Notifikasi Robot Vacuum Pukul Tiga Pagi Itu Mengosongkan Seluruh Sisa Hidupku
Tangan Larasati mendadak kaku di atas permukaan meja kayu jati yang dingin. Di hadapannya, layar proyektor berukuran tiga kali empat meter di ruang rapat utama kantor biro arsitektur mereka di Senopati masih menampilkan desain interior griya tawang milik klien terkaya mereka musim ini. Namun, bukan infografis material marmer atau skema pencahayaan hangat yang membuat napas Larasati tercekat hingga tenggorokannya terasa tersumbat pasir. Melainkan sebuah jendela notifikasi kecil yang muncul di sudut kanan atas iPad Pro miliknya, yang saat itu tengah terhubung langsung ke proyektor melalui jaringan nirkabel.
'Pembersihan Area Kamar Utama Selesai di Unit 12B - BSD. Durasi: 42 menit. Hambatan terdeteksi: Mangkuk air hewan peliharaan & jubah mandi sutra.'
Keheningan yang pekat langsung merayap di antara enam orang yang duduk mengelilingi meja rapat. Dananjaya, suaminya sekaligus mitra utama di firma arsitektur mereka, buru-buru berdeham, mencoba mengalihkan perhatian klien asing mereka dengan menunjuk draf cetak biru fisik di atas meja. Di sudut lain meja, Aradhana, sepupu kandung Larasati yang menjabat sebagai Manajer Operasional perusahaan, mendadak menjatuhkan pulpen premiumnya hingga menggelinding ke bawah kursi. Bunyi ketukan logam pulpen itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Larasati.
'Maaf, sepertinya ada gangguan sinkronisasi dari aplikasi sistem rumah pintar yang sedang kami uji coba untuk proyek lain,' ujar Larasati dengan suara yang diusahakan tetap datar, meski ujung jemarinya gemetar hebat saat memutuskan sambungan layar. Dia tersenyum profesional, senyum yang dilatihnya selama bertahun-tahun untuk menghadapi klien korporat, walau dadanya kini bergemuruh oleh kepanikan yang teramat sangat.
Unit 12B di kawasan BSD adalah sebuah misteri yang sengaja Larasati simpan di sudut terjauh benaknya selama tiga bulan terakhir. Apartemen studio itu dibeli atas nama perusahaan mereka sebagai aset investasi tak bergerak. Berdasarkan laporan keuangan yang disusun oleh Aradhana dan disetujui oleh Dananjaya, unit tersebut berstatus 'kosong, belum selesai finishing, dan tidak berpenghuni'. Larasati sendiri yang merancang denah awalnya: sebuah ruang beton kosong tanpa sekat, tanpa furnitur, yang rencananya akan dijual kembali begitu harga pasar melonjak.
Lalu, mengapa aplikasi robot pembersih debu pintar yang terhubung ke akun tablet kerjanya melaporkan adanya aktivitas pembersihan rutin setiap hari Selasa dan Kamis pukul tiga pagi? Lebih tidak masuk akal lagi, bagaimana mungkin sebuah unit beton kosong memiliki 'kamar utama', lengkap dengan deteksi hambatan berupa mangkuk air hewan peliharaan dan jubah mandi sutra? Dananjaya sangat alergi terhadap bulu kucing maupun anjing, sementara Aradhana adalah seorang pencinta kucing ras persia yang fanatik.
Rapat siang itu berakhir dengan jabat tangan formal yang terasa hambar. Begitu pintu ruang rapat tertutup dan klien mereka melangkah pergi, Dananjaya langsung mendekati Larasati dengan langkah lebar yang terkesan terburu-buru. Wajah suaminya tampak agak pucat di bawah pendar lampu LED ruangan, namun matanya memancarkan kombinasi antara kecemasan dan dominasi yang biasa dia gunakan untuk meredam kecurigaan Larasati.
'Lara, kamu harus ganti iPad itu. Algoritma aplikasi pintar buatan lokal memang sering eror setelah pembaruan sistem operasi kemarin. Minggu lalu unit kantor kita juga terdeteksi memiliki halaman belakang, padahal kita di lantai empat,' kata Dananjaya sembari mencoba merangkul pundak Larasati dengan kehangatan yang terasa dipaksakan. Aroma parfum kayu cendana yang mahal menguar dari tubuh suaminya, aroma yang belakangan ini sering kali terasa terlalu tajam di penciuman Larasati.
Larasati tidak menjawab. Dia hanya menatap Aradhana yang pura-pura sibuk merapikan berkas-berkas di sudut meja. Sepupunya itu tidak berani menatap matanya langsung. Aradhana, gadis yatim piatu yang diasuh oleh orang tua Larasati sejak remaja, sosok yang selalu berbagi kamar kos dengannya saat kuliah, dan orang yang paling dipercayainya untuk mengelola seluruh arus kas keluar-masuk perusahaan mereka.
