Dua Tahun Dikira Tabungan Masa Depan, Uang Duka Almarhum Ayahku Senilai 1.2 Miliar Malah Jadi Surat Tanah Villa Atas Nama Sahabat Tercinta

Dua Tahun Dikira Tabungan Masa Depan, Uang Duka Almarhum Ayahku Senilai 1.2 Miliar Malah Jadi Surat Tanah Villa Atas Nama Sahabat Tercinta

Skandal & Pengkhianatan

Dua Tahun Dikira Tabungan Masa Depan, Uang Duka Almarhum Ayahku Senilai 1.2 Miliar Malah Jadi Surat Tanah Villa Atas Nama Sahabat Tercinta



'Kamu mau pesen es jeruk lagi, La? Muka kamu pucat banget, kayak habis liat hantu,' suara Galuh memecah kebisingan pujasera sore itu. Tangan perempuannya yang dipenuhi cincin-cincin perak minimalis terulur, berniat mengambil botol kecap di dekat siku Kalila.

Kalila tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu, seolah seluruh pasokan air liurnya menguap dalam hitungan detik. Di bawah meja kayu tebal beraroma sate ayam dan asap bakaran, jemari tangan kirinya yang gemetaran hebat masih mencengkeram erat segulung kertas HVS tebal berstempel basah notary. Kertas itu tidak sengaja ia temukan lima menit lalu ketika berniat mengambil kunci mobil dari kantong samping tas gym milik suaminya, Dananjaya, yang dititipkan padanya sebelum pria itu pamit ke kamar mandi.

Kertas itu bukan jadwal latihan atau brosur suplemen protein. Itu adalah salinan lembar pendaftaran Akta Jual Beli tanah dan bangunan atas sebuah villa mewah berkonsep etnik di daerah Pujon, Batu. Harga akuisisi tercantum jelas: 1,2 miliar rupiah. Dibayar lunas. Dan yang membuat jantung Kalila rasanya berhenti berdetak bukan hanya angka nominalnya, melainkan nama pembeli yang tertera dengan jelas di sana: Galuh Paramitha. Nama wanita yang saat ini sedang tersenyum manis di hadapannya sambil mengunyah kerupuk ramak.

Namun, bagian paling mematikan dari dokumen itu berada pada lembar lampiran transfer antarbank. Sumber dana pelunasan bukan berasal dari rekening pribadi Galuh, bukan pula dari pinjaman bank. Dana itu keluar secara bertahap dalam kurun waktu enam bulan terakhir dari rekening escrow atas nama almarhum ayah Kalila—sebuah rekening peninggalan aset tunggal yang sejatinya sedang dalam proses pengurusan warisan dan sepenuhnya dipercayakan Kalila kepada Dananjaya untuk diurus secara legal.

'La? Kok malah melamun sih? Mas Danan mana? Lama banget di toilet, selak mienya dingin tuh,' ulang Galuh. Matanya yang indah dengan pulasan eyeliner tipis menatap Kalila penuh perhatian. Perhatian yang selama sepuluh tahun terakhir ini Kalila anggap sebagai bentuk persaudaraan paling murni yang pernah ia miliki sejak masa kuliah di Malang.

Kalila menarik napas panjang, mencoba menekan gelombang mual yang menghantam dadanya. Ia mendorong kertas itu pelan-pelan kembali ke dalam lipatan tersembunyi di tas gym Dananjaya, lalu menutup ritsletingnya semulus mungkin. Suara 'sret' logam kecil itu terdengar seperti vonis mati bagi kewarasannya. 'Nggak apa-apa, Luh. Cuma agak pusing aja. Kayaknya angin malam ini agak keras.'

Bila ada orang yang paling Kalila percayai di dunia ini setelah mendiang ayahnya berpulang akibat serangan jantung mendadak tahun lalu, orang itu adalah Dananjaya dan Galuh. Dananjaya adalah sosok suami yang tenang, telaten, dan selalu pasang badan ketika keluarga besar Kalila sempat meributkan pembagian harta peninggalan. Pria itu dengan sukarela menawarkan diri menyewa kuasa hukum pribadi, membereskan urusan pajak, hingga berjanji akan menginvestasikan sisa uang duka dan penjualan rumah kenangan ayah Kalila ke dalam reksa dana pasar uang berisiko rendah agar Kalila memiliki jaminan hidup yang aman.

Setiap bulan, Dananjaya selalu menunjukkan laporan berkala dalam bentuk lembaran cetak rapi berlogo bank swasta ternama. Kalila, yang saat itu masih diselimuti duka mendalam dan tidak memiliki latar belakang finansial yang kuat, menelan bulat-bulat seluruh grafik angka yang disodorkan suaminya. Ia percaya 100 persen. Ia bahkan bersyukur memiliki suami yang begitu cekatan melindungi hak-haknya.

Sementara Galuh adalah sahabat sejiwa yang tidak pernah absen menemani Kalila di hari-hari tergelapnya. Ketika Kalila mengurung diri di kamar selama berminggu-minggu pasca pemakaman, Galuh yang rutin datang membawakan bekal masakan rumah, menyisir rambut Kalila, dan mendengarkan tangisannya hingga larut malam. Galuh yang selalu berujar, 'Aku bakal selalu ada buat kamu, La. Kita kan udah janji dari jaman ospek dulu, nggak akan ada yang boleh nyakitin kamu.'

Namun kini, potongan-potongan puzzle yang selama ini terasa ganjil mulai saling mengunci dengan kejam. Kalila teringat bagaimana enam bulan lalu Galuh mendadak mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai supervisor di sebuah perusahaan ritel dengan alasan ingin 'istirahat dan fokus mencari ketenangan jiwa'. Kalila teringat bagaimana Galuh tiba-tiba sering berkunjung ke Malang dan Batu dengan alasan riset bisnis kedai kopi kecil-kecilan. Dan yang paling menyayat hati, Kalila teringat bagaimana Dananjaya belakangan ini sering beralasan ada kunjungan lapangan ke proyek infrastruktur di Jawa Timur bagian timur setiap akhir pekan ganjil.

