Struk Digital Tol Sentul Jam Dua Pagi Menguak Sisi Gelap Pernikahanku yang Tampak Sempurna

Struk Digital Tol Sentul Jam Dua Pagi Menguak Sisi Gelap Pernikahanku yang Tampak Sempurna

Skandal & Pengkhianatan

Struk Digital Tol Sentul Jam Dua Pagi Menguak Sisi Gelap Pernikahanku yang Tampak Sempurna



'Kau mau menambah kopinya, Mbak Laras?' Sapaan ramah dari barista di sudut kedai kopi artisan di kawasan Wijaya itu hanya dibalas Larasati dengan anggukan tipis yang nyaris tak kentara. Di hadapannya, sebuah tablet putih milik suaminya, Dananjaya, masih menyala terang. Larasati awalnya hanya ingin mencari resep kue bolu kukus pandan kesukaan anak mereka di peramban yang sering tersinkronisasi, namun sebuah notifikasi dari aplikasi pembayaran tol otomatis nirkabel—Flo—yang terhubung dengan nomor polisi mobil Mercedes-Benz hitam milik Dananjaya tiba-tiba muncul di pojok kanan atas layar.

Larasati mengusap layar dengan ujung jarinya yang dingin. Baris demi baris transaksi bergulir. Seharusnya tidak ada yang aneh. Rutinitas Dananjaya sangat teratur: dari kediaman mereka di Bintaro ke arah Sudirman untuk kantor pusat firma arsitekturnya, atau sesekali ke Pantai Indah Kapuk untuk meninjau proyek apartemen mewah terbarunya. Namun, matanya tertuju pada baris transaksi di tanggal 14 Oktober. Sebuah rekaman transaksi keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan pada pukul 02.14 WIB. Dua hari kemudian, tanggal 16 Oktober, transaksi serupa tercatat di gerbang yang sama pada pukul 01.45 WIB. Dan tiga hari lalu, tepat saat Dananjaya pamit menghadiri rapat darurat asosiasi arsitek di Bandung, mobil itu kembali menembus gerbang Sentul Selatan pada pukul 03.10 WIB.

Sentul Selatan. Wilayah perbukitan hijau yang berjarak puluhan kilometer dari rute harian suaminya. Larasati merasa dadanya mendadak sempit, seolah pasokan oksigen di kedai kopi yang sejuk itu mendadak menguap habis. Ia mencoba mengingat-ingat kembali lembaran kalender di kepalanya. Tanggal 14 Oktober adalah hari Selasa. Malam itu, Dananjaya pulang ke rumah menjelang subuh dengan wajah lelah yang tampak sangat meyakinkan, mengeluhkan kemacetan gila-gilaan di Tol JORR akibat kecelakaan truk kontainer. Larasati bahkan dengan penuh kasih menyeduh segelas teh hangat dan memijat bahu suaminya yang tegang hingga lelaki itu tertidur. Kini, melihat angka digital di layar tablet, kenyataan terasa bergeser dengan cara yang sangat mengerikan.

Pikiran Larasati langsung melayang pada adiknya, Kinarya. Tiga bulan lalu, Kinarya memutuskan untuk menyewa sebuah vila kecil berkonsep industrial di kawasan Sentul untuk dijadikan studio portofolio desain interiornya. Proyek itu sepenuhnya didukung oleh Dananjaya. Suaminya bahkan menawarkan diri untuk membantu mengurus cetak biru renovasi dan mencarikan kontraktor tepercaya. 'Kinarya itu adikmu, Ras. Dia sedang merintis karier setelah hancur karena pembatalan pernikahan itu. Sudah kewajiban kita untuk membantunya bangkit,' kata Dananjaya malam itu, sembari mengecup kening Larasati dengan kelembutan yang selalu berhasil meluluhkan hatinya. Larasati saat itu merasa sangat bersyukur memiliki suami yang begitu berhati mulia.

Sebagai seorang pengrajin keramik profesional yang mengelola studionya sendiri, Larasati terbiasa dengan ketelitian. Ia tahu betul bagaimana tanah liat yang tampak kokoh bisa hancur berantakan di dalam tungku pembakaran bersuhu tinggi jika ada gelembung udara sekecil apa pun di dalamnya. Dan kini, ia merasakan gelembung udara itu sedang mengembang di dalam pondasi rumah tangganya yang sudah berjalan delapan tahun. Tangganya bergetar hebat saat ia membuka aplikasi perpesanan yang terintegrasi di tablet tersebut. Tidak ada obrolan mencurigakan antara Dananjaya dan Kinarya di aplikasi pesan biasa. Semuanya tampak profesional, membahas tentang pemilihan material lantai semen ekspos dan pencahayaan aksen untuk vila Sentul. Namun, ketelitian Larasati menuntunnya untuk memeriksa riwayat pemesanan aplikasi transportasi online yang menggunakan satu akun keluarga.