'Ya, mungkin hanya eror sistem,' jawab Larasati pelan, menyunggingkan senyum tipis yang berhasil menipu Dananjaya. Namun di dalam kepalanya, badai kecurigaan telah pecah.
Malam harinya, ketika Dananjaya sudah mendengkur halus di sampingnya dalam balutan selimut tebal kamar tidur mereka di Kemang, Larasati turun ke ruang kerja dengan langkah tanpa suara. Dia membuka iPad-nya, masuk ke dalam riwayat mendalam aplikasi pembersih pintar tersebut. Dia tidak hanya melihat jadwal pembersihan, melainkan mengunduh peta digital yang direkam oleh sensor laser robot pembersih tersebut.
Saat visual denah itu perlahan terbentuk di layarnya, jantung Larasati serasa berhenti berdetak. Peta itu bukan lagi ruang beton kosong persegi yang dia rancang. Di sana, di Unit 12B, kini berdiri dinding-dinding partisi melengkung bergaya japandi minimalis—gaya desain favorit Aradhana. Ada sebuah tempat tidur berukuran king-size, sofa melingkar di ruang tengah, dan sebuah walk-in closet yang cukup luas. Robot itu bahkan mencatat rute pembersihan harian yang sangat spesifik, menghindari area-area tertentu yang diidentifikasi sebagai karpet bulu premium.
Larasati membuka folder 'log kesalahan' yang merekam foto-foto otomatis dari kamera sensor rintangan robot tersebut untuk menghindari tersangkut. Di sana, dalam resolusi rendah namun cukup jelas, kamera menangkap penampakan sepasang sandal rumah pria berukuran 43—ukuran kaki Dananjaya—bersebelahan dengan sandal rumah wanita berbulu merah muda dengan inisial 'A'. Di sudut gambar lain, tampak sudut tempat tidur dengan sprei sutra warna hijau zamrud, warna yang sama persis dengan jubah mandi yang dibeli Larasati sebagai hadiah ulang tahun Aradhana bulan lalu.
Rasa mual yang hebat menghantam ulu hati Larasati. Dunia yang dia bangun dengan kerja keras, peluh, dan air mata selama sepuluh tahun pernikahan mendadak runtuh menjadi serpihan tajam yang menusuk nadinya. Pengkhianatan ini tidak hanya terjadi di belakang punggungnya; itu terjadi menggunakan uang perusahaannya, di atas properti miliknya, dan dirancang oleh dua orang yang dia cintai melebihi dirinya sendiri.
Alih-alih menangis menjerit, sebuah ketenangan dingin yang mengerikan mendadak menguasai diri Larasati. Dia menyadari satu hal: jika dia mengonfrontasi mereka sekarang dengan bukti-bukti digital ini, Dananjaya yang licik dan Aradhana yang pandai bersandiwara pasti akan menemukan celah untuk berkelit. Mereka bisa saja menuduh sistem itu diretas atau membuat alasan investasi properti yang sengaja dihias untuk disewakan secara rahasia demi menambah kas perusahaan.
Larasati membutuhkan bukti fisik yang tidak terbantahkan. Dia membutuhkan momen di mana topeng kepalsuan mereka terkelupas habis di depan matanya sendiri.
Keesokan harinya, Larasati bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia mengusulkan agar Dananjaya dan Aradhana pergi bersama ke Bandung untuk menemui penyuplai marmer lokal selama dua hari. Dananjaya sempat ragu, namun begitu Aradhana meyakinkannya bahwa perjalanan ini sangat krusial untuk menekan anggaran proyek Senopati, suaminya akhirnya setuju dengan binar mata yang tertutupi kepalsuan perhatian.
'Kamu yakin tidak mau ikut, Lara? Udara Bandung sedang bagus, kita bisa sekalian kulineran seperti dulu,' tawar Dananjaya dengan nada manis yang kini terdengar seperti racun di telinga Larasati.
'Tidak, Mas. Aku harus menyelesaikan revisi desain untuk klien Singapura di kantor. Kalian berdua saja yang pergi, jaga kesehatan di jalan,' jawab Larasati sembari mengusap dada suaminya, merasakan detak jantung pria itu yang terasa begitu asing.
Sesaat setelah mobil SUV hitam milik Dananjaya keluar dari gerbang rumah mereka menuju tol Cipularang pada Kamis sore, Larasati langsung memesan taksi daring. Tujuannya bukan kantor di Senopati, melainkan kompleks apartemen mewah di BSD.
Perjalanan itu terasa sangat panjang dan menyiksa. Di dalam taksi yang melaju membelah kemacetan sore, Larasati memandangi langit yang perlahan menggelap, sewarna dengan hatinya yang kini dipenuhi jelaga. Dia menggenggam erat kunci cadangan Unit 12B yang dia ambil secara diam-diam dari brankas darurat kantor.
