Log E-Toll Alphard Kantor Jam Dua Pagi Bongkar Rahasia Busuk Istri dan Sahabat Karibku
'Jatmiko, tolong geser kursornya ke kanan sedikit,' pinta Dananjaya, suaranya terdengar datar namun ada nada dingin yang tak biasa merayap di sela-sela kalimatnya. Di ruang rapat Nirmala Ruang yang ber-AC dingin, layar proyektor menampilkan laporan pengeluaran operasional studio arsitektur mereka untuk kuartal ketiga. Jatmiko, sahabatnya sejak kuliah sekaligus mitra bisnisnya, sempat menghentikan gerakan tetikusnya selama satu detik penuh. Detik yang sangat singkat, namun bagi insting Dananjaya yang sudah terlatih membaca detail struktural, jeda itu terasa seperti retakan besar pada pondasi beton.
Kala, istri Dananjaya yang menjabat sebagai direktur kreatif di perusahaan mereka, duduk di sebelah Jatmiko. Wanita itu sibuk memutar-mutar pena perak di antara jemarinya yang lentik. Tatapan matanya lurus ke arah dokumen keuangan di layar, namun napasnya tertahan. Dananjaya bisa melihat bagaimana dada Kala naik turun dengan ritme yang tidak teratur, kontras dengan sikap tenang yang berusaha ia tampilkan di hadapan lima staf senior yang juga hadir dalam rapat bulanan tersebut.
'Ada apa, Dhan? Ini cuma lampiran e-toll untuk mobil operasional Alphard kita. Kurasa bagian keuangan sudah mencocokkannya dengan voucher bensin,' ujar Jatmiko dengan nada santai yang terlalu dipaksakan. Senyumnya mengembang, jenis senyum bersahabat yang biasanya selalu berhasil meyakinkan klien-klien besar untuk menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah. Namun hari ini, senyum itu tampak seperti topeng murah yang hampir retak di mata Dananjaya.
'Buka saja, Jat. Aku cuma mau memastikan sesuatu tentang perjalanan dinas ke Kelapa Gading bulan lalu,' sahut Dananjaya lagi. Kali ini ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja kulitnya, melipat tangan di dada. Matanya tidak lepas dari wajah Kala yang mendadak menghentikan putaran penanya. Pena itu jatuh ke atas meja kayu jati dengan bunyi klik yang tajam, memecah kesunyian ruang rapat yang mendadak terasa mencekik.
Jatmiko akhirnya mengeklik dokumen PDF bertajuk 'Log_E-Toll_B_1045_OPS.pdf'. Baris-baris data transaksi otomatis itu langsung terpampang nyata di layar proyektor berukuran besar. Sebagian besar staf dalam ruangan tidak melihat sesuatu yang aneh; hanya barisan angka, gerbang tol, dan nominal tarif. Namun, mata Dananjaya langsung tertuju pada satu tanggal spesifik: empat belas Agustus. Hari di mana Dananjaya terbaring lemah di ruang ICU Rumah Sakit Medistra karena serangan asma akut yang hampir merenggut nyawanya.
Pada baris tanggal tersebut, tercatat sebuah transaksi keluar di Gerbang Tol Soreang, Bandung, pada pukul 02.14 WIB. Dan tiga hari kemudian, mobil yang sama masuk kembali melalui gerbang tol yang sama pada pukul 11.45 WIB. Di lembar laporan yang ditandatangani oleh Kala sebagai Direktur Kreatif, perjalanan itu ditulis sebagai 'Kunjungan Lapangan & Survei Vendor Material di PIK, Jakarta Utara'. Bagaimana mungkin sebuah mobil dinas yang dilaporkan berada di Pantai Indah Kapuk bisa menembus gerbang tol di wilayah Bandung Selatan pada jam dua pagi?
Dananjaya merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan rasa sakit yang fisik. Ia tidak langsung marah. Kepalanya yang biasa bekerja secara matematis dan logis kini merekonstruksi ingatan malam itu. Malam ketika ia terbangun dengan selang oksigen di hidungnya, menatap layar ponsel yang sepi dari notifikasi istrinya. Kala baru mengabarinya keesokan siang dengan suara serak yang terdengar lelah, mengaku bahwa ia tertidur di mes kantor karena lembur mempersiapkan proyek PIK bersama tim Jatmiko.
'Dhan, kurasa ini cuma kesalahan sistem dari pihak penyedia jasa kartu tol. Kamu tahu sendiri kan, kadang server mereka sering kacau,' Kala tiba-tiba angkat bicara. Suaranya terdengar begitu merdu, jenis suara yang dulu membuat Dananjaya jatuh cinta setengah mati di koridor kampus arsitektur mereka belasan tahun lalu. Namun kini, kelembutan itu terasa seperti racun yang disuntikkan langsung ke telinganya. Kala merapikan rambut hitamnya yang jatuh di bahu dengan gerakan yang terlampau gugup.