Di sana, di bawah daftar pesanan makanan yang dikirimkan, Larasati menemukan transaksi pemesanan menu makan malam premium dari restoran Jepang favorit Kinarya di kawasan Bogor, dikirim ke alamat vila Sentul pada jam setengah dua pagi. Nama penerima yang tertera di sana adalah nama samaran yang sangat akrab di telinga Larasati: 'Bumi'. Itu adalah nama panggilan sayang yang sering digunakan Larasati untuk memanggil Dananjaya di masa-masa awal pacaran mereka belasan tahun lalu, sebelum rutinitas pernikahan menggantinya dengan panggilan 'Papa'. Rasa mual yang hebat langsung naik ke kerongkongannya, membuat cangkir kopi di tangannya sedikit terguncang.

Larasati menutup tablet itu dengan gerakan perlahan, mencoba menahan gemuruh di dadanya agar tidak menarik perhatian pengunjung kafe lain. Ia menatap ke luar jendela kaca besar. Langit Jakarta siang itu tampak abu-abu, tertutup polusi dan mendung tebal yang menggantung rendah. Selama delapan tahun pernikahan, Larasati selalu percaya bahwa ia adalah wanita paling beruntung di lingkaran pertemanannya. Dananjaya adalah sosok suami yang nyaris tanpa cela. Dia tampan, mapan, santun, dan memperlakukan keluarga Larasati seperti keluarganya sendiri. Ketika orang tua Larasati meninggal dunia dua tahun lalu, Dananjayalah yang menggantikan peran kepala keluarga, merangkul Kinarya yang saat itu sangat rapuh setelah ditinggal pergi calon suaminya.

Namun sekarang, bayang-bayang kedekatan suaminya dan adik kandungnya sendiri mulai bermunculan kembali dalam benak Larasati dengan sudut pandang yang sepenuhnya baru dan mengerikan. Ia mengingat bagaimana mata Dananjaya selalu berkilat hangat setiap kali Kinarya datang berkunjung ke rumah mereka di Bintaro. Ia mengingat bagaimana Kinarya sering kali memakai parfum beraroma vanila kayu manis—aroma manis yang belakangan ini juga sering tercium samar di jok penumpang mobil Mercedes-Benz milik Dananjaya. Selama ini, Larasati selalu mengira itu hanya karena Kinarya sering menumpang mobil suaminya saat mereka pergi bersama untuk memantau proyek dekorasi. Kebodohan ataukah kepercayaan yang terlalu buta?

Dengan napas yang diatur selembut mungkin, Larasati merogoh ponsel dari tas kulitnya. Ia menghubungi nomor Kinarya. Nada dering berbunyi tiga kali sebelum suara adiknya yang ceria terdengar di ujung telepon. 'Halo, Mbak Laras! Ada apa? Aku lagi sibuk banget nih di studio, lagi beresin konsep buat klien besok,' ujar Kinarya dengan nada tanpa beban. Nada suara yang begitu akrab, begitu penuh kasih sayang adik pada umumnya yang dulu sering bermanja pada Larasati. Larasati mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. 'Kin, kamu lagi di Sentul? Mbak mau main ke sana sore ini. Mau antar rantang isi rendang daging kesukaanmu,' ucap Larasati, suaranya terdengar sangat tenang, sebuah kepura-puraan paling melelahkan yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.

Ada jeda beberapa detik di seberang sana. Keheningan yang sangat tipis, namun cukup untuk membuat jantung Larasati berdegup kencang bagai tabuhan genderang perang yang menuntut jawaban jujur. 'Duh, Mbak... maaf banget. Hari ini aku lagi nggak di Sentul. Aku lagi ada meeting maraton sama klien di daerah Kemang sampai malam nanti. Vilanya aku kunci dan penjaganya juga lagi pulang kampung ke Sukabumi. Minggu depan aja ya, Mbak? Nanti aku kabari kalau aku lagi di sana,' jawab Kinarya, terdengar sedikit tergesa-gesa dengan deru napas yang agak berat. Kebohongan itu mengalir begitu mulus dari bibir adik kandungnya. Larasati tahu pasti bahwa berdasarkan data transaksi tol otomatis yang baru saja ia lihat, mobil Dananjaya tercatat masuk kembali ke arah Jakarta tadi pagi pukul 05.30 WIB dari arah Sentul Selatan.