Dua hari dalam seminggu, suami dan sahabatnya selalu menghilang dengan alasannya masing-masing. Dan Kalila, dengan kepolosannya yang naif, selalu mendoakan agar urusan pekerjaan suaminya lancar dan usaha baru sahabatnya diberi kemudahan.

'Sori ya agak lama, tadi antrean di rest area ramai banget,' suara bass Dananjaya terdengar dari belakang punggung Kalila. Pria itu menepuk pundak Kalila dengan lembut, lalu duduk di sampingnya. Aroma parfum woody khas milik Dananjaya merembes masuk ke indra penciuman Kalila—aroma yang sama persis dengan yang sempat tertinggal di pashmina milik Galuh ketika wanita itu meminjamkannya minggu lalu.

'Loh, mienya kok belum dimakan, La? Kamu beneran sakit?' Dananjaya menempelkan punggung tangannya ke dahi Kalila. Sentuhan yang biasanya memberikan rasa hangat dan aman itu kini rasanya seperti besi panas yang membakar kulitnya. Kalila mendongak, menatap mata suaminya yang tampak begitu bersih, polos, dan penuh kepedulian. Sebuah akting yang luar biasa sempurna, pikir Kalila dalam hati.

'Mas,' kata Kalila pelan, suaranya terdengar sangat datar. 'Uang investasi reksa dana yang dari peninggalan Papa... bulan ini dividennya udah masuk kan?'

Dananjaya sempat tertegun sesaat. Gerakan tangannya yang hendak meraih sumpit terhenti di udara selama sepersekian detik sebelum kembali normal. Refleks mikronya sangat tipis, tetapi malam ini, sensor kewaspadaan Kalila sedang berada di titik tertinggi. 'Udah dong, kan tiap tanggal lima otomatis rollover. Kenapa tiba-tiba nanya itu, Sayang? Kamu lagi butuh beli sesuatu? Bilang aja, nanti Mas transfer dari rekening operasional.'

'Nggak kok,' jawab Kalila sambil menatap lurus ke arah Galuh. 'Aku cuma kepikiran aja. Tadi siang temen SMA-ku ada yang menawarkan tanah kavling bagus di daerah Batu. Katanya prospeknya bagus buat bikin villa atau guesthouse. Aku pikir, kalau uang Papa dipakai buat aset fisik begitu, mungkin lebih jelas wujudnya daripada cuma angka di reksa dana.'

Mendengar kata 'Batu' dan 'Villa', Galuh yang sedang meminum es jeruknya mendadak tersedak kecil. Ia terbatuk beberapa kali sebelum menyapu bibirnya dengan tisu. Dananjaya dengan cepat menimpali, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya. 'Wah, jangan sembarangan, La. Pasar properti sekarang lagi lesu banget. Risikonya tinggi kalau beli tanah tanpa analisis legalitas yang matang. Lagian, ngurus perizinan di daerah pesisir atau pegunungan itu rumit, banyak mafia tanahnya. Biar Mas yang kelola di instrumen keuangan yang aman aja. Kamu fokus memulihkan diri kamu dulu, ya?'

Kalila tersenyum. Senyuman tipis yang tidak sampai ke matanya. Ia menyerap setiap kata yang keluar dari mulut pria yang telah mendampinginya selama empat tahun itu. Betapa rapinya kebohongan ini dikemas. Betapa tenangnya Dananjaya membodohinya di hadapan wanita yang menjadi sekutunya.

'Oh begitu ya, Mas? Kamu bener juga sih,' sahut Kalila lembut. 'Lagian kalau cuma beli villa tapi atas nama orang lain, terus uangnya pakai uang anak yatim piyatu yang lagi berduka, itu namanya tidak berkah ya, Mas? Karma-nya bisa datang kencang banget.'

Suasana di meja kayu itu mendadak hening. Kebisingan pujasera di sekeliling mereka seolah lenyap terhalang tembok gaib. Dananjaya menatap Kalila dengan dahi berkerut, mencoba membaca arah pembicaraan istrinya. Sementara Galuh menundukkan kepala, memegang gelas es jeruknya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.

'Maksud kamu bicara gitu apa sih, La? Kok ngomongnya jadi aneh begitu?' tanya Dananjaya dengan nada terkontrol, meski ada getaran halus di sudut matanya.

'Nggak ada maksud apa-apa, Mas,' Kalila berdiri dari kursinya, merapikan tas tangannya dengan tenang. Ia meraih tas gym milik Dananjaya, lalu meletakkannya tepat di tengah-tengah meja, di antara mangkuk mie Dananjaya dan gelas es jeruk Galuh. 'Aku mau pulang duluan naik taksi online. Kunci mobil aku ambil dari tas kamu ya, Mas. Soalnya kantong samping tas kamu ternyata isinya bukan cuma dokumen gym, tapi juga Akta Jual Beli villa Batu atas nama Galuh yang dibayar pakai rekening duka Papaku.'

Kalila menatap kedua orang itu secara bergantian. Wajah Dananjaya seketika pucat pasi bagai mayat, bibirnya ternganga tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Galuh menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak penuh horor. Kalila tidak menangis. Tidak ada teriakan hysteris, tidak ada drama melempar air. Ia hanya melemparkan kunci mobil ke atas meja dengan dentang nyaring, lalu berbalik jalan meninggalkan pujasera tanpa sekali pun menengok ke belakang, membawa dendam dingin yang siap ia balaskan hingga tuntas.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url