Nominal Aneh di Struk E-Toll Suamiku Membuka Tabir Kelam yang Selama Ini Kututupi Sendiri
Suara tawa Lestari selalu memiliki nada yang khas; renyah, sedikit manja, dan selalu berhasil menyita perhatian seisi ruangan. Malam itu, di bawah temaram lampu gantung restoran bergaya kolonial di sudut kota Solo, ia sedang merayakan pencapaian barunya sebagai desainer interior terbaik di provinsi ini. Di sebelahku, Daniswara duduk dengan sikap tubuh yang terlampau tegap, sesekali menyunggingkan senyum tipis yang sangat kukenal sebagai topeng profesionalnya. Kami bertiga telah bersahabat sejak masa kuliah di Yogyakarta, sebuah ikatan dekade yang kupikir sekokoh batu karang. Namun, segalanya runtuh dalam hitungan detik ketika Lestari membuka tas tangannya untuk mengambil lipstik, dan beberapa kartu miliknya terjatuh ke atas lantai marmer yang mengilap.
Aku membungkuk secara refleks untuk membantunya memungut barang-barang yang berserakan. Jemariku membeku ketika menyentuh selembar kartu e-money berwarna perak dengan stiker kecil bergambar kucing hitam di sudutnya. Itu adalah stiker peninggalan mendiang kucing kesayanganku, moka, yang kutempelkan sendiri pada kartu cadangan yang kusimpan di laci meja rias rumah kami. Sebulan yang lalu, Lestari meminjamnya dengan alasan terburu-buru harus meninjau proyek di pinggiran kota dan kehabisan saldo e-toll. Aku menyerahkannya tanpa curiga sedikit pun. Namun, yang membuat dadaku tiba-tiba dihantam rasa sesak yang luar biasa bukanlah keberadaan kartu itu di tangan sahabatku, melainkan sebuah struk cetak fisik transaksi tol yang terselip di balik pelindung plastiknya.
Struk itu menunjukkan transaksi keluar di Gerbang Tol Bawen pada hari Selasa, tanggal empat belas November, pukul tiga lewat empat belas menit dini hari. Tanggal dan jam itu tercetak dengan tinta hitam yang mulai memudar, namun dampaknya begitu menghantam kesadaranku seperti godam yang menghancurkan kaca. Pada hari dan jam yang sama, Daniswara seharusnya berada di Surabaya, menghadiri rapat koordinasi firma hukumnya yang sangat mendesak. Ia bahkan mengirimkan foto kamar hotelnya yang sunyi padaku pada pukul sebelas malam sebelumnya, mengatakan bahwa ia akan langsung tidur karena kelelahan. Mengapa kartu e-toll milikku, yang berada di tangan Lestari, melakukan transaksi di gerbang tol yang mengarah ke kawasan peristirahatan dingin di Kopeng pada jam di mana semua orang waras sedang terlelap? Dan yang lebih mengerikan, plat nomor kendaraan yang tercetak samar di struk itu adalah AD sembilan ribu tiga ratus milik Volvo tua kesayangan suamiku, yang katanya sedang mendekam di bengkel selama seminggu penuh.
Aku berusaha menjaga napas tetap teratur, mengabaikan gemuruh hebat yang mendadak bergejolak di dalam dadaku. Kusodorkan kartu itu kembali kepada Lestari dengan senyuman yang kupaksakan tampil sewajar mungkin. Terima kasih, Prisha, ucap Lestari tanpa dosa, langsung memasukkan kartu itu kembali ke dalam kompartemen terdalam tasnya tanpa menyadari bahwa mataku telah merekam setiap detail angka pada struk tersebut. Aku melirik Daniswara. Suamiku itu sedang menyesap kopi hitamnya, matanya menatap lurus ke arah jalan raya di luar jendela kaca besar restoran, namun aku menangkap ketegangan halus di rahangnya. Ada kerutan tipis di dahi Daniswara, jenis kerutan yang hanya muncul ketika ia sedang menyusun strategi pembelaan untuk kliennya yang paling bersalah.
Malam itu, perjalanan pulang ke rumah terasa seperti siksaan tanpa akhir. Daniswara menyetir dalam diam, hanya ditemani suara desau AC mobil dan lagu jazz instrumental yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar seperti musik latar film horor. Aku menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan yang membias basah sisa hujan sore tadi. Otakku bekerja keras menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini kuabaikan. Aku teringat aroma pinus yang samar pada jaket wool Daniswara ketika ia pulang dari Surabaya dua hari kemudian. Aku teringat bagaimana Lestari tiba-tiba membatalkan janji makan siang kami di hari Selasa yang sama dengan alasan sakit kepala sebelah yang parah. Semua kebetulan ini bukanlah takdir, melainkan sebuah rancangan pengkhianatan yang sangat rapi.
