mulai mendung, Kirana mengemudi dengan kecepatan konstan, membiarkan pikirannya memutar kembali memori sepuluh tahun pernikahannya dengan Dananjaya. Mereka memulai segalanya dari bawah, dari sebuah kontrakan sempit di pinggiran kota hingga kini mampu memiliki rumah mewah dengan taman luas yang dirancang sendiri oleh suaminya. Dan Sekar, gadis kecil yang dahulu sering ia suapi ketika bibinya meninggal dunia, kini telah tumbuh menjadi wanita muda yang tampaknya telah mempelajari cara merebut kebahagiaan orang lain dengan sangat baik.
Setibanya di dekat gerbang tol Sentul Selatan, Kirana memarkirkan mobilnya di bahu jalan yang agak terlindung oleh rimbunnya pohon pinus. Ia mematikan mesin, menurunkan kaca jendela sedikit untuk membiarkan udara pegunungan yang dingin masuk, lalu menunggu dengan mata yang tak lepas dari lajur keluar tol. Detik demi detik berlalu bagai tetesan air yang lambat di atas batu karang. Tepat pukul sepuluh lewat sepuluh, sebuah mobil SUV hitam yang sangat ia kenal—mobil yang biasa dikendarai Dananjaya untuk 'bertemu klien'—terlihat melaju perlahan melewati gardu pembayaran tol.
Jantung Kirana berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga menimbulkan rasa sakit yang nyata. Ia menahan napas saat melihat dari kejauhan, mobil hitam itu berhenti sejenak di sisi jalan setelah melewati gerbang tol. Tak lama kemudian, sebuah mobil kota berwarna putih milik Kirana yang dipinjam Sekar, tampak menyusul di belakangnya. Dari dalam mobil putih itu, seorang gadis dengan rambut panjang yang dikuncir kuda turun dengan langkah riang. Itu Sekar. Gadis itu mengenakan gaun musim panas berwarna krem, sangat kontras dengan penampilannya yang biasanya sederhana saat berada di rumah Kirana.
Kirana menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Sekar membuka pintu penumpang depan mobil SUV suaminya, lalu masuk ke dalam dengan senyum yang begitu lebar hingga matanya menyipit. Sebelum pintu tertutup, Kirana sempat melihat siluet Dananjaya yang condong ke arah kiri, menyambut Sekar dengan sebuah kecupan hangat di kening yang berlangsung cukup lama—sebuah kecupan yang biasanya didekasikan untuknya setiap kali pria itu pulang kerja.
Dunia di sekeliling Kirana seketika runtuh tanpa suara. Rasa pening yang hebat menyerang kepalanya, membuat pandangannya mengabur sejenak. Namun, ia menolak untuk pingsan atau berteriak histeris. Ia menggenggam erat roda kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Kebencian yang murni dan dingin mulai menggantikan rasa sakit yang membakar. Mereka tidak hanya mengkhianati komitmen pernikahan, tetapi juga meremehkan kecerdasannya dengan mengira sandiwara murah ini tidak akan pernah terendus.
Mobil SUV hitam itu kembali melaju, diikuti oleh mobil kota putih yang kini dikemudikan oleh seorang pria asing yang tampaknya adalah supir sewaan yang sengaja disewa untuk membawa mobil Sekar ke tempat tujuan mereka. Kirana menyalakan kembali mesin mobilnya tanpa menimbulkan suara yang mencolok. Ia menjaga jarak aman, mengikuti kedua kendaraan itu menyusuri jalanan berliku di daerah perbukitan Sentul yang sunyi. Ia tahu betul daerah ini; ini adalah kawasan tempat peristirahatan mewah yang sering disewa oleh kaum elit Jakarta untuk akhir pekan yang tenang.
Kedua mobil itu akhirnya berbelok masuk ke dalam sebuah gerbang besi hitam yang tinggi, di balik rimbunnya tanaman rambat bougenville. Di atas gerbang itu tertera papan kayu kecil bertuliskan 'Villa Amerta'. Kirana menghentikan mobilnya beberapa puluh meter di luar gerbang, mengamati dari balik kaca film yang gelap. Ia melihat Dananjaya turun dari mobil, merangkul pinggang Sekar dengan posesif saat mereka berjalan menuju pintu masuk utama bangunan bergaya kolonial modern tersebut.
Kirana meraih ponselnya, mengambil beberapa foto dan merekam video pendek yang memperlihatkan kebersamaan mereka dengan sangat jelas. Tangannya tidak lagi gemetar. Ketakutan dan kesedihan yang ia rasakan beberapa jam lalu kini telah mengristal menjadi sebuah rencana pembalasan yang dingin dan terstruktur. Ia tidak akan melabrak mereka sekarang. Ia tidak akan membiarkan dirinya terlihat seperti wanita malang yang mengemis cinta di depan pintu villa sewaan.
Ia menunduk, menatap layar ponselnya yang menampilkan nomor telepon pengacara perceraian terbaik di Jakarta, seorang kawan lama yang pernah berutang budi padanya. Sebelum menekan tombol panggil, Kirana kembali melihat ke arah villa itu untuk terakhir kalinya. Sandiwara indah yang mereka bangun di atas air matanya akan segera berakhir, dan ia sendiri yang akan memastikan bahwa kejatuhan mereka berdua akan menjadi tontonan yang paling merusak dalam hidup mereka.