Aplikasi Pelacak Hewan Peliharaan Itu Mengantarkanku ke Apartemen Rahasia Suamiku dan Sahabat Terdekatku

Aplikasi Pelacak Hewan Peliharaan Itu Mengantarkanku ke Apartemen Rahasia Suamiku dan Sahabat Terdekatku

Skandal & Pengkhianatan

Aplikasi Pelacak Hewan Peliharaan Itu Mengantarkanku ke Apartemen Rahasia Suamiku dan Sahabat Terdekatku



Tangan Danastri gemetar, bukan karena dinginnya pendingin ruangan di sudut ruang kerjanya, melainkan karena selembar kertas digital yang berkedip di layar tabletnya. Sebagai seorang desainer interior yang terbiasa dengan presisi dan kerapian, Danastri selalu mencatat setiap pengeluaran hingga ke pecahan terkecil. Namun malam ini, saat melakukan rekonsiliasi rutin rekening koran kartu kredit bersama miliknya dan Pranadipa, dia menemukan sebuah anomali yang terasa seperti hantaman godam di dadanya.

Ada transaksi otomatis bulanan sebesar delapan juta lima ratus ribu rupiah yang didebit ke sebuah nama usaha bernama Royal Whisker Haven. Di bawahnya, terdapat transaksi rutin lainnya sebesar tiga juta dua ratus ribu rupiah untuk Whiskers and Co. Gourmet Delivery. Transaksi ini telah berjalan selama empat belas bulan terakhir tanpa pernah sekali pun didiskusikan oleh Pranadipa.

Danastri tidak memiliki kucing. Bahkan, dia menderita alergi bulu kucing yang cukup parah hingga bisa memicu asma akut. Pranadipa sangat mengetahui hal ini. Pada tahun kedua pernikahan mereka, Pranadipa bahkan rela menyewa jasa pembasmi hama profesional hanya untuk memastikan tidak ada kucing liar yang mendekati area teras rumah mereka di kawasan Dharmawangsa. Lalu, untuk siapa suaminya membayar biaya perawatan kucing premium dan makanan gourmet khusus hewan peliharaan setiap bulan?

Rasa penasaran yang bercampur dengan kecurigaan aneh mendorong Danastri untuk menghubungi nomor layanan pelanggan Royal Whisker Haven keesokan paginya. Dengan suara yang diatur sedatar mungkin, dia mengaku sebagai asisten pribadi Pranadipa yang perlu memverifikasi alamat pengiriman faktur fisik untuk keperluan pelaporan pajak tahunan.

'Baik, Ibu Danastri,' suara resepsionis di seberang telepon terdengar sangat ramah dan profesional. 'Faktur fisik biasanya kami kirimkan langsung bersamaan dengan pengantaran suplemen bulanan untuk Milo. Alamat yang terdaftar di sistem kami adalah Residence 8 Senopati, Tower B, Unit 11-B, atas nama Ibu Arimbi. Apakah ada perubahan alamat pengiriman untuk bulan ini?'

Detak jantung Danastri seolah berhenti berdenyut seketika. Residence 8. Tower B. Unit 11-B. Itu adalah alamat apartemen Arimbi, sahabat terdekatnya sejak masa kuliah di ITB, sosok yang berdiri tepat di sampingnya sebagai pendamping pengantin wanita saat dia mengucapkan janji suci pernikahan dengan Pranadipa empat tahun lalu.

Danastri ingat betul bagaimana Arimbi baru-baru ini memamerkan seekor kucing ras Sphynx yang tidak berbulu di akun media sosialnya. Kucing itu bernama Milo. Arimbi menceritakan dengan mata berbinar bahwa kucing mahal itu adalah hadiah dari seorang pria istimewa yang sangat memahami seleranya, seorang pria yang katanya belum bisa dia kenalkan kepada publik karena alasan privasi pekerjaan.

