Suamiku Pamit Itikaf Tanpa HP di Magelang, tapi Sensor Rumah Sentul Mendeteksi Tamu Bernama Mentari Masuk Jam Dua Pagi
'Mbak? Mbak Nalini? Ini kopinya. Mau ditambah es batu lagi?'
Suara barista Starbucks di rest area Tol Jagorawi itu terdengar sayup-sayup, seperti datang dari balik dinding kaca tebal yang kedap suara. Nalini tidak berkedip. Jari telunjuknya masih melayang di atas layar ponsel yang menyala terang, menampilkan baris demi baris log aktivitas dari aplikasi pengaman pintar unit studio mereka di Sentul. Sebuah notifikasi kecil yang seharusnya tidak pernah ada di sana, kini terpampang nyata, menghancurkan seluruh ketenangan yang ia bangun dengan susah payah selama delapan tahun pernikahan.
'Log Aktivitas: PIN Sementara - Mentari berhasil membuka pintu. Pukul 02:14 WIB.'
Nalini merasakan dadanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia tidak mengenal nama Mentari. Unit studio di Sentul itu adalah ruang rahasia mereka, sebuah tempat pelarian yang mereka beli secara patungan di tahun ketiga pernikahan, ketika tekanan dari keluarga besar tentang momongan mulai terasa mencekik. Di sana, mereka sepakat untuk tidak membawa siapa pun. Tempat itu adalah suaka. Hanya ada dua sidik jari yang terdaftar di sistem kunci pintar pintu tersebut: milik Nalini dan milik Aradhana, suaminya.
'Nggak usah, Mas. Terima kasih,' sahut Nalini dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Ia menyambar gelas kopinya dengan tangan yang gemetar hebat, membiarkan beberapa tetes cairan hitam itu tumpah mengotori jemarinya yang dihiasi cincin platinum murni. Tanpa memedulikan tatapan heran dari sang barista, Nalini berbalik cepat dan melangkah setengah berlari menuju mobil SUV putihnya yang terparkir di bawah terik matahari siang.
Di dalam mobil, hawa panas langsung menyergapnya, namun tubuh Nalini justru menggigil dingin. Ia mencengkeram kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya melayang pada ucapan Aradhana tiga hari yang lalu. Pria itu, dengan setelan linen krem yang tampak sangat bersahaja dan senyum menenangkan yang selalu berhasil meluluhkan hati klien-klien korporatnya, berpamitan untuk melakukan perjalanan spiritual.
'Aku butuh mendetoksifikasi jiwaku, Nal,' bisik Aradhana malam itu sambil membelai lembut rambut hitam Nalini. 'Tekanan pekerjaan akhir-akhir ini membuatku merasa kehilangan arah. Aku sudah mendaftar program silent retreat di sebuah ashram terpencil di lereng Gunung Merbabu, Magelang. Tujuh hari tanpa ponsel, tanpa koneksi internet, tanpa dunia luar. Hanya aku dan keheningan. Kamu tidak keberatan, kan?'
Nalini tentu saja tidak keberatan. Sebagai seorang istri yang menyaksikan bagaimana suaminya bekerja belasan jam sehari sebagai konsultan humas papan atas, Nalini selalu mendukung apa pun yang bisa mengembalikan kedamaian batin Aradhana. Ia bahkan mengantar suaminya sampai ke lobi hotel tempat penjemputan khusus rombongan meditasi tersebut. Ia melihat sendiri bagaimana Aradhana menyerahkan ponsel pintar dan tabletnya kepada panitia untuk disegel dalam kotak kayu.
Namun kini, melihat log aplikasi di ponselnya, kenyataan pahit mulai merayap naik seperti racun yang lambat laun mematikan. Log itu tidak berbohong. Pembuatan PIN sementara hanya bisa dilakukan oleh akun administrator utama. Dan akun administrator utama itu adalah milik Aradhana. PIN bernama 'Mentari' itu dibuat tepat tiga jam sebelum Aradhana berpamitan pergi ke Magelang. Dan PIN itu baru saja digunakan pada pukul dua dini hari tadi.
