5 Tahun Aku Dikira Bodoh, Bukti Transaksi E-Toll Pukul 03.14 Pagi Ini Bongkar Kelakuan Tunangan dan Sahabat Karibku!

5 Tahun Aku Dikira Bodoh, Bukti Transaksi E-Toll Pukul 03.14 Pagi Ini Bongkar Kelakuan Tunangan dan Sahabat Karibku!

Skandal & Pengkhianatan

5 Tahun Aku Dikira Bodoh, Bukti Transaksi E-Toll Pukul 03.14 Pagi Ini Bongkar Kelakuan Tunangan dan Sahabat Karibku!



'Kamu tahu kan kalau orang mati nggak bisa tanda tangan ulang berkas polis?' suara Dananjaya terdengar dingin, mengiris hening di meja sudut sebuah kedai kopi Mampang yang bising oleh suara mesin espresso. Di hadapannya, Mahardika membeku dengan cangkir americano yang menggantung separuh jalan menuju bibirnya. Wajah sahabatnya yang biasanya penuh rasa percaya diri itu mendadak kehilangan warna, menyisakan tatanan rambut klimis dan kemeja linen mahal yang kini tampak menyesakkan.

Dananjaya tidak berteriak. Ia tidak membanting meja atau membuat keributan yang akan memancing perhatian pengunjung lain. Tangannya hanya menggeser sebuah lembaran cetak mutasi rekening gabungan dan rincian transaksi kartu e-toll berformat PDF yang baru saja ia cetak dari kantor akuntan publik jam satu siang tadi. Di atas kertas HVS putih itu, stabilo kuning menyala menyorot deretan angka dan stempel waktu yang konsisten selama dua belas bulan terakhir.

Setiap hari Kamis, persis pukul 03.14 pagi, kartu e-toll atas nama operasional kantor arsitektur mereka selalu mengetuk gerbang Tol Kebon Jeruk, keluar di Pasteur, dan kembali lagi ke Jakarta sebelum matahari terbit. Di jam yang sama, ada penarikan tunai konstan sebesar lima belas juta rupiah yang ditransfer ke sebuah entitas berlabel Yayasan Lentera Kasih—sebuah lembaga nirlaba yang tercatat menggunakan nomor induk kependudukan almarhumah ibu kandung Dananjaya yang sudah wafat lima tahun silam.

'Danang, lu salah paham. Ini bisa dijelasin...' suara Mahardika tergagap, jemarinya bergetar hebat saat mencoba meraih lembaran kertas tersebut. Namun Dananjaya dengan tenang menariknya kembali, memasukkannya ke dalam map kulit hitam yang terkunci rapat.

'Gua belum selesai, Dika,' potong Dananjaya pelan. matanya menatap lurus ke dalam iris mata pria yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sejak zaman perpeloncoan kampus sepuluh tahun lalu. 'Yang buat gua makin kagum sama akting kalian, Nalini selalu ada di samping gua tiap Kamis pagi jam delapan. Dia menyeduhkan teh chamomile, mengusap dahi gua yang pusing karena kerja sampai larut malam, dan bilang kalau dia sangat bersyukur punya calon suami sepekerja keras gua. Padahal empat jam sebelumnya, dia baru aja turun dari mobil lu di rest area kilometer 19.'

Keheningan di antara mereka terasa jauh lebih membanting daripada dentuman petir. Rencana pernikahan yang tinggal menghitung tiga puluh hari lagi—gedung ballroom di kawasan Dharmawangsa yang sudah dibayar lunas, katering berkelas, hingga gaun pengantin sutra yang baru kemarin dicoba oleh Nalini—seketika menjelma menjadi panggung lelucon paling tragis dalam hidup Dananjaya. Selama lima tahun membangun firma arsitektur ArchiKarsa bersama Mahardika, Dananjaya selalu percaya bahwa dirinya adalah kapten yang beruntung. Ia memiliki sahabat terpercaya yang mengurus manajemen keuangan, serta tunangan cantik berpendidikan tinggi seperti Nalini yang setia menemani dari nol.

