Tagihan Gelap di Balik Selimut: Aku Membayar Persalinan Anak Suamiku dengan Sahabatku Sendiri
'Mbak, awas kakinya! Itu madunya pecah, belingnya ke mana-mana!' Suara panik pramuniaga di lorong premium supermarket itu terdengar samar, tenggelam oleh dengung keras yang tiba-tiba memenuhi kepala Sekar Kinanti. Di lantai marmer yang mengilat, cairan kental berwarna keemasan bercampur dengan pecahan kaca berkilau di bawah lampu sorot yang terang. Namun, Sekar tidak bergeming. Ujung sepatu flat berlogo desainer ternama miliknya hanya berjarak beberapa sentimeter dari genangan lengket itu. Matanya terpaku sepenuhnya pada layar ponsel yang digenggamnya erat, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sebuah notifikasi surel masuk dari sistem otomatis kartu kredit Mandiri Prioritas miliknya. Sebagai nasabah utama yang mengantongi limit ratusan juta rupiah, setiap transaksi sekecil apa pun akan langsung mengirimkan salinan digital invoice ke email pribadinya. Detik itu, sebuah lampiran PDF dari 'Bumi Sehat Boutique Clinic' di Semarang baru saja terunduh otomatis. Dokumen itu adalah tanda terima pembayaran uang muka untuk 'Paket Persalinan VVIP - Gentle Birth Deluxe'. Nominalnya tidak main-main, dua puluh lima juta rupiah. Namun, bukan angka itu yang membuat pasokan oksigen di paru-paru Sekar mendadak habis. Melainkan sebaris nama yang tertera pada kolom pasien: Laksmi Paramitha. Dan tepat di bawahnya, pada kolom penanggung jawab sekaligus suami: Ararya Dananjaya.
Sekar merasa dunia di sekelilingnya berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Nama itu. Ararya Dananjaya adalah lelaki yang telah berbagi tempat tidur dengannya selama tiga tahun terakhir. Lelaki yang pagi tadi masih mengecup keningnya dengan lembut sebelum berpamitan pergi ke Semarang untuk urusan restrukturisasi proyek BUMN. Sementara Laksmi Paramitha adalah sahabat karibnya sejak masa kuliah di Universitas Diponegoro. Perempuan yang dua minggu lalu masih menangis di pundak Sekar, mengeluh betapa sulitnya mencari pria yang tulus di Jakarta di usianya yang menginjak tiga puluh tahun. Perempuan yang selalu Sekar suapi dengan makanan buatannya sendiri setiap kali berkunjung ke apartemen mungilnya di bilangan Jakarta Selatan.
Dengan tubuh bergetar hebat, Sekar melangkah mundur, mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya dan gumaman kesal petugas kebersihan yang mulai membersihkan tumpahan madu. Langkah kakinya terasa limbung saat dia berjalan keluar dari area belanja, meninggalkan keranjang penuh bahan makanan organik yang tadinya ingin dia masak untuk menyambut kepulangan Ararya akhir pekan nanti. Di dalam lift menuju basemen parkir Grand Indonesia, Sekar menatap bayangan dirinya di cermin dinding lift. Wajahnya yang biasa tampak segar dan elegan kini pucat pasi bagai mayat. Riasan tipis yang dipakainya tidak mampu menyembunyikan keterkejutan yang teramat sangat.
Begitu sampai di dalam mobil SUV hitam miliknya, Sekar segera mengunci pintu. Keheningan basemen yang dingin langsung membungkusnya. Dia mencengkeram kemudi dengan kedua tangan, mencoba menahan tangis yang mendesak keluar dari dadanya. Namun, tidak ada air mata yang jatuh. Rasa sakit itu terlalu tajam, terlalu dalam, hingga menyumbat saluran air matanya dan menggantinya dengan rasa hampa yang membekukan. Sekar membuka kembali ponselnya, jemarinya yang dingin mengetik kata kunci di kolom pencarian emailnya: 'Bumi Sehat'.