Nalini menghidupkan mesin mobil dengan sentakan kasar. Ia mengabaikan semua jadwal pertemuan dengan klien interiornya hari ini. Ia tidak peduli pada komplain dari kontraktor proyek rumah mewah di kawasan Bogor yang sudah menunggunya sejak pagi. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: unit studio di lantai dua belas apartemen Sentul.
Perjalanan dari rest area menuju Sentul terasa seperti siksaan tanpa akhir. Setiap kali mobilnya melintasi jalanan bergelombang, jantung Nalini berdegup kencang, menciptakan rasa mual yang mendesak di dadanya. Delapan tahun. Delapan tahun mereka berjuang melewati badai rumah tangga yang tidak mudah. Mulai dari kegagalan program bayi tabung pertama yang menguras emosi dan tabungan, hingga prosedur IVF kedua yang berakhir dengan keguguran di usia kehamilan sebelas minggu. Nalini ingat bagaimana Aradhana menangis tergugu di samping tempat tidur rumah sakit, memeluk tubuhnya yang lemas, berjanji bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan tetap bersama hingga rambut mereka memutih.
'Kita cukup berdua, Nal. Kamu adalah duniaku,' kata-kata Aradhana malam itu kembali terngiang, terdengar seperti sebuah ironi yang sangat kejam di tengah deru mesin mobil yang melaju kencang membelah tol.
Ketika mobilnya memasuki pelataran parkir apartemen Sentul, matahari sudah mulai condong ke barat, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang muram. Nalini melangkah keluar dari mobil dengan langkah kaki yang terasa berat, seolah setiap langkahnya dipasangi bandul timbal. Ia mengenakan kacamata hitam besar untuk menyembunyikan matanya yang mulai sembap dan memerah.
Lobi apartemen itu tampak sepi, hanya ada seorang petugas keamanan yang menyapanya dengan ramah kurat. Nalini membalas dengan anggukan kaku sebelum melangkah cepat menuju lift. Di dalam lift yang berdinding cermin, Nalini menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Ia terlihat seperti seorang wanita yang sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Koridor apartemen yang dilapisi karpet tebal itu terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara dengung halus dari pendingin ruangan sentral. Nalini berjalan perlahan, menatap nomor-nomor pintu yang terpasang di dinding. 1202, 1204, 1206... dan akhirnya ia berdiri di depan pintu bernomor 1210.
Pintu kayu solid berwarna cokelat gelap itu tampak kokoh dan dingin. Di atas gagang pintu, sebuah perangkat smart-lock berwarna hitam legam terpasang dengan kokoh. Nalini menempelkan telapak tangannya pada sensor layar sentuh. Layar itu menyala, menampilkan deretan angka digital yang bersinar biru lembut.
Ia tidak langsung memasukkan kode miliknya. Dengan tangan yang gemetar, Nalini membuka kembali aplikasi di ponselnya, memastikan sekali lagi bahwa log yang ia lihat tadi pagi bukanlah sebuah kesalahan sistem. Tidak ada yang berubah. Log itu masih di sana. Bahkan ada pembaruan log baru: 'Pintu dikunci kembali dari dalam pada pukul 11:30 WIB.'
Artinya, siapa pun yang bernama Mentari itu, saat ini masih berada di dalam. Atau setidaknya, ada aktivitas penguncian manual dari dalam unit beberapa jam yang lalu.
Nalini menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang tercecer di rongga dadanya. Ia memasukkan digit demi digit kode PIN pribadinya. Setiap bunyi bip dari tombol digital itu terasa seperti detak bom waktu yang siap meledak.
Klik.
Suara kunci mekanis yang terbuka terdengar sangat nyaring di koridor yang sepi itu. Nalini mendorong pintu perlahan. Hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya, membawa serta aroma yang asing. Kamar itu tidak berbau seperti biasanya. Biasanya, Nalini selalu memasang pengharum ruangan beraroma kayu cendana dan lavender yang menenangkan. Namun kini, udara di dalam ruangan itu sarat dengan aroma manis yang pekat—perpaduan antara buah persik dan bedak bayi yang sangat menyengat.