Sesampainya di rumah, aku tidak langsung mengonfrontasinya. Aku tahu persis siapa suamiku; Daniswara adalah seorang pengacara litigasi kelas atas. Menyerangnya tanpa bukti fisik yang tidak terbantahkan sama saja dengan memberi ruang baginya untuk memutarbalikkan fakta dan membuatku terlihat seperti istri paranoid yang kehilangan akal sehat. Aku menunggu hingga ia terlelap di kamar mandi untuk mandi air hangat sebelum tidur. Dengan tangan yang sedikit gemetar, kuambil ponsel pribadiku dan membuka aplikasi e-wallet yang terhubung dengan kartu e-money perak tersebut. Karena aku yang mendaftarkan kartu itu pertama kali, seluruh riwayat perjalanan mendetailnya tersimpan rapi di dalam akun digital milikku.
Layar ponselku berpendar di dalam kegelapan kamar tidur yang sunyi. Jemariku bergulir cepat menyusuri riwayat transaksi sebulan terakhir. Air mataku hampir jatuh ketika melihat pola yang terbentuk di sana. Setiap hari Selasa, tanpa absen, kartu itu selalu melakukan perjalanan pergi-pulang melalui rute yang sama: masuk dari gerbang tol Colomadu dan keluar di gerbang tol Bawen pada dini hari, lalu kembali lagi sebelum matahari terbit sepenuhnya. Dan setiap kali perjalanan itu terjadi, Daniswara selalu memiliki alasan pekerjaan di luar kota atau sidang luar daerah yang membuatnya harus menginap. Pengkhianatan ini tidak terjadi sekali atau dua kali. Ini adalah ritual mingguan yang mereka lakukan di belakang punggungku, memanfaatkan kepercayaan penuh yang kuberikan kepada dua orang paling penting dalam hidupku.
Aku terduduk di tepi ranjang, meremas selimut flanel tebal dengan sisa-sisa kekuatanku. Rasa sakitnya tidak berupa ledakan amarah, melainkan dingin yang membekukan seluruh sendi-sendiku. Aku teringat bagaimana Lestari sering datang ke rumah kami, memasak bersama di dapur, dan memberikan masukan tentang dekorasi ruang keluarga kami yang kini terasa seperti panggung sandiwara yang menjijikkan. Di balik kebaikan dan pelukan hangatnya sebagai sahabat, ia sedang menertawakan kebodohanku yang dengan sukarela meminjamkan akses jalan bagi perselingkuhannya dengan suamiku sendiri. Dan Daniswara, pria yang berjanji di depan altar untuk menjagaku, telah menggunakan mobil tuanya yang kukira rusak untuk menyembunyikan jejak perjalanan mesum mereka.
Keesokan harinya, aku memulai penyelidikanku sendiri tanpa melibatkan emosi. Aku mendatangi bengkel tempat mobil Volvo tua itu seharusnya diperbaiki. Pemilik bengkel, seorang pria paruh baya yang sudah lama menjadi langganan keluarga kami, menyapaku dengan ramah. Namun, wajahnya berubah bingung ketika aku menanyakan tentang perbaikan transmisi mobil Daniswara minggu lalu. Mobil Pak Danis? Lho, kan sudah diambil sejak hari Senin sore, Mbak. Katanya mau dipakai ke luar kota mendadak. Beliau sendiri yang ambil setelah jam kantor tutup, ujar pria itu dengan jujur. Penuturan itu menjadi paku terakhir yang menyegel peti mati pernikahanku. Daniswara berbohong tentang mobilnya, berbohong tentang keberadaannya di Surabaya, dan memanfaatkan kepercayaan bengkel langganan kami untuk memuluskan jalannya.
Langkah berikutnya membawaku pada sebuah keputusan ekstrem. Aku menyewa seorang penyelidik swasta paruh waktu untuk mengawasi sebuah vila pribadi di lereng Kopeng pada hari Selasa berikutnya. Aku tidak ingin hanya sekadar tahu; aku ingin bukti visual yang bisa kuhadirkan di ruang sidang perceraian, sebuah bukti yang akan menghancurkan reputasi Daniswara sebagai pengacara terhormat dan meruntuhkan karier Lestari yang baru saja menanjak. Hari-hari menjelang hari Selasa berikutnya terasa berjalan sangat lambat, menguras energi mentalku hingga ke titik terendah. Di depan mereka berdua, aku tetap berperan sebagai istri yang patuh dan sahabat yang suportif, menahan mual setiap kali melihat mereka berinteraksi di depanku.
Ketika hari Selasa itu tiba, Daniswara berpamitan dengan ciuman lembut di keningku, sebuah rutinitas yang kini terasa seperti tetesan racun. Aku harus ke Semarang sampai Kamis, sayang. Ada urusan klien penting yang tidak bisa ditunda, bisiknya hangat. Aku tersenyum manis, merapikan kerah kemejanya, dan berkata, Hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa istirahat yang cukup. Begitu pintu rumah tertutup dan deru mobilnya menjauh, aku langsung terduduk di lantai ruang tamu, menangis tanpa suara hingga dadaku terasa sesak. Aku tahu, beberapa jam lagi, ponselku akan menerima kiriman foto-foto yang akan mengubah hidupku selamanya. Namun, aku sudah membulatkan tekad: aku tidak akan menjadi korban yang menangis di sudut ruangan. Aku akan menjadi badai yang menghancurkan dunia indah yang mereka bangun di atas air mataku.