Hasil pencarian yang keluar membuat jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia bisa mendengarnya di dalam rongga dadanya sendiri. Ada tiga email terdahulu yang luput dari perhatiannya karena kesibukannya sebagai Creative Director di sebuah agensi multinasional yang menyita seluruh waktu dan energinya. Email pertama bertanggal enam bulan lalu, sebuah invoice konsultasi dokter spesialis obstetri dan ginekologi tingkat lanjut. Email kedua bertanggal empat bulan lalu, pembayaran untuk tes skrining genetik NIPT non-invasif yang biayanya setara dengan harga motor matic baru. Semua transaksi itu dilakukan menggunakan kartu kredit tambahan yang dia berikan kepada Ararya untuk 'keperluan darurat bisnis'.
Sekar mengingat kembali momen-momen beberapa bulan terakhir ini. Sebuah rekonstruksi ingatan yang kini terasa begitu menjijikkan. Dia ingat betul bagaimana Laksmi tiba-tiba mulai memakai pakaian longgar dengan alasan tren 'oversized fashion'. Dia juga ingat bagaimana Laksmi menolak dengan halus saat diajak merayakan ulang tahun Sekar di sebuah bar premium, dengan alasan sedang menjalani program detoksifikasi tubuh. Dan yang paling menyakitkan, Sekar teringat bagaimana Ararya selalu menawarkan diri untuk mengantar Laksmi pulang setiap kali mereka bertiga makan malam bersama, sebuah sikap yang saat itu dianggap Sekar sebagai bentuk kesopanan suaminya terhadap sahabat terbaiknya.
'Kamu itu terlalu baik, Sekar. Laksmi itu sudah seperti saudaramu sendiri. Tentu saja aku harus memastikan dia pulang dengan aman kalau kita pergi sampai larut malam,' kata Ararya waktu itu, lengkap dengan senyuman manisnya yang selalu berhasil menenangkan hati Sekar. Kini, senyuman itu menjelma menjadi seringai iblis yang mencabik-cabik seluruh harga diri Sekar. Mereka tidak hanya mengkhianatinya di belakang punggungnya. Mereka melakukannya menggunakan uangnya, fasilitasnya, dan di atas kepedihan hatinya yang selama dua tahun ini berjuang mati-matian untuk mendapatkan garis dua di testpack.
Sekar memejamkan mata, membiarkan kepalanya bersandar pada setir mobil. Kenangan tentang perjuangannya untuk memiliki anak berputar seperti film hitam-putih yang menyakitkan. Tiga kali fertilisasi in vitro (IVF) yang gagal, puluhan suntikan hormon yang membuat perutnya lebam-lebam, dan air mata yang tumpah setiap kali siklus bulanannya datang tepat waktu. Ararya selalu ada di sana, memeluknya erat di ruang praktik dokter, membisikkan kata-kata penenang bahwa mereka hanya perlu bersabar. 'Mungkin Tuhan belum mempercayakan kita, Sayang. Yang penting aku punya kamu, itu sudah lebih dari cukup,' bisik Ararya di telinganya setahun yang lalu.
Ternyata, di saat dirinya sedang meratapi rahimnya yang sunyi, Ararya sedang menyuburkan rahim perempuan lain. Dan perempuan itu adalah Laksmi. Sahabat yang tahu persis setiap tangisan malam Sekar, setiap ketakutan Sekar akan kegagalan menjadi seorang ibu, dan setiap doa yang dipanjatkan Sekar di sepertiga malam.
Kemarahan yang murni dan dingin mulai menggantikan rasa syok yang melumpuhkan. Sekar menegakkan tubuhnya. Dia membuka laci dasbor, mengambil MacBook miliknya, dan menyalakannya dengan cepat. Menggunakan koneksi hotspot dari ponselnya, Sekar masuk ke portal perbankan internet Mandiri Prioritas miliknya. Dia tidak hanya ingin melihat tagihan bulan ini. Dia ingin melihat seluruh jejak digital yang ditinggalkan suaminya selama setahun terakhir.