Dunia di sekitar Danastri mendadak terasa berputar dengan sangat cepat. Semua kepingan ingatan yang selama ini dianggapnya sebagai angin lalu kini mulai menyatu membentuk sebuah gambaran yang mengerikan. Aroma minyak khusus tubuh kucing yang terkadang menempel di kerah kemeja Pranadipa, alasan pertemuan dengan klien korporat yang selalu berakhir hingga larut malam di kawasan Senopati, hingga sikap Arimbi yang mendadak sangat royal dan mampu membeli barang-barang bermerek meskipun studio keramiknya sedang sepi pembeli.

Danastri meletakkan telepon genggamnya di atas meja marmer dengan perlahan, berusaha menahan gemetar yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak menangis. Rasa sakit yang teramat sangat justru memicu hawa dingin yang membekukan air matanya. Dia merasa seperti orang asing yang sedang menyaksikan keruntuhan hidupnya sendiri dari kejauhan.

Tanpa membuat kegaduhan, Danastri mengambil kunci mobilnya. Dia tidak menghubungi Pranadipa yang saat itu mengaku sedang berada di Surabaya untuk urusan persidangan kliennya. Dia juga tidak mengirimkan pesan kemarahan kepada Arimbi. Dengan ketenangan yang terasa dingin dan menakutkan, Danastri mengemudikan mobilnya membelah kemacetan Jakarta Selatan menuju kawasan Senopati.

Setibanya di lobi Residence 8, Danastri berjalan dengan langkah mantap. Dia mengenal salah satu petugas keamanan di sana yang kebetulan pernah menggunakan jasanya untuk mendekorasi rumah tinggal keluarganya. Dengan sedikit senyuman ramah dan alasan ingin memberikan kejutan ulang tahun tanpa memberi tahu pemilik unit terlebih dahulu, Danastri berhasil mendapatkan akses naik ke Tower B tanpa harus mendaftar di resepsionis utama.

Lift bergerak naik dengan kecepatan konstan, membuat telinga Danastri berdenging. Setiap angka lantai yang menyala di panel lift terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuran ilusi kebahagiaan yang selama ini dia rawat dengan penuh ketulusan. Di dalam benaknya, dia teringat bagaimana Arimbi selalu menjadi orang pertama yang memeluknya setiap kali dia merasa lelah dengan rutinitas pekerjaannya, dan bagaimana Pranadipa selalu mengecup keningnya setiap pagi sebelum berangkat kerja.

Ting. Pintu lift terbuka di lantai sebelas. Koridor apartemen itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara ketukan sepatu hak tinggi Danastri yang menggema di atas lantai granit kelabu. Dia berjalan menyusuri lorong hingga berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati berwarna gelap dengan nomor kuningan yang berkilau: 11-B.

Danastri menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki. Dia menatap gagang pintu logam di depannya dengan pandangan kosong. Sebelum dia sempat mengetuk pintu, terdengar suara tawa yang sangat dia kenali dari dalam unit tersebut. Itu adalah suara tawa renyah Arimbi, yang kemudian disusul oleh suara berat Pranadipa yang sedang menggoda seekor hewan dengan nada manja.

'Milo, jangan naik ke atas meja makan. Nanti Papa marah,' terdengar suara Pranadipa dari balik pintu kayu yang tebal itu, sangat jelas dan tanpa keraguan.

Kata 'Papa' yang diucapkan oleh suaminya sendiri terdengar seperti pisau tajam yang mengiris paksa lapisan pelindung hati Danastri. Selama empat tahun pernikahan, mereka berdua selalu menunda kehadiran momongan karena Pranadipa bersikeras ingin fokus pada karier hukumnya terlebih dahulu. Namun di apartemen ini, di balik pintu terkunci ini, suaminya telah menobatkan diri sebagai seorang ayah dari hewan peliharaan milik sahabatnya sendiri.

Danastri tidak lagi ragu. Dia mengepalkan tangannya dan mengetuk pintu kayu tebal itu dengan ketukan yang lambat namun sangat bertenaga. Tiga kali ketukan. Seketika itu juga, suara tawa dan obrolan mesra di dalam unit apartemen langsung terhenti, menyisakan keheningan yang mencekam.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url