Nalini melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan sangat perlahan, nyaris tanpa suara. Matanya langsung menyapu sekeliling ruangan studio yang berkonsep terbuka itu. Di atas sofa abu-abu yang biasanya tertata rapi, kini berserakan sebuah syal rajut berwarna merah muda lembut dan sebuah tas tangan kulit berukuran kecil dengan merek desainer ternama yang Nalini tahu betul harganya setara dengan biaya satu kali siklus suntik hormon yang pernah ia jalani.
Langkah Nalini terhenti di depan meja dapur minimalis. Di atas permukaan marmer hitam yang dingin, terletak sebuah kantong plastik putih dari sebuah apotek premium terkenal di daerah Sentul. Di samping kantong plastik itu, tercecer sebotol vitamin kehamilan berkadar asam folat tinggi dan sebuah krim pencegah selulit untuk ibu hamil.
Nalini merasa bumi di bawah pijakan kakinya runtuh seketika. Pandangannya mengabur oleh air mata yang mendadak menggenang deras. Tangannya terjulur untuk menyentuh botol vitamin itu, membaca label resep yang tertempel di botol kaca tersebut. Di sana tertera nama pasien: Mentari Putri. Dan di bawah nama itu, tertulis nama dokter spesialis kandungan yang sangat familiar bagi Nalini—dokter yang sama yang pernah membantunya selama proses IVF yang gagal.
Nalini membekap mulutnya sendiri agar jeritan histerisnya tidak lolos ke udara. Dadanya naik turun dengan liar, berjuang mencari oksigen di tengah ruangan yang terasa semakin menyempit dan mencekik. Semua potongan teka-teki yang selama ini membingungkannya kini terjatuh di tempat yang tepat dengan akurasi yang mengerikan. Alasan mengapa Aradhana sering kali menolak menyentuhnya dengan alasan lelah, alasan mengapa suaminya tiba-tiba sangat protektif terhadap pengeluaran kartu kredit tambahannya, dan alasan mengapa pria itu tiba-tiba membutuhkan 'spiritual retreat' tanpa alat komunikasi.
Itu bukan perjalanan spiritual. Itu adalah cara untuk melarikan diri dari jangkauan Nalini sementara ia menyembunyikan kehidupan ganda yang ia bangun di tempat suaka mereka.
Tiba-tiba, suara gemericik air dari kamar mandi di sudut ruangan berhenti. Pintu kaca kamar mandi yang buram perlahan bergeser terbuka, mengeluarkan kepulan uap hangat beraroma persik. Nalini terpaku di tempatnya berdiri, matanya menatap lurus ke arah pintu kamar mandi yang terbuka.
Seorang wanita muda dengan rambut basah yang terbungkus handuk putih melangkah keluar. Wanita itu mengenakan daster sutra longgar berwarna pastel yang tidak bisa menyembunyikan perutnya yang mulai membuncit samar. Wajahnya yang polos tanpa riasan tampak sangat muda, mungkin baru awal dua puluh tahunan. Langkah kaki wanita muda itu mendadak terhenti ketika matanya menangkap sosok Nalini yang berdiri kaku di tengah ruangan.
Kedua wanita itu saling berhadapan dalam keheningan yang mencekam. Hanya ada suara dengung kulkas dan helaan napas mereka yang saling berkejaran di udara.
'Mbak... Mbak Nalini?' bisik wanita muda itu dengan suara gemetar, matanya melebar karena terkejut dan ketakutan yang teramat sangat. Tangannya secara refleks bergerak melindungi perut buncitnya.
Nalini menatap tangan wanita itu yang melingkari perutnya. Rasa sakit yang teramat sangat berubah menjadi kemarahan dingin yang membakar seluruh nadinya. Sebelum Nalini sempat mengeluarkan sepatah kata pun, pintu utama apartemen di belakangnya kembali berbunyi. Sensor smart-lock berbunyi bip pendek, menandakan seseorang baru saja memasukkan kode akses dari luar.
Gagang pintu berputar, dan pintu kayu itu terbuka lebar, menampilkan sosok pria dengan kemeja linen krem yang tampak kusut, membawa sebuah kantong belanjaan berisi buah-buahan segar. Pria itu adalah Aradhana.