Namun, kebenaran tidak pernah datang dengan terompet peringatan. Kebenaran menyusup lewat celah kecil yang terabaikan: sebuah pemberitahuan verifikasi pajak tahunan yang menyangkut aset dormant milik mendiang ibunya. Ketika Dananjaya memeriksa audit internal secara mendalam tanpa sepengetahuan Mahardika, ia menemukan jurang kehancuran yang dirancang sangat rapi. Mahardika dan Nalini tidak hanya menyedot dana operasional proyek secara perlahan, tetapi juga memalsukan tanda tangan dokumen klaim asuransi jiwa serta mengalihkan hak kepemilikan tanah warisan keluarga Dananjaya di Cisarua menjadi jaminan utang pribadi.

'Berapa lama?' tanya Dananjaya. Tatapannya lurus, tanpa derai air mata. Rasa sakitnya sudah melewati batas di mana histeria bisa mewakilinya. Ia sudah berada di tahap mati rasa yang sangat berbahaya.

Mahardika menunduk dalam-dalam, menatap jemarinya sendiri yang gemetar di atas meja kayu. 'Tiga tahun, Nang. Sejak proyek resort di Belitung gagal dan gua terdesak utang pinjaman online serta investasi bodong. Gua... gua nggak punya pilihan.'

'Nggak punya pilihan?' Dananjaya terkekeh sinis, sebuah suara sumbang yang terdengar menyayat hati. 'Lalu Nalini? Dia nggak punya pilihan juga sampai harus tidur di samping lu setiap kali gua dinas luar kota? Sampai harus pura-pura nangis terharu waktu gua kasih cincin tunangan milik almarhumah ibu gua?'

Mahardika tidak sanggup menjawab. Di saat yang sama, ponsel Dananjaya di atas meja bergetar halus. Nama 'Nalini 🤍' tertera di layar dengan foto wanita anggun bergaun putih sedang tersenyum manis. Dananjaya menggeser tombol hijau, membesarkan volume pengeras suara agar Mahardika bisa mendengar setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.

'Sayang, kamu di mana?' suara Nalini terdengar begitu lembut, penuh perhatian yang mengayomi. 'Ini orang vendor katering nanyain pelunasan sisanya. Kamu bisa transfer sekarang nggak? Aku tunggu di unit apartemen ya, aku udah masak sup iga kesukaan kamu.'

Dananjaya memandang Mahardika yang makin pucat pasi. 'Nalini, sup iganya kamu bumbui pakai uang hasil jaminan sertifikat tanah ibu gua di Cisarua, atau pakai uang klaim asuransi fiktif yang kamu tanda tangani atas nama orang mati?'

Suara di ujung telepon mendadak terputus total. Hening yang tercipta begitu tebal hingga deru napas ketakutan dari seberang garis seluler terasa amat nyata sebelum akhirnya panggilan dialihkan secara sepihak.

'Gua nggak bakal melapor ke polisi hari ini, Dika,' ujar Dananjaya seraya berdiri dari kursinya. Ia mengancingkan jas kasualnya dengan gerakan sangat tenang dan presisi. 'Gua juga nggak akan batalin acara pernikahan bulan depan. Gua mau kalian berdua tetap datang pakai baju pengantin dan jas terbaik yang sudah kalian pesan pakai uang gua.'

Mahardika mendongak kaget, matanya membelalak penuh keraguan dan ketakutan. 'Nang, lu mau ng Melakukan apa? Tolong, jangan hancurin nama baik keluarga kita...'

'Nama baik?' Dananjaya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Mahardika merinding hingga ke tulang belakang. 'Nama baik lu udah mati sejak lu sentuh harta ibu gua dan calon istri gua. Sekarang, persiapkan diri kalian berdua. Karena undangan pesta yang sebenarnya baru saja gua kirim ke seluruh jajaran investor, keluarga besar Nalini, dan media bisnis sore ini. Nikmati sisa satu bulan kalian sebagai manusia bebas.'

Dananjaya melangkah keluar dari kedai kopi tanpa berpaling sedikit pun. Di luar, udara Jakarta siang itu terasa membakar, namun di dalam dadanya, sebuah rencana pembalasan dendam yang dingin dan diperhitungkan dengan sempurna baru saja dimulai. Ia tidak akan membiarkan sepeser pun haknya dirampas oleh para pengkhianat yang bertopengkan cinta dan persahabatan.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url