Tagihan Misterius Rp 49.000 di Rekening Bersama Menguak Sisi Gelap Tunanganku dan Sahabat Karibku

Tagihan Misterius Rp 49.000 di Rekening Bersama Menguak Sisi Gelap Tunanganku dan Sahabat Karibku

Skandal & Pengkhianatan

Tagihan Misterius Rp 49.000 di Rekening Bersama Menguak Sisi Gelap Tunanganku dan Sahabat Karibku



Savitri hampir saja menabrak seorang pria paruh baya berbaju batik ketika ia mendadak berhenti di tengah riuhnya tangga turun Stasiun MRT Bundaran HI. Secangkir matcha latte hangat yang dipegangnya goyah, tumpah sedikit dan mengotori sepatu kulit cokelat milik pria itu. Namun, bahkan ketika gumaman kesal terdengar dari bibir sang bapak, Savitri tidak mampu memikirkan kata maaf yang pantas. Jemarinya yang dingin mencengkeram ponsel begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, seluruh dunia di sekitarnya akan runtuh menjadi abu.

Di layar ponselnya, sebuah dokumen PDF laporan mutasi rekening bersama untuk persiapan pernikahan mereka terpampang nyata. Rekening yang sengaja mereka buat untuk menampung sisa tabungan demi mewujudkan resepsi impian di Bali akhir tahun ini. Savitri adalah seorang kurator seni dan desainer interior yang perfeksionis; ia menghafal setiap pengeluaran hingga nominal terkecil. Dan di sana, tepat di bawah biaya vendor katering dan uang muka sewa gedung, ada satu transaksi berulang setiap bulan selama setengah tahun terakhir: EZ-View Cloud Storage Pro sebesar empat puluh sembilan ribu rupiah. Nominal yang teramat kecil, tipe pengeluaran yang sengaja disamarkan agar dianggap sebagai biaya administrasi atau langganan aplikasi musik biasa.

Savitri menepi ke pilar beton stasiun, mengabaikan lautan manusia yang bergegas pulang di jam sibuk Jakarta yang pengap. Dadanya berdenyut nyeri tanpa alasan yang jelas. Naluri perempuannya mendadak berteriak, sebuah alarm sunyi yang menggetarkan seluruh saraf di tubuhnya. Mengapa Dananjaya, seorang arsitek yang selalu menggunakan sistem penyimpanan kantor yang canggih, membutuhkan langganan penyimpanan awan untuk kamera pengawas murah? Mereka berdua belum tinggal bersama, dan rumah masa depan mereka di kawasan BSD masih berupa fondasi semen yang setengah matang. Tidak ada satu pun sudut di dunia ini yang seharusnya diawasi oleh Dananjaya secara pribadi.

Dengan tangan gemetar, Savitri mengunduh aplikasi EZ-View dari App Store. Ia mencoba masuk menggunakan alamat email pribadi Dananjaya yang biasa digunakan untuk keperluan non-formal. Untuk kata sandi, Savitri mencoba kombinasi yang sangat dia hafal: nama anjing masa kecil Dananjaya diikuti tahun kelulusan kuliahnya. Begitu tombol 'Masuk' ditekan, layar ponselnya memproses selama beberapa detik sebelum akhirnya menampilkan sebuah beranda hitam dengan satu kamera aktif yang diberi nama sederhana: 'Living Room Studio'.

Savitri menahan napas. Ia mengetuk ikon putar pada layar. Detik berikutnya, sebuah siaran langsung dengan resolusi tinggi muncul, menampilkan sebuah ruangan apartemen studio bergaya industrial minimalis yang sangat familiar. Jantung Savitri terasa berhenti berdetak. Tata letak ruangan itu, pemilihan warna cat dinding terracotta, hingga model rak buku mahoni yang melengkung indah di sudut ruangan adalah rancangan kasarnya sendiri. Itu adalah desain 'mood board' impian yang pernah ia tunjukkan pada Dananjaya tiga tahun lalu, sebuah mimpi tentang ruang kerja bersama yang ingin mereka bangun setelah menikah nanti. Ruangan impian itu kini nyata, berdiri kokoh di suatu tempat yang tidak ia ketahui.

Di dalam video itu, kamera menangkap detail-detail kecil yang membuat ulu hati Savitri serasa dihantam godam. Di atas sofa abu-abu, terdapat sebuah bantal rajut berwarna mustard yang sangat ia kenal—bantal yang hilang dari apartemen pribadinya beberapa bulan lalu, yang ia kira terselip di gudang. Di sudut lain, sebuah tiang garukan kucing berdiri megah, lengkap dengan seekor kucing persia berbulu abu-abu yang sedang malas mendengkur. Dananjaya sangat alergi terhadap bulu kucing; ia selalu bersin-bersin hebat setiap kali mereka mengunjungi kafe hewan. Namun, di layar itu, seorang wanita dengan santai berjalan melewati kamera, mengenakan daster satin tipis berwarna hijau sage.