Tepat pukul tujuh malam, Larasati berdiri di depan pintu kayu solid Unit 12B. Koridor apartemen lantai dua belas itu sangat sunyi, hanya terdengar sayup-sayup suara dengung mesin pendingin ruangan dari unit-unit tetangga. Dengan tangan yang luar biasa dingin, dia menempelkan kartu akses ke panel digital. Bunyi klik mekanis yang tajam terdengar, disusul oleh lampu indikator hijau yang menyala.
Larasati mendorong pintu perlahan. Aroma yang pertama kali menyambut indra penciumannya bukanlah bau debu semen atau cat basah seperti yang dilaporkan dalam berkas proyek. Melainkan wangi lilin aromaterapi lavender dan melati, berbaur dengan parfum kayu cendana milik Dananjaya yang sangat dia kenal.
Larasati melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh pendar cahaya kota dari jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Di bawah temaram cahaya luar, dia bisa melihat betapa indahnya apartemen ini ditata. Desain interiornya sangat intim, sangat personal, jauh lebih hangat daripada rumah besar mereka di Kemang yang selalu dirancang untuk mengesankan orang lain.
Di atas meja makan kecil berbahan marmer putih, terletak dua buah gelas anggur setengah kosong dan sebuah botol Merlot yang mahal. Di sampingnya, ada sebuah pemutar piringan hitam klasik yang jarumnya masih menempel pada piringan hitam yang telah berhenti berputar.
Larasati berjalan menuju kamar tidur utama yang tersembunyi di balik partisi kayu melengkung. Di sana, di atas tempat tidur bersprei hijau zamrud yang berantakan, tergeletak sebuah tablet kerja pribadi milik Aradhana yang tertinggal. Layarnya masih menyala redup, menampilkan ruang obrolan pribadi dengan sebuah kontak bernama 'D'.
Larasati mendekat, mengambil tablet tersebut dengan ujung jari yang gemetar. Dia membaca baris-baris pesan yang dikirimkan hanya beberapa jam sebelum keberangkatan mereka ke Bandung. Setiap kalimat di dalamnya terasa seperti silet yang mengiris-iris harga dirinya sebagai seorang istri, seorang sepupu, dan seorang wanita.
'Larasati sama sekali tidak curiga tentang perjalanan ke Bandung ini. Setelah urusan marmer selesai, kita punya waktu penuh hingga besok malam di villa Lembang. Aku merindukanmu, Danan. Apartemen BSD ini terasa sepi kalau kamu tidak ada.'
Dan jawaban Dananjaya di bawahnya membuat air mata yang sejak kemarin ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya yang pucat:
'Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi semua aset perusahaan atas nama Larasati akan selesai dialihkan ke firma baru kita. Begitu semua beres, aku akan mengurus perceraian. Kita tidak perlu lagi bersembunyi di Unit 12B.'
Larasati terduduk di tepi tempat tidur, menggenggam erat tablet itu hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit yang teramat sangat kini bermutasi menjadi kemarahan yang dingin dan kalkulatif. Mereka tidak hanya mengkhianati pernikahannya; mereka berencana merampas seluruh jerih payahnya, mengusirnya dari perusahaan yang dia bangun dari nol dengan keringatnya sendiri, dan meninggalkannya tanpa apa-apa.
Dia menyeka air matanya dengan kasar. Tidak akan ada tangisan lagi mulai detik ini. Larasati berdiri, menatap pantulan dirinya di cermin besar walk-in closet. Wajahnya tampak pucat, namun matanya memancarkan tekad yang membara. Mereka mengira dia adalah mangsa yang lemah, istri penurut yang bisa dengan mudah ditipu oleh ilusi rumah tangga yang harmonis.
Mereka salah besar.
Larasati mengeluarkan ponselnya sendiri. Dia tidak menelepon Dananjaya untuk memaki, tidak juga mengirim pesan kemarahan pada Aradhana. Dia menekan nomor telepon pengacara hukum bisnis paling berpengaruh di Jakarta, sahabat mendiang ayahnya yang selalu memperingatkannya untuk berhati-hati dengan struktur kepemilikan saham perusahaan beberapa tahun lalu.
'Halo, Om? Ini Larasati. Saya membutuhkan bantuan Om sekarang juga. Ini bukan tentang perceraian biasa... ini tentang kejahatan kerah putih dan penggelapan aset skala besar.'
Malam itu, di bawah pendar lampu apartemen yang dibangun dari kebohongannya sendiri, Larasati mulai menyusun rencana pembalasan yang akan menghancurkan hidup Dananjaya dan Aradhana hingga ke fondasi terdalamnya. Dia akan membiarkan mereka menikmati ilusi kemenangan mereka di Bandung untuk beberapa jam lagi, sebelum badai yang sesungguhnya datang meratakan semua yang mereka impikan.