'Oh, begitu ya? Ya sudah, tidak apa-apa. Jaga kesehatanmu ya, Kin. Jangan sampai telat makan,' kata Larasati pelan sebelum memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia tidak ingin mendengar satu kebohongan lagi yang keluar dari mulut Kinarya. Setiap kalimat manis dari adiknya kini terasa seperti racun yang merambat perlahan ke dalam nadinya, merusak memori masa kecil mereka yang indah. Larasati menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kulit kafe, memejamkan mata rapat-rapat. Satu tetes air mata pertamanya jatuh, hangat dan menyakitkan, membasahi pipinya yang pucat. Ia menolak untuk hancur di tempat umum.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat dan penuh perhitungan, Larasati memasukkan tablet dan ponselnya ke dalam tas. Ia berdiri, merapikan daster batik modern berwarna indigo yang dipadukannya dengan blazer linen krem panjang. Penampilannya masih tampak sangat anggun, seperti seorang nyonya rumah tangga kelas atas Jakarta yang sedang menikmati waktu luang di hari kerja. Namun di balik keanggunan itu, ada badai besar yang siap meluluhlantakkan apa saja. Larasati melangkah keluar menuju tempat parkir di bawah terik matahari Jakarta yang tertutup awan mendung. Ia menyalakan mesin SUV putihnya, membiarkan AC mendinginkan wajahnya yang terasa panas.

Larasati tidak memutar kemudinya ke arah Bintaro tempat rumah mewahnya berada. Ia mengarahkan kendaraannya masuk ke gerbang tol terdekat, mengambil jalur menuju Tol Jagorawi arah selatan. Sepanjang perjalanan, pikirannya berputar pada kenangan-kenangan manis yang kini terasa seperti racun. Ia mengingat bagaimana Dananjaya selalu mengingat tanggal hari pernikahan mereka, bagaimana suaminya itu selalu membawakannya bunga sedap malam kesukaannya setiap hari Jumat, dan bagaimana adiknya, Kinarya, selalu menjadi orang pertama yang memuji keharmonisan keluarga mereka. Semua itu kini terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang dirancang dengan sangat rapi untuk menutupi sebuah kebusukan.

Satu jam perjalanan membelah kemacetan Tol Jagorawi, Larasati akhirnya mengambil jalur keluar di Gerbang Tol Sentul Selatan. Ia membayar tol dengan kartu fisiknya, mendengar bunyi 'bip' dari mesin pembaca kartu yang terdengar seperti lonceng kematian bagi pernikahannya. Jalanan berliku dan menanjak menyambutnya, diapit oleh pepohonan hijau dan gugusan bukit yang mulai diselimuti kabut tipis sore hari. Udara dingin mulai merembes masuk melalui celah kaca mobil yang sengaja ia buka sedikit untuk mencari kesegaran.

Larasati menghentikan mobilnya sekitar lima puluh meter dari gerbang masuk vila berkonsep industrial milik Kinarya. Vila itu berdiri agak tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon bambu hias. Dari balik kemudi, Larasati mematikan mesin mobilnya. Matanya langsung tertuju pada area carport yang tertutup kanopi baja ringan hitam. Di sana, terparkir sebuah Mercedes-Benz hitam berpelat nomor B 1204 DAN—mobil suaminya. Dan tepat di sebelahnya, terparkir sebuah mobil hatchback kuning terang milik Kinarya. Mobil yang pemiliknya beberapa jam lalu mengatakan sedang berada di Kemang untuk rapat maraton dengan klien.

Larasati merasa bumi di bawahnya runtuh. Rasa sakit yang teramat sangat menghantam dadanya hingga ia kesulitan bernapas. Semua bukti digital yang ia temukan kini menjelma menjadi kenyataan fisik yang tak terbantahkan di depan matanya. Tangannya mencengkeram erat setir mobil, buku-buku jarinya memutih, menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa suara di dalam keheningan kabin mobilnya. Ia melihat ke arah pintu kayu jati besar vila tersebut yang tertutup rapat, menyembunyikan dua orang yang paling ia cintai di dunia ini, yang kini sedang merajut pengkhianatan paling keji di belakang punggungnya.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url