Wanita itu adalah Sekar.

Sekar, sahabat karibnya sejak masa orientasi mahasiswa baru sepuluh tahun lalu. Wanita yang menangis paling keras saat Dananjaya melamar Savitri di sebuah restoran tepi pantai di Jimbaran. Wanita yang akhir-akhir ini selalu mengaku sibuk dengan proyek lepasnya hingga jarang menghadiri rapat panitia pernikahan mereka. Sekar tampak begitu betah di dalam ruangan itu, seolah-olah dialah pemilik sah dari setiap jengkal lantai kayu yang dipijaknya.

Savitri merasa seluruh oksigen di stasiun MRT itu lenyap seketika. Matanya memanas, namun air matanya enggan keluar, tertahan oleh rasa syok yang begitu pekat hingga membuatnya mual. Di layar ponsel yang bergetar di tangannya, pintu apartemen studio itu terbuka. Dananjaya masuk dengan menjinjing dua kantong belanjaan dari supermarket premium. Pria itu meletakkan belanjaannya di atas meja dapur, melepaskan jam tangan kulitnya, dan tanpa ragu sedikit pun, menarik Sekar ke dalam dekapannya.

Mereka berpelukan erat, jenis pelukan yang hanya dimiliki oleh dua orang yang telah berbagi kehangatan dalam waktu yang sangat lama. Dananjaya mencium kening Sekar dengan lembut, lalu menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu sambil membisikkan sesuatu yang membuat Sekar tertawa manja. Kucing abu-abu di sudut ruangan mendekat, menggesekkan tubuhnya ke kaki celana Dananjaya, dan pria yang selalu mengklaim bisa sesak napas karena bulu hewan itu justru membungkuk, mengelus kepala si kucing dengan senyum paling tulus yang pernah Savitri lihat.

Selama delapan tahun menjalin hubungan dengan Dananjaya, Savitri selalu mengagumi ketenangan dan sikap protektif pria itu. Dananjaya adalah sosok yang hangat, pendengar yang baik, dan tidak pernah sekalipun meninggikan suara. Di sisi lain, Sekar adalah tempatnya menumpahkan segala keluh kesah, orang pertama yang akan memeluknya saat ia merasa gagal dikurasi oleh galeri seni ternama. Kini, kedua pilar hidupnya itu tampak begitu serasi di dalam sebuah bingkai video berukuran lima inci, hidup dalam sebuah simulasi rumah tangga yang dibangun di atas fondasi kebohongannya.

Savitri merasakan lututnya melemas. Ia terpaksa bersandar sepenuhnya pada pilar beton dingin di belakangnya, sementara lalu lalang penumpang MRT berjalan cepat di sekitarnya seperti bayangan kabur yang tak nyata. Di layar ponselnya, Dananjaya kini sedang membantu Sekar memotong sayuran di dapur. Gerakan mereka begitu sinkron, seolah-olah rutinitas ini telah berjalan selama berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, di bawah hidungnya yang terlalu percaya pada kata kesetiaan.

Savitri menutup aplikasi tersebut dengan sentuhan jari yang luar biasa dingin. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar ponsel yang kini menghitam. Wajah yang terlihat begitu bodoh, begitu naif, dengan cincin pertunangan bermata berlian kecil yang melingkar manis di jari manis tangan kirinya. Rasa sakit yang menjalar di dadanya kini perlahan bermutasi menjadi kemarahan yang dingin dan tajam seperti belati.

Ia tidak akan menangis di sini. Ia tidak akan membuat keributan yang tidak berguna di tempat umum. Dengan sisa-sisa ketenangan yang berhasil ia kumpulkan dari balik badai emosi, Savitri membuka aplikasi pemesanan taksi online. Ia menyalin alamat IP atau lokasi yang tertera pada detail perangkat kamera pengawas di aplikasi EZ-View tadi, yang untungnya menunjukkan koordinat sebuah kompleks apartemen privat di daerah Kebayoran Baru—hanya lima belas menit dari posisinya saat ini.

Sambil melangkah lebar menuju pintu keluar stasiun, Savitri meraba cincin di jarinya. Ia tahu, malam ini tidak akan ada air mata yang terbuang sia-sia. Ia akan mendatangi studio impiannya yang telah dicuri, dan ia akan memastikan bahwa pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url