'Kesalahan sistem tidak terjadi berulang kali pada jam yang sama di lokasi yang sama selama tiga bulan berturut-turut, Kala,' ucap Dananjaya dengan nada yang sangat tenang, hampir seperti bisikan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke dalam manik mata istrinya yang kini bergetar ketakutan. 'Di bulan Juni, Juli, dan Agustus. Setiap kali aku harus pergi ke luar kota untuk proyek pembangunan resor di Lombok, Alphard kantor selalu keluar di Soreang pada jam dua pagi. Dan anehnya, setiap kali itu pula, Jatmiko mengambil cuti sakit karena migrain.'
Keheningan di dalam ruang rapat itu kini berubah menjadi atmosfer yang sangat mengerikan. Para staf senior mulai saling pandang, menyadari bahwa rapat evaluasi anggaran ini telah bergeser menjadi sidang pembongkaran skandal personal. Tidak ada yang berani bernapas keras. Jatmiko mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya, namun keringat dingin mulai tampak berkilau di pelipisnya, meluncur turun melewati rahangnya yang kokoh.
'Dhan, kita bisa bicarakan ini berdua saja nanti setelah rapat selesai. Ini bukan tempat yang tepat untuk membahas masalah administratif yang belum jelas akurasinya,' sela Jatmiko, mencoba mengambil kendali situasi sebagai direktur utama. Ia bermaksud menutup layar proyektor, namun Dananjaya dengan cepat menahan tangan Jatmiko yang berada di atas meja. Cengkeraman tangan Dananjaya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menyampaikan pesan kemarahan yang tertahan tanpa perlu berteriak.
'Jangan ditutup dulu, Jat. Aku belum menunjukkan bagian terbaiknya,' kata Dananjaya sembari mengeluarkan ponsel pribadinya. Dengan tenang, ia menyambungkan ponselnya ke Apple TV yang terhubung dengan proyektor yang sama. Di layar besar, tampilan laporan e-toll langsung tergantikan oleh sebuah direktori penyimpanan cloud pribadi milik Dananjaya yang dinamai 'Nirmala_Drive_Backup'.
Kala tampak membelalakkan matanya saat menyadari folder apa yang sedang dibuka oleh suaminya. Itu adalah folder cadangan otomatis dari sistem dashcam pintar yang terpasang di semua mobil operasional Nirmala Ruang. Sebagai orang yang mendesain sistem keamanan kantor, Dananjaya sengaja memasang kamera dasbor yang tidak hanya merekam video jalan raya, tetapi juga merekam audio kabin secara real-time dan mengunggahnya secara otomatis ke cloud setiap kali mobil terhubung dengan Wi-Fi kantor saat kembali ke parkiran.
Dananjaya mengeklik salah satu file audio tertanggal empat belas Agustus, pukul 01.30 WIB. Suara dengung mesin Alphard yang halus terdengar memenuhi ruang rapat melalui speaker surround-sound di sudut-sudut ruangan. Detik berikutnya, suara tawa manja seorang wanita memecah keheningan. Itu adalah suara Kala. Suara tawa lepas yang bebas dari beban kerja, suara tawa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah didengar Dananjaya di rumah mereka yang sepi.
'Kamu yakin Dhanan nggak bakal curiga? Dia kan orangnya teliti banget,' terdengar suara Kala di dalam rekaman tersebut, terdengar sedikit tidak jelas karena teredam suara AC mobil, namun sangat mudah dikenali oleh siapa pun di ruangan itu.
'Dhanan sedang teler karena obat penenang di rumah sakit, sayang. Lagipula, dia terlalu sibuk memikirkan desain garis sialannya itu daripada memikirkan istrinya sendiri yang kesepian,' jawab sebuah suara pria dengan nada meremehkan yang sangat kental. Itu suara Jatmiko. Suara yang biasanya terdengar penuh wibawa saat presentasi di hadapan gubernur, kini terdengar begitu menjijikkan dan penuh keintiman yang terlarang.
Di dalam rekaman tersebut, terdengar suara gesekan pakaian, diikuti oleh desah napas pendek dan tawa kecil Kala yang mematikan sisa-sisa rasa hormat Dananjaya terhadap pernikahan mereka. Di ruang rapat saat ini, Kala langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat saat ia mulai menangis tanpa suara. Sementara Jatmiko hanya bisa menatap layar proyektor dengan wajah pucat pasi seputih kertas, menyadari bahwa seluruh reputasi, karier, dan persahabatan yang ia bangun selama lima belas tahun telah hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.
Dananjaya mematikan rekaman audio tersebut. Ia berdiri dari kursinya, merapikan setelan jasnya dengan sangat tenang, seolah baru saja menyelesaikan presentasi proyek yang sukses besar. Ia menatap dua orang yang paling ia cintai dan percayai di dunia ini, kini bersimpuh dalam kehancuran moral mereka sendiri di hadapan para karyawan mereka.
'Rapat hari ini selesai. Kalian semua boleh kembali ke meja masing-masing,' ujar Dananjaya kepada para stafnya yang langsung bergegas keluar ruangan dengan langkah seribu, menyisakan keheningan yang luar biasa dingin di antara mereka bertiga. Dananjaya menatap Kala yang masih menangis terisak, lalu beralih ke Jatmiko yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Perjalanan balas dendam ini baru saja dimulai, dan Dananjaya tidak akan berhenti sampai mereka berdua merasakan kehilangan yang jauh lebih menyakitkan daripada sekadar kehilangan jabatan di Nirmala Ruang.