Aplikasi Mobil Listrik Ungkap Alamat Selingkuhan Suamiku di Jam Tiga Pagi

Aplikasi Mobil Listrik Ungkap Alamat Selingkuhan Suamiku di Jam Tiga Pagi

Skandal & Pengkhianatan

Aplikasi Mobil Listrik Ungkap Alamat Selingkuhan Suamiku di Jam Tiga Pagi



'Berapa harga wagyu A5 ini per seratus gram, Mas?' Suara Dananjaya terdengar begitu renyah, mengalun santai di antara deretan daging premium di supermarket kawasan Jakarta Selatan itu. Dia menoleh ke arahku dengan senyum lebar yang biasanya membuat hatiku hangat. 'Sayang, menurutmu kita panggang steak malam ini atau besok saja?'

Aku tidak menjawab. Tanganku yang memegang stoples madu organik mulai terasa dingin dan gemetar. Di tangan kiriku, layar ponsel pintar menyala redup, menampilkan sebuah aplikasi manajemen kendaraan listrik yang baru kami beli dua bulan lalu. Sebuah mobil listrik mewah yang sangat dibanggakan Dananjaya. Aplikasi itu memiliki fitur sinkronisasi otomatis yang mengirimkan laporan konsumsi daya dan riwayat pengisian baterai langsung ke akun keluarga kami. Di sana, tertera dengan sangat jelas: 'Pengisian Daya Berhasil - Asteria Residence, Kavling B3-12. Durasi: 01:15 - 04:30 WIB. Total Daya: 45 kWh.'

Asteria Residence. Itu bukan nama bengkel resmi, bukan pula stasiun pengisian daya umum di rest area tol Cikampek tempat Dananjaya mengaku terjebak semalaman karena mobilnya mogok. Itu adalah alamat kondominium mewah di kawasan Senopati. Dan Kavling B3-12 adalah nomor parkir pribadi milik Kirana. Sahabatku sejak masa kuliah, perempuan yang baru saja aku bantu memilih dekorasi interior apartemennya tiga bulan yang lalu.

'Laras? Kamu melamun?' Dananjaya mendekat, mengusap bahuku dengan lembut. Sentuhan yang biasanya menenangkan itu kini terasa seperti sengatan listrik yang dingin dan menjijikkan. Aku buru-buru mematikan layar ponsel, memasukkannya ke dalam saku mantel tipis yang kukenakan, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis.

'Ah, tidak apa-apa. Aku cuma sedang berpikir, bukankah semalam kamu bilang mobilmu mati total di KM 57 karena sistem baterainya malfungsi?' tanyaku, mencoba menjaga agar suaraku tidak bergetar. Mataku menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap milik suamiku, mencari celah kebohongan yang mungkin tersirat di sana.

Dananjaya tidak berkedip. Dia tertawa kecil, tipe tawa renyah yang selalu digunakannya saat mencairkan suasana dalam rapat-rapat bisnisnya yang penting. 'Iya, betul. Menyebalkan sekali, kan? Untung ada derek dari pengelola tol. Aku terpaksa tidur di dalam mobil sampai subuh karena nunggu mobil derek cadangan yang bisa bawa mobil listrik. Kamu tahu sendiri kan, mobil tipe ini tidak bisa diderek sembarangan. Makanya aku baru sampai rumah jam enam pagi tadi. Maaf ya membuatmu cemas, Sayang.'

Luar biasa. Penjelasannya begitu runut, begitu masuk akal bagi orang awam yang tidak mengerti teknologi otomotif terintegrasi. Dia bahkan menambahkan detail kecil tentang betapa dinginnya malam itu dan bagaimana dia harus memesan kopi instan hangat dari asongan yang lewat. Aku menatap pria di hadapanku ini dengan rasa asing yang mendalam. Selama lima tahun pernikahan kami, aku selalu menganggap Dananjaya sebagai pria jujur, pilar dalam hidupku, dan seorang suami yang tidak memiliki rahasia apa pun.

'Lalu, kenapa kamu tidak mengaktifkan GPS mobilmu saat aku mencoba melacaknya semalam?' tanyaku lagi, melangkah perlahan mengikuti langkahnya menuju kasir. Aku meletakkan madu organik ke dalam keranjang belanjaan dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat untuk menutupi gemetar di jemariku.

'Oh, itu. Kan sistem kelistrikan utamanya mati total, Laras. Kalau baterai utama drop dan sistemnya mengunci, semua modul komunikasi GPS otomatis mati untuk menghemat daya darurat. Itu standar keamanan pabrikan,' jawabnya dengan nada sangat meyakinkan, bahkan terdengar sedikit menggurui. Dia mengeluarkan dompet kulitnya, bersiap membayar belanjaan kami.

Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang diiriskan ke dadaku. Sebagai seorang auditor keuangan senior, aku dilatih untuk membaca data, bukan kata-kata. Angka tidak pernah berbohong, sedangkan manusia bisa mengarang fiksi seindah mungkin. Data di ponselku tidak hanya menunjukkan lokasi pengisian daya, tetapi juga mencatat bahwa mobil itu dikendarai dengan kecepatan stabil dari kawasan industri Cikarang langsung menuju Senopati pada pukul sebelas malam. Tidak ada mogok. Tidak ada derek. Yang ada hanyalah perjalanan terencana menuju pelukan perempuan lain.

Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin supermarket menusuk paru-paruku. Aku harus tetap tenang. Marah di sini, di depan kasir yang sedang tersenyum ramah ini, hanya akan membuatku terlihat seperti istri histeris yang kehilangan akal sehat. Aku membutuhkan bukti yang lebih konkret. Aku membutuhkan konfrontasi yang tidak menyisakan ruang bagi mereka berdua untuk mengelak.

'Dananjaya,' panggilku saat kami berjalan menuju area parkir bawah tanah. 'Setelah ini, kita mampir ke apartemen Kirana, ya? Kemarin dia bilang ada oleh-oleh kue kering dari ibunya di Bandung yang dititipkan untuk kita. Kebetulan searah jalan pulang.'

Aku memperhatikan gerak-gerik tubuhnya dengan sangat jeli. Langkah kakinya sempat tertahan sepersekian detik. Pegangannya pada kantong belanjaan mengerat, membuat buku-buku jarinya memutih. Namun, dengan cepat dia menguasai diri kembali. 'Oh, benarkah? Tapi ini sudah hampir sore, Sayang. Lagipula, bukankah Kirana sibuk akhir pekan ini? Dia bilang pada kita minggu lalu kalau dia ada proyek interior di Bogor.'

'Tadi siang dia mengirim pesan padaku, katanya proyeknya ditunda sampai senin depan. Dia ada di apartemennya sekarang,' aku berbohong. Aku bahkan belum menghubungi Kirana sejak kemarin. Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka saat aku mendatangi tempat kejadian perkara tanpa peringatan sama sekali.

'Tapi, Laras... aku agak lelah setelah semalam terjebak di tol. Bagaimana kalau besok saja kita ke sana?' Dananjaya mencoba bernegosiasi. Suaranya terdengar lembut, penuh bujukan, namun aku bisa mendengar nada kecemasan yang samar di balik bariton suaranya yang tenang.

'Sebentar saja, Mas. Hanya mengambil kue lalu pulang. Kamu bisa istirahat setelah itu. Lagipula, bukankah kamu sudah lama tidak mengobrol dengan Kirana?' Aku menekan kata 'mengobrol' dengan intonasi yang sedikit berbeda, berharap dia menangkap sinyal itu, namun dia tampaknya terlalu sibuk menyusun strategi pertahanan di dalam kepalanya.

Dia akhirnya mengangguk pasrah. 'Baiklah, kalau itu maumu. Tapi kita tidak bisa lama-lama, ya?'

Perjalanan menuju Asteria Residence yang biasanya memakan waktu dua puluh menit kini terasa seperti keabadian. Di dalam mobil listrik sunyi yang baru saja menjadi saksi pengkhianatan itu, tidak ada suara yang terdengar selain desis pendingin udara. Dananjaya fokus menatap jalanan di depannya, tangannya yang memegang setir sesekali mengetuk-ngetuk cemas. Aku tahu dia sedang mencoba mengirim pesan singkat kepada Kirana melalui jam tangan pintarnya, atau mungkin menggunakan perintah suara yang diredam. Namun, aku sengaja menaruh ponselnya di konsol tengah yang berada dalam jangkauan pandanganku.

Setiap kali layarnya menyala karena ada notifikasi masuk, aku langsung meliriknya. Dananjaya menyadari hal itu dan tidak berani menyentuh ponselnya sama sekali selama perjalanan. Dia terjebak dalam kecemasannya sendiri, dan aku menikmati setiap detik siksaan mental yang sedang dia rasakan.

Kami akhirnya tiba di gerbang masuk Asteria Residence. Petugas keamanan menyapa kami dengan ramah. Saat Dananjaya hendak mengarahkan mobil ke area parkir pengunjung, aku menyela dengan santai. 'Mas, parkir saja di slot B3-12. Kirana pernah bilang kalau slot parkirnya kosong dan kita boleh pakai kalau berkunjung, biar tidak usah bayar parkir pengunjung yang mahal.'

Wajah Dananjaya seketika memucat. Keringat dingin tampak terbit di pelipisnya meskipun suhu di dalam mobil sangat dingin. 'Ah, jangan. Tidak enak sama tetangganya, Laras. Parkir di tempat pengunjung saja lebih aman.'

'Kenapa harus tidak enak? Bukankah mobilmu semalam juga parkir dan mengisi daya di sana sampai subuh?'

Pertanyaan itu meluncur dari mulutku dengan begitu tenang, seringan embusan angin sore, namun dampaknya seperti bom yang meledak tepat di tengah keheningan mobil kami. Dananjaya mendadak menginjak rem dengan keras, membuat tubuh kami berdua terhentak ke depan. Dia menatapku dengan mata membelalak, wajahnya menunjukkan kombinasi antara rasa terkejut yang luar biasa dan ketakutan yang mendalam.

'L-Laras... apa maksudmu?' tanyanya dengan suara yang mendadak parau.

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya menatapnya balik dengan tatapan dingin tanpa emosi, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar, meninggalkan suamiku yang terduduk kaku di balik kemudi dengan rahasia besarnya yang kini mulai runtuh perlahan-lahan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url