Jari-jarinya menari di atas trackpad dengan presisi yang menakutkan. Dia mengunduh mutasi rekening koran untuk kartu kredit tambahan milik Ararya selama dua belas bulan ke belakang. Saat file Excel itu terbuka, Sekar menyaring data berdasarkan lokasi transaksi di luar Jakarta. Sebagian besar transaksi terkonsentrasi di Semarang dan sekitarnya. Ada puluhan pembayaran di restoran romantis di kawasan candi, pemesanan kamar tipe suite di hotel butik bintang lima, hingga pembelian barang-barang bayi di mal terbesar di Semarang.
Namun, yang membuat napas Sekar benar-benar terhenti adalah sebuah transaksi dari sebuah wedding organizer lokal di Semarang pada awal tahun ini. Nilainya cukup besar, sekitar lima puluh juta rupiah. Sekar langsung membuka mesin pencari, mengetikkan nama wedding organizer tersebut dan mencari portofolio mereka di media sosial. Dengan jantung yang serasa berhenti berdetak, Sekar menjelajahi unggahan lama akun tersebut hingga matanya menangkap sebuah foto yang diunggah pada bulan Februari.
Itu adalah foto sebuah prosesi akad nikah yang sangat privat, diadakan di sebuah vila terpencil di daerah Kopeng yang sejuk. Pengantin wanitanya mengenakan kebaya putih sederhana, perutnya yang mulai membuncit samar tertutup buket bunga mawar putih yang besar. Pengantin pria mengenakan jas senada, menatap sang wanita dengan binar cinta yang begitu akrab di mata Sekar. Pasangan di foto itu adalah Ararya Dananjaya dan Laksmi Paramitha. Mereka telah menikah siri. Dan semua biaya pernikahan rahasia itu, mulai dari sewa vila hingga mahar mas kawin, ditarik dari kartu kredit tambahan yang limitnya disokong penuh oleh keringat dan kerja keras Sekar sebagai Creative Director.
Sekar menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobilnya yang dingin. Sebuah tawa hambar, hampir terdengar histeris, lolos dari tenggorokannya yang kering. Di luar, suara klakson mobil lain yang sedang mencari parkir terdengar bersahut-sahutan, kontras dengan kesunyian mematikan yang kini menguasai ruang kemudi SUV miliknya. Dia menyadari satu hal: air mata hanya akan membuang-buang energinya yang berharga sekarang. Kesedihan adalah kemewahan yang tidak boleh dia miliki jika dia ingin bertahan dalam permainan kotor ini.
Dia tidak akan melabrak mereka sekarang. Dia tidak akan menelepon Ararya sambil menangis histeris, menuntut penjelasan yang sudah pasti akan dijawab dengan kebohongan demi kebohongan baru. Dia juga tidak akan mendatangi Laksmi untuk menjambak rambutnya di depan umum, sebuah tindakan murahan yang hanya akan membuat dirinya terlihat menyedihkan. Tidak, Sekar Kinanti dididik untuk menjadi wanita yang anggun, bahkan saat dunianya sedang runtuh berkeping-keping. Dia akan membiarkan mereka menikmati kebahagiaan semu mereka sedikit lebih lama lagi. Dia akan membiarkan bayi di dalam kandungan Laksmi tumbuh subur, dibiayai oleh uangnya, hingga saat yang tepat tiba untuk menarik semua kenyamanan itu dalam satu hentakan yang akan menghancurkan hidup mereka tanpa sisa.
Sekar menutup laptopnya perlahan, memasukkannya kembali ke dalam tas kulitnya dengan gerakan yang sangat tenang. Dia menghidupkan mesin mobil, memutar kemudi, dan perlahan keluar dari area parkir Grand Indonesia menuju jalanan Jakarta yang mulai dipadati oleh kendaraan jam pulang kantor. Di bawah siraman lampu jalanan kota yang temaram, wajah Sekar tampak mengeras bagai batu pualam. Sambil menatap lurus ke depan, dia berbisik pelan pada dirinya sendiri, 'Kalian ingin aku membiayai hidup kalian? Baik. Mari kita lihat seberapa mahal harga yang harus kalian bayar untuk setiap rupiah yang sudah kalian